SECRET CHAPTER 5

SECRET CHAPTER 5

CHIELICIOUS © 2012

Cast: 

  • Choi Sulli
  • Lee Taemin
  • Kang Jiyoung

Genre: Romance, Friendship

Rating: PG-Rated

Warning: Multichapter. Typo beterbangan. Bahasa berantakan tidak menurut EYD. Abal. Dan segala kegajean ada di fic saya ^^v Don’t Like, Don’t Read.

Disclaimer: Yang jelas Taemin dan Sulli bukan punya saya, tapi karena ini fic saya jadi mereka adalah punya saya #plak

The original story from my brain. Fic ini adalah hasil imajinasi saya.

DILARANG BASHING CHARA.

NOT FOR THE SILENT READER.

DO NOT COPY THIS STORY.

Silahkan kalau ada komplain di twitter saya @ciicucil

Read, like and leave a comment. Selamat membaca ^^

 

***

 

Sulli kembali menunduk, tak berani menatap mata Taemin lebih lama lagi. Takut ia akan semakin jauh terperangkap di dalamnya. Sedangkan tangan Taemin semakin erat menggenggam jemari dingin Sulli. Berharap banyak kali ini ia tidak mengalami penolakan untuk yang kedua kalinya.

Demi apapun Sulli ingin menjawab iya, seandainya bisa ia akan berteriak iya. Ini adalah momen yang ia impikan sejak empat tahun lalu. Tapi, entah kenapa bibirnya terasa tertahan sesuatu. Otaknya berpikir keras. Jujur saja hatinya menginginkan ini, tapi di sisi lain bayangan akan kata-kata Jiyoung terus teringat.

Dilema.

Benar-benar pada posisi yang sulit. Seandainya ia terima, hidupnya diambang-ambang antara manisnya cinta bersama Taemin dan pahitnya balasan dari Jiyoung yang memimpikannya pun Sulli tak mau.

Dan jika ia menjawab tidak, maka ia akan menyesali jawabannya ini seumur hidupnya. Ia akan jatuh dalam kubangan yang lebih dalam dari sebelumnya. Jika sebelumnya kesalahannya adalah ia tak pernah berani berkata jujur pada Taemin bahwa ia menyukai Taemin, kali ini kesalahannya adalah ia telah membuang kesempatan yang sudah jelas-jelas ada di depan matanya. Ia akan sama bodohnya dengan Jiyoung. Ia akan jauh lebih sakit, dan pastinya ia juga menyakiti Taemin. Sulli tak mau itu terjadi.

“Baiklah, mungkin ini terlalu tiba-tiba. Kau tak harus menjawabnya sekarang,” Taemin masih menggenggam tangan Sulli. Tangan kanannya sekarang bergerak ke puncak kepala Sulli, mendekatkan ke dada bidangnya lalu menciumnya singkat. “Aku yakin sekali kau akan menerimanya, Sulli-ah,” katanya percaya diri.

Sulli mendongak, dan mendapati tawa Taemin. Ya, Lee Taemin sedang berusaha mencairkan suasana yang sebelumnya begitu rumit. Tangan Taemin sekarang mulai mengusap bekas air mata yang menetes di pipi Sulli, “uljima, kau jelek saat menangis.” Sulli hanya tersenyum tipis menanggapi candaan Taemin.

“Aku antar kau pulang, kajja!”

 

***

 

“Ah, kalian dari mana saja? Jam segini baru pulang?” tanya Minho yang baru saja akan menutup gerbang rumahnya.

“Mianhae hyung, Sulli jadi pulang terlalu malam,” jawab Taemin sambil menunduk meminta maaf pada kakak Sulli. Pukul sembilan malam memang belum terlalu larut, tapi Taemin masih harus meminta maaf karena ia baru memulangkan anak gadis keluarga Choi itu. Etika baik tepatnya.

“Ahaha, tak apa Taemin-ah, aku malah senang tak ada nenek cerewet ini di rumah.” Dan kali ini Minho mendapat sebuah deathglare dari Sulli atas candaan garingnya.

Taemin tersenyum kecil melihat Sulli yang sempat menampakkan senyum tulusnya meskipun singkat. “Baiklah, aku pulang dulu ya, Minho hyung, Sulli-ah. Annyeonghigaseyo.”

“Ne, hati-hati dan terima kasih sudah mengantar Sulli pulang, Taemin-ah.”

Sulli hanya memandang Taemin yang masuk ke dalam mobil dan masuk ke dalam rumah begitu saja meninggalkan Minho yang masih berdiri di gerbang.

“Kau dari mana?” tanya Minho pada Sulli, setelah ia menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga.

Sulli ikut duduk di samping kakaknya. Menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. “Kerja kelompok.”

Minho menatap lekat adik perempuannya itu, “jinja? Aku tahu kalian sedang pergi kencan.”

Sulli setengah kaget dan langsung menegakkan badannya. “M-mwo? Oppa sok tahu sekali.” Pipinya memerah sekarang. “Kau sendiri dari mana?”

“Pergi dengan Krystal,” jawab Minho santai.

“Pergi? Dengan Krystal?”

“Ya! Kau pikir hanya kau yang bisa berkencan dengan Taemin, aku juga bisa pergi kencan dengan Krystal.”

“Sejak kapan kau berkencan dengan Krystal?” tanya Sulli penasaran.

Minho hanya tersenyum jahil, “rahasia.” Lalu menjulurkan lidahnya.

“Ya! Choi Minho!”

 

***

 

Meskipun hubungan mereka belum sepenuhnya resmi, tapi setidaknya mereka berdua sudah saling tahu perasaan masing-masing. Kadang Sulli masih belum percaya apakah pernyataan malam itu nyata atau hanya mimpi belaka.

Sulli tahu, sepanjang pelajaran matematika tadi Taemin selalu mencuri pandang ke arahnya. Dalam hati diam-diam ia merasa senang akhirnya cintanya terbalas. Namun, seketika itu ia ingat masih ada satu penghalang di luar sana.

Sulli hanya diam dan berusaha cuek. Berbeda dengan Taemin yang sudah nampak jelas sering mununjukkan perhatian yang berlebihan pada Sulli. Ya, ia merasa masih harus menjauh selagi Jiyoung masih mengawasinya.

Buku itu masih terbuka tanpa dibaca. Sulli yang sedari tadi duduk di salah satu bangku panjang di taman belakang sekolah hanya menerawang kosong menatap buku tebal yang ada di tangannya. Pikirannya melayang entah kemana. Perasaan bimbang masih menutupi perasaannya.

Seseorang duduk di sampingnya tanpa ia sadari. Lantas tersenyum melihat Sulli yang hanya menatap kosong benda di depannya. “Kau tidak ikut Krystal dan Amber ke kantin?”

Sulli tersadar, suara itu sangat familiar di telinganya. “Eh? Taemin?” ujarnya pelan.

“Kau pasti belum makan, kan? Bentomu belum kau sentuh sama sekali.” Taemin tersenyum melihat sebuah kotak makan kecil berisi sandwich dibiarkan begitu saja di samping Sulli.

“Ah, itu, aku melupakannya,” kata Sulli.

Taemin mengambil bento itu lalu membukanya untuk melihat isinya, “ini pasti nikmat sekali, ayo aaa..buka mulutmu, Sulli-ah.” Taemin mengambil salah satu potongan sandwich itu dari dalam bento Sulli dan mengisyaratkan agar Sulli membuka mulutnya.

“Taemin, kau berlebihan.” Ia merasa seperti anak kecil. Jujur saja lama-lama Sulli menjadi malu jika terus diperlakukan seperti ini oleh Taemin. Ini cara menolak secara halus, mungkin.

“Ani, kau belum makan. Dan kau harus menghabiskan bekalmu. Arraseo? Buka mulutmu, aa..” Setelah itu Sulli hanya mengangguk dan menuruti perkataan Taemin.

Seperti terhipnotis. Ia membuka mulutnya, dan Taemin mulai menyuapkan sepotong sandwich untuk Sulli. Taemin tersenyum melihat Sulli. Ia tak pernah sebahagia ini, dekat dengan seseorang yang ia sukai -meskipun mereka belum resmi- adalah satu kesenangan tersendiri.

“Enak?” Sulli mengangguk, dan Taemin tersenyum lagi. Aigo, sepertinya ia tak bisa berhenti tersenyum kalau keadaannya seperti ini setiap hari.

“Kau mau mencoba?” tanya Sulli tiba-tiba.

“Tentu saja.” Ia lalu menyuapkan potongan sandwich yang habis ia suapkan ke Sulli untuknya sendiri. Sulli pun ikut menikmati makan siangnya. Berbagi bekal makan siang, sangat manis.

Oh, tahukah kalian? Itu tadi berarti ciuman secara tidak langsung. Dan mereka berdua tak sadar.

“Hmm, mashitta. Buatanmu sendiri?”

Sulli menggeleng, pandangannya sekarang beralih ke arah serumpun lili yang mulai layu di depannya. “Ani, Eomma yang membuat.” Diam-diam pipi Taemin memerah, sedikit malu tebakannya salah. Padahal kalaupun benar ia akan lebih memuji Sulli lagi.

Sulli menoleh ke arah Taemin yang masih menikmati setengah dari potongan yang ia makan. Ia mengambil sebuah sapu tangan dari saku rok seragamnya. Tangan itu lantas bergerak menuju sudut bibir Taemin yang terdapat bekas mayonaise dan mengusapnya pelan.

Taemin yang tak pernah menduga Sulli akan melakukan ini padanya, reflek memegang tangan Sulli. Mereka saling berpandangan untuk beberapa saat. “Gomawo,” bisik Taemin.

Pipi Sulli lebih memerah lagi. Taemin belum melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Sulli. Jika waktu bisa ia hentikan, Taemin mau terus seperti ini selamanya.

“Ne, cheonmaneyo.” Suara Sulli yang akhirnya menyadarkan Taemin. Ia gelagapan dan segera melepaskan genggamannya itu.

“Di luar mulai dingin sepertinya akan hujan, ayo masuk.” Sekarang sebuah tarikan tangan Taemin pada Sulli setelah melihat langit agak kelabu dan angin tidak bisa dikatakan semilir lagi.

Taemin dan Sulli, mereka berdua terlalu asyik dengan dunia mereka sendiri. Seolah hanya ada mereka berdua di sana. Melupakan seseorang yang diam-diam mengawasi mereka dari kejauhan. Kang Jiyoung dengan tatapan kebencian melihat adegan mesra antara Taemin dan Sulli.

Sulli lupa akan ancaman yang satu itu.

 

***

 

Seminggu sudah hubungannya menggantung. Tak ada jawaban iya, tapi kemesraan antara mereka semakin terlihat jelas. Taemin yang sengaja mengumbarnya tepatnya. Meskipun Sulli sudah berusaha tampak cuek dan menghindar, tapi entah kenapa Taemin seperti magnet baginya. Ia tanpa sadar selalu tertarik dan terhipnotis begitu saja.

Ia seperti terus terikat dengan Taemin. Kadang kala ia ingat, bagaimana nantinya kalau Jiyoung tahu bahwa sebenarnya Taemin sudah menyatakan cinta padanya. Ia tak mau membayangkan apa yang akan gadis itu lakukan padanya jika ia tahu.

Bukannya Sulli takut pada ancaman itu, tapi ini tentang sebuah perasaan. Semua akan tersakiti pada akhirnya jika ia menuruti egonya. Jiyoung dengan sikapnya yang begitu, berarti ia sudah benar-benar sakit hati pada Taemin dan Sulli. Sulli juga, ia akan semakin sakit jika masalah cintanya yang rumit ini tak kunjung menemukan jalan akhir. Iya dan tidak, dua kata diambang perasaannya. Taemin pun sama, jika Sulli berkata tidak, ia akan sakit hati juga. Apalagi jika tahu penyebab dari Sulli menolaknya, sakit hati itu akan berlipat lagi. Bukan hanya pada Sulli, mungkin Taemin akan membenci Jiyoung juga nantinya.

Dari sini mungkin akan muncul sedikit dendam. Dari luka kecil, maka lama kelamaan jika tidak ditutup luka itu akan semakin melebar. Sulli masih berpikir seperti itu sampai detik ini. Rumit dan entahlah, ini terlalu membingungkan.

Bel pulang menjerit. Sepanjang pelajaran seni rupa hari ini dihabiskan dengan melamun oleh Choi Sulli. Tak ada mood  baik untuk memperhatikan, otomatis konsentrasi akan hilang. Masalahnya terlalu pelik untuk seorang gadis polos seperti Sulli.

“Ya! Sulli-ah, aku pulang duluan ya. Jessica eonni sudah menungguku di luar.” Krystal menepuk pundak Sulli sambil tersenyum. Dan dibalas oleh dua lekukan eyes smile milik Sulli.

Ia segera mengemasi bukunya dan memasukkannya pada tas ranselnya. Ia berhenti sejenak. Memandang Taemin yang sedang asyik berbincang-bincang dengan temannya. Lalu ia meneruskan mengemasi bukunya kembali.

Di luar cuaca sedang dingin, Sulli memakai sweater merahnya dan beranjak keluar kelas. Sulli berjalan sendirian menuju lokernya. Ada beberapa barang yang harus ia ambil dari sana. Setelah sampai di loker dan membuka kuncinya, ia segera mengambil barang yang dimaksud dan meninggalkan beberapa buku di dalamnya.

Tiba-tiba seseorang mendorongnya kasar ketika ia hendak berbalik meninggalkan loker. Yeoja itu menatapnya tajam, semakin memojokkannya ke loker yang ada di belakangnya. “Selamat atas kedekatanmu dengan Taemin.”

“Cih, tak ada topik lain yang ingin kau bicarakan?” ejek Sulli menatap balik mata yeoja di depannya.

Lorong dalam keadaan sepi, semua sudah pulang dan hanya mereka berdua yang ada di sana. “Sudah kubilang berapa kali padamu, kalau kau terus mendekatinya aku akan membuat perhitungan padamu.” Ia semakin memojokkan Sulli, mencengkeram kerah kemeja seragam Sulli.

“So, sekarang kau mau apa? Menyuruhku untuk menjauhinya lagi? Yang benar, kau harus menyuruhnya menjauhiku!” Sekarang Sulli yang menantang. “Inikah yang kau sebut pembalasanmu padaku? Payah. Hanya segitu keberanianmu, Kang Jiyoung? Bodoh. Kalau kau memang gadis yang pintar, seharusnya kau bisa merebutnya dariku dengan mudah. Berusaha mendekati Taemin lagi dan bisa mendapatkannya kembali dengan cara yang pintar. Tapi kau bodoh, kau hanya bisa melihatnya dan tak melakukan apa-apa.”

Jiyoung geram mendengar ucapan Sulli yang merupakan sebuah pukulan telak baginya. Tangan Jiyoung mulai terangkat sekarang. Ia semakin dibuat emosi oleh perkataan Sulli. “Kau..”

“Kenapa? Kau mau menamparku? Silahkan, kau pikir aku takut padamu, huh? Aku tak takut padamu sekalipun kau pukul aku sampai pingsan,” kata Sulli berani. “Ayo, tampar.”

Tangan itu mengayun mendekat ke objek yang akan menjadi tempat pendaratannya. Pipi Sulli. Tapi sesuatu berhasil menahannya. Sebuah tangan menahannya. Jiyoung tak bisa menyembunyikan keterkejutannya setelah tahu tangan siapa yang memegang pergelangan tangannya itu.

“Ta-taemin.” Jiyoung tergagap.

Taemin menghempaskan tangan Jiyoung kasar, lalu berdiri di depannya menatapnya tajam. Dan Sulli berada di belakangnya. “Apa yang kau lakukan padanya?”

Jiyoung tak tahu harus beralasan apa sekarang. Dia sudah tertangkap basah. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah diam dan menghindari tatapan tajam Taemin.

“Kenapa kau hanya diam? Tak cukupkah kau menyakitiku, Kang Jiyoung?” suara lantang Taemin menggema di sepanjang lorong dimana loker-loker itu berada. Sedangkan Sulli yang berada di belakangnya hanya menunduk.

Merasa tak ada jawaban dari yang ditanya, Taemin malah terus menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan. Ya, diam dan diam yang Jiyoung lakukan, tak menjawab sepatah katapun perkataan Taemin. “Kau punya mulut, kan? Kenapa hanya diam saja, huh? Sulli tak pernah bersalah padamu. Sekarang, kau mau menyakitinya?”

“Kalau iya, kenapa? Kau mau mati-matian membelanya, Taemin?” akhirnya Jiyoung angkat bicara juga.

“Apa alasanmu?”

Jiyoung tersenyum pahit, “dia telah merebut segalanya dariku, dia telah merebutmu!” teriaknya.

“Merebut katamu? Kau sangat lucu. Bukankah kau yang menolakku dan mencampakan aku? Asal kau tahu, Sulli tak pernah sekalipun merebut aku darimu, bahkan kita tidak pernah berpacaran. Jadi kau tak punya hak untuk melarangku atau Sulli untuk dekat. Camkan itu!”

Kemudian, Taemin menarik tangan Sulli, dan berjalan menjauhi Jiyoung yang masih berdiri di depan loker. Tak berapa jauh, Taemin berhenti dan menoleh ke belakang. Jiyoung masih tetap pada posisinya, terdiam tak percaya apa yang baru saja telah dikatakan Taemin. Secepat itu Taemin melupakannya.

Sebuah seringai licik terbentuk dari bibir Taemin. “Oh, satu lagi yang harus kau tahu, kami sudah jadian. Kami sepasang kekasih sekarang. Dan kau tak perlu repot-repot membuat kami mengakhiri hubungan kami, Kang Jiyoung.”

Sulli membulatkan matanya tak percaya. Ya, Taemin baru saja mengatakan bahwa mereka berpacaran, bahkan ia sendiri belum menjawab pernyataan cintanya. Hei, dia seenaknya sendiri saja.

Taemin kembali menarik tangan Sulli menjauh dari lorong tempat mereka berdiri. Jiyoung masih mematung di sana. Tangannya mengepal erat seolah semua amarahnya terkumpul di sana. Sesaat setelah Taemin dan Sulli sudah tidak terlihat lagi, Jiyoung mulai menumpahkan marahnya. Menendang keras sebuah loker yang tak bersalah di depannya, dan berteriak kalap.

 

***

 

“Kau tak apa-apa, kan?” tanya Taemin sambil meneliti setiap senti dari wajah Sulli, memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

Sulli menggeleng pelan. Ia memandang Taemin sayu. Ia tahu kekhawatiran yang besar itu terpancar dari mata Taemin. Sekarang, mereka sedang duduk berdampingan di sebuah halte tak jauh dari sekolah mereka. Menunggu sebuah bus melintas dalam diam.

”Taemin, gomawo,” ucap Sulli memecah keheningan antara mereka.

Taemin hanya membalasnya dengan seulas senyuman simpul tapi penuh arti, “sudah seharusnya aku melindungi orang yang sangat aku sayangi.”

Sulli pun ikut tersenyum. “Kau sudah banyak membantuku. Terima kasih.”

“Kalau tahu akan begini aku tak akan pernah membiarkanmu sendirian, Sulli-ah. Seharusnya aku sudah mencurigai ini dari awal. Bodohnya aku!” runtuk Taemin pada dirinya sendiri.

“Tak perlu seperti itu, Taemin. Lantas kau mau mengikutiku terus, begitu?” canda Sulli, setidaknya sedikit mencairkan suasana yang begitu kaku di antara mereka.

Taemin tertawa kecil, lalu mengacak-acak rambut Sulli. “Tentu saja, dan kau tidak boleh menolak. Aku akan jadi bodyguardmu.” Dan dibalas dengan senyuman dan eyes smile manis milik Sulli, manis sekali.

“Ah, hujan!” pekik Taemin. Bus belum datang, tapi hujan sudah datang terlebih dahulu. Jadilah mereka berdua harus terjebak hujan berdua di halte.

“Taemin,” panggil Sulli. Seperti ada sesuatu yang ia akan katakan pada Taemin. Dan yang dipanggil langsung mengalihkan pandangannya ke wajah cantik gadis di sampingnya itu.

“Ne?”

“Taemin, err- tadi kau- yang kau katakan pada Jiyoung kita sudah pacaran, err- tidak salah?” kata Sulli hati-hati.

Taemin menjawab dengan mantap, “tentu saja tidak.”

“Ya! Tapi, aku belum menjawab bersedia atau tidak menjadi pacarmu. Seenaknya saja.”

“Tidak perlu dijawab pun aku sudah tahu jawabannya,” ujar Taemin santai sambil memandang jatuhan air hujan di depannya.

“Kalau aku tidak mau?”

“Aku tahu kau mau, iya kan, Sulli-ah?” goda Taemin, ia mendekatkan wajahnya dekat telinga Sulli.

Pipi Sulli memerah sempurna, dan sayang sekali rona itu tak bisa ia tutupi lagi. Taemin kembali tertawa kecil. “Kau lucu sekali, sih.” Sekarang tangan Taemin mencubit gemas pipi Sulli. Sulli mengerucutkan bibirnya sebal. Kalau begini, pipinya bukan merah karena malu, tapi karena perlakuan tangan Taemin yang seenaknya mencubit pipinya itu.

“Taemin,” panggil Sulli lagi.

“Hn?”

“Hmm, bisakah kau ulangi pernyataanmu di malam Chuseok itu?”

Taemin mengerutkan dahinya sebentar,  dan kemudian berdiri dari tempat duduknya. Sekarang ia sudah berdiri tepat dihadapan Sulli, dan tanpa diduga Taemin malah berjongkok layaknya seseorang yang akan melamar kekasihnya.

Taemin dan Sulli saling menatap. Mata mereka beradu, “Choi Sulli, would you be my girlfriend?”

Sulli mengangguk yakin. Sesaat kemudian, Taemin langsung menghambur kepelukan Sulli. Tak bisa lagi membendung perasaan senangnya. Sulli sedikit terkejut dengan pelukan Taemin yang tiba-tiba, perlahan ia membalas pelukan Taemin. Seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Sekian lama ia bermimpi seperti ini, dan hari ini mimpi itu benar-benar nyata.

Taemin dan Sulli sama-sama terlarut dalam kebahagiaan dan indahnya masa-masa awal jadian. Bahkan mereka masih bertahan saling berpelukan untuk beberapa lama. Sampai tak sadar sebuah bus melintas dan mereka hanya membiarkan bus itu berlalu begitu saja.

Sulli yang ketika itu melihat, reflek melepaskan pelukan Taemin. “Ya! Busnya!” teriak Sulli.

“Wae?” tanya Taemin.

“Baru saja ada bus lewat,” ujarnya kecewa.

Taemin menyeringai jahil, “baguslah kalau begitu, kita bisa berdua lebih lama di sini.”

“Mwo?”

Lantas Taemin tertawa pelan karena kepolosan Sulli. “Lagipula hujan masih deras. Aku tak mau kau sakit karena kehujanan,” lanjut Taemin. Ia tahu Sulli tak membawa payung hari ini, dan jarak antara rumah mereka dan halte bus di ujung jalan kompleks lumayan jauh. Jadi, jika berjalan kaki tanpa memakai payung atau mantel hujan, basah kuyuplah mereka sesampainya di rumah.

Sulli mengangguk pelan. Benarkan? Apa saja yang dikatakan Taemin seperti sebuah sugesti yang akan membuatnya terhipnotis.

“Sulli-ah,” panggil Taemin.

Sulli menoleh ke arahnya, menatap raut wajah Taemin yang berubah menjadi serius. “Aku sudah menepatinya,” kata Taemin. Sulli mengerutkan dahinya, tak mengerti apa yang dimaksud oleh Taemin. “Kau ingin menikmati bunyi hujan bersama kekasihmu, kan? Sekarang aku sudah menepatinya, Sulli-ah.” Sulli lagi-lagi dibuat tersenyum oleh Taemin. Ya, Taemin pasti tahu hal ini dari catatan hariannya. Sekarang senyuman yang selalu menghiasi wajahnya, karena Taemin tentu saja. Sulli merasa sangat bahagia.

“Gomawoyo,” ujar Sulli, lantas menyandarkan kepalanya di bahu Taemin.

“Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Saranghae, Sulli-ah.”

“Na do, saranghae Lee Taemin.”

Taemin mulai mendekat ke arah wajah Sulli yang tidak jauh dari wajahnya. Mengeliminasi jarak antara mereka dan setelah itu Sulli dapat merasakan benda lembut itu menyentuh permukaan bibirnya. Hujan dan ciuman. Romantis.

Choi Sulli, kesabarannyalah yang membuat kisah cintanya happy ending seperti ini. Dan, oh, sepertinya ia juga harus banyak berterima kasih kepada buku catatan hariannya yang secara tidak langsung telah membuka jalan cintanya dengan namja first love-nya yang sekarang sudah menjadi kekasihnya, Lee Taemin.

 

***

THE END

***

Annyeonghaseyo reader-deul..

Secretnya sudah the end ya? Wah.. #plak

Benar sekali, ini adalah last chapter. Gimana endingnya? Pasti gaje deh. Kurang fluffy ya? Mianhae, saya lagi blank banget setelah mikir momen fluffy apalagi yang akan saya tulis. Dan jadilah ending yang seperti ini.

Maaf juga ya update-nya lama sekali. Hehe biasalah penyakit lama dan laptop saya sempat ngambek juga. ^^v

Terima kasih sudah membaca. Terima kasih banyak atas komen dan like-nya ya. Terima kasih juga silent reader. Terima kasih atas partisipasi kalian yang mengikuti Secret dari chapter awal sampe last chapter, you’re my reason to continue this fic.  #bow ^^

Last, RCL please ^^

17 thoughts on “SECRET CHAPTER 5

  1. anyoeng..
    Aq reader br, suka bgt ma alur cerita dn gaya bahasany ff in. Dn aq bruntung bgt nemu ini blog, krn trnyta bnyk skali ff Taelli.. Gumawo bt authorny, dtnggu krya2 slnjtny..Klo blh request sih, diantra Taelli masukin Kai jg dong ehehe..

  2. Annyeong2..#reader baru
    aku ketinggalan..skali baca langsung ke yg chapter akhir..
    Bagus thor..aku suka aku suka.. *sksd*
    FF nya bikin nge-fly(?) ..hhehe

  3. unnie unnie.. aku reader baru disini
    handa imnida^^~
    mian setelah baca semua aku baru bisa komen disini ._.v
    aku suka jalan cerita dr ff ini. ceritanya daebakk! apalagi tentang taelli couple. perbanyak bikin ff yg taelli couple yaa unni🙂

  4. AAAAAAAAAA!!!! GAMAU TAU SEQUEL HARUS ADA!!!! ceritanya SERU, ampe senyum sendiri bacanya:D Daebak thor! keep writing, ne? ╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ GO!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s