I Really Hate You [Chapter 1]

I REALLY HATE YOU

CHIELICIOUS © 2012

Main Cast:

  • Kim Joonmyun (EXO-K Suho)
  • Yoo Ara (Hello Venus Ara)

Rating: PG-Rated

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Warning: Multichapter. Typo beterbangan. Bahasa berantakan tidak menurut EYD. Abal. Dan segala kegajean ada di fic saya ^^v Don’t Like, Don’t Read.

Disclaimer: Suho and Ara belong to God. The original story from my brain. Plot belong to me.

DILARANG BASHING CHARA.

NOTFOR THESILENTREADER.

DO NOT COPY THIS STORY.

***

Kau yang membuatku terjebak dalam binar matamu. Kau yang membakar hatiku dengan api cintamu. Kau yang memenjarakanku dalam cinta yang tak berujung. Kau yang menjatuhkanku dalam lubang kerinduan dan kesakitan yang mendalam. Kau yang selalu menghipnotisku dengan senyuman malaikat itu. Kau yang tak pernah tahu betapa aku merasakan sakitnya cintamu. Aku membencimu karena aku mencintaimu.

And I felt I was on fire, with the things I couldn’t have told you.
I just assumed that you eventually would ask and I wouldn’t have to bring up my so badly broken heart.
I hope you know that I’m talkin’ about the way I feel.

***

Musim semi yang sempurna tahun ini. Seoul dipenuhi dengan warna cerah bunga-bunga yang mekar. Udara pun terasa hangat, sangat cocok untuk sekedar berjalan-jalan keluar rumah. Gadis bermata coklat itu menengadahkan pandangannya. Pagi dengan langit yang cerah dan udara yang segar. Pagi musim semi yang sempurna.

Ia berjalan menelusuri setiap sudut kota Seoul dengan langkah pasti. Sebuah kenangan kembali terputar di otaknya. Kenangan manis dan pahit, semuanya terjadi di kota ini. Ia mengeratkan cardigannya, meneruskan perjalanannya menuju sebuah taman di tengah kota Seoul.

Taman Yoido. Sebuah taman sederhana di tengah kota yang menghadap ke sebuah kantor stasiun televisi KBS. Taman yang indah untuk dibilang sederhana. Terdapat sebuah hutan buatan di tengah taman, sebuah lapangan basket, bunga-bunga yang indah di sepanjang jalan setapaknya, dan sebuah sungai kecil nan jernih yang membelah taman. Di sana kenangan itu seolah terputar kembali, setiap detilnya ia masih mengingat dengan sangat jelas. Yoo Ara berjalan menuju sebuah sungai kecil di tengah taman. Pagi ini taman Yoido sangat ramai –karena hari ini hari libur, banyak masyarakat warga kota menikmati bersepeda dan bersepatu roda , anak-anak berkejaran, sepasang muda-mudi yang saling bergandengan, ya, cukup membuat Ara kembali ke masa lalu. Lantas ia melihat sepasang anak yang bermain air di tepi sungai. Kemudian ingatannya berputar ketika dirinya dan dia melakukan hal yang sama tujuh tahun yang lalu.

Ara menuju sebuah bangku panjang di tengah taman yang menghadap ke sebuah lapangan basket tak jauh dari sungai. Sebuah pohon cherry blossom yang kokoh menaungi bangku itu. Gadis bermata coklat itu duduk meskipun lelah belum ia rasakan. Dari bangku itu, ia bisa melihat seseorang bermain basket di sana. Dahulu.

Entah kenapa rasa rindu itu menyeruak begitu saja. Rasa rindu tujuh tahun yang lalu sekarang seperti sebuah bom yang meledak begitu saja. Ara memandang lurus ke arah lapangan basket di depannya. Kenangan itu begitu menyenangkan sekaligus menyakitkan. Kenangan yang menyakitkan itu yang lebih dominan sepertinya, ia masih mengingat setelah sekian lama memendam perasaan pada akhirnya disakiti juga di sini, di tempat ini. Tapi langkah kakinya sudah terlanjur membawanya ke tempat ini, setelah tujuh tahun ia tak menginjakkan kaki di Korea.

***

“Eonni, kau kemana saja?” tanya Yooyoung sebagai kata sapaan setelah kakak perempuannya itu mengucapkan salam.

Ara melepas sepatunya, lantas berjalan menuju dapur tak memperdulikan pertanyaan adiknya. Yooyoung merengut sebal. “Eonni, kau baru saja tiba dari New York, tapi kau tiba-tiba menghilang.”

“Tak usah khawatir berlebihan seperti itu, Yooyoung-ah. Aku hanya berjalan-jalan di sekitar kota,” jawab Ara santai dengan sebuah senyuman manis.

“Bagaimana aku tak khawatir, kau baru sampai tadi pagi dan langsung pergi  sampai sore begini.”

Ara terkekeh, “cerewet sekali kau ini, Eomma saja tidak marah berlebihan seperti ini,” Ara mengacak-acak rambut adiknya.

“Aku berlebihan karena aku merindukanmu, eonni!”

“Aku juga merindukanmu, Yooyoung-ah,” lantas Ara memeluk Yooyoung yang masih menampakkan kekesalannya.

Sedetik kemudian Yooyoung tersenyum. Ia kembali mendapatkan perhatian kakak perempuannya setelah tujuh tahun terpisah. Kemudian mereka berjalan bersama menuju dapur. Di meja makan sudah menunggu seorang wanita paruh baya yang sedang sibuk menata beberapa makan.

“Eomma!” teriak Yooyoung.

Wanita paruh baya itu menoleh. Nyonya Yoo tersenyum melihat kedua putrinya begitu bahagia. “Kau dari mana saja, Ara-ya?”

Ara dan Yooyoung duduk melihat eommanya sedang menyiapkan makanan untuk mereka. “Aku harus langsung menyerahkan dokumen partitur ke kantor managemen, eomma. Dan berjalan-jalan sebentar.” senyum Ara.

“Kau bisa melakukannya besok, kan, Ara-ya?” kata nyonya Yoo, sembari tangannya menyendokkan nasi untuk Ara.

“Mashitta!” Ara menyeruput kuah sup rumput laut buatan eomma-nya yang sudah beberapa tahun tak pernah ia rasakan di New York, “Mereka menyuruhku segera menyerahkan partitur-partitur itu, karena showcase diadakan dalam waktu secepatnya.”

“Jadi, kau ke Korea hanya untuk showcase? Eonni, kau sangat jahat,” sanggah Yooyoung.

Ara lagi-lagi hanya tersenyum. Sebenarnya ia kembali ke Korea bukan hanya untuk showcase tapi ada sebuah kenangan yang tak bisa ia lupakan di Korea. “Bukan begitu, Yooyoung-ah. Kasihan murid-muridku di NY jika aku tinggal di Korea terlalu lama.”

Ya, Yoo Ara adalah seorang pianis yang terkenal di sebuah orchestra di New York dan seorang guru musik di sebuah sekolah dasar. Tiga bulan yang lalu, pihak managemen mengatakan bahwa ia akan debut dan mengadakan showcase di Korea. Ara merasa sangat senang, tentu saja karena ia bisa kembali ke tempat kelahirannya. Menemui ibu dan adik perempuannya yang selama ini hanya bisa dilihatnya melalui video call.

“Sudah, sudah, kalian ini sedang makan,” lerai nyonya Yoo pada kedua putrinya.

Setelah menyelesaikan makan dan membantu ibu mereka membersihkan meja makan, Ara dan Yooyoung bersantai di ruang keluarga sambil menyalakan televisi. Yooyoung yang cerewet banyak bercerita kepada Ara, mungkin karena ia sudah lama tak bertemu dengan kakak kesayangannya itu. Ara pun mendengarkan dengan antusias setiap cerita yang keluar dari Yooyoung.

“Eonni tahu tidak, Oh Sehun itu sangat menyebalkan, dia itu seperti es batu. Tapi, entah kenapa ia bisa debut begitu cepat. Padahal, kan, masih banyak diantara murid-murid Seoul of Performing Art School yang lebih tampan dari dia, dan tentunya berwajah lebih ramah,” Yooyoung bersungut-sungut menceritakan seorang temannya. Ara hanya tertawa menanggapi cerita adiknya.

“Jinja?”

“Aku akan menunjukkan pada eonni yang bernama Oh Sehun itu. Hari ini di Music Bank, ia dan boybandnya akan tampil. Tunggu,” Yooyoung mengambil remote, lalu menekan-nekan tombol remote itu, mengganti sebuah channel acara musik.

“Nah, kebetulan, waktunya pas sekali mereka perform,” kata Yooyoung. “Itu mereka, yang memakai jaket biru dan berwajah paling datar, itu yang bernama Oh Sehun,” tunjuk Yooyoung pada objek yang ia maksud di televisi.

“Jangan-jangan kau menyukainya? Dari tadi kau menceritakannya terus dan hafal sekali schedule-nya.”

“Tentu saja tidak, yang benar saja. Mana mungkin aku menyukai pria datar dan dingin seperti dia.”

Ara tetap mendengarkan setiap kata cerewet yang keluar dari adiknya itu sambil pandangannya menikmati sebuah perform dari boyband teman adiknya. Rasanya ia tidak cukup familiar dengan lagu pop jaman sekarang, meskipun tentu saja lagu-lagu pop banyak diperdengarkan di New York. Lagunya adalah musik klasik, dan selamanya musik klasik akan menjadi lagu dalam hidupnya.

“Boyband Oh Sehun bernama EXO-K, sebenarnya cukup EXO. Tapi karena mereka melakukan promosi di China dan Korea, mereka dibentuk 2 subgrup. Yah, seandainya Oh Sehun itu suka tersenyum seperti Baekhyun oppa mungkin pandanganku terhadapnya akan lain lagi,” cerocos Yooyoung, sedangkan kakaknya sedang memperhatikan lamat-lamat objek sedang yang tersorot kamera. Wajah yang begitu familiar, wajah yang sangat ia kenal dan tak akan pernah hilang dari ingatannya.

“Joonmyun oppa,” gumamnya pelan.

***

Hari ini Ara harus ke kantor managemennya lagi untuk mengambil beberapa dokumen partitur yang harus segera ia revisi. Semalam pihak managemen menelponnya untuk mengambil dokumen partitur musik yang beberapa hari yang lalu ia ajukan, ada beberapa partitur perlu diperbaiki dan disempurnakan lagi.

Ara memakai jaket coklatnya, lantas ia memakai sepatu. Dan buru-buru keluar rumah setelah berpamitan kepada ibunya. Gadis bermata coklat itu tampak bersemangat. Ia tak keberatan jika hari-harinya di Korea akan menjadi sangat sibuk karena showcase ini. Ia harus latihan keras di sore hari, dan menulis beberapa partitur musik untuk showcasenya. Ia sangat menikmati hidupnya yang seperti ini.

Setelah urusannya dengan pihak managemen selesai, lagi-lagi Ara memutuskan untuk berjalan-jalan. Sekedar menghafal kembali jalan-jalan kota Seoul yang selama tujuh tahun ia tinggalkan. Ara  menyusuri pinggir pertokoan di tengah kota Seoul yang ramai. Kota ini memang hampir sama ramainya dengan New York, tapi tentu saja dengan suasana yang jauh berbeda. Ara berjalan sesekali ia berhenti dan melihat-lihat di depan etalase toko yang berjejer sepanjang jalan.

Langkah kakinya membawanya ke kawasan elite Apgujeong. Gedung-gedung bertingkat nan mewah berjejer di sana. Butik-butik dengan brand mewah, restauran brand terkenal dan kedai kopi trend high-end terdapat di sepanjang jalan Apgujeong. Di daerah orang terkaya di Korea  ini  sebagai pusat ekonomi, budaya, dan pendidikan dari Seoul. Sebagian besar toko, restauran, dan bar menawarkan atmosfer mewah dan barang berkualitas tinggi. Ya, semua barang-barang berkelas terdapat di sini. Apgujeong layaknya Madison Avenue di New York menurut Ara.

Kakinya terhenti di depan sebuah gedung mewah berwarna putih. Gedung yang di depannya terdapat sebuah plakat besar bertuliskan SM Entertaiment. Entah kenapa gedung itu begitu menarik perhatiannya. Yang ia tahu gedung itu tempat bernaung beberapa aris terkenal seperti BoA, TVXQ, Super Junior dan Girl’s Generation yang sudah sangat terkenal di New York.

Beberapa orang keluar masuk gedung mewah itu yang diindikasikan oleh Ara adalah staff. Kemudian segerombolan pria yang menggunakan t-shirt dan celana training berjalan keluar gedung itu. Ara membeku sesaat. Tak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.

Suho berjalan dengan santai bersama kelima dongsaengnya. Mereka baru saja menyelesaikan latihan mereka siang ini. Dengan senyuman khasnya yang manis ia menyapa setiap staff yang berpapasan dengannya. Mobil mereka sudah menunggu di depan gedung, siap mengantarkan mereka ke dorm untuk beristirahat sebentar karena nanti malam mereka harus memenuhi schedule mereka di sebuah concert.

Suho melihat seorang gadis berambut coklat itu berdiri terpaku di depan gedung managemennya itu ketika ia dan membernya keluar menuju mobil mereka. Seperti sangat mengenal gadis itu, wajahnya sangat familiar. Tapi, siapa? Suho berusaha keras mengingatnya. Kemudian, gadis itu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Suho yang sekarang terpaku.

“Ara,” gumam Suho.

“Hyung, kau mengatakan sesuatu?” tanya pria bermata bulat, Do Kyungsoo.

Tak ada jawaban. Suho melihat Ara semakin berjalan menjauh, tak ingin kehilangan kesempatan ia lalu berlari kearah dimana gadis itu menghilang.

“Hyung, kau mau kemana?” teriak Kyungsoo lagi.

“Kalian duluan saja, aku punya urusan sebentar.” Kelima member itu saling berpandangan, heran melihat sang leader yang tiba-tiba berubah menjadi aneh.

Suho masih berusaha mengejar gadis itu. Ia yakin gadis itu adalah Ara-nya. Gadis yang sudah beberapa tahun ini ia rindukan. Suho berlari mengejar Ara yang tak peduli namanya terus di teriakkan oleh orang di belakangnya.

“Ara-ya! Yoo Ara,” teriak Suho masih mengejar Ara yang menurutnya berjalan semakin cepat. “Ara-ya, berhentilah!”

Suho berhasil mengejarnya. Ia menarik lengan Ara agar mereka bisa bertatap muka. Untuk beberapa saat mereka saling menatap.

Mereka berada dalam satu meja di sebuah café di Apgujeong. Ara menatap hambar secangkir cappuccino di depannya, tak memperdulikan Suho yang sedari tadi tersenyum ke arahnya. Entah mengapa setelah bertemu rasa rindu itu menguap dan tiba-tiba menjadi bad mood. Padahal sebelumnya, ia sempat berharap ketika ia pergi ke Korea ia bisa bertemu dengan cinta pertamanya. Ya, pria yang berada di depannya itu adalah cinta pertamanya.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Suho dengan senyuman hangatnya.

“Seperti yang kau lihat,” jawab Ara dengan tatapan dingin.

“Kau tak pernah memberiku kabar selama ini. Kau akan kembali ke Korea, bahkan kau pergi ke New York pun aku tahu dari adikmu.”

“Aku kira itu tak penting.”

“Aku sahabatmu, Ara-ya.”

Ara mendecak, “hanya sahabat?” katanya dalam hati.

Suho merasakan sesuatu yang sangat berbeda. Ara-nya telah berubah banyak, menjadi lebih dingin dan cuek. Ya, jujur ia lebih suka Ara yang dahulu. Seorang gadis periang dengan senyuman hangat, sekarang menjadi seorang gadis dingin tanpa senyuman. Suho merasa sangat kehilangan sosok Ara yang dahulu. Ia merindukan Ara-nya yang dahulu.

***

Suho melemparkan tubuhnya di sofa ruang tengah dorm EXO-K. Lelah. Ya, hari ini mereka akhirnya menyelesaikan schedule yang terlampau padat sampai larut malam itu. Sebagai new rookie boyband yang sedang naik daun, tentu saja Suho harus siap menerima segala macam kegiatan yang sudah dijadwalkan untuknya. Apalagi ia adalah seorang leader. Mau tak mau ia harus lebih bijaksana diantara kelima dongsaengnya.

Pikirannya masih memutar kejadian beberapa hari yang lalu. Pertemuan yang begitu awkward dengan gadis yang selalu ia rindukan, Yoo Ara. Ia masih memikirkan bagaimana perubahan sikap Ara yang begitu tidak biasa. Suho masih tak percaya akan perubahan besar Ara setelah tujuh tahun tak bertemu dan saling bicara.

Kai menyodorkan sebotol air mineral kepada Suho yang menyandarkan kepalanya di kepala sofa. Matanya terpejam, terlihat raut wajahnya sangat lelah. Sang leader sudah berusaha keras hari ini.

“Hyung, kau baik-baik saja?” tanya Kai khawatir.

Suho membuka matanya dan menerima air mineral dari Kai, “gwaenchana.”

Kai kemudian duduk di sebelah Suho, lalu menyalakan televisi. Kai memainkan remote televisinya dan berulang kali memindah channel yang berbeda. Entah karena bosan atau menyerah melihat tidak ada acara televisi yang bagus, Kai akhirnya membiarkan channel yang terakhir ditekannya. Sebuah konferensi pers sedang di tayangkan di channel tersebut.

Suho yang semula tak begitu tertarik dengan apa yang ditayangkan dalam televisi itu mendadak bangkit dan memperhatikan dengan seksama. “Yoo Ara,” gumamnya.

Konferensi pers itu menampilkan seorang gadis bermata coklat yang sangat ia kenal. Suho memperhatikannya dengan seksama. Wajah cantik dan senyuman manis Ara entah kenapa begitu menarik perhatiannya. Sosok yang dengan terpaksa ia sakiti tujuh tahun yang lalu telah kembali. Tapi tidak dengan senyuman tulus dan manis yang selalu ditunjukkan padanya. Suho tahu, Ara pasti sangat membencinya setelah kejadian itu.

Seorang pria paruh baya yang sedang tersorot kamera mengatakan sebuah orchestra besar di Korea akan mengadakan showcase bersama Yoo Ara, si pianis yang berasal dari New York. Hati Suho semakin bergejolak.

“Showcase? Ara?” gumamnya lagi.

“Hyung, kau mengenal gadis itu? Hey, sepertinya aku pernah melihat gadis itu tapi dimana ya?” kata Kai. Sedangkan Suho masih serius menonton konferensi per situ seperti sedang menonton suatu berita pembunuhan yang sedang mengancam warga Seoul.

“Yoo Ara-sshi, apakah kau akan melanjutkan karirmu sebagai pianis di Seoul –kota kelahiranmu?” tanya seorang wartawan pada konferensi per situ. Suho dengan serius memasang matanya yang tak lepas memperhatikan Ara.

Gadis itu tersenyum saat tertangkap kamera, “Entahlah, tapi aku masih mempunyai tanggung jawab besar di New York.”

Lantas Suho beranjak ke kamarnya, meninggalkan Kai yang masih bertahan di depan televisi. Tak memperdulikan adiknya itu terbengong heran melihat kelakuannya yang mulai berubah aneh.

***

Ara terkejut ketika ia melihat Suho sudah berada di depan pintu rumahnya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Tak ada jawaban, tapi sebuah uluran tangan milik Suho. “Ikutlah denganku.”

“Aku masih punya banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.”

“Aku mohon, Ara-ya,” Suho menampakkan wajah memohannya, sadar waktunya tidak banyak untuk bertemu Ara saat ini. Ia harus menjelaskan dan meluruskan kejadian tujuh tahun yang lalu sekarang juga, mengingat Ara mungkin kapan saja bisa kembali ke New York dan tak kembali ke Seoul.

“Tidak,” jawab Ara hendak menutup pintu rumahnya. Dengan sigap Suho menarik lengan gadis berambut lurus itu. Dan membawanya keluar menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah.

Sekarang mereka duduk berdampingan di sebuah bangku di tengah taman Yoido. Bangku kayu panjang yang langsung menghadap ke sebuah lapangan basket. Bangku yang penuh dengan kenangan mereka berdua. Suho masih terdiam, sedangkan Ara sedari tadi menggerutu kesal.

“Ara-ya, apa kau membenciku?” tanya Suho, matanya menatap setiap lekuk indah yang terpahat di wajah Ara.

“Jadi kau membawaku ke sini hanya untuk mengatakan itu? Kau pikir waktuku hanya untuk menuruti kemauan bodohmu itu? Masih banyak pekerjaan yang lebih penting yang harus aku kerjakan,” sungut Ara.

“Ara-ya, tolong dengarkan penjelasanku dulu,” Suho menatap Ara lekat-lekat.

“Apalagi yang ingin kau bicarakan, aku tak punya banyak waktu lagi. Waktuku sia-sia hanya karena hal yang tidak penting seperti ini.” Ara mengarahkan pandangannya ke arah lain, menghindari kontak mata dengan Suho atau dia akan benar-benar terjebak di dalamnya.

“Cukup kau jawab dengan iya atau tidak, Ara-ya.”

Ara beranjak dari bangku panjang yang ia duduki, lantas melangkahkan kakinya agak menjauh. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia tak boleh menumpahkan air matanya di depan Suho. Atau dengan begitu Suho akan menganggapnya gadis lemah seperti dahulu. Di sisi lain ia merindukan saat-saat berdua yang seperti ini dengan Suho.

“Apa kau membenciku?” ujar Suho sekali lagi.

“Iya, aku membencimu, Kim Joonmyun. Sangat membencimu,” teriak Ara. Gadis itu lalu berlari meninggalkan Suho yang masih terpaku di bangku panjang di bawah pohon cherry blossom yang menyimpan banyak kenangan diantara mereka itu.

Sesaat kemudian terlihat senyuman tipis yang hampir tak tampak yang terukir dari sudut bibir Suho, “baiklah, kalau begitu aku akan berusaha membuatmu agar tidak membenciku lagi.”

***

To Be Continue

***

 

Annyeonghaseyo~

Akhirnya setelah sekian lama saya ga update fanfic, hari ini saya bisa update satu fanfic geje dengan cast dua bias baru saya EXO-K’s guardian leader Suho dan Hello Venus’s flawless leader Ara. Ya, maaf ya jika fanfic saya jelek dan kaku, otak saya sudah terlanjur terbiasa dengan kata-kata ilmiah nan formal ketika saya buat paper untuk tugas kuliah saya.

Ya, sudahlah apapun eksekusi reader tentang fanfic saya yang satu ini, silahkan komen ya. Ungkapkan semua kekurangan, kritikan, atau saran untuk saya demi kemajuan kemampuan menulis saya😀

Gamsahamnida #bow

6 thoughts on “I Really Hate You [Chapter 1]

  1. aneh sih enggak, kalimat kamu tambah bagus kok malahan… cm eonnie coba ngebayangin shipper baru-nya.. kan blm trlalu ngeh sama hello venus.. ditunggu yah lanjutannya…

    • Iya, hehe ini shipper baru sih, Hello Venus sama EXO kebetulan lagi dpt feelnya aja itu make bang Suho sama Yoo Ara. Habis Ara cantik bgt, tingkahnya jg rada2 mirip sama Suho, cocoklah, dan saya mulai jatuh cinta sama mereka😀
      Ne semoga bisa dilanjutkan segera, makasih eonni :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s