SECRET CHAPTER 1

SECRET

Author: Chielicious.

Cast: 

  • Choi Sulli
  • Lee Taemin

Genre: Romance, Friendship.

Warning: Multichapter. Bahasa berantakan tidak menurut EYD. Abal. Dan segala kegajean ada di fic saya ^^v Don’t Like, Don’t Read.

Disclaimer: Taelli punya Tuhan yang dititipin ke eomma dan appa mereka ^^

The original story from my brain. Fic ini adalah hasil imajinasi saya.

DO NOT COPY THIS STORY.

Kalo tetep di copy juga meskipun saya nggak tahu, tapi Tuhan yang tahu dan DOSA tanggung sendiri di akhirat.

Read, like and leave a comment. Selamat membaca ^^

***

 

Pukul 06.45 KST. Chungdam Senior High School.

Nampaknya masih terlalu awal Sulli berangkat ke sekolah. Pagi ini, Chungdam Senior High School masih sepi. Padahal setengah jam lagi lonceng masuk akan dibunyikan. Sulli menghela napas, lalu ia berjalan sendirian menuju koridor sekolah yang masih sepi.

Sulli menghentikan langkahnya di depan mading, hanya sekedar melihat buletin terbaru yang diempel di sana. Ia memperhatikan setiap sudut mading. Belum berubah, masih sama seperti kemarin. Sepertinya, petugas mading belum mengganti isi madingnya. Saat ia sedang tertarik dengan sebuah rubrik resensi buku, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Ia sedikit kaget.

“Ya! Choi Sulli, kau serius sekali!” suara Krystal dari belakang. Sulli berbalik dan menemukan Krystal dan Amber senyum-senyum tak berdosa.

“Ya! Kalian ini, bukannya bilang selamat pagi, malah bikin kaget!” Sulli balas memarahi Krystal. “Mau membuatku jantungan, huh?”

Krystal mengetuk-ketukkan tangannya ke papan mading, “Salah sendiri, siapa suruh kau kaget. Lagian serius amat bacanya. Yang beginian itu udah basi, jagiya.”

“Ya, kalian berdua! Dasar, hobi banget sih ribut pagi-pagi gini.” Akhirnya Amber anggkat bicara. “Sulli-ah, tumben kau berangkat pagi?”

Sulli melotot, “Omo, lima belas menit lagi masuk, kau bilang ini masih pagi. Astaga.”

“Buktinya masih sepi nih.” Kata Amber.

“Paling juga mereka kesiangan gara-gara nonton Super Junior di televisi semalam.” Balas Krystal santai.

“Ya! Itu kau, Krystal Jung.” Sulli mengerucutkan bibirnya.

Saat mereka bertiga asyik berbicara di depan mading, Taemin dan temannya lewat di depan mereka. Tanpa sadar, pandangan Sulli beralih pada Taemin. Tampak ujung bibir Sulli tertarik ke atas membentuk seulas senyum tipis. Sepertinya, hanya namja itu yang bisa membuat Sulli tak berada di bumi. Taemin namja yang baik dan berprestasi. Dia pintar dalam akademik, pintar bermain piano, tampan, atletis.

Perfect.

Lama Sulli memandang Taemin. Sampai akhirnya yang dipandang menghilang di kelokan perpustakaan. Matanya masih belum beralih. Tanpa sadar ia telah membuat kedua sahabatnya mengerutkan kening mereka.

“Sulli-ah! Ya, Choi Sulli!” Teriakan Krystal belum cukup mengembalikan perhatian Sulli. “Sulli!” Amber mengibas-kibaskan tangannya di depan mata Sulli.

“Eh..” Sulli tersentak. Krystal dan Amber berusaha menahan tawa melihat ekspresi Sulli yang salah tingkah. “Ada yang salah, ya?”

“Hahaha, gwaechana.” Kystal tertawa lepas. “Yang salah otakmu. Hahaha..”

“Ciye! ciye! Kau sampai tak berkedip begitu melihat ‘si prince’. Hahaha.” Amber tak bisa lama-lama menahan tawanya. Ia memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.

“Apa sih kalian ini.” Sulli cemberut. Padahal, dalam hatinya berpesta karena sepagi ini ia sudah melihat senyuman maut Taemin yang bisa membuat hati cewek manapun tak karuan.

“Yang lagi falling in love. Jadi si prince-nya itu Taemin, ya?” Senyum jahil Krystal berhasil membuat pipi Sulli panas. Terbukti, sekarang pipi Sulli memerah seperti tomat.

“Kalian ini kenapa sih? Sirik amat.” Sulli masih cemberut, pipinya masih terasa panas. Sedangkan Krystal dan Amber belum puas menertawakannya.

Bel masuk terdengar tepat pukul 07.00. Kelas 2A-2, jam pertama sudah akan disuguhi dengan pelajaran Fisika. Sulli, Krystal dan Amber bergegas masuk kelas yang tidak jauh dari koridor, tepat 2 blok dari perpustakaan. Di kelas paling ujung, di sanalah mereka akan belajar. Mereka bertiga masuk kelas dan menuju bangku mereka masing-masing. Sulli duduk di sebelah Krystal. Dan Amber duduk di depan Sulli dengan seorang gadis pendiam, Luna. Tempat duduk Taemin, nomor dua dari depan deretan satu, tepat di depan meja guru. Sedangkan Sulli, berada di deret keempat dekat pintu.

Lima menit kemudian. Seorang guru yang dikenal berdisiplin tinggi dan galak masuk kelas 2A-2. Park songsaenim, seorang guru Fisika yang sangat ditakuti karena ke’killer’annya.

“Masukkan semua buku yang ada di atas meja. Keluarkan kertas ulangan kalian. Hari ini kita ulangan bab gerak.” Kata Park songsaenim setelah memasuki kelas dan menaruh buku dan tasnya di meja guru. “Dan, saya tidak ingin ada yang mencontek!” tambahnya lagi. Terdengarlah beberapa suara keluhan penghuni kelas 2A-2.

“Mwo? Andwae!”

“Yah, Saem. Kok gitu sih…”

“Tapi, Saem. Kemarin kan tidak dikasih tahu!”

“Mampus gue belom belajar.”

Percuma saja mereka beralasan, tidak akan membuat guru Fisika itu membatalkan ulangan hari ini.

“Saya tidak ingin mendengar alasan kalian lagi. Cepat keluarkan kertas ulangannya dan tidak ada protes. Arraseo?” kata guru super killer itu.

“Ne, Saem..” kelihatan mereka menjawab dengan tidak ikhlas.

Setelah itu hening. Semuanya nampak serius mengerjakan soal ulangan yang diberikan Park songsaenim. Sedangkan, Park songsaenim sendiri, serius mengawasi setiap gerak-gerik yang dilakukan siswa kelas 2A-2. Jujur saja mereka tak berkutik. Tatapan mata tajamnya yang dengan sempurna mengawasi mereka. Meskipun sudah terbiasa, Sulli dan teman-temannya lebih memilih jalan-jalan ke kuburan daripada ulangan sambil ditunggui Park songsaenim.

Sepertinya dua jam pelajaran tidak cukup untuk bisa menyelesaikan soal-soal ulangan Park songsaenim. Meskipun hanya 10 soal, tapi rasanya sudah seperti di neraka. Anak-anak kelas 2A-2 mulai mengumpulkan kertas berisi jawaban mereka di meja guru. Karena ibu guru kita yang satu ini sudah mulai mengancam, jika tidak segera mengumpulkan saat ini juga maka kertas jawaban tidak akan diterima. Dan itu artinya, tak akan mendapatkan nilai. Mereka lalu keluar dengan muka ditekuk dengan beberapa gerutuan dari mulut mereka. Setelah itu, Park songsaenim meninggalkan kelas 2A-2.

“Sialan. Hari ini aku sial sekali!” kata Amber kesal.

“Ne, orang itu sungguh menyebalkan. Yang benar saja, masa datang-datang main suruh ulangan aja!” gerutu Krystal.

“Iya. Kebiasaan deh tuh orang. Untung tadi malam aku belajar. Hehehehe” kata Sulli senyum-senyum. Dan dihadiahi tatapan kesal oleh kedua sahabatnya. “Hehe kan cuma sepuluh soal tadi.”

“Sepuluh soal sih sepuluh soal, tapi yang benar saja kita disuruh mengerjakan soal untuk mahasiswa semester 5.” Gerutu Amber.

“Ah kalian ini terlalu berlebihan.” Kata Sulli

“Sudahlah, aku lapar. Mau ke kantin?” Krystal masih nampak kesal.

“Krys, aku ikut. Sulli-ah, kau mau ikut tidak?” tanya Amber. Sulli menggeleng.

Sulli lalu mengeluarkan sebuah novel dari dalam tasnya. Dan ia mulai terhanyut dalam alur cerita novelnya. Tapi, ada yang lebih menarik perhatiannya kali ini. Seseorang yang duduk di bangku kedua deretan pertama. Taemin. Sulli tersenyum tipis dan melanjutkan membaca. Sesekali ia melirik Taemin yang juga sedang membaca sebuah buku tebal. Hanya untuk mengagumi betapa manisnya senyum itu. Sulli mulai tidak konsen membaca. Saat ini, dia hanya ingin memperhatikan Taemin, menghayati setiap lekukan senyumannya. Tanpa ia sadari, Taemin menoleh ke arahnya. Pandangan mereka bertemu. Seketika terlihat semburat merah menghiasi pipi Sulli. Ia lalu menunduk dan berpura-pura konsen membaca. Sedangkan diam-diam Taemin tersenyum tipis melihat Sulli yang salah tingkah.

***

Siang yang panas. Jam pelajaran terakhir, pastinya semangat belajar semua siswa seketika hilang diganti dengan rasa malas serta mengantuk. Sialnya, kelas 2A-2 hari ini jam terakhir adalah pelajaran matematika. Sudah jelas terlihat dari wajah-wajah mereka sedang menahan kantuk.

Dua jam pelajaran serasa dua tahun. Siapa yang tahan coba, bayangkan di siang yang panas di tengah musim panas Korea, mengantuk, bosan, dan jenuh kalian harus memaksakan diri untuk konsentrasi memperhatikan rumus-rumus yang dijelaskan Songsaenim. Percaya atau tidak, mereka pasti berusaha supaya terlihat konsentrasi memperhatikan pelajaran yang disampaika oleh Songsaenim. Padahal, mata mereka sudah puluhan kali melihat jam dan berteriak dalam hati, “kapan pulang?”

Sulli melihat jam tangannya. Masih setengah jam lagi. Sekarang, tampaknya Sulli sudah tertular ‘virus’ mengantuk. Ia mulai menguap. Sedangkan Krystal dan Amber sudah dari tadi ribut sendiri sambil menggerutu ingin cepat pulang. Sulli menguap lagi. Berusaha menahan ngantuk sambil di otaknya berputar-putar rumus trigonometri yang jujur saja amat sangat memusingkan. Di tambah lagi, suasana yang tidak bersahabat. Panas.

Aigo, siapapun pasti sudah berteriak tak tahan di situasi yang seperti ini. Musim panas kali ini benar-benar kejam.

Setengah jam kemudian, akhirnya bel pulang yang sangat ditunggu-tunggu pun berbunyi. Siswa kelas 2A-2 yang sudah penat dengan kejamnya matematika langsung berhamburan keluar. Begitu juga dengan kelas lain. Sulli masih di dalam kelas. Mengemasi buku-bukunya ke dalam tas. Krystal dan Amber juga. Sulli sempat melirik ke arah Taemin yang sedang bercanda dengan teman-temannya.

Seperti biasa, Sulli menunggu Minho, oppanya, menjemput di lobi depan sekolahnya. Ia berdiri sendirian di sana. Kedua sahabatnya sudah duluan pulang. Sesaat kemudian, Taemin lewat di sebelah Sulli dengan cueknya. Padahal mereka bertetangga dan orang tua mereka berteman baik. Setidaknya Taemin menawarinya tumpangan. Tapi, ini jauh dari apa yang Sulli harapkan. Semuanya hanya menjadi harapan. Ya, itulah Taemin si Ice Prince.

Sulli terus memandangi Taemin yang berjalan ke parkiran. “Sepertinya sudah tidak ada harapan.” Gumamnya tertunduk frustasi.

“Ya! Minho oppa kau lama sekali!” teriak Sulli pada namja tampan di depannya setelah setengah jam lamanya ia menunggu namja itu.

“Mian aku ada kuliah tambahan tadi, aku jadi telat menjemputmu.” Kata Minho.

“Tidak akan kumaafkan.” Sulli mengerucutkan bibirnya.

“Sulli-ah..dimana Krystal?” tanya Minho sambil celingak-celinguk ke belakang Sulli.

“Hei, ada apa kau tiba-tiba mencarinya? Pasti ada sesuatu deh. Ngaku nggak!” seringai Sulli menuding kakaknya.

“Ani, siapa tahu dia mau pulang bersama dengan kita.” Minho salah tingkah sekarang.

Lalu mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan sekolah bonafit yang sudah sepi itu.

***

Chungdam Senior High School. Esoknya.

Pukul 09.30. Bel istirahat menjerit di setiap sudut sekolah.

Hari ini lagi-lagi si pangeran kelas 2A-2 tidak keluar kelas bersama teman-temannya. Di depannya, sebuah ensiklopedia tebal tentang biologi sedang serius ditekuninya.

Begitu juga dengan Sulli, yang sudah terhanyut dalam bacaannya. Sebuah novel fantasi di hadapannya saat ini lebih menarik perhatiannya, daripada ikut kedua sahabatnya ke kantin sekolah. Sampai-sampai ia tak sadar kalau diam-diam ada yang memperhatikannya.

Taemin mengalihkan sejenak pandangannya pada seorang –satu-satunya- gadis yang ada di kelas mereka. Diam-diam ia tersenyum tipis. Lalu berpura-pura fokus kembali pada bacaannya ketika yang sedang diperhatikan menoleh ke arahnya.

Ya, hanya mereka berdua yang ada di dalam kelas.

Sulli yang merasa diawasi oleh Taemin pun lama-lama jadi salah tingkah sendiri. Dan berusaha menutupi salah tingkah pada dirinya dengan menunduk dan terus membaca. Sulli mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Ternyata hanya ada dirinya dan Taemin.

 

Aigo, kenapa cuma ada aku dan Taemin? Omo, aku semakin salah tingkah begini. Aish, eotteoghe? Ayolah Sulli, bertingkahlah biasa saja dan please jangan blushing! Runtuknya pada diri sendiri.

“Sulli-ya!” Tiba-tiba Krystal mengagetkan Sulli yang sedang berkonsentrasi, ah melamun tepatnya.

BUK!

Reflek Sulli menjatuhkan novel setebal 400 halaman itu ke lantai, tentu saja karena kaget. Sulli terdiam sejenak lalu gelagapan sendiri. Taemin yang sedari tadi mengawasinya pun kembali menyunggingkan senyum tersembunyinya ketika melihat tingkah konyol Sulli.

“Sulli, gwaechana?”

“Eh?” tanya Sulli masih cengok.

“Ya! Choi Sulli sebenarnya kau itu membaca atau melamun, huh?” sindir Krystal.

Sulli nyengir, sekarang wajahnya mulai merah. “Kau tadi ke sini mau apa?”

“Aku mau menunjukkanmu sesuatu. Khajja, Amber sudah menunggu kita di taman sekolah.” Kata Krystal sambil menarik tangan Sulli.

“Eh, kenapa tidak di sini saja. Tanggung nih bacanya.” Alasan Sulli.

“Aish, kau ini. Aku tidak peduli.” Krystal tetap menarik tangan Sulli, sedangkan yang ditarik tangannya akhirnya pasrah menuruti kemauan sahabatnya.

Di sisi lain, Taemin lagi-lagi tersenyum tipis melihat Sulli. Entahlah apa artinya, hanya Taemin dan Tuhan yang tahu.

***

Sulli berjalan dengan terburu-buru setelah keluar dari perpustakaan. Dengan beberapa buku tebal yang ada di tangannya, dia tak peduli seberapa berat barang bawaannya sekarang. Sesekali ia membenarkan posisi buku-buku itu.

Ketika ia hendak melewati lorong yang menghubungkan perpustakaan dan kelasnya, ia mendengar suara di lorang tersebut. Ia terus saja berjalan. Sulli tiba-tiba berhenti ketika ia akan melewati belokan menuju ke kelasnya.

Ada dua orang yang sangat ia kenal saling berhadapan dan terlibat dalam pembicaraan yang serius. Taemin dan Jiyoung. Mereka saling menatap.

“Jebal, Jiyoung.” Taemin menggenggam tangan Jiyoung. “Aku sangat mencintaimu.”

Tak disangka Jiyoung malah menepisnya. “Sudahlah Taemin, aku tak bisa. Aku tak bisa denganmu, aku menyukaimu tapi aku lebih menyukai dia.”

Sulli masih bersembunyi di balik dinding memperhatikan apa yang Taemin dan Jiyoung bicarakan. Ia diam dan tidak ingin ketahuan kalau sekarang ia sedang menguping. Sulli menahan perasaannya, dadanya sesak ketika mendengar pernyataan Taemin pada Jiyoung. Dadanya lebih sesak lagi ketika Jiyoung menolak Taemin.

Di sisi lain Taemin masih berusaha meyakinkan Jiyoung atas perasaannya. Tapi tak seperti yang diharapkan Taemin, ia malah mendapat penolakan dari yeoja yang dicintainya.

Taemin memojokkan tubuh Jiyoung ke dinding. Ia mendekatkan kepalanya ke kepala Jiyoung.

DEG.

***

Tujuh halaman cukup melelahkan juga hehe. Kali ini saya stress lagi-lagi karena anatomi dengan tugas yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata deh pokoknya. #halah #lebay

Bagaimana chapter ini? Saya merasa tak ada perubahan dalam penulisan saya.

Komen deh reader, kritik dan saran sangat bermanfaat dan membantu dalam kemajuan penulisan saya. Satu komen dan like kamu adalah satu semangat untuk saya. ^^

RCL..

3 thoughts on “SECRET CHAPTER 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s