A Christmas Gift

MY FIRST MINSTAL FANFICTION

A CHRISTMAS GIFT  

CHIELICIOUS © 2011

Cast: 

  • Choi Minho
  • Krystal Jung
  • Choi Yoogeun (Maaf ya marganya Yoogeun saya ubah jadi Choi)

Genre: Romance, Family. 

Ratting : PG-15

Warning: Ficlet. Typo. Bahasa berantakan tidak menurut EYD. Abal. Dan segala kegajean ada di fic saya ^^v Don’t Like, Don’t Read.

Disclaimer: Minho, Krystal dan Yoogeun punya Tuhan, tapi di ff ini mereka punya saya.

The original story from my brain. Fic ini adalah hasil imajinasi saya.

NOT FOR THE SILENT READER.

DO NOT COPY THIS STORY.  

Yang mau komplain @ciicucil ^^

Read, like and leave a comment. Selamat membaca ^^

 

***

 

“Eomma, apakah Appa akan mengantarkan aku ke sekolah besok?” Tanya bocah kecil itu pada ibunya.

Yeoja cantik yang dipanggil eomma itu pun hanya tersenyum.

“Yoogeun-nie, tidur dulu ya. Besok kan Yoogeun harus ke sekolah pagi-pagi.” Kata yeoja cantik itu lembut.

“Yoogeun ingin menunggu Appa pulang, Eomma.” Rajuk bocah berusia 5 tahun itu.

“Nanti Eomma akan bangunkan Yoogeun jika Appa sudah pulang. Ya?” bujuk eommanya.

“Joha, eomma.” Katanya menyerah. Ibunya lalu mengecup singkat kening putranya, lalu menghidupkan lampu tidur mungil di meja sebelah ranjang putranya.

Tak lama kemudian terdengar sebuah suara ketukan dari pintu depan rumah sederhana itu. Yeoja yang ada di dalam rumah itu pun tergopoh-gopoh menghampiri dan segera membukakan pintu.

“Aku pulang.” Ucap pria tinggi yang sedari tadi mengetuk pintu. Tampak tersirat wajah lelah di raut mukanya.

“Selamat datang, oppa.” Balas wanita cantik itu dengan sebuah senyuman manis. “Kau tampak lelah sekali, biar aku bawakan tasmu.”

“Gomawo, jagiya.” Katanya sambil mengecup dahi istrinya. “Dia sudah tidur?”

“Iya, nampaknya ia sangat merindukanmu. Sampai-sampai ia ingin menunggumu sampai kau pulang.” Yeoja cantik itu tertawa ringan.

Choi Minho tersenyum manis, “benarkah? Padahal terakhir aku bertemu dengannya pagi tadi di gerbang sekolah.”

“Ia sangat menyanyangimu sampai seperti itu.”

***

25 Oktober. Pagi yang damai di tengah musim gugur. Yoogeun bangun dan langsung menuju dapur. Di sana sudah ada eomma dan appanya yang duduk di meja makan. Yoogeun naik ke kursinya masih dengan mata setengah terpejam.

“Yoogeun-nie, ayo bangun.” Minho sekarang memindahkan Yoogeun ke pangkuannya.

“Hmm” jawab bocah kecil yang lucu itu.

Krystal tertawa kecil melihat buah hatinya yang masih mengantuk itu.

“Ayo bangun, jagoan.”

Namja kecil itu malah menggeliat di pangkuan ayahnya. “Ayolah, appa tahu hari ini hari minggu. Tapi kau juga tak boleh bermalas-malasan dong.”

Sementara Krystal sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya, Minho sendiri sedang berusaha membujuk putranya agar bangun.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan?” Sebuah ide brilliant dari namja tampan, Choi Minho.

Yoogeun langsung saja bersemangat. “Yoogeun mau jalan-jalan.” Teriak Yoogeun.

“Yoogeun-nie minum susumu dulu.” Krystal menghampiri malaikat kecilnya sambil membawa segelas susu.

“Jagiya, punyaku mana?” goda Minho.

“Oppa, berhenti bersikap manja.” Ujar Krystal, Minho lantas mengerucutkan bibirnya.

“Appa mana hadiahku, kemarin kan appa sudah janji.” Rajuk Yoogeun.

“Mana? Appa tidak bawa hadiah.” Minho dengan senyum tersembunyinya, niat sekali mengerjai anaknya.

Yoogeun terus merengek menarik-tarik lengan baju Minho, menuntut appanya untuk segera memberikan hadiah ulang tahunnya. “Mana appa~”

Akhirnya Krystal yang menjadi penengah, “sudahlah yeobo, cepat berikan.”

“Baiklah, ini untuk uri Yoogeun-nie.” Sebuah kotak besar yang tadinya disembunyikan di bawah meja sekarang sudah ada di hadapan Yoogeun.

“Wah..” ujar bocah kecil itu kagum. Krystal dan Minho tersenyum melihat malaikat kecil mereka senang.

Yoogeun dengan tidak sabar membuka kotak besar kado dari Appa dan Eommanya. Ia membuang kertas pembungkusnya sembarang dan melempar tutup kado itu.

Sebuah boneka Teddy Bear besar seukuran dengan Yoogeun dan beberapa mainan yang ada di dalamnya. Yoogeun nampak sedikit kecewa setelah tahu apa isi dari kadonya.

“Yoogeun tidak suka hadiah dari Appa dan Eomma?” tanya Krystal melihat perubahan raut wajah putra semata wayangnya itu.

“Kemarin kan bukan ini yang Yoogeun minta ke Appa. Yoogeun mau yang kemarin Yoogeun bilang ke Appa, Eomma.” Rajuknya lagi. Krystal yang memang sama sekali tak mengerti apa permintaan Yoogeun, memandang Minho dengan alis terangkat.

“Memangnya dia minta apa, Oppa?”

Minho langsung salah tingkah antara harus mengatakannya dan malu untuk mengatakannya. “Ah, itu..”

“Hm, apa?” desak Kystal.

Minho mendekat pada Krystal yang berada dihadapannya, dan membisikkan sesuatu. “Yoogeun minta adik.”

Seketika wajah Krystal langsung memerah, “M-mwo?”

Minho terkikik jahil melihat reaksi istrinya.

“Oppa, yang kau katakan barusan-” Setengah percaya setengah tidak itu adalah sepenuhnya permintaan malaikat kecil mereka atau Minho yang sebenarnya memintanya.

“Eomma~ mana adik Yoogeun, Eomma? Kemarin kan Yoogeun sudah bilang ke Appa, sekarang mana adiknya~” lagi-lagi rengekan itu, Yoogeun menarik dress yang dipakai oleh Krystal.

Minho menyeringai lebar, “Kau lihat sendiri kan.” Katanya seakan-akan bukan ia yang memprovokasi Yoogeun. Krystal masih dengan wajahnya yang memerah.

Krystal mendekati Yoogeun, dan sedikit membungkuk mensejajarkan tubuhnya dengan Yoogeun. “Sayang, tidak semudah itu Yoogeun bisa punya adik. Eomma harus mengandung dulu. Dan Yoogeun bisa mendapatkan adik. Lagi pula adik Yoogeun nanti beneran lho bukan mainan, jadi Yoogeun harus benar-benar menjaganya. Arasseo?”

“Hm.” Jawab Yoogeun sekenanya. Yoogeun anak yang pintar dan Krystal yakin putranya yang pintar itu akan mengerti apa kata-katanya.

Sedangkan Krystal yang sejak permintaan sebagai kado ulang tahun putranya terungkap tak berhenti blushing, dan Minho yang selalu menatapnya dengan seringai jahil.

***

Malam yang tenang di kediaman keluarga kecil Choi Minho. Di luar sana sedang gerimis, tentu saja Yoogeun tidak diperbolehkan main diluar.

Keluarga kecil Choi sedang berkumpul di ruang keluarga. Choi Minho sang kepala keluarga, hari ini bisa pulang cepat dari kantornya. Ya, seorang eksekutif muda dan presiden direktur sebuah perusahaan terkenal di Korea ini biasanya pulang larut karena masalah pekerjaannya.

Mereka duduk bersama di sebuah sofa di ruang keluarga menemani malaikat kecil mereka belajar. Beberapa kali Yoogeun melontarkan pertanyaan setelah eommanya membacakan buku yang ada di hadapannya.

Sedangkan Appanya sibuk dengan sebuah buku tebal.

“Eomma, kapan adik Yoogeun datang?” Aigo pertanyaan itu lagi.

Krystal sedikit kaget, sedangkan Minho tertawa pelan di balik bukunya.

“Eomma, kalo ada adik nanti Yoogeun bisa bermain dengannya.” Ya, karena Yoogeun adalah anak semata wayang jadi hari-harinya di rumah menjadi sepi tanpa teman bermain.

Di sekolah memang ia mempunyai banyak teman, tapi ketika ia sudah pulang teman bermainnya hanyalah Krystal dan Minho. Itu saja ketika mereka tidak sibuk.

Gerimis di luar sana masih turun dengan tempo konstan, angin musim gugur pun ikut meyelinap ke dalam rumah. Krystal masih membacakan sebuah buku dongeng permintaan dari Yoogeun. Ia menaikkan kaca mata baca yang ia kenakan.

Belum terlalu larut, tapi Choi Yoogeun sudah mengantuk. Gerimis, ya suasanya sangat mendukung sekali untuk tidur lebih awal. Selain itu mungkin ia juga kelelahan.

Krystal mengusap pelan kepala Yoogeun agar tidak membangunkannya. Lalu ia tersenyum melihat wajah damai buah hatinya ketika tertidur seperti ini.

“Yoogeun-nie lihat apa ini?” Minho menunjukkan sebuah gambar lucu yang ada pada bukunya.

“Ssttt.” Krystal mengisyaratkan agar Minho tidak berisik.

Minho yang mengerti Yoogeun sudah tertidur pulas dipangkuan ibunya pun mengangguk.

Minho menutup bukunya. “Di luar dingin, ayo bawa masuk Yoogeun.” Katanya sambil menggendong Yoogeun menuju kamarnya.

Minho menutup pintu kamar Yoogeun setelah berhasil menidurkannya, lalu ia menarik lembut tangan Krystal. “Joha Soojung-ah, kita juga harus pergi tidur.”

***

Krystal duduk di depan meja rias, menyisir rambut panjangnya. Minho sudah langsung tertidur. Ya, kalian tahu sendiri apa julukan untuk Choi Minho.

Krystal lalu beranjak ke ranjang mereka, menyusul Minho yang sudah tidur duluan. Ia mematikan lampu dan berbaring di sebelah namja yang paling ia cintai itu.

Tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Krystal kaget, dan berbalik pada si pemilik tangan itu.

“Oppa, kau belum tidur?”

“Menurutmu?” senyuman tipis Minho terlihat samar karena lampu kamar mereka dimatikan oleh Krystal.

“Kau ini.” Krystal mencubit hidung Minho. Minho malah semakin mengeratkan pelukannya.

“Soojung-ah..”

“Oppa, Apa kau akan benar-benar mewujudkan permintaan Yoogeun.”  Krystal tersenyum malu

“Jika kau menyetujuinya juga kenapa tidak, hm?” kata Minho tanpa melepaskan pelukannya pada Krystal.

Perlahan wajah mereka berdua mendekat. Semakin mendekat, mengeliminasi jarak di antara mereka berdua. Bibir mereka mulai bertautan.

Ciuman yang awalnya lembut itu kini semakin tak terkendali. Minho semakin memperdalam ciumannya. Keduanya saling menyesap saliva pasangannya. Minho dan Krystal akan melakukan apa saja demi Yoogeun, bukan?

“Eomma!” terdengar teriakan dari arah luar. Sesaat kemudian terdengar langkah kecil dan decitan pintu yang terbuka.

Minho dan Krystal buru-buru memisahkan diri, ketika tahu Yoogeun secara tiba-tiba masuk kamar mereka. Minho sebenarnya agak kesal, terlihat dari raut wajahnya.

Wajah Krystal memerah karena Yoogeun sudah berdiri di samping ranjangnya. Krystal lantas menghidupkan lampu dan turun dari ranjang.

“Yoogeun-nie mimpi buruk?” tanyanya penuh perhatian.

Yoogeun hanya mengangguk. “Yoogeun mau bobok sama Eomma dan Appa.” Ujarnya manja.

“Baiklah, ayo naik. Besok Yoogeun harus sekolah, kan?” Krystal membimbing Yoogeun naik ke ranjangnya.

“Sini biar Appa peluk, supaya Yoogeun tidak mimpi buruk lagi.” Kata Minho lembut, lalu Yoogeun tidur sambil memeluknya.

Krystal tersenyum, dan disambut sebuah senyuman pula oleh Minho. Senyuman sedikit kesal karena sesuatu begitu saja terhenti tepatnya.

***

25 Desember.

Hari ini salju pertama turun bertepatan dengan Natal. Yoogeun terlihat sangat antusias. Hari sebelumnya, ia ikut menghias pohon Natal bersama ayahnya dan membuat kue natal bersama ibunya.

Ia lebih antusias lagi ketika melihat butiran putih jatuh dari langit begitu banyaknya. Halaman rumahnya berubah menjadi putih seketika.

Seperti tradisi di hari Natal pada umumnya, setelah pergi ke Gereja, di rumah akan ada acara tukar kado sesama anggota keluarga.

Yoogeun berlari dari pintu masuk rumahnya menuju ruang keluarga. Ia memandang pohon Natal yang ia hias bersama Appanya kemarin, lantas mata mungilnya mencari tumpukan benda yang biasa diletakkan di bawah pohon natal. Di bawah pohon Natal yang tidak telalu besar yang diletakkan di ruang keluarga itu nampak kosong. Tidak ada kotak-kotak kado tersusun di sana. Entah memang disengaja atau memang belum dipersiapkan.

“Appa, mana kado Natal Yoogeun?” tanya namja kecil itu pada Minho yang berdiri di belakangnya.

“Oops, Appa lupa membelinya.” Minho sedikit berakting.

Dan Yoogeun percaya begitu saja, “Yah..” ujarnya kecewa.

“Ya! Oppa, kau ini senang sekali menggodanya.” Kata Krystal yang muncul dari belakang.

Minho tertawa jahil, “Mian.”

Lalu Minho mengeluarkan sebuah kotak yang tidak terlalu besar dari balik punggungnya. “Ini kado Natal Yoogeun.”

Yoogeun menerima kado dari Minho dengan senyuman lebar. “Gomawo Appa.” Tak lupa ia memeluk dan mencium pipi appanya.

“Yoogeun-nie, ciuman untuk Eomma mana?” protes Krystal karena Yoogeun hanya mencium Minho.

Yoogeun berlari menghampiri Krystal dan mencium pipi kirinya.

“Yoogeun-nie, eomma punya satu hadiah lagi.”

“Jinja? Asik!” Yoogeun semakin girang karena ia mendapatkan double kado Natal. Minho ikut antusias, jujur ia sendiri tak tahu apa yang akan diberikan oleh Krystal pada Yoogeun.

“Hadiahnya ada di sini.” Krystal meraih tangan Yoogeun dan mengarahkannya supaya tangan mungil itu menyentuh perutnya.

Minho yang mengerti apa yang dimaksud istrinya membulatkan matanya. “Mwo? Soojung-ah?”

“Ada adik bayi Yoogeun di dalam sini.” Katanya sekali lagi. Senyuman tulus Krystal membuat Minho percaya.

Minho mendekati Krystal dan mengecup ujung kepalanya. “Gomawo, Soojung-ah. Gomawo. Saranghaeyo.” Ia lalu memeluk istrinya dan Yoogeun tentu saja.

“Ah, ne oppa. Na do saranghae.”

“Tapi eomma, Yoogeun mau adik sungguhan, bukan adik yang ada di dalam perut eomma.”

***

THE END

***

A/N:

Huwaaa eksekusi endingnya sangat ga jelas. Sumpah. Niatan mau bikin fluffy tapi malah gajelas gini. Mian #bow

Karena ini ff minstal pertamaku, mianhae readers, author bawa fic gagal seperti ini.

Dan sepertinya saya belum benar-benar bisa meninggalkan dunia fantasi saya. Buktinya saya malah bikin fic bukannya belajar buat UAS. #plak Padahal noh eomma di belakang udah kowar-kowar. ^^v

Mianhae mengecewakan minstal shipper.

Btw, Terima Kasih sudah mau membaca ^^ #bow

Comment please ^^

8 thoughts on “A Christmas Gift

  1. Author ini FFNya bagus banget loh!!!
    Yoogeun gemesin banget sih!!! >.<
    Aduhh Krystal sepertinya sosok eomma yg baik banget yah..
    Keluarga Minho kayanya bahagia banget!
    Aaa bagus deh!! Penggambaran suasananya kena banget.. Ff minstal pertama yg bagus banget gini.. Author jjang!! ^^

  2. “Yoogeun mau adik beneran, bukan adik yang di perut eomma…”
    wuahahahaha!!!! aigoo, polosnya anak ini.. dikiranya ‘adik yang di perut eomma’ itu nasi apa?
    oya, ‘blushing’ itu bahasa indonya ‘merona’ atau ‘muka memerah’…

  3. Gak mengecewakan kok thor,ini sudah sempurna sekali :’),ohoho i love minstal.
    Ehm thor,pas buat adenya kok gadiceritain ya? Wkwk *ditimpuksendal *yadongkumat wkwk *Q*,cie yoogeun mau punya ade ciee ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s