Different Sides of You [Chapter 1]

DIFFERENT SIDES OF YOU

Copyright © 2012 by CHIELICIOUS

Main Cast:

  • Choi Minho
  • Jung Krystal

Rating: PG-Rated

Genre: Romance

Warning: Multichapter. Typo. Don’t Like, Don’t Read.

Disclaimer: Main cast belong to God. The original story from my brain. Plot belong to me.

DILARANG BASHING CHARA.

NOT FOR THE SILENT READER.

DO NOT COPY THIS STORY.

Any complaint please mention me @ciicucil

***

Ketika semua orang mencintai karena persamaan

Tapi tidak denganku

Aku mencintaimu karena kau berbeda

***

Perpustakaan begitu ramai siang itu. Universitas Konkuk, sebuah universitas di tepi sungai Han yang cukup terkenal di Seoul. Di sana ia berdiri, di sebuah perpustakaan besar yang terletak di sudut universitas populer itu. Minho melihat sekeliling, lalu melangkah masuk ke dalam tempat yang penuh dengan ribuan pengetahuan itu.

Ia menelusuri setiap rak-rak buku yang berderet rapi hampir di seluruh ruangan luas tak bersekat itu. Meneliti satu per satu judul buku di sepanjang rak. Lalu kembali berkutat mencari bahan yang akan ia gunakan untuk makalahnya.

Tak berapa lama, sudah ada bebrapa buku bertumpuk di tangannya, lalu ia membawanya ke sebuah meja baca tak jauh dari tempat ia mencari buku-buku itu. Menyeret kursinya dan langsung tenggelam membaca. Lima belas menit sebuah buku tandas dan ia mulai mencatat di sebuah notebook kecil di depannya. Menit-menit berikutnya, ia membaca lagi buku-buku tebal lain yang ia ambil tadi.

Choi Minho, seorang mahasiswa Art and Culture Film yang genius. Ya, seperti gelar yang melekat padanya, IPK cumlaud sudah sering ia dapat tiap semesternya selama 2,5 tahun ia menjadi mahasiswa, tugas dengan nilai sempurna dan pujian dosen atas ide-ide brilliant-nya sudah puas ia rasakan. Genius dan tampan.

Ya, tampan. Dibalik kepribadiannya yang dingin, cuek, individualis, dan kompetitif, tersembunyi sosok Choi Minho yang banyak dielu-elukan para gadis. Keenceran otaknya dan wajah yang menyamai ketampanan aktor-aktor dalam drama-drama serial di televisi, sangat sempurna.

Di sisi lain, seorang gadis tinggi dengan rambut terjurai panjang sedang kesusahan membawa beberapa buku tebal di tangannya. Ia berlari kecil mengejar waktu. Beberapa kali ia menabrak setiap orang yang melintas di depannya. Berat dan terburu-buru. Situasi yang sempurna.

Jeosonghabnida.” Ucapnya berkali-kali sambil sedikit membungkukkan badannya.

Krystal Jung, gadis itu cantik sempurna tapi ia sering ceroboh dan kurang hati-hati. Mahasiswa semester pertama yang berasal dari keluarga berada. Seorang gadis dengan intelejensi yang lumayan dan fisik yang sempurna. Itu yang membuatnya dikenal.

Krystal mulai memasuki ruangan itu dengn tergesa-gesa. Lantas berjalan menuju meja resepsionis perpustakaan dan menyapa ahjumma yang berjaga di sana. Setelah ia mengembalikan buku yang bertumpuk di tangannya tadi, lalu ia beranjak menuju rak-rak buku yang berjajar di bagian dalam ruangan.

Tugas kuliahnya kali ini begitu menyebalkan menurutnya. Hanya mencari sebuah referensi tentang pembuatan film. Terlihat sederhana memang, tapi ini begitu menyusahkan bagi Krystal. Dosen meminta minimal ada tiga buku untuk referensinya dan tidak boleh browsing dari internet. Menyebalkan bukan?

Selain itu, Krystal tak suka perpustakaan. Ia tak suka dengan segala macam apa yang ada di dalamnya. Sudah cukup sekali ia harus masuk perpustakaan  kerena tugas minggu lalu. Dan ternyata untuk tugas hari ini ia harus pergi ke sana kembali. Krystal merengut sebal sesaat.

Ia menyusuri setiap deretan buku yang ada di depannya. Berdecak kesal ketika ia tak kunjung menemukan apa yang ia cari. Mata indahnya terus menyusuri setiap judul buku yang tertata rapi di sepanjang rak. Beberapa saat setelah menelusuri deretan rak buku yang menurutnya tak akan ada ujungnya itu, Krystal melihat sebuah buku yang ia cari. Krytal berusaha menggapai buku yang terletak agak tinggi di atasnya. Tapi sebuah tangan terjulur mendahuluinya.

Krystal menoleh, dan menemukan seorang pemuda tinggi berdiri di belakangnya, dengan buku incarannya sudah berada di tangan pemuda itu. Choi Minho dengan tenangnya langsung membawa buku itu ke tempat duduknya tadi. Krystal terpaku sesaat, entah terpesona dengan Minho atau speechless bukunya sudah diambil orang lain.

“Ya! Kembalikan bukuku!” teriak Krystal sedetik kemudian, sepertinya ia melupakan ia sedang berada di perpustakaan yang mengharuskannya tenang.

Krystal mengejar Minho yang melenggang tenang sambil membawa buku tebal itu. “Ya!” teriak Kystal lagi, kali ini ia benar-benar tak peduli pada peraturan. Ya, gadis ini memang agak sedikit keras kepala.

Minho tetap berjalan ke tempat duduknya yang berada di tengah ruang baca perpustakaan itu tanpa memperdulikan teriakan Krystal. Siapa yang cepat maka ia akan dapat, sepertinya prinsip itu masih berlaku menurut Choi Minho.

Dan hap. Krystal berhasil meraih lengan pemuda yang sudah seenaknya mengambil buku yang harusnya untuknya. “Ya! Kau mendengarku tidak sih?”

“Apa?” pemuda itu menoleh, menampakkan tatapan dingin pada Krystal Jung yang sudah menggebu-gebu menginginkan buku yang berada di tangannya. Minho mendecak kesal. Gadis di depannya ini terlihat sangat menyebalkan. Sudah berteriak mengganggu, lalu sekarang ia harus menahannya membuatnya membuang waktu untuk hal yang tak penting. Benar-benar sangat annoying.

Krystal ganti menatapnya sengit. Pemuda dengan wajah datar di depannya ini memang menyebalkan. Apa tidak cukup ia berteriak memanggilnya, dan sekarang malah bertanya seolah tidak tahu.

“Kembalikan buku itu padaku,” minta Krystal, tangannya sudah menjulur siap menerima buku yang ia inginkan dari pemuda datar ini.

“Buku ini? Tidak, aku sedang membutuhkannya,” kata Minho datar.

“Ya! Aku yang melihatnya duluan darimu.”

“Aku yang mengambilnya duluan, jadi aku lebih berhak atas buku ini,” Minho lantas berbalik meninggalkan Krystal dengan santainya.

Krystal sepertinya sudah sebal dibuatnya. Pemuda datar itu sudah keterlaluan menurutnya, membiarkan seorang gadis berteriak dan tidak mau mengalah pada wanita. Bukan attitude seorang pria yang baik dalam memperlakukan wanita.

“Ya!” teriak Krystal lebih keras lagi.

Minho berbalik, dan menatap lebih sengit dari sebelumnya. Gadis ini benar-benar sudah menyita banyak waktunya. Ia akan banyak menyiakan waktu lebih banyak lagi jika terus menanggapi omelan tak penting gadis ini. “Apa sih maumu?”

Mereka berdua saling menatap, terlihat tak ada yang mau mengalah. Baik Krystal maupun Minho memang sama-sama keras kepala. “Kembalikan bukuku!”

“Bukumu? Hey, ini buku milik perpustakaan, buku untuk umum.”

“Pokoknya kembalikan buku itu padaku,” minta Krystal, sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai meminta secara halus, lebih pantas jika dikatakan memaksa meminta.

Minho kembali mendecak kesal. Gadis ini adalah gadis termenyebalkan yang pernah ia temui. Bahkan lebih menyebalkan dari pada gadis-gadis yang sering meneriakkan namanya ketika datang di pagi hari, atau ketika ia lewat di koridor universitas. Memang gadis ini berbeda level menyebalkannya, dan itu yang membuat Minho tidak suka.

“Aish, cerewet sekali kau ini. Kau sadar tidak kau sedang berada di perpustakaan, sedangkan kau dari tadi berteriak layaknya kau berada di lapangan bola. Lihat, mereka semua melihatmu karena kau tak tahu aturan,” kalimat yang lumayan panjang yang keluar dari mulut Minho hari ini. “Ck, dasar gadis menyebalkan,” ujar Minho, ia malah berbalik menuju meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

Krystal tak peduli dengan sekitarnya, tak peduli jika ia di perhatikan karena membuat keributan di perpustakaan. Kali ini ia merasa diperlakukan dengan seenaknya lagi oleh pemuda itu. “Ya!”

“Kita berbagi buku ini,” Minho menyeret kursi kayu tanpa memperhatikan Krystal yang matanya sudah membulat sebal.

“Apa? Tidak!”

“Ya sudah, kalau kau tak mau memakainya bersama, teruslah saja berteriak di situ,” pemuda ini dengan dinginnya berkata tanpa melihat lawan bicaranya. Tidak sopan.

Krystal berpikir sejenak. Sebenarnya ia tak mau berlama-lama di tempat ini. Tujuan awal hanya mengembalikan buku, meminjam buku yang lain, lalu pergi dari tempat suram yang bernama perpustakaan itu. Tapi nyatanya, ia harus tertahan lebih lama di sana, bertemu dengan pria menyebalkan yang tak mau mengalah pada wanita, dan harus berbagi buku bacaan dengannya. Oke, cukup sudah masalah untuk hari ini. Besok dan seterusnya, ia akan mengingat hari ini sebagai hari paling sial dalam hidupnya.

Lama berdiri memperhatikan Minho yang mulai serius mencatat, akhirnya Krystal menyerah dan mau berbagi buku bacaan itu dengan sangat terpaksa. Tentu saja. Cukup sekali ini saja ia berurusan panjang dengan pemuda datar dan dingin itu.

***

Krystal meneguk ludahnya, memperhatikan Cho seongsaem-nim membaca dengan serius tugas yang ia serahkan hari ini. Ia memang nekad mengumpulkan tugas yang jujur saja ia kerjakan dengan setengah hati karena pemuda di perpustakaan tempo hari.

Gadis itu semakin khawatir ketika Cho seongsaem-nim mulai membubuhkan beberapa coretan pada papernya. Ia yakin, ia harus mengulang tugas menyebalkan itu.

Satu coretan, dua coretan, tiga coretan, empat.. lima..enam..

Krystal melihat bahkan hampir semua halaman kertas tugasnya penuh dengan coretan koreksi dari dosennya itu. Badannya melemas.

“Jung Krystal, sepertinya aku sudah tak perlu menjelaskan lagi apa kesalahanmu. Tugasmu berantakan,” ujar Cho seongsaem-nim sambil membenarkan letak kacamatanya.

Jeosonghamnida seongsaem-nim,” Krystal hanya bisa menunduk.

“Kesalahanmu sudah fatal, tugasmu tak pernah sekalipun benar. Lantas harus bagaimana aku memberimu nilai?”

Seongsaem-nim, beri saya kesempatan sekali lagi,” mohon Krystal.

“Sebenarnya, aku sudah memberikan banyak kesempatan padamu, nona Jung. Tapi, sepertinya kau tidak pandai memanfaatkan kesempatan itu. Sayang sekali, aku tahu kau ini bisa jadi pintar dan rajin jika kau serius dan pandai memanfaatkan setiap kesempatan yang aku berikan. Kalau kau terus begini, entah aku bisa menyelamatkanmu atau tidak pada ujian semester bulan depan.”

Krystal semakin tertunduk. Nilai semesternya kali ini pasti sangat hancur. Dia memang punya segalanya, tapi tidak dengan semangat belajar. “Saya mohon seongsaem-nim, berikan saya tugas apa saja asal bisa menambah nilai saya. Saya tidak mau mengulang di semester ini.”

Pria berkacamata itu terdiam sejenak, berpikir solusi apa yang tepat untuk nona Jung ini.

“Baiklah, tak ada pilihan lain, nona Jung. Aku akan memberimu kesempatan sekali lagi, tapi kali ini aku tidak akan membiarkanmu menyiakan kesempatan dariku. Aku akan membiarkanmu belajar dengan seorang yang pintar. Dia yang akan mengawasi kinerjamu, kau akan melakukan semacam tutorial dengannya. Aku akan memilihkannya untukmu. Dan kau harus menerima,” kata Cho seongsaem-nim.

“Baiklah seongsaem-nim, apapun itu aku akan melakukannya.”

***

“Minho-ya, kau baru pulang?” ujar seorang wanita cantik dengan eyes smile ketika Minho hendak naik menuju kamarnya di lantai dua rumah keluarga Choi yang megah.

Minho menoleh, menemukan sosok ibunya yang sedang membawa secangkir kopi di tangannya, “iya, banyak tugas yang harus aku selesaikan.”

“Appa sudah menunggumu di ruang keluarga,” senyum nyonya Choi.

Minho mengangguk, lantas mengikuti langkah ibunya menuju ruang keluarga. Di sana sedang duduk seorang pria yang tampak berwibawa dari raut wajahnya. Minho sedikit curiga. Tak pernah ayahnya memanggilnya seperti ini jika bukan karena nilainya yang turun, merasa hal ini sangat jarang terjadi. Tapi rasanya ia masih bisa mendapatkan nilai yang stabil seperti biasanya.

“Appa tak mau menasihatimu tentang nilai lagi, Minho-ya. Aku rasa kau sudah dewasa dan bisa mengatasi hal itu sendiri,” sebuah kalimat itu tepat menjawab apa yang ada di pikiran Minho.

Minho duduk berhadapan dengan  kedua orang tuanya yang sedang menatapnya serius. Apa yang sebenarnya ingin mereka bicarakan. Minho semakin penasaran, ayah dan ibunya kenapa menjadi sok misterius begini.

“Minho-ya, bisakah kali ini kau memenuhi sebuah permintaan kami?” Tuan Choi mulai berbicara lagi setelah meletakkan cangkir yang berisi kopi itu kembali ke meja.

“Permintaan?”

“Minho-ya, appa dan eomma tak pernah memaksamu dalam hal apapun, bukan? Kami selalu mendukung apapun pilihanmu, bahkan ketika kau menolak menjadi penerus perusahaan appa, dan lebih memilih kuliah di bidang film,” Tuan Choi nampak berbelit-belit yang membuat Minho makin tidak mengerti kemana arah pembicaraan ayahnya.

“Appa aku tak mengerti,” Minho masih menunjukkan raut wajah penasarannya.

Ayah dan ibunya saling berpandangan, dan terlihat Nyonya Choi mengangguk pasti pada suaminya. Minho semakin merasa aneh atas sikap kedua orang tuanya. Ia merasa seperti mereka ingin mengatakan sesuatu, tapi takut ia tak bisa menerima.

“Minho-ya, kami mohon kau menerima perjodohanmu dengan putri keluarga Jung,” kali ini ibunya yang bicara.

Seperti tersambar petir, ia masih mau menikmati masa kuliahnya. Ia masih mau menjadi sutradara seperti impiannya. Tapi, kenapa orang tuanya malah menjodohkannya dengan gadis yang bahkan tidak pernah ia temui.

“Perjodohan?”

“Kami dan keluarga Jung sudah sepakat, sebenarnya perjodohan ini sudah diatur saat kalian masih kecil.”

“Mwo?” Minho semakin tak percaya.

Ya, Minho tak percaya, ia bisa mencari pacar sendiri jika ia mau. Tapi tidak untuk saat ini. Bukankah, ayahnya selalu marah jika melihat nilainya turun? Tapi mengapa sekarang tiba-tiba saja menjodohkannya. Itu artinya ia harus memecah konsentrasinya menjadi dua, kuliah dan perjodohan yang pasti nanti akan berujung pada pernikahan. Minho tak yakin bisa konsisten pada salah satunya. Kuliahnya secara otomatis akan menurun.

Ia tahu ayahnya dan Tuan Jung adalah sahabat dekat, tapi tak pernah sekalipun ia menyangka akan di jodohkan dengan putri keluarga Jung. Ia bahkan tak pernah mengenal gadis itu, karena ia selalu menolak jika ayahnya mengajaknya bertemu dengan rekan-rekan bisnisnya, dan lebih memilih untuk membaca buku di perpustakaan.

“Kami yakin kau akan menyukainya, Soojung gadis yang baik.” Oh, dan sekarang ibunya mengungkapkan gadis itu bernama Soojung.

“Aku akan memikirkannya,” jawabnya dingin lantas pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang masih bertahan di tempat yang sama. Terlihat sangat jelas ia akan menolak perjodohan itu, tapi melihat raut wajah ibunya yang excited, Minho jadi harus berpikir dua kali.

Mungkin tak ada salahnya jika ia menerimanya dulu, toh nanti ia juga bisa memutuskan gadis bernama Soojung itu. Dan semua akan beres.

***

Krystal mengetuk-ketukkan pensilnya pada permukaan meja. Kali ini ia sedang berada di perpustakaan lagi kali ini. Ya, dengan sangat terpaksa ia harus pergi ke sana. Cho seongsaem-nim bilang ia sudah meminta seseorang untuk mengawasi dan membantunya untuk belajar.

Sedikit menyebalkan memang, karena Krystal sudah berjanji tak akan mau ke tempat suram itu lagi. Di sana ia punya banyak kenangan buruk, apalagi dengan pemuda menyebalkan itu. Cukup sampai di situ saja ceritanya dan perpustakaan. Tapi, mengapa Cho seongsaem-nim malah menyuruhnya menemui seseorang itu di sini. Annoying.

Lima belas menit, dan Krystal sudah tak tahan dengan suasana perpustakaan yang begitu memuakkan. Tak ada hal yang menarik menurutnya. Tempat ini membuatnya mengantuk. Krystal meletakkan kepalanya di meja masih dengan pensil yang di ketuk-ketukkan.

“Nona Krystal Jung?” kata seseorang yang berhasil membuatnya bangkit.

“Ne,” jawabnya reflek. “Ya! Kenapa kau ada di sini lagi,” tuding Krystal kemudian setelah tahu siapa yang ada dihadapannya sekarang.

Bayangannya sebelumnya Cho seongsaem-nim akan mengirimkan seorang pemuda berkacamata dengan potongan rambut cepak, atau seorang gadis berkawat gigi dengan kacamata lebar yang akan membimbingnya. Oke, ini memang jauh dari perkiraannya, setidaknya Cho seongsaem-nim mengirimkan seseorang yang jauh lebih good looking dari bayangannya. Tapi, kenapa harus pemuda menyebalkan ini lagi.

Sekarang ia berpikir, hari-hari buruk sudah menunggu di depan mata. Perasaannya mulai gusar, ini akan menjadi perjalanan terberat dalam hidupnya. Bahkan ini lebih buruk dari mendapatkan nilai E di mata kuliah Cho seongsaem-nim.

“Kau tidak mau aku ada di sini, hn? Baiklah, aku akan pergi dan bilang pada Cho seongsaem-nim bahwa Krystal Jung tidak ingin lulus di mata kuliahnya,” Minho berbalik hendak meninggalkan Krystal.

“Aish, baiklah, dengan sangat terpaksa aku mau belajar denganmu demi nilai-nilaiku.”

Minho tersenyum puas. “Joha, aku Choi Minho, aku sudah membuat beberapa rancangan project seperti tugas yang pernah Cho seongsaem-nim berikan, silahkan dianalisa,” Minho menyerahkan setumpuk benda semacam makalah ke hadapan Krystal.

Gadis itu membulatkan matanya tak percaya, ini baru hari pertama. Nanti, hari-hari berikutnya siksaan apa lagi yang akan diberikan Choi Minho padanya. Pasti akan lebih berat lagi. Kali ini Krystal merasa seperti mengerjakan kerja rodi. Kalau bukan karena pertaruhan nilai ia pun tak mau berbuat sampai begini.

“Ya! Apa yang kau lihat? Cepat kerjakan analisanya!” kata Minho membuat Krystal terus-terusan menggerutu sebal. “Metode pembelajaranku jauh lebih ringan dan mudah jika dibandingkan dengan Cho seongsaem-nim, jadi seharusnya kau juga lebih mudah menerimanya.”

Apa yang dia katakan seperti suatu kebohongan besar bagi Krystal. Lebih mudah dan ringan apanya, memberinya setumpuk tugas analisa project film di hari pertama tutorial. Itu yang dia katakan mudah dan ringan? Namja ini gila, pikir Krystal.

***

Krystal melemparkan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Kakaknya yang sedang menyiapkan makan malam menatapnya heran. Lantas menghampiri adiknya itu, ia tahu si adik sedang dalam mood yang kurang baik. Ya, seorang kakak pasti tahu apa yang sedang terjadi dengan adik satu-satunya itu.

Krystal melempar tasnya ke samping, lalu menutupi kepalanya dengan bantal kecil. Hari ini tercatat sebagai hari yang menyebalkan lagi-lagi.

“Kau mematikan ponselmu hari ini? Appa dan eomma bilang mereka tidak bisa menghubungimu,” ujar Jessica mendekati Krystal yang masih menutupi wajahnya dengan bantal.

Krystal bangkit dan menyingkirkan batal yang tadi menutupi wajahnya itu. “Hari ini aku ada tutorial eonni, asisten dosenku tak memperbolehkan aku menyalakan ponsel. Memangnya ada apa dengan appa dan eomma, tiba-tiba sekali mereka menelponku.”

“Entahlah, mereka bilang ini penting. Sepertinya mereka mau melanjutkan penbicaraan tempo hari denganmu.”

“Maksudmu perjodohan itu?” Jessica mengangkat bahunya. “Aish mereka itu, sudah aku bilang aku tidak mau dijodohkan. Aku masih ingin hidup bebas menikmati masa mudaku, aku tidak ingin menikah muda.”

“Entahlah aku juga tak tahu apa yang mereka rencanakan, Soojung-ah,” senyuman manis kakaknya sedikit menenangkannya. “Sebaiknya kau ganti baju dulu, aku akan menyiapkan coklat panas, siapa tahu bisa mengembalikan moodmu.”

Sudah cukup ia dipusingkan dengan urusan nilai dan kuliah yang benar-benar membuatnya terbebani. Dan ditambah lagi masalah perjodohan konyol yang dirancang oleh orang tuanya untuknya. Hey, seharusnya itu berlaku untuk Jessica yang notabene sudah lebih siap menikah dari pada dirinya. Tapi, kenapa malah ia yang dijodohkan?

Krystal tak pernah mengerti apa jalan pikiran orang tuanya. Yang jelas ia menolak keras perjodohan itu. Ia masih mau bebas tanpa ikatan. Pacaran saja ia tak mau, apalagi menikah yang berarti semua kebebasan akan diserahkan pada suami, mengurus rumah, dan tak bisa bersenang-senang layaknya gadis sewajarnya. Tak bisa ia bayangkan jika nantinya ia akan menjadi seorang pembantu di rumah sendiri.

Krystal mendengus kesal, terlintas sebuah pikiran ia harus membuat rencana untuk menggagalkan perjodohannya.

***

To Be Continue

***

Annyeonghaseo, ya ampun ini project bulan apa coba baru bisa dikerjakan sekarang. Mianhae readers #bow

Mian juga buat Janet eonni, request-nya eonni baru sempat dibuat hehe *masih banyak utang lu sil* semoga eonni ga kecewa ya >.<

Ini ff minstal rasanya rada gagal deh, bukan rada tapi emang gagal, saya ngerjainnya sambil ngegalau SMTOWN in Jakarta soalnya T_T

Soal eksekusi plot, alur, ide cerita, setting, penokohan dan lain sebagainya termasuk typo biar reader deh yang komen. Saya mah terima pasrah apa adanya.

Terima kasih sudah membaca dan komen, maaf ya fanficnya abal sekali, maaf sekali terutama buat minstal shipper #bow

14 thoughts on “Different Sides of You [Chapter 1]

  1. koq ga dilanjut? kasian reader2 lain termasuk saya yg udah jatuh hati sama epep ini..
    masa nunggu chapter 2 aja harus nunggu sampai 2tahun? bahkan aku ga tau authornya ini masih niat lanjut atau engga. kita yang penasaran gimana? emang sih hak penulis mau lanjut atau engga.. tapi kalo cuma mancing2, bikin penasaran, bikin readers kecewa. itu udah ga baik deh.
    aku harap authornya bisa ngertiin hati para readers. jangan cuma bikin cerita berbobot tapi nanggung

    • Hallo, btw terima kasih sudah diingatkan🙂 tapi I have my own reason to discontinue this FF. Yah, mungkin suatu saat saya akan lanjutin tapi nggak sekarang ya. Saya sangat menyesal sebenarnya ketika saya harus memutuskan saya menghentikan penulisan Different Sides of You. Ada beberapa alasan, pertama yang membuat saya memutuskan untuk discontinue adalah file yang sudah saya tulis hilang karena laptop saya habis jatuh dan saya harus ganti harddisk saya yang rusak. Kedua, ya karena apa yang sudah saya keluarkan dari otak saya sekali tidak akan sama lagi jika saya menulisnya untuk yang kedua kali. Ketiga, saya sekarang semester tua jadi ya saya semacam mau menikmati jadi mahasiswa semester tua dengan segala kesibukannya. Terima kasih jika reader sudah menunggu, tapi saya minta maaf sekali lagi mungkin ff ini tidak akan dilanjutkan. Jika ada sebuah keajaiban mungkin saya akan punya semangat lagi untuk menulis kelanjutan Different Sides of You. So, that’s it. Terima kasih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s