Time Machine

TIME MACHINE

CHIELICIOUS © 2012

Cast: 

  • Lee Sungmin
  • Lee Sunny

Genre: Romance, Sad, Friendship.

Ratting : PG-15

Warning: Ficlet. Typo. Bahasa berantakan tidak menurut EYD. Abal. Dan segala kegajean ada di fic saya ^^v Don’t Like, Don’t Read.

Disclaimer: You know Who? ^^

Backsound: SNSD – Time Machine

The original story from my brain. Fic ini adalah hasil imajinasi saya.

NOT FOR THE SILENT READER.

DO NOT COPY THIS STORY.

Yang mau komplain di twitter @ciicucil ^^

Read, like and leave a comment. Selamat membaca ^^

***

Spring.

Sunny sangat bersemangat. Pagi di musim semi memang sangat indah, kicauan burung, deretan pohon sakura yang mekar di sepanjang jalan, dan udara yang sejuk. Yeah, a beautiful spring morning.

Pagi itu, senyuman Sungmin yang pertama kali ia lihat saat ia akan berangkat ke Universitas. Senyuman yang selalu ia kagumi, senyuman yang membuatnya merasa bahagia.

Sejak bertemu dan mengenal Sungmin, entah mengapa ia merasa berbeda. Sungmin yang membawanya keluar dari keputusasaan akibat ia kehilangan orang tuanya. Sungmin yang mengenalkannya pada cinta.

Ya, ia mencintai Sungmin. Sangat mencintainya.

Sungmin menyapanya, “annyeong Soonkyu-ah.” Hanya orang tuanya yang boleh memanggilnya dengan nama Soonkyu, tapi kali ini Sunny tak marah Sungmin memanggilnya seperti itu.

Sungmin hanya menyapanya, tapi tidak menghentikan sepedanya malah menambah kecepatan. “Ya!” teriak Sunny.

Sungmin menoleh kebelakan sambil menjulurkan lidahnya, mengejek, “kau lambat, Lee Soonkyu.”

Sunny mengerucutkan bibirnya sebal, dan Sungmin masih dengan senyum dan tawanya meninggalkan Sunny yang tampak sebal. Pagi musim semi dan senyuman manis Sungmin yang semanis cherry blossom, ini adalah favoritnya.

***

Summer.

Siang yang panas. Sunny sedang serius mencatat sesuatu di salah satu meja baca di sudut perpustakaan. Efek AC tidak terlalu berpengaruh rupanya, karena buktinya masih banyak pengunjung yang mengipasi dirinya.

Sunny masih sibuk membaca lalu menulis sesuatu di buku catatannya.

“Psstt..Sunny-ah,” bisik seseorang di belakangnya.

Sunny tak menghiraukannya. Tiba-tiba sebuah tangan menutupi mata Sunny.

“Lepaskan tanganmu, Sungmin Oppa.”

Sungmin melepas tangannya, lalu duduk di samping Sunny. “Yah, kau tidak asyik. Seharusnya kau penasaran dan menanyakan siapa,” kata Sungmin.

“Kau ini seperti anak kecil saja,” gumam Sunny.

“Sunny-ah kau tidak panas, aku merasa di sini suram sekali hawanya. Apalagi dengan buku-buku itu di depan mata.”

“Ya! Kau menyindirku?”

Sungmin terkekeh, “menurutmu?”

“Menyebalkan,” jawab Sunny.

“Hey, kupikir daripada otakmu terlalu panas dengan buku ensiklopedia setebal itu lebih baik kau membaca ini.” Sungmin mengeluarkan sebuah benda kotak berwarna metalic. Tapi itu bukanlah sebuah buku.

“Nintendo DS?”

“Mau coba main?” tawar Sungmin, dan disambut dengan cengiran lebar oleh Sunny.

Akhirnya Sunny tergoda juga meninggalkan tugas kuliahnya demi Nintendo DS. Sungmin yang selalu mengenalkannya pada hal yang baru dan akhirnya menjadi kesukaannya.

***

Autumn.

Terjebak hujan memang sangat menyebalkan. Apalagi ia lupa membawa jaket dan payung. Jadilah ia harus menunggu sampai hujan reda untuk bisa pulang

Dingin tiba-tiba menyeruak ke dalam tubuhnya. Hujan semakin menggila. Dan Sunny semakin frustasi ia akan pulang lebih cepat. Padahal rencananya hari ini ia akan pulang dan menyelesaikan tugas kuliahnya dan deadline pengumpulan besok bisa ia tepati.

Tapi musim berkata lain. Planing hancur gara-gara hujan. Sunny berdecak kesal. Sunny mengeratkan tangannya, bersendekap lebih erat lagi.

Tiba-tiba sebuah benda hangat menyelimuti badannya dari belakang. Sunny menoleh dan mendapati cengiran lebar milik Sungmin.

“Ayo,” kata namja itu sambil melebarkan payungnya.

Sunny hanya memandangnya heran. “Kau tak mau pulang? Joha, syukurlah aku tak perlu berbagi payung denganmu,” cengiran lebar itu lagi-lagi muncul dari bibir Sungmin.

“Ya! Tunggu aku, oppa!” Sunny berlari kecil menyusul Sungmin yang berjalan agak menjauh dari tempat Sunny berdiri. Jadilah Sunny agak basah gara-gara Sungmin.

“Dasar lambat, kau jadi basah begini, kan,” katanya sambil mengusap puncak kepala Sunny. Sunny tersenyum. Mereka berdua sedang berada dalam satu lindungan payung sekarang.

Ya, terlihat sangat romantis. Mereka berjalan menjauhi halaman universitas, menyusuri jalan-jalan Seoul yang basah berdua. Di bawah payung yang sama.

***

Winter.

Sunny memandang jendelanya yang berembun. Ia mengusap sedikit permukaan jendela itu agar ia bisa melihat keluar. Pagi yang bersalju, Sunny mengeratkan pegangannya pada segelas coklat hangat yang ada di tangannya. Menyalurkan sedikit kehangatan di tubuhnya dan hatinya yang dingin seperti di luar sana.

Salju. Mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang sangat berharga sepanjang kehidupannya. Seseorang yang telah memberikan banyak warna pada hidupnya. Lee Sungmin.

Salju. Yeoja itu sangat suka salju. Sunny teringat saat pertama kali ia bertemu saat salju pertama turun di malam natal.

Ia dan Sungmin tak sengaja bertemu di halaman gereja saat Misa Natal telah usai. Saat itu Sunny sendirian, duduk di sebuah bangku. Pandanganya kosong.

Di sana Sungmin menghampirinya dengan sebuah senyuman tulus dan menenangkan.

Ya, sebelumnya mereka memang sudah sering bertemu. Mereka pergi ke gereja yang sama setiap minggunya, menuntut ilmu di Universitas yang sama, dan rumah mereka hanya berselang beberapa komplek.

Sunny mengingatnya, saat ia dan Sungmin saling melempar salju sesaat setelah Sungmin berhasil membuatnya tertawa. Ya, usaha yang sangat gigih yang dilakukan Sungmin demi membuat Sunny tertawa.

Lalu mereka membuat sebuah boneka salju. “Pinjam syalmu,” kata Sungmin.

“Tidak mau. Dingin. Kau pikir ini seenaknya bisa kau minta,” Sunny menjulurkan lidahnya.

Sungmin berkacak pinggang, memperhatikan secara serius boneka salju karya mereka. “Kau tahu, Sunny-ah?”

“Mwo?”

“Boneka salju ini pendek seperti kau,” Sungmin tertawa.

“Ya!” Sunny lalu melempar namja di sebelahnya itu dengan gumpalan kecil bola salju.

Sungmin yang langsung berlari menghindar masih tertawa dengan lepas.

Sunny tertawa kecil ketika mengingatnya, sesaat kemudian ia kembali menampakkan raut wajah menyesalnya. Menyesal karena ia telah kehilangan kesempatan. Tak ada lagi tawa bersama Sungmin. Tak ada lagi yang menyapanya dengan senyuman lebar di pagi hari. Tak ada lagi yang mengajarkannya hal-hal yang baru. Tak ada lagi yang memainkan sebuah melodi indah dengan gitar untuknya. Tak ada lagi orang yang membantunya di saat yang tak terduga.

Ya, orang itu telah pergi.

Sungmin, ia telah jauh darinya. Setelah menyelesaikan skripsinya, Sungmin memutuskan untuk pergi melanjutkan study ke Amerika. Ya, di sana ia berharap bisa mendapatkan gelar professor seperti yang ia dan keluarganya inginkan.

Sunny menyesal ia tak pernah mengatakan pada Sungmin sebelum ia pergi. Sakit dan bahagia bercampur jika mengingatnya, entah mana yang lebih sering ia rasakan. Waktu tidak akan kembali berputar ulang menghilangkan semua penyesalan dan memperbaiki semua kesalahan. Waktu, ya ia sangat ingin mengulang waktunya kembali. Kembali saat ia dan Sungmin masih sering bersama dan tertawa. Saat dimana ia masih bisa melihat Sungmin, dan ia akan mengatakan bahwa ia mencintai Sungmin.

Sudah sangat terlambat, Sunny-ya.

***

Before it becomes a distant fleeting memory. I need a time machine. It’s selfish but it’s because love you.

***

-END-

***

A/N:

Gagal seru. Sumpah saya ga dapet feelnya sama sekali! Entahlah ini layak disebut fic atau bukan. Dan soal genre, saya jadi bingung mau ngasih genre apa, romance juga ga terlalu, sad juga feelnya ga dapet. Saya buat produk gagal lagi intinya, ya ampun~ (_ _)v

Terima kasih banyak sudah membaca fic ga jelas ini ya. Mian jelek sekali. #bow

Comment please.

2 thoughts on “Time Machine

  1. Eonnie,, keren bgt aah…!!
    Time Machine?? Aq pikir ceritanya salah stu di antara SunSun couple bkalan dtg dr zaman lain trus ketemu sama pasangannya, pdahal bukan..
    Tp endingnya gimaana gt.. Buat sequel donk…
    Pnasaran sama hubungan mereka?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s