SECRET CHAPTER 4

SECRET CHAPTER 4 © CHIELICIOUS

Cast: 

  • Choi Sulli
  • Lee Taemin
  • Kang Jiyoung

Genre: Romance, Friendship

Rating: PG-Rated

Warning: Multichapter. Typo beterbangan. Bahasa berantakan tidak menurut EYD. Abal. Dan segala kegajean ada di fic saya ^^v Don’t Like, Don’t Read.

Disclaimer: Yang jelas Taemin dan Sulli bukan punya saya, tapi karena ini fic saya jadi mereka adalah punya saya #plak

The original story from my brain. Fic ini adalah hasil imajinasi saya.

DILARANG BASHING CHARA.

NOT FOR THE SILENT READER.

DO NOT COPY THIS STORY.

Yang mau komplain atau mau nagih chapter selanjutnya di twitter saya @ciicucil

Read, like and leave a comment. Selamat membaca ^^

 

***

 

Nampak sesosok samar dari ujung lobi, sepasang mata itu sedang memperhatikan Sulli dan Taemin. Entah atas dorongan rasa cemburu atau apa, ia tetap berdiri sambil mengawasi apa yang sedang dilakukan keduanya. Yang jelas nampak pandangan tak suka yang terpancar dari matanya.

Taemin dan Sulli tidak merubah posisi mereka. Sulli masih menunggu Minho, dan Taemin masih menunggu Sulli sampai Minho menjemputnya. Saling menunggu, manis sekali.

Sesekali Taemin mencuri pandang ke arah Sulli yang bolak-balik melihat jam tangannya. Rasa aneh itu muncul lagi. Aneh dan menyesakkan. Dan ketika Sulli tahu bahwa ia diam-diam sedang diperhatikan, Taemin buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Sepasang mata cantik milik Kang Jiyoung masih mengawasi dari ujung lobi. Pandangan datar bercampur cemburu sepertinya. Entah apa yang sedang ia pikirkan sampai sengaja menstalk seperti itu.

Kang Jiyoung masih di sana sampai ia melihat Taemin menarik paksa tangan Sulli agar ikut dengannya. Ia meremas selembar kertas yang kebetulan ada dalam genggamannya. Emosinya meluap. Kau cemburu Jiyoung?

***

“Baiklah, aku duluan ke laboratorium, ya. Aku tunggu kau di sana.” Kata Taemin setelah Sulli bilang bahwa ia akan menyusulnya setelah menemui Han Songsaenim di ruang guru.

Taemin dan Sulli berjalan saling membelakangi. Taemin menuju laboratorium dan Sulli menuju ruang guru yang letaknya memang berlawanan arah.

Taemin berbalik sebentar memperhatikan Sulli berjalan menjauh, dan akhirnya menghilang di belokan menuju ruang guru. Lalu ia pun melanjutkan langkahnya masuk laboratorium.

Sulli berjalan menuju ruang guru yang berada di ujung lorong dengan beberapa buah laporan yang akan ditunjukkannya pada Han Songsaenim. Setelah ia selesai menunjukkan laporan penelitiannya, seperti janjinya pada Taemin ia akan menyusul ke laboratorium. Sulli berjalan menuju laboratorium, sesekali ia membenarkan posisi tumpukan laporan yang ada di tangannya. Tiba-tiba ada seseorang yang menariknya dan memaksanya masuk ke dalam toilet wanita.

Yeoja itu menghempaskan tubuh Sulli ke arah dinding dengan kasar disertai dengan bunyi jatuhan tumpukan laporan yang dibawa oleh Sulli ke lantai. Lalu ia semakin memojokkan Sulli ke dinding. Yeoja itu mencengkeram kerah seragam Sulli sekarang.

“Apa maumu, Kang Jiyoung?” Napas Sulli tersenggal akibat cengkraman tangan Jiyoung di kerah seragamnya.

“Tak usah bersikap sok suci, Choi Sulli.” Jawab Jiyoung dingin.

“Aku tak mengerti maksudmu.”

“Pura-pura tidak tahu. Sangat klasik.” Jiyoung melepaskan kerah Sulli secara kasar.

Sulli memegang lehernya yang terasa sedikit perih akibat cengkraman Jiyoung barusan. “Maksudmu apa?”

“Kau terlalu munafik, Sulli. Licik sekali mendekati Taemin dengan cara seperti itu.” Sulli membelalakkan matanya.

“Kau..”

“Kau pikir aku tak tahu bahwa kau menyukai Taemin, huh?” bentak Jiyoung. Toilet dalam keadaan kosong waktu itu. Suara Jiyoung bergema di setiap sudut ruangan itu. “Harusnya Taemin terus mengejarku, bukan malah mendekatimu.”

Tangan Jiyoung mencengkeram pipi Sulli, “Lepaskan Jiyoung.” Sulli berusaha melepas tangan yeoja yang sedang diselimuti emosi itu.

“HARUSNYA TAEMIN TETAP MENGEJARKU, BUKAN KAU!” Teriak Jiyoung lagi. Akhirnya Jiyoung melepaskan cengkramannaya pada pipi Sulli setelat teriakan yang lumayan memekakan telinga itu. “Ternyata kau itu tak sebaik yang aku kira, Sulli.”

Sulli tersenyum hambar, “Harusnya aku yang bilang begitu. Ternyata kau tak sebaik yang ku kira, Kang Jiyoung.”

Jiyoung masih menatap Sulli dengan raut marah.

“Kau kira aku yang menggoda dan merebut Taemin-mu itu?” kata Sulli penuh penekanan. “Kau salah.”

Jiyoung menjauh beberapa jarak dengan dinding dimana Sulli berdiri.

“Kau bilang aku yang merebut Taemin darimu, lantas kenapa kau menyia-nyiakan pernyataan cintanya tempo hari, huh?” Sekarang Sulli yang berteriak. “Kenapa kau tidak terima saja? Kenapa jika Taemin mendekati yeoja lain kau melarangnya? Kau bahkan bukan kekasihnya, itu haknya! Kau tak punya kuasa sama sekali untuk itu.”

Jiyoung berbalik memandang Sulli tajam, amarah sudah berkumpul di ubun-ubunnya.

“Kau yang terlalu munafik, Kang Jiyoung. Aku memang mencintainya, tapi aku tidak akan mendapatkan cintaku serendah caramu.” Ujar Sulli dengan nada sarkasme. Kalimat itu seakan menjadi sebuah tamparan keras bagi Jiyoung.

“Kau munafik. Kau bodoh. Kesempatan itu tidak akan datang dua kali, dan kau telah membuang kesempatan itu. BODOH!” Sulli menyeringai.

Dan.

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat begitu saja di pipi putih milik Sulli. Sulli hanya tersenyum hambar sambil memegangi pipinya yang merah karena tamparan Jiyoung yang cukup keras.

“Sekarang kau menyesal? Itu kesalahanmu, Jiyoung. Asal kau tahu kami hanya rekan kerja dalam penelitian, tidak lebih.” Sulli mendorong tubuh Jiyoung dan memunguti laporannya yang berserakan di lantai.

“Ya! Choi Sulli! Aku tak akan membiarkanmu bersamanya lebih jauh lagi. Aku akan berbuat lebih dari ini jika itu sampai terjadi.” Teriak Jiyoung ketika Sulli berada di depan pintu keluar toilet.

Sulli tak menghiraukannya lagi, tapi kalimat barusan membuat Sulli harus berpikir dua kali untuk dekat dengan Taemin meskipun hanya sebatas teman satu kelompok.

Sulli memang tak menangis karena kejadian barusan. Tapi cukup membuatnya shock. Lagipula untuk apa menangisi hal yang tidak penting seperti itu. Toh, ini mungkin karena Jiyoung sedang dimakan api cemburu.

Sulli memegangi pipinya yang beberapa saat lalu menerima sebuah tamparan dari Jiyoung. Ia berjalan menuju laboratorium dengan perasaan yang tak tahu ia sendiri harus berbaut apa nantinya. Ia mendadak ragu bertemu Taemin. Ia mendadak tak ingin menemui Taemin lagi. Tapi ini demi tugas kelompok ia harus tetap berhubungan dengan Taemin.

Sulli berhenti di depan pintu laboratorium dan memperhatikan Taemin yang sedang mengamati preparat dengan sebuah mikroskop. Sulli masih memperhatikan Taemin yang sedang sibuk dengan kegiatannya dari balik pintu laboratorium. Ragu, antara masuk atau tidak.

Sulli menghela napas panjang. Dan meyakinkan hatinya untuk masuk dan bertemu dengan Taemin. Ia melangkah pasti. Dan hanya diam ketika ia sampai di belakang Taemin yang sedang serius menekuni mikroskop yang berada di depannya.

“Oh hai, Sulli-ah kau kemana saja?” tanya Taemin setelah sadar bahwa Sulli berdiri dan terdiam di belakangnya.

“Aku ke toilet sebentar tadi.” Jawab Sulli datar.

Taemin merasakan sedikit perubahan pada Sulli. Sedikit perubahan lagi. Sulli menjadi gadis dingin lagi. Setelah ber-o ria dan mengangguk atas jawaban Sulli, Taemin tak lantas melanjutkan kerjanya, malah menatap Sulli lebih lekat lagi.

Taemin memicingkan matanya. Ternyata tak hanya sikapnya yang berubah, ada perubahan juga pada wajah cantik gadis itu. Pipinya sedikit memerah. Ya, Taemin menyadari perubahan itu mendekati Sulli. Tangannya terulur menyentuh pipi gadis yang ada di depannya.

“Eh..” Sulli sedikit terkejut dengan perlakuan Taemin yang tiba-tiba mendekat dan menyentuh pipinya.

Taemin menyentuh pipi yang sedikit memerah karena tamparan seseorang yang sedang cemburu itu. “Kenapa dengan pipimu?”

Sulli menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa ia takut Taemin tahu alasan yang sebenarnya. Ini rasanya sama seperti kau sedang membohongi pacarmu. Tapi untuk Sulli, Taemin bukan pacarnya dan itu harus ia garis bawahi dengan tinta merah dalam otaknya.

“Gwaechana, hanya digigit nyamuk sewaktu di toilet.” Jawabnya dingin. Satu lagi kebohongan untuk melindungi perasaan seseorang. Kau terlalu baik, Choi Sulli, untuk orang yang sudah menamparmu beberapa waktu lalu di toilet.

“Benarkah? Ah, nyamuk itu nakal sekali padamu. Tapi kau benar baik-baik saja, kan?” Taemin yang entah sejak kapan mulai menampakkan perhatian yang berlebihan seperti ini pada Sulli, Sulli pun merasakan itu.

Taemin namja cuek yang selalu hadir dalam mimpinya. Yang selalu ia kagumi. Yang ia amat cintai. Yang ia tunggu untuk sedekat ini selama 4 tahun. Yang sekarang dekat dan mulai memperhatikan detil yang terjadi padanya. Entah kenapa Sulli malah merasa gusar. Tentu saja karena Jiyoung.

Sulli masih punya perasaan untuk tidak merebut sesuatu dari orang lain meskipun ia juga menyukainya. Sulli masih punya hati untuk itu.

Tangan Taemin masih ingin berlama-lama di pipi gadis itu. Seperti ada aliran hangat ketika ia menyentuhnya. Taemin merasakan hal yang berbeda. Sulli yang tersadar, menepis tangan namja yang ada di pipinya.

Taemin sudah terlewat perhatian padanya. Ini tak bisa ia biarkan begitu saja. Kalau seperti ini ia bisa berurusan lebih jauh lagi dengan Jiyoung. Meskipun ia senang diperhatikan oleh namja yang seumur hidup ia cintai itu, tapi ia masih mau hidup tenang tanpa ancaman Jiyoung.

Apa yang sedang terjadi pada gadis ber-eyes smile sekarang Taemin pun masih tidak yakin. Ia mulai menunjukkan perhatiannya pada yeoja itu, tapi masih enggan mengakui bahwa ia menyukainya. Taemin memperhatikan Sulli yang sedang mengecek kembali laporan penelitian mereka. Gadis itu sekarang menjadi magnet baginya.

***

Taemin mengunci diri di kamarnya setelah sampai di rumah. Ia tak menghiraukan teriakan Eommanya yang menyuruhnya segera ganti baju dan makan siang.

Ia duduk di depan meja belajarnya. Lalu menarik salah satu lacinya. Dan menemukan sebuah buku bersampul biru dengan ukiran nama Sulli di covernya.

Sejak menemukan buku catatan pribadi Sulli dan tahu bahwa Sulli meyukainya, Taemin tak melihat kilatan rasa suka itu di mata Sulli terhadapnya. Sulli terlihat biasa saja saat bersamanya. Ia mau melihatnya seperti sebelum buku catatan pribadi Sulli ditemukannya, tapi ia kehilangan momen itu. Sampai sekarang pun Taemin belum melihat kilatan kagum dari mata Sulli kepadanya.

Sungguh seumur hidupnya tak pernah menghadapi masalah sepelik ini, apalagi ini menyangkut perasaan dan cinta. Taemin menimbang-nimbang buku yang berada di tangannya itu. Memikirkan bagaimana cara mengembalikan tanpa menyakiti hati Sulli.

Taemin berbaring di ranjang yang berada di sebelah meja belajar. Mungkin dengan begini ia lebih mudah menemukan jalan keluar. Lama berpikir dan memandangi buku itu, ia tak lantas menemukan solusi. Malah wajah dan senyum Sulli yang muncul.

Ia lantas membuka buku itu. Memang berkali-kali ia sudah membacanya. Mengulang dan terus mengulang tapi tak ada rasa bosan ketika ia membacanya. Aneh.

Membalik lagi halaman pertama yang di situ terdapat pose aegyo Sulli. Sulli dengan pipi menggembung dan bibir mengerucut nampak sangat lucu. Taemin pun tersenyum melihatnya. Gadis ini sangat polos dan manis jika diperhatikan lekat-lekat. Dan Taemin merasakan hatinya seperti berdesir hebat ketika ia melihat senyuman Sulli.

Senyuman itu yang ingin ia lihat lagi. Bukan sebuah tanggapan dingin yang keluar dari bibir Sulli. Ia ingin sebuah senyuman. Terlambat sepertinya.

Taemin berpikir lebih keras. “Arrggh!” teriaknya frustasi.

Hampir setengah mati Taemin berpikir tentang cara mengembalikan yang tidak menyinggung Sulli. Ya ampun, sampai begitu berlebihannya dia, padahal cukup dikembalikan dengan cara biasa dan selesai semua urusan. Tapi Taemin malah bersusah-susah mengambil pusing semua itu.

Kemudian ada sebuah bunyi pling yang bersumber dari ponsel yang ia letakkan begitu saja di atas meja belajar. Rautnya berubah cerah seketika. Sambil tersenyum ia membalas sebuah pesan yang masuk.

Sebuah pesan dari Sulli yang memberitahunya bahwa mereka harus berdiskusi dan melengkapi lagi laporan mereka. Taemin menyeringai, sebuah ide melintas di otaknya.

Baiklah, bagaimana kalau kita bertemu di taman di ujung kompleks? Aku akan menjemputmu jam 4 sore. Balasnya, lalu ia menekan send pada permukaan ponselnya.

Pling sekali lagi tidak lama setelah pesannya terkirim. Ne, jam 4 sore.

“Yes!” ujar Taemin setengah histeris. Sekarang wajahnya semakin sumringah.

***

“Bagaimana kalau kita duduk di sana?” tunjuk Taemin pada sebuah pohon maple di tengah taman.

“Hn.” Jawab Sulli singkat. Ia pikir teduhnya pohon maple akan membantunya menyejukkan pikiran. Sebuah ide untuk duduk berdua di bawah pohon maple dan menikmati sore bersama memang brillant. Tapi yang mereka bicarakan bukanlah hal-hal yang romantis jadi jangan berharap akan ada sebuah pembicaraan cinta di sini.

Tanpa Sulli sadari Taemin menariknya begitu saja. Sulli hanya menurut, ia merasakan sebuah gelombang aneh merasuk lewat tangan mereka yang sedang bertautan. Taemin pun merasakan hal yang sama, malah ia sengaja mengeratkan pegangannya dan merasakan sesuatu menggelitik perutnya. Debaran yang tak biasa ini ia rasakan setiap dekat Sulli.

Taemin menarik Sulli dengan langkah setengah berlari. Karena terlalau bersemangat, ia tak tahu di depannya ada akar pohon yang sedikit timbul ke tanah. Taemin tersandung dan terhuyung. Tapi sebelum ia terjatuh sebuah tangan menariknya. Tangan Sulli.

Sulli menarik Taemin yang hampir terjatuh. Ia kehilangan keseimbangan, Sulli pun ikut terhuyung ke belakang. Akhirnya mereka berdua terjatuh di atas rerumputan.

BUK

Taemin jatuh tepat di atas dada Sulli. Kejadian di perpustakaan itu terjadi lagi, tapi kali ini Taemin yang berada di atas menindih Sulli. Wajah mereka saling berdekatan. Lebih dekat lagi malah. Hanya beberapa sentimeter dan mungkin bibir mereka akan saling bersentuhan.

Sulli menahan napas. Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan, tidak ada yang mau bergerak dari posisinya baik Sulli maupun Taemin. Jantung mereka pun sudah sama-sama berdegup abnormal.

“Ta-Taemin..”

“Hm?” gumamnya, tersadar namanya disebut.

“Taemin, bisakah kau bangun? Kau err- berat.” Ujar Sulli.

“Ah,” Taemin baru sadar akan posisinya langsung bangun dan mulai salah tingkah. “Mianhae.” Ujarnya dengan muka memerah.

Sulli pun sama, mukanya memerah. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti tomat. Suasana seketika berubah menjadi awkward.

Sulli duduk dengan memeluk lututnya, sedangkan Taemin duduk bersila sambil memainkan rumput. Tak ada pembicaraan yang berarti di antara mereka. Sama-sama canggung. Ketika salah satu dari mereka akan membuka pembicaraan tiba-tiba saja rasa canggung kembali menyelimuti pikiran mereka. Dan akhirnya hanya diam yang bisa mereka lakukan sekarang.

Taemin mendongak, memandang langit sore yang agak kelabu. Musim gugur memang identik dengan hujan. Beberapa saat kemudian, ia merasakan titik-titik kecil air jatuh di wajahnya. “Sulli-ah, sebaiknya kita berdiskusi dan menyelesaikan laporan di perpustakaan. Sebentar lagi akan hujan.” Taemin bangkit dan menarik tangan Sulli.

Di perpustakaan pun sama. Mereka masih merasakan suasana yang begitu awkward sampai Sulli membuka pembicaraan. Ia merasa kalau seterusnya begini tugasnya juga tidak akan cepat selesai dan ia tidak akan cepat terlepas dari Taemin. Selanjutnya, hanya tentang penelitian, biologi, dan alur diskusi yang datar yang  menjadi pembicaraan mereka.

Membosankan memang, tapi bagi Taemin ini adalah saat-saat yang perlu diberi bingkai bunga dalam otaknya. Dalam diskusi yang serius ini pun ia masih sempat menikmati wajah cantik Sulli. Alih-alih mendengarkan dan pura-pura respect.

***

Taemin berhenti di sebuah taman di tengah kota Seoul. Taemin lalu mematikan mesin mobilnya dan melepas seatbeltnya. Ia hanya tersenyum melihat ekspresi Sulli yang kebingungan.

“Kenapa berhenti di sini?” tanya Sulli.

“Tak apa.” Taemin hanya tersenyum simpul. “Ayo turun! Ada yang ingin kutunjukkan padamu.” Kata Taemin sambil membuka pintu mobilnya.

Sulli menurut dan ikut turun. Mereka lalu berjalan memasuki sebuah taman. Tampak masih ramai meskipun malam hari. Lampu-lampu taman yang berkelap-kelip berjajar di sepanjang jalan setapak yang melintang di tengah taman.

Taemin menghentikan langkahnya di depan sebuah bangku. Begitu juga dengan Sulli. “Taemin, sebenarnya kita mau apa ke sini? Kau bilang tadi kau ingin cepat pulang. Tapi, kenapa kita malah berhenti di sini? Bagaimana kau ini.” Oceh Sulli

Lagi-lagi Taemin tersenyum, “aku ingin melihat bintang.” Jawab Taemin singkat.

Sulli menggerutu pelan. “Mwo? Hanya melihat bintang kenapa harus jauh-jauh ke sini.”

“Sudahlah, kau duduk saja ya.” Taemin menarik tangan Sulli agar duduk di sebelahnya. Sulli nampak canggung, mengingat apa yang sudah dilakukan Jiyoung padanya. Ancaman Jiyoung supaya ia tak dekat-dekat dengan Taemin masih sangat jelas terekam di otaknya. Apa yang sebenarnya dia rencanakan? Bukankah Jiyoung sudah terang-terangan menolak Taemin? Kenapa sekarang dia melarang dirinya dekat dengan Taemin? Padahalkan Taemin yang tiba-tiba berubah sikap dan mendekati dirinya.

Entahlah ini semua terlalu membingungkan.

Beberapa saat kemudian terdengar suara ledakan kecil dan cahaya warna-warni di atas langit. Kembang api. Taemin kembali tersenyum.

“Wah, bagus kembang apinya.” Ujar Sulli kagum.

“Sekarang sudah tidak penasaran lagi, kan?” ucap Taemin. Sulli membalasnya dengan tertawa kecil. “Karena hari ini adalah hari sebelum Chuseok, jadi di taman ini diadakan festival kembang api untuk menyambut Chuseok.” Lanjut Taemin, pandangannya masih tertuju pada letupan warna-warni di langit itu.

Cuma kebetulan atau memang ini semua rencana Taemin? Tapi kenapa dia malah mengajakku? Kenapa tidak dengan Jiyoung saja? Taemin kan menyukainya. Jangan-jangan dia mengajakku ke perpustakaan hanyalah alibi yang sebenarnya adalah kencan. Aish, apa yang kau pikirkan Sulli! Batin Sulli di sela-sela pesta kecil kembang api.

Sekitar 15 menit mereka menikmati indahnya kembang api. “Ayo pulang. Sudah selesai, kan?” Sulli berdiri dari tempat duduknya.

“Err-..Sulli-ah, sebenarnya ada satu lagi yang ingin aku tunjukkan padamu.” Taemin menarik tangan Sulli dan dia kembali duduk.

“Apa lagi?”

Lalu Taemin mengeluarkan sebuah buku berwarna biru muda dari dalam tasnya. Ia meraih tangan Sulli dan bergumam, “Mianhae.”

Sulli kaget dengan sesuatu yang diberikan Taemin padanya. “Ini..”

“Ya, itu milikmu, kan?” Taemin menatap lekat Sulli yang masih memasang ekspresi tidak percaya. “Mianhae, sebenarnya aku tak bermaksud sedikitpun menyembunyikan buku catatan pribadimu atau menahan lebih lama barang yang bukan milikku. Tapi, aku menunggu waktu yang tepat untuk mengembalikan ini padamu. Sekaligus-…”

“Ja-jadi selama ini kau?” Sulli sengaja memotong pembicaraan. “Tak perlu menunggu waktu yang tepat bukan jika hanya ingin mengembalikan barang yang bukan hakmu.”

“Mianhae Sulli-ah. Dan, maaf juga karena aku tak sengaja membaca isinya.”

Bagaikan dihantam berton-ton batu, rasanya Sulli tak bisa berkata apa-apa. “M-mwo?”

“Sulli-ah..”

“Astaga. Eotteoghe?” Sulli tertunduk tak berani menatap mata Taemin. ”Kau tahu perasaanku dengan cara yang seperti ini, itu memalukan.” Perlahan kristal-kristal bening mulai keluar dari sudut mata Sulli.

Taemin semakin menatap Sulli meskipun gadis itu terus menunduk.

“Aku..sebatas kenal denganmu saja aku sudah merasa senang. Aku tak mau berharap lebih sekarang karena sudah cukup aku sakit karena rasa ini.”

“Tapi kenapa?”

“Karena aku tak pantas untukmu.” Sulli menyeka titik air mata di pipinya. “Semua sudah jelas kan, Taemin? Aku mau pulang.”

Sulli berjalan meninggalkan Taemin yang masih terpaku. Sulli berbalik hendak meninggalkan Taemin, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya, memeluknya dari belakang. Tangan Taemin.

“Tunggu. Kau tak bisa membohongi perasaanmu terus-menerus seperti ini.” Ujar Taemin. Air mata Sulli semakin meleleh sekarang.

Sulli terdiam menelaah perkataan Taemin barusan. “Kau tahu, Sulli-ah? Sebenarnya, aku sangat menyayangimu. Saranghae. Jeongmal saranghaeyo, Choi Sulli.” Bisik Taemin tangannya masih melingkar di perut Sulli, dan Sulli pun tak melakukan apa-apa.

Sulli berbalik, ia menghadap Taemin sekarang. “Sudahlah, lupakan isi catatan harianku yang pernah kau baca. Abaikan perasaanku padamu. Asal kau tahu, ada yeoja lain yang lebih sempurna dariku yang juga mencintaimu.”

“Tidak, aku hanya mencintaimu.”

“Lupakan, aku tak pantas untuk orang sesempurna kau.” Sulli mengusap air mata yang jatuh semakin deras.

Taemin meraih tangan Sulli. “Lihat mataku, tatap mataku. Apa aku terlihat bercanda mencintaimu? Apa aku terlihat hanya main-main dengan perasaan seseorang?”

Sulli masih belum berani menatap mata Taemin.

“Sejak kejadian Jiyoung menolakku, rasanya aku sudah tak mampu membuka hatiku untuk siapapun. Rasanya sakit sekali hatiku setiap kali mendengar kata cinta. Tapi entah kenapa semenjak aku tak sengaja menemukan buku catatan pribadimu dan aku membaca isinya, aku terus memikirkanmu. Ketika aku melihat senyummu, ada perasaan aneh di sini.” Taemin menunjuk dadanya. Sejak kejadian dengan Jiyoung tempo hari di toilet juga Sulli harus berpikir dua kali untuk dekat dengan Taemin.

“Ya, senyuman itu telah meluluhkan hatiku. Semakin lama, aku semakin penasaran denganmu dan ketika aku dekat denganmu jantungku berdetak dengan kecepatan abnormal.” Taemin menggenggam tangan Sulli lebih erat. Ternyata itu makna dari senyuman tipis Taemin selama ini.

Taemin memegang dagu Sulli, lalu mengangkatnya agar ia bisa menatap wajah yeoja cantik di depannya itu lebih dekat. “Sulli-ah, would you be my girlfriend?” Mata mereka saling beradu sekarang.

“Taemin, aku..”

***

To Be Continue

***

A/N:

Annyeonghaseyo reader-deul.

Sudah kangen kah kalian dengan fic ini? Hehehe

Author comeback setelah sebulan lebih perjuangan melawan UAS #halah. Sebenarnya seminggu yang lalu author udah mau publish sih fic ini tapi karena saya lagi sebel sama dosen yang nunda jadwal Ujian Praktikum saya, jadi author putuskan publish saat liburan semester dan ujian benar-benar selesai. ^^v

Sudah terjawab kan ‘secret’ di chapter 3. Sekarang sebuah ‘secret’ lagi di chapter 4, coba tebak apakah Sulli akan menerima Taemin?

Bagaimana dengan alur ceritanya? Membosankankah? Bagaimana dengan kualitas penulisan saya, apakah ada yang kurang setelah sebulan nggak bikin fic?

Comment please ^^

Terima kasih sudah membaca, satu comment kalian adalah satu semangat untuk author. #bow

RCL.

7 thoughts on “SECRET CHAPTER 4

  1. Annyeong eonnie ^^
    Kim San Mi imnida,reader baru,salam kenal ^^
    Eon,sebenarnya aku baca FF ini dari part.2,tapi aku comentnya di part.4 aja,ya? Mianhamnida,bukan mau jadi siders,tapi aku ketemu web ini baru hari ini.
    Ceritanya bagus,kok,seru.Cocok sama judulnya,alur ceritanya itu ‘tidak’ mudah ditebak,dan juga ada rahasia-rahasia baru ditiap chapter.
    Cuman,kesannya Taemin plin-plan,ya.Hehe😀
    Ditunggu part.5-nya,ya eonnie.Ceritanya bagus,gak ngebosenin,kata-kata yang eonnie pake juga enak.*kayak makanan –“*
    Dilanjut,ya,eonnie.Daebak!
    Khamsahamnida ^^ *bow*

    • Annyeonghaseyo. Silfia ibnida, bangapta saeng ^^
      Gwaechana, soal siders saya sudah biasa menghadapi yang begitu, itu hak masing2 ^^
      Dan soal Taemin, saya emang sengaja buat karakter Taemin yang seperti itu. hehe
      Gamsahabnida sudah membaca dan komen ^^

  2. annyeonghaseyo~ aaah surga banget blog ini… full dengan taelli >.<. ff-nya baguuuus. jiyoung, dirimu aneh sekali. taem nembak ditolak, taem deket sm sulli eh malah meradang. please jgn buat ff ini menggantung. ditunggu chapter selanjutnya <33

  3. Wah…Cinta segitiga…hmmph, finally It’s TaeLli, aku juga suka Jiyoung sih…hehehe!
    Baru baca chapter yg ini, tinggalkan jejak dulu ya Thor…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s