On Rainy Days Love Story

ON RAINY DAYS LOVE STORY

CHIELICIOUS © 2012

Main Cast:

  • Lee Taemin
  • Choi Jinri

Rating: PG-Rated

Genre: Romance

Warning: Ficlet. Oneshot. Typo. Don’t Like, Don’t Read.

Disclaimer: Main cast belong to God. The original story from my brain. Plot belong to me.

DILARANG BASHING CHARA.

NOT FOR THE SILENT READER.

DO NOT COPY THIS STORY.

Any complaint please mention me @ciicucil

***

On the rainy days you come and find me

Torturing me through the night

When the rain starts to stop, you follow

Slowly, little by little, you will stop as well

-On Rainy Days – Beast

***

Hujan tak kunjung reda sore itu. Jatuhannya semakin deras seiring dengan tenggelamnya sinar matahari yang tertutup awan mendung. Akhir bulan Juni memang sering turun hujan, sebuah penanda akan datangnya musim panas dan berakhirnya musim semi. Periode ini terjadi sekitar tiga minggu di bulan Juni dan Juli yang disebut periode Jangma. Hujan akan sering turun dengan anomali yang tidak menentu seperti sore ini.

Di hari yang sedang hujan, memang lebih enak berada di dalam rumah dan menikmati penghangat ruangan sambil menyesap coklat panas. Tapi kali ini tidak bisa dilakukan oleh Taemin. Pemuda itu sedang terjebak hujan di sebuah halte bus tak jauh dari sekolahnya. Ia menyesal kenapa tadi pagi menolak saran ibunya untuk membawa payung dan mantel hujan. Taemin mengeratkan jas seragam sekolahnya, dingin mulai menjalar di sepanjang tubuhnya, sedangkan bus yang sudah ia tunggu sejak dua puluh menit yang lalu tak kunjung datang.

Bosan, tentu saja. Ia sudah menunggu cukup lama di halte itu sendirian. Bus pun tak kunjung menampakkan diri. Taemin mulai kesal. Seandainya ia membawa payung dan mantel hujan, setidaknya ia sudah separuh jalan jika ia berjalan pulang.

Pemuda berambut coklat itu mendengus kesal. Tahu begitu ia mengunggu saja di dalam sekolah sampai hujan reda, atau meminta kakak laki-lakinya untuk menjemputnya. Tapi dia sudah terlanjur basah karena nekad berlari menembus hujan demi sampai ke halte. Ya, hari ini Taemin ingin segera pulang, dan menyelesaikan tugas sejarahnya yang lusa harus dikumpulkan.

Masih dengan muka sebal, pemuda itu menatap jalanan yang mulai sepi. Kemana para bus ini? Tak ada  satupun yang lewat sejak dua puluh menit yang lalu, kesalnya dalam hati. Sudah hampir setengah jam ia mengunggu bus di halte dengan badan yang hampir membeku. Tak biasanya seperti ini, bus akan datang setiap sepuluh menit biasanya.

Taemin mendekap tubuhnya yang kedinginan karena jas seragam sekolahnya yang setengah basah. Beberapa saat kemudian, ia melihat seseorang berlari menuju halte tempatnya duduk. Seorang gadis berambut panjang yang memakai seragam yang sama dengannya. Gadis itu entah mengapa sama nekadnya dengannya, menembus hujan deras padahal bus pun sampai sekarang belum menampakkan dirinya.

Gadis itu membersihkan bekas air hujan yang membasahi baju seragamnya setelah berhasil berteduh di halte. Rambut panjangnya yang tergerai itu basah di ujung-ujungnya. Sibuk dengan beberapa bukunya yang ikut terkena air hujan gadis itu tak sadar ada orang lain yang sedang memperhatikannnya. Ia lantas mendongak dan mendapati seorang pemuda sedang memperhatikannya. Ia lalu tersenyum pada pemuda yang sedang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. Senyuman yang begitu manis dan brightly seperti seorang malaikat yang turun dari langit. Taemin membalas senyuman gadis itu. Entah kenapa ia seperti merasa matahari bersinar terang di depannya. Seperti ada rasa hangat yang menjalar di sekujur tubuhnya. Seperti ada ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya.

Jantungnya mulai berdetak tak biasa ketika gadis itu mendekat. Masih dengan menampakkan lekukan senyuman dan sepasang eyes smile yang begitu manis, gadis itu duduk di sampingnya dan mulai sibuk kembali membereskan buku-bukunya yang basah. Debaran itu tak terelakkan lagi. Taemin tak pernah merasakan sesuatu yang aneh seperti ini. Lima menit terdiam dalam perasaan yang tidak karuan, Taemin mulai cemas dengan dirinya sendiri. Takut tak bisa mengendalikan diri, takut terlihat aneh dan takut membuat gadis di sebelahnya itu merasa tak nyaman atas sikapnya.

Gadis di sebelahnya itu menoleh kearahnya lagi, menampakkan tiga buah lekukan senyum yang terukir manis di wajahnya. Oke, jantungnya mulai berlebihan sepertinya. Ia mulai salah tingkah sejak gadis berambut panjang dan bermata coklat itu duduk di sebelahnya.

Perasaan apa lagi ini? Kenapa ia tak bisa mengontrol diri seperti ini, runtuknya dalam hati.

Sepuluh menit berlalu masih dengan badai perasaan dan debaran gila-gilaan dari jantungnya. Taemin bahkan melupakan hujan di sekitarnya, dan bus yang ia tunggu semenjak setengah jam yang lalu. Gadis itu benar-benar mengalihkan segala pikirannya, mengklaim seluruh sel otaknya. Taemin bisa gila jika ia terus-terusan seperti ini, di dekat gadis ini. Begitu dekat hanya dibatasi oleh tumpukan buku yang diletakkan diantara Taemin dan gadis itu.

Beberapa saat kemudian bus yang ditunggunya sekian lama akhirnya datang juga. Gadis di sebelahnya segera mengemasi tumpukan buku yang tadi diletakkan di sebelahnya. Lalu bergegas masuk ke dalam bus yang berhenti tepat di depan halte. Taemin tersadar, lantas berlari tak mau ketinggalan bus yang sudah lama ia nantikan kedatangannya. Bagus, lamunannya tentang gadis itu hampir saja membuatnya ketinggalan bus.

***

Hari ini Taemin sedang libur sekolah, ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan kota dan membaca buku historical seharian di sana. Sampai menjelang sore Taemin masih berkutat dengan beberapa buku di depannya. Ruang baca itu berangsur sepi. Perpustakaan kota memang tetap buka sampai malam, tapi sepertinya para pengunjung juga sudah lelah dan bosan yang akhirnya memilih pulang. Taemin menyelesaikan catatan terakhir yang ia tulis dia notebooknya. Akhirnya tugas sejarah yang diberikan Han seongsaem-nim selesai juga.

Taemin mulai mengemasi buku dan alat tulisnya, lalu memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Ia berjalan keluar perpustakaan dengan senyuman terkembang di sudut bibirnya. Di luar sangat cerah sore ini, indikasi hujan tidak akan turun sore ini. Ia berjalan menuju halte bus yang letaknya cukup jauh dari perpustakaan kota. Sekitar satu kilo meter ia harus berjalan dan ia akan menemukan sebuah halte di dekat deretan toko di Myeongdong. Kurang beberapa meter lagi dari halte bus, rintik hujan mulai turun. Taemin mulai mengumpat dalam hati, sepertinya spekulasinya bahwa tidak akan turun hujan sore ini salah besar. Taemin berlari menuju halte bus yang kurang sedikit lagi dijangkaunya. Terpaksa ia harus basah-basahan lagi karena hujan.

Ia meruntuki dirinya sendiri karena lagi-lagi tak membawa payung untuk antisipasi, seharusnya ia tahu di bulan Juni dan Juli hujan tidak menentu bisa kapan saja datang. Tak sampai sepuluh menit ia menunggu bus di halte yang ramai oleh orang berteduh itu, akhirnya Taemin bisa segera pulang juga.

Taemin melangkah masuk bus dan setidaknya ia selamat dari hujan sekarang. Mata teduhnya mencari-cari bangku kosong yang masih tersisa, dan menemukan sebuah bangku kosong di pojok belakang. Taemin melangkah senang, ia tak perlu capek-capek berdiri sampai halte dekat rumahnya yang berjarak cukup jauh itu. Tapi langkahnya terhenti, matanya melebar setelah menyadari siapa yang duduk di sebelah bangku yang kosong tersebut.  Gadis itu lagi. Gadis manis yang menunggu bus di halte depan sekolah bersamanya dua hari yang lalu. Gadis yang membuatnya merasakan debaran tak biasa dan membuatnya hampir tidak bisa tidur karena memikirkannya. Gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan yang pertama.

Jantungnya mulai berdebar gila-gilaan lagi. Tak adakah tempat lain yang kosong lagi? Taemin kembali mecari tempat kosong asal bukan di samping gadis itu. Sayangnya semua bangku sudah terisi penuh, dan hanya tinggal bangku di sebelah gadis itu yang belum terisi. Taemin menyerah dan akhirnya duduk juga, keringat dingin mulai mengalir dari keningnya. Ya, jatuh cinta memang berlebihan kadang.

Gadis berambut panjang itu menoleh kepadanya. Taemin sedikit terkejut, kemudian tersenyum kepada gadis di sampingnya itu. Senyuman yang entah bagaimana bentuknya. Senyuman karena salah tingkah tepatnya. Mungkin jika ia jadi orang lain, maka ia akan di judge pemuda aneh oleh setiap orang yang melihatnya, bahkan gadis di sebelahnya akan berpikiran sama. Gadis itu membalas senyumnya, tiga lekukan senyuman seperti pertama kali mereka bertemu di halte. Lantas gadis itu kembali memandang keluar jendela.

Senyuman singkat, tapi cukup membuatnya meleleh di tempat. Ya, hal yang sangat wajar jika sedang jatuh cinta. Taemin mendongak sedikit ke luar jendela. Hujan masih belum mereda sepertinya. Ekor matanya tak sengaja mencuri pandang ke arah gadis di sampingnya yang sedang memandangi hujan dari jendela bus.

Jeo-jeogiyo..” sapa Taemin, membuat gadis di sampingnya itu menoleh dan melepaskan earphone yang menempel di telinganya.

“Ah, ne?”

Taemin menghela napas panjang, berusaha menahan setiap debaran yang menggila di dalam dadanya, “Sepertinya aku pernah melihatmu. Ah, maksudku, sepertinya kita pernah bertemu.”

Jinja?” jawab gadis itu. “Sebentar, aku akan mengingatnya.”

Gadis itu seperti berpikir keras, dan berusaha mengingat. Taemin meruntuki dirinya, kenapa ia bisa memulai pembicaraan dengan begitu awkward begini. Seharusnya ia tidak usah mengajak gadis itu bicara saja, daripada ia harus merasakan debaran yang lebih menggila seperti ini dan memulai pembicaraan dengan aneh begini.

“Ah, sepertinya aku mengingatmu. Kau yang berteduh bersamaku di halte depan sekolah tempo hari, kan?” tiga lekukan senyuman itu lagi-lagi yang gadis itu tampakkan. Taemin mengangguk.

“Kau berseragam sama denganku, apakah kau juga salah satu murid di Cheongdam High School?” tanya gadis itu.

Ne, ne, aku kelas 12-2,” jawab Taemin sedikit tergagap karena terlampau gugup. Seharusnya ia bisa lebih mengontrol debaran jantungnya yang terlampau cepat.

“Oh, jeosonghamnida seonbae-nim. Choi Jinri imnida. Aku kelas 11-3,” gadis itu membungkukkan badannya.

Taemin terkikik pelan. Gadis di sampingnya yang bernama Jinri ini terlampau formal padanya. “Lee Taemin imnida, senang berkenalan denganmu. Oh, aku tak pernah melihatmu di sekolah sebelumnya,” bagus Taemin mulai bisa mengendalikan dirinya.

Jinri tertawa pelan, “ne seonbae, karena aku baru pindah ke Korea seminggu yang lalu.”

“Sebelumnya?”

“Di Amerika. Appa dan eomma-ku tinggal di sana. Aku tinggal bersama oppa-ku di sini.”

Taemin mengangguk. Sepertinya gadis yang bernama Jinri ini seorang gadis yang supel dan mudah bergaul. Ia langsung akrab dengan Taemin meskipun baru berkenalan. Oh, ini sebuah keberuntungan. Dia mulai bisa mendekati Jinri secara perlahan kalau begitu. Dan perjalanan pulang tidak akan membosankan lagi kali ini.

***

Pulang sekolah dan hujan kembali turun di sore hari. Ya, hujan memang sudah menjadi langganan di periode Jangma seperti ini. Tapi kali ini Taemin tidak sekhawatir sebelumnya. Ia telah belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Selalu membawa payung meskipun tidak diperlukan, apa salahnya berjaga-jaga, siapa tahu akan sangat berguna di saat yang tidak terduga. Pengalaman menjadi guru yang paling berharga, bukan?

Taemin melebarkan payungnya setelah sampai di halte terdekat dengan komplek rumahnya. Matanya melebar. Seorang gadis berambut panjang yang sangat ia kenal sedang berdiri di halte tempat ia turun. Jinri mendekap beberapa buku di tangannya. Beberapa kali ia menengok. Sepertinya sedang menunggu bus, atau ia hanya ingin berteduh? Entahlah.

Taemin mendekati gadis yang sedang sendirian di halte itu. Senyumnya terkembang penuh arti. “Jinri-ya, apa yang kau lakukan di situ?”

“Oh, Taemin seonbae.” Jinri tampak terkejut, karena tiba-tiba ada seseorang yang sudah berdiri di depannya.

“Kau sedang apa di sini? Menunggu bus?”

Jinri tersenyum, “aniyo, aku sedang menunggu hujan reda. Hanya ingin berteduh saja di sini, rumahku tak jauh dari sini. Seonbae sendiri sedang apa di sini?”

Taemin menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, “rumahku juga tidak jauh dari sini.”

Jinjayo?”

Nampak sebuah ekspresi yang brightly yang terpancar dari wajah manis Choi Jinri. Taemin tak bisa mengontrol debaran itu lagi jika Jinri terus-terusan memberinya tiga lengkungan senyuman yang membuatnya merasa seperti kecanduan itu.

“Mau pulang bersamaku?”

Seonbae, kau baik sekali. Geurae. Tentu saja aku mau,” aish tiga lengkung senyuman itu lagi. Taemin bisa benar-benar gila jika terus begini. Tapi, dengan mudahnya ia malah menawarkan pada Jinri untuk pulang bersama.

Ketika jatuh cinta kadang kau bisa lupa semuanya, ne?

Mereka di bawah payung yang sama sekarang. Berjalan berdua dengan satu payung. Romantis. Tentu saja. Apalagi jika itu bersama kekasihmu. Taemin semakin merasakan jantungnya berdebar semakin tak karuan. Seperti tersengat listrik, ia merasa seperti ribuan sel dalam tubuhnya dialiri beribu-ribu volt listrik. Semakin menggila dan rasanya semakin membuncah.

“Err- Jinri-ya..

Ne, seonbae. Waeyo?”

“Jinri-ya..

Jinri menampakkan wajah penasarannya, sedangkan Taemin masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Kata itu ingin ia keluarkan sekarang, tapi entah kenapa seperti tercekat di kerongkongannya. Susah sekali untuk mengucapkan kata yang satu itu. Sedangkan hati dan jantungnya sudah mulai protes dan tidak mau bekerja sama.

Seonbae?” Jinri mengangkat sebelah alisnya, penasaran.

“Choi Jinri, nae, naega joha. Nae, nae yeoja chingu-ga dwaeyo jullae?” dengan sedikit terbata-bata akhirnya kata itu keluar juga dari mulut Taemin.

Seo, seonbae,” dan ternyata kata magis itu juga berhasil membuat Jinri tergagap.

Taemin meringis menampakkan deretan gigi putihnya, lantas menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Alibi sekali. “Ahaha, jika kau tak menyukaiku juga tak apa, Jinri-ya. Oh iya, panggilah aku ‘oppa’ saja ya kalau kau mau. Kurasa aku tak terlalu suka dengan panggilan ‘seonbae’.”

Pipi Jinri memerah. Benarkah apa yang baru saja ia dengar itu? Taemin menyatakan cinta padanya. Ah, ini seperti mimpi baginya. Tak pernah menyangka ia akan seberuntung ini.

Seonbae, ups, maksudku oppa, aku juga menyukaimu.”

Mata Taemin langsung membulat, “oh, Jinri-ya. Kau benar-benar mau jadi pacarku?”

Jinri mengangguk pasti. Sesaat kemudian senyuman lebar terkembang dari bibir Lee Taemin. Tak percaya, tentu saja. Ini membuatnya seperti bermimpi, Jinri baru mengenalnya seminggu yang lalu. Beberapa kali tak sengaja bertemu saat di sekolah membuat mereka dekat, dan Jinri ternyata juga menyukainya. Itu sangat luar biasa rasanya bagi Taemin. Masih di dalam satu lindungan payung yang sama, Taemin mulai menggenggam erat tangan Jinri. Mendekapnya agar gadis yang seperti jelmaan malaikat di sampingnya itu tak terkena percikan air hujan.

“Choi Jinri saranghaeyo,” bisik Taemin.

Tiga lengkung senyuman Jinri cukup menjawab sebenarnya, “na do, Taemin oppa.”

Ya, mungkin mulai saat ini Taemin akan sangat menyukai hujan. Hujan yang telah mempertemukannya dengan Jinri. Hujan yang telah membawanya pada cintanya. Hujan sangat berjasa padanya rupanya.

Lee Taemin, sepertinya kau harus banyak berterima kasih kepada hujan.

***

THE END

***

Annyeonghaseyo yeorobeun~

Saya buat fic Taelli lagi lho, kali ini birthday fic buat Taemin. Terinspirasi dari salah satu VCR di SHINee World Corcert, hujan dan halte akhirnya jadi setting ceritanya😀

Oh iya, selamat ulang tahun yang ke-20, ya, Taemin-ah. Jadilah pria dewasa. Mian ini hadiah dariku cuma fic geje kayak gini, updatenya telat pula, mian ya #bow

Sudah ya saya nggak bisa banyak komen lagi, biar reader aja yang komen. Bye~

8 thoughts on “On Rainy Days Love Story

  1. Hello, salam kenal ya~ ^^

    Langsung ke cerita deh, ini fic nya manis bangeeet, khas taelli nih X3
    Deskripsinya juga runtut, kebayang, dan alurnya ngalir, thumbs up deh ^^d
    Oke, segitu aja komentarku, keep writing, ne? (^o^)

  2. haha kayaknya jodoh.
    bisa bertemu sering2 di kala hujan. di bus atau halte dan juga ternyata rumah mereka berdekatan haha benar2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s