I Really Hate You [Chapter 2]

I REALLY HATE YOU

CHIELICIOUS © 2012

Main Cast:

  • Kim Joonmyun (EXO-K Suho)
  • Yoo Ara (Hello Venus Ara)

Rating: PG-Rated

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Warning: Multichapter. Typo. Geje. Don’t Like, Don’t Read.

Disclaimer: Suho and Ara belong to God. The original story from my brain. Plot belong to me.

DILARANG BASHING CHARA. NOT FOR SILENT READERDO NOT COPY THIS STORY.

***

Kau yang membuatku terjebak dalam binar matamu. Kau yang membakar hatiku dengan api cintamu. Kau yang memenjarakanku dalam cinta yang tak berujung. Kau yang menjatuhkanku dalam lubang kerinduan dan kesakitan yang mendalam. Kau yang selalu menghipnotisku dengan senyuman malaikat itu. Kau yang tak pernah tahu betapa aku merasakan sakitnya cintamu. Aku membencimu karena aku mencintaimu.

And I felt I was on fire, with the things I couldn’t have told you.
I just assumed that you eventually would ask and I wouldn’t have to bring up my so badly broken heart.
I hope you know that I’m talkin’ about the way I feel.

***

Ara membanting tubuhnya di ranjang kamarnya sesampainya di rumah. Pikirannya sekarang dipenuhi dengan Suho tanpa ia sadari. Kenangan lama itu terputar begitu saja. Padahal ia tak ingin mengingatnya lagi. Kenangan yang terlalu menyakitkan dengan seorang cinta pertamanya.

Ia memang ingin sekali kembali ke Seoul, tapi jika ia kembali terseret dalam masa lalunya seperti ini lebih baik ia tetap berada di New York. Setidaknya, di sana ia bisa sedikit melupakan pria yang beberapa waktu yang lalu menemuinya. Kalau perlu ia akan membawa serta ibu dan adiknya ke New York, dan benar-benar mengubur masa lalunya di Seoul. Tapi, Ara bukan tipe gadis yang egois seperti itu.

Pria itu yang selalu menjadi pengaruh besar dalam hidupnya. Kim Joonmyun sudah berhasil masuk dan menguasainya. Kim Joonmyun juga yang menjadi alasan ia pergi ke New York alih-alih melupakan kesakitannya karena cinta pertama yang tak terbalas.

Ara mengacak-acak rambut panjangnya. Mendekap mukanya dengan bantal, lantas berteriak. “Aish, kenapa jadi rumit begini. Kim Joonmyun kau menghancurkan segalanya,” teriak Ara yang berhasil teredam oleh bantal yang didekapnya. Mulai bosan dengan rasa kesalnya pada Suho dan dirinya sendiri, Ara bangkit alih-alih berlatih bermain piano. Ya, setidaknya ia bisa melampiaskan rasa kesalnya pada tuts-tuts itu.

Gadis berambut panjang berjalan menuju sebuah meja belajar di sisi lain ruangan, hendak mengambil beberapa kertas dan alat tulis. Ia akan membuat partitur instrument baru untuk diajukan ke kantor manajemen, dan merevisi beberapa partitur yang kurang pas. Pekerjaan seperti inilah yang sudah menjadi jalan hidupnya. Piano dan partitur-partitur sudah menjadi sebagian dari hidupnya bahkan sebelum Suho masuk dan sedikit banyak merubah tatanan hidup Ara.

Ia membuka laci kecil meja itu, dan menemukan sebuah benda miniatur sebuah piano kecil. Ara mengambilnya. Piano kecil itu pemberian dari seseorang yang beberapa waktu lalu sempat membuatnya kesal.

Ara membuka bagian atas piano kecil itu, dan sebuah nada terlantun dari dalamnya. Ya, piano kecil itu adalah music box pemberian Suho atas keberhasilannya memenangkan kompetisi piano dan untuk hadiah kelulusannya sewaktu sekolah menengah atas. Kenangan saat mereka bersama seketika terputar. Kebersamaan yang sekarang tidak mungkin terulang lagi. Lama ia memandangi piano kecil itu, rasa rindu dan rasa sakit kembali terasa. Ara mulai bingung dengan perasaannya. Segera ia menutup piano kecil itu, tak mau berlama-lama terlarut dalam masa lalu yang pahit lagi.

***

“Ara-ya,” gumamnya. Sebuah foto masa lalu sedang ia pandangi. Fotonya dan seorang gadis berambut lurus panjang terurai yang sedang tersenyum manis dengan background sebuah pohon cherry blossom yang sedang mekar. Kenangan masa lalu terakhirnya dengan Ara.

Suho masih tak menyangka hidup begitu mempermainkannya. Setelah tujuh tahun ternyata rasa itu masih ia rasakan. Rasa yang sama seperti dulu. Ia tahu Ara punya alasan untuk membencinya, dan ia sadar pria sepertinya pantas dibenci seorang wanita. Tapi, ia juga punya alasan untuk terpaksa menyakiti Ara. Saat itu, ia harus melepaskan salah satu diantara cintanya atau impiannya.

Masih memandang sebuah foto polaroid kecil itu. Suho yakin Ara masih mau membuka hatinya kembali. Jika memang belum terlambat, Ara pasti memaafkannya. Tapi dari sikap Ara pada Suho dari pertama bertemu, Suho jadi sanksi ia akan dimaafkan oleh gadis itu.

“Maaf Ara-ya, aku menyesal, aku masih menyukaimu,” gumamnya lagi.

Kemudian pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, menampakkan seorang pemuda berwajah datar, Oh Sehun, si maknae dan juga roommate Suho. Cepat-cepat Suho menyembunyikan foto itu di balik bantal. Kalau Sehun tahu pasti ia akan bilang pada semua penghuni dorm EXO-K.

Sehun memandang Suho aneh, “eh hyung, kau dari mana saja, tadi manager hyung mencarimu,” kata Sehun menyeret kursi di depan meja belajarnya dan mengeluarkan beberapa buku.

“Aku tidak kemana-mana, Sehun-ah,” kilah Suho sambil berbaring di ranjangnya.

“Tadi Kyungsoo hyung melihatmu keluar dorm,” kata Sehun.

“Ah, itu, aku hanya mencari udara segar di taman depan apartemen,” kali ini Suho harus berbohong. Terpaksa berbohong, jika ketahuan maka resikonya bisa gawat.

Sehun tak bertanya lagi, ia meneruskan menulis di buku-buku yang ia keluarkan tadi. Sepertinya sedang mengerjakan tugas sekolahnya. Jika sudah begini Suho tak bisa mengganggu si maknae yang sedang belajar.

***

Hari ini Suho bisa sedikit bernapas lega karena tidak ada schedule perform. Setidaknya ia dan adik-adiknya bisa sedikit beristirahat untuk beberapa saat sebelum jadwal-jadwal yang padat itu kembali menuntut harus mereka jalankan.

Kyungsoo yang merasa dorm sangat berantakan memutuskan untuk merapikannya. Ya, dengan terpaksa ia harus berinisiatif sendiri, karena memang diantara mereka ia yang paling rajin mengatur dorm. Tapi sayang kali ini ia harus melakukannya sendiri. Di dorm hanya ada dia dan Suho. Si maknae Sehun sudah pergi ke sekolah. Kai, ia bilang ada janji dengan Taemin, sunbae sekaligus sahabat dekatnya. Sedangkan Chanyeol dan Baekhyun, mereka sudah menghilang entah kemana.

“Oh, Kyungsoo-ya,” kata Suho ketika ia membuka pintu kamarnya, dan menemukan Kyungsoo sudah berdiri di depannya.

“Hyung, bisakah kau ambilkan bedcover di lemari sebelah sana, aku akan mengganti bedcovermu dan Sehun,” ujarnya lantas menunjuk lemari di sudut lain dorm.

Suho mengangguk, lantas berjalan ke arah lemari yang dimaksud Kyungsoo. Sedangkan Kyungsoo mulai membereskan ranjang Suho dan menggantinya dengan bedcover yang lebih bersih. Pemuda bermata bulat itu menarik bedcover itu, sebuah kertas kecil terjatuh ke lantai. Kertas bergambar seorang pemuda dan gadis di sampingnya, mereka berdua tersenyum manis dalam bingkai kertas foto polaroid kecil itu.

Kyungsoo tersenyum.

Suho membuka pintu, membawa dua bedcover seperti yang diminta oleh Kyungsoo. Kyungsoo berbalik dan menemukan hyungnya sedang keberatan membawa bedcover itu.

“Ini yang kau minta, sini biar aku membersihkan punyaku sendiri, dan kau membersihkan ranjang Sehun,” kata Suho meletakkan bedcover di ranjang Sehun yang ada di seberang ranjangnya.

Kyungsoo menyeringai mencurigakan. Suho mengangkat sebelah alisnya, entak apa yang terjadi pada adiknya itu saat ia meninggalkannya mengambil bedcover di luar.

“Hyung..” Kyungsoo mendekati Suho, tetap dengan seringai lebarnya.

“Ya! Kau kenapa sih?”

“Hyung, pacarmu cantik ya, kau tak pernah bilang kepada kami kau punya yeoja chingu,” kata Kyungsoo yang sukses membuat Suho membulatkan matanya.

“Mwoya? Apa maksudmu, Kyungsoo-ya?”

“Terus teranglah hyung, aku tak akan bilang ke manager kok,” paksa Kyungsoo masih mempertahankan seringainya.

“Kau ini bicara apa sih!”

“Hyung, kau ini leader macam apa, curhat pada dongsaeng sendiri saja tidak mau.”

“Ya! Do Kyungsoo apa maksudmu?”

Kyungsoo lalu mengangkat tangannya yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang badannya. Menunjukkan sebuah foto yang tak lain adalah foto Suho dan Ara yang kemarin di sembunyikan di bawah bantal.

“Kau, bagaimana bisa, hei Kyungsoo kembalikan!” ujar Suho berusaha merebut foto yang ada di tangan Kyungsoo. Sedangkan si pemuda bernama Kyungsoo itu sedang mengelak untuk memberikan foto itu pada kakaknya.

“Aniyo hyung, sebelum kau menceritakan tentang gadis ini padaku aku tak akan memberikannya padamu,” kata Kyungsoo sambil menjulurkan lidahnya.

“Ya! Seenaknya saja kau ini, itu privasiku, anak kecil macam kau mana boleh ikut campur,” Suho mendengus sebal, tak mendapatkan apa yang ada pada tangan Kyungsoo.

“Hyung aku sudah 20 tahun, ayolah hyung ceritakan sedikit, siapa tahu aku bisa membantumu.”

Suho menyerah, ia membanting tubuhnya ke ranjang miliknya. Sedangkan bedcover bersih maupun yang kotor masih teronggok di lantai. “Baiklah, tapi kembalikan dulu foto itu.”

“Iya iya, ini,” Kyungsoo akhirnya menyerahkan foto itu pada Suho, dan duduk di tepi ranjang milik Sehun. Bersiap mendengarkan dengan seksama cerita kakaknya. “Tapi, dia itu memang pacarmu, kan, hyung?”

“Ya! Do Kyungsoo dengarkan dulu,” Kyungsoo terkekeh melihat Suho yang agaknya sebal kepadanya. “Namanya Ara, Yoo Ara. Dia setahun lebih tua darimu. Pertama kali bertemu saat musim semi di Taman Yoido.”

Kyungsoo mulai menyangga kepalanya dengan tangannya, mendengarkan Suho yang sedang mengenang masa lalunya. Jarang-jarang sang leader mau membuka masa lalunya pada orang lain.

“Waktu itu kami masih duduk di sekolah dasar, Ara gadis yang manis itu melihatku sedang meringis kesakitan karena lututku berdarah akibat terjatuh seusai bermain basket. Ia menghampiriku dengan sebuah senyuman, lantas menampakkan wajah khawatirnya setelah melihatku terluka.”

***

 

“Ya! Kenapa lututmu bisa terluka seperti ini?” kata Ara kecil, ia mengambil selembar tissue, sebuah botol antiseptik kecil, dan plester luka dari dalam tas kecilnya.
“Anak laki-laki kalau bermain tidak terluka, bukan laki-laki namanya,”Joonmyun kecil membela diri. Mereka berdua sedang duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon cherry blossom yang menghadap ke lapangan basket di Taman Yoido.
Dengan telaten dan cekatan gadis kecil itu membersihkan luka pada lutut pemuda kecil yang sedang meringis kesakitan. Setelah membersihkannya dengan cairan antiseptik, lalu ia menutup luka pada lutut itu dengan plester luka bergambar binatang.
“Selesai, tidak sakit lagi, kan?” Ara tersenyum puas.
“Terima kasih ya, kau hebat,” Joonmyun ikut tersenyum. “Siapa namamu? Namaku Kim Joonmyun,” lanjutnya sambil menjulurkan sebuah tangannya pada Ara.
Ara tersenyum malu-malu, gadis kecil itu menyambut uluran tangan Joonmyun, “Yoo Ara imnida, bangapseumnida.”

 

***

 

“Aku yakin Ara noona yang asli pasti lebih cantik dari di foto, iya kan, Hyung?” Kyungsoo melirik Suho yang sedang tersenyum sendiri saat mengenang masa lalunya bersama gadis itu.

“Tentu saja, dia itu cantik sekali. Rambutnya yang lurus, matanya yang teduh, sikapnya yang lembut, dan senyum itu selalu membuatku meleleh,” Suho mendeskripsikan kata cantik yang dikatakan Kyungsoo.

“Ah, aku tahu ketika kau ditanya tipe gadis idealmu oleh media kau menjawabnya kurang lebih seperti itu. Jangan-jangan dia orangnya,” tepat sasaran Kyungsoo-ya. Suho pun tersipu malu.

Kyungsoo terkekeh melihat sang leader terlihat seperti orang jatuh cinta begitu. Entah mengapa Suho bisa langsung terhipnotis untuk bercerita kepada Kyungsoo. Ya, memang jika kau mempunyai unek-unek dan hanya bisa dipendam di dalam hati, rasanya sungguh tidak mengenakkan.

“Setiap hari kami bertemu di tempat yang sama, bermain basket bersama, tertawa bersama. Ya, dia jadi sahabatku mulai saat itu. Saat kami mulai memasuki SMP kami pun berjanji belajar di sekolah yang sama. Aku dan Ara sangat dekat, Ara selalu menumpahkan perasaannya padaku, mau tak mau aku harus jadi pendengar setia setiap curhatnya.”

“Lantas, kapan kau mulai jatuh cinta padanya, hyung?”

“Ceritanya masih panjang, Kyungsoo, dengarkan dulu,” lagi-lagi Kyungsoo terkekeh. Entah mengapa ia menjadi over-excited begini.

“Iya, hyung, cepat lanjutkan.”

“Aku dan Ara selalu bersama-sama, meskipun kami berbeda kelas di SMP, aku dan dia selalu bertemu di saat istirahat, dan sore hari kadang kami bermain basket bersama, atau hanya sekedar duduk menikmati sunset di bangku panjang tempat kami pertama bertemu dulu. Hal ini berlangsung hingga kami SMA, lagi-lagi Ara dan aku memilih sekolah yang sama. Karena minat kami sama-sama di bidang musik, maka kami mendaftar di sekolah yang sama dengan Sehun.”

Kyungsoo mengangguk, masih dengan pose serius mendengarkan. Sepertinya tidak ingin melewatkan satu pun cerita seru dari sang leader.

“Saat itu juga aku tahu kalau dia sangat berbakat memainkan piano, dan..”

“Dan kau mulai jatuh cinta padanya, iya kan?” potong Kyungsoo.

Suho membulatkan matanya, sebal sih ketika ia bicara ada yang memotong seperti itu. Tapi, itu tepat sasaran untuk yang kedua kalinya, Kyungsoo-ya.

“Kau benar, aku mulai menyukainya saat ia memainkan tuts-tuts itu dengan indah. Ditambah dengan senyumannya yang manis, rasanya jantungku mulai berdebar lebih cepat dari biasanya. Aku akan merasakan cucuran keringat dingin di tanganku ketika ada di dekatnya, dan seperti ada rasa yang aneh di dalam sini,” Suho menunjuk dadanya. “Rasa aneh yang tak pernah aku rasakan selama aku hidup, aneh tapi menyenangkan.”

“Ara noona itu cinta pertamamu?” Kyungsoo mulai menyelidik lagi. “Hyung, kau kemana saja baru merasakan cinta pertama di saat SMA?” pemuda bermata bulat itu tertawa pelan.

“Hey Do Kyungsoo, jangan mengejekku seperti itu, atau aku akan berhenti cerita sampai di sini,” ancam Suho.

“Aish, baiklah aku diam saja,” Kyungsoo mengerucutkan bibirnya karena protes dari Suho. Suho malah tertawa.

“Ya, aku baru merasakan cinta pertamaku pada saat SMA, entahlah mungkin orang yang dekat denganku hanya Ara saat itu. Aku juga tak terlalu tertarik dengan gadis-gadis lain di luar sana. Setidaknya aku senang bisa dekat dengannya tanpa harus bersusah-susah mendekati seperti para namja yang juga menyukainya.”

“Ara noona begitu popular ya di sekolah?”

“Dia itu pemain piano terhebat di orchestra sekolah, sepantasnya dia popular, terutama di kalangan namja. Aku mulai berpikir apakah Ara punya perasaan yang sama denganku? Tapi ia tak pernah menunjukkannya padaku. Aku namja yang biasa saja tak mempunyai banyak bakat kecuali menyanyi, mungkin juga Ara menyukai namja lain. Aku hanya diam selama tiga tahun. Memendam rasa cintaku sendirian yang sebenarnya ingin aku ungkapkan padanya. Di sisi lain aku takut persahabatan kami yang sekian lama terjalin akan hancur karena cinta.”

Kyungsoo mulai terlihat excited lagi mendengarkan cerita Suho yang sepertinya semakin seru. “Kau belum menyatakan cinta padanya?”

Suho menggeleng pelan, “Saat kelulusan SMA, tak pernah aku menyangkanya Ara menyatakan kalau ia menyukaiku. Sebelum saat itu, seseorang dari SM Ent. menawariku untuk menjadi trainee, dengan persyaratan yang kau sendiri pasti sudah tahu. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Tapi, kontrak menjadi trainee adalah impianku.”

Mata teduh Suho mulai berkaca-kaca. Mengenang sesuatu yang pahit memang menyakitkan. Dan sakit itu sulit untuk dihilangkan jejaknya, sekalipun kau berusaha menghapusnya sekeras mungkin. Tapi tetap akan membekas.

“Kau menolaknya?” kata Kyungsoo hati-hati, takut Suho akan tersinggung dengan ucapannya.

“Terpaksa,” mata teduh Kim Joonmyun menampakkan suatu penyesalan yang amat dalam. “Ah, sudah ya, aku lupa hari ini aku harus ke kantor SM,” lanjutnya berusaha tersenyum. Kyungsoo tahu ia sangat salah mengorek masa lalu Suho terlalu dalam.

“Hyung, mianhae.”

“Hey, tak usah menampakkan wajah bersalah seperti itu, aku tahu suatu saat cerita ini harus aku bagikan pada seseorang dari pada kupendam sendiri, dan akan membuatku semakin sakit,” senyum Suho melihat ekspresi wajah menyesal Kyungsoo. “Kyungsoo-ya, gomawo. Hatiku agak sedikit lega,” kali ini sebuah senyuman lebar. Suho bangkit dari tempatnya berbaring, lalu berjalan keluar kamarnya.

Kyungsoo yang masih terpaku sesaat di tempat duduknya, melihat Suho melenggang keluar dengan senandung kecil yang keluar dari bibirnya. Lantas melihat sekitarnya, satu kata, berantakan.

“Ya! Hyung, kau bilang akan membereskan ranjangmu sendiri, kenapa malah membuatnya lebih berantakan!” teriak Kyungsoo sebal melihat bedcover yang berserakan di lantai, dan beberapa bantal yang tak teratur letaknya.

***

Ara berdiri di tengah-tengah panggung besar nan megah itu. Panggung besar Concert Hall Sejong Center for the Performing Arts, sebuah gedung pementasan kesenian kota Seoul. Sejong Center for the Performing Arts adalah tempat dimana pementasan seni diperkenalkan pertama kali kepada masyarakat Seoul. Bangunan-bangunan utama dalam komplek Sejong Center antara lain aula utama, aula kecil, gedung konferensi, galeri seni dan pusat konvensi. Gedung ini digunakan untuk pementasan orchestra-orchestra besar antara lain Seoul Philharmonic Orchestra, Seoul Metropolitan Traditional Music Orchestra, Municipal Theater Company, Seoul Metropolitan Chorus, Seoul Metropolitan Dance Theater, Seoul Metropolitan Opera Company, Seoul Youth Philharmonic Orchestra, dan Seoul Metropolitan Junior Chorus.

Gedung orchestra itu begitu megah dengan kapasitas 2.600 penonton di Concert Hall, tempat dimana Ara berdiri sekarang. Ara melihat gedung itu dari ujung ke ujung, tak pernah menyangka ia bisa melakukan sebuah pertunjukan di sini. Ia memang sering ikut dalam pertunjukan orchestra di New York, tapi rasanya berbeda jika dilakukan di kota kelahirannya sendiri. Rasa gugup itu malah lebih besar.

Tak bisa ia bayangkan bagaimana showcase-nya nanti. Ia bermain piano di tengah panggung, diiringi dengan pemain orchestra lengkap. Ditonton oleh ribuan orang Seoul, mungkin juga ada yang dari luar Seoul. Setidaknya ia harus mempersiapkan ini dari sekarang agar semua berjalan dengan sempurna.

Ara berjalan menuju backstage setelah puas melihat-lihat kondisi panggung. Seorang wanita berkacamata menghampirinya.

“Yoo Ara-sshi,” panggil wanita itu.

“Ah, Eunyoung-sshi, annyeonghaseyo,” Ara membungkukkan badannya tanda hormat.

“Annyeonghaseyo. Kau sudah selesai melihat-lihat, Ara-sshi?” tanya wanita berkacamata yang bernama Eunyoung, ia adalah showcase director.

Ara mengangguk pelan. Eunyoung lalu menyerahkan sebuah map, di dalamnya terdapat beberapa konsep showcase. Hanya butuh persetujuan dari Ara, semua orang yang bersangkutan dalam showcase sudah menyetujuinya. Wanita muda itu menjelaskan sedikit beberapa konsep yang ia tujukkan. Ara hanya mengangguk paham.

“Ah, Ara-sshi aku tadi melihat seorang pemuda tampan di luar hall, sepertinya mencarimu,” senyum Eunyoung sambil membenarkan letak kacamatanya yang sedikit turun.

“Ne, gamsahamnida, Eunyoung-sshi,” dibalas dengan sebuah senyuman oleh Ara.

Ara berjalan keluar gedung. Penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Eunyoung baru saja. Pemuda tampan? Siapa? Ia merasa tak punya urusan dengan pemuda tampan mana pun.

Ia menemukan sesosok tubuh yang membelakanginya, “jeogiyo..”

Tubuh itu berbalik, menampakkan sebuah senyuman manis yang terukir dari bibirnya, menambah manis wajah yang sudah seperti malaikat itu. Ara terkejut siapa yang ada di depannya sekarang. Jantungnya berdebar tak menentu, entah perasaan apa lagi yang ia rasakan sekarang.

“Ya! Kim Joonmyun apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana bisa kau?”

Suho terkekeh pelan, “Tidak boleh ya aku melihatmu latihan?”

“Kau tahu aku akan latihan? Kau pasti stalker,” kata Ara sarkastik.

“Ahaha, tentu saja tidak Ara-ya, aku tadi ke rumahmu, ibumu mengatakan kau sedang berada di Concert Hall Sejong Center,” sebuah senyuman yang masih lekat di wajah tampan Suho.

Ara mendengus kesal, bisa-bisanya ibunya membocorkan schedule-nya hari ini pada Suho. “Artis sepertimu kenapa bisa berkeliaran seperti ini, tidak ada jadwal lain apa selain menguntit jadwal orang lain?”

“Kau mengkhawatirkanku?” goda Suho, Ara cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain, atau ia akan masuk ke dalam perangkap senyuman sok malaikat Suho. “Hanya ada jadwal pemotretan saja hari ini, setelahnya aku bisa pergi sesuka hatiku termasuk mengunjungimu.”

“Cih, artis kurang kerjaan,” cibir Ara, masih tidak mau melihat ke arah Suho.

“Ara-ya ikut aku,”Suho lalu meraih lengan Ara dan langsung menyeretnya.

“Ya! Kim Joonmyun apa yang kau lakukan, kau mau membawaku kemana? Lepaskan!”

“Sudah ya, nanti kau akan tahu,” seringai Suho, ia mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Ara yang sedang berontak.

“Hei, lepaskan, kau tidak takut apa sasaeng fans-mu melihat kita dan mereka akan membuat skandal,” Ara masih berusaha melepaskan diri. Tapi, Suho semakin mempercepat jalannya menuju mobil yang tak jauh dari Concert Hall.

“Aku tak peduli.”

Di suatu tempat tersembunyi, seseorang sedang mengabadikan gambar kebersamaan mereka. Beberapa kilatan kamera yang samar oleh semak berhasil menangkap momen Suho dan Ara. Orang itu tersenyum puas, ini akan menjadi skandal seorang leader EXO-K, Kim Suho.

“Tunggu skandal ini sampai tercium media, internet pun akan cepat membantu penyebarannya,” gumamnya licik. Sasaeng fans, seperti yang ditakutkan Ara, ya, tinggal menunggu skandal akan menjadi besar di internet.

***

TO BE CONTINUE

***

Annyeonghaseyo~ akhirnya bisa melanjutkan fic ini juga. Maaf ya jika saya kehilangan feel di chapter ini. Hari ini saya nggak kemana-mana, jadwal keliling ke rumah sodara-sodara terpaksa batal karena saya sedang kena batuk dan flu.

Daripada saya bosan dan nggak ngapa-ngapain di rumah sendirian mending saya nulis ini, ya meskipun ada kendala bersin-bersin, batuk-batuk, dan ingusan #dor Tapi, akhirnya jadi juga hehehe

Masa lalu Suho dan Ara juga sudah terungkap ya hehe. Terpaksa harus to be continue di halaman kesepuluh, tiba-tiba saya pusing dan ngantuk karena efek obat #plak

Mian atas segala typo, kegejean storyline dan lain sebagainya.

Happy Ied Mubarok everyone yang merayakan tentunya, minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. I’m so sorry for my mistakes #bow jangan lupa ngasih angpao kirim ke alamat email saya atau DM saya di twitter #loh #plak

12 thoughts on “I Really Hate You [Chapter 2]

  1. hehehe bayangin kecilx Suho, lucu kali ye ^^ So sweet
    wah lagi2 ternyta pnyebabx karir, btw nungguin berita skandalx Suho Ara, kira2 gmn ea reaksi fans, SM, + Exox O.o??

    • Joonmyunnie kecilnya unyu2 sih, kalo liat foto predebutnya emang udah ganteng dari sononya😀
      Sebenernya aku ga bakat bikin skandal eon, tp lihat nanti deh apa jadinya skandal yang saya buat #plak

  2. Lanjut lanjut ‘o’)9 kok keren FF-nya .___.
    Sukasukasukaaaaa😀 :3
    Ayo suhoooo buat ara kembali padamuuu ( ‘-‘?)
    Lanjutannya ditunggu yaaaa :3

  3. Hi! im from Malaysian, so, i can understand a bit~ and ..i just passby and sae this ff! woah! >.< Please continue this story!
    Nomu joahae~ pleaseu!! kkk~ fighting, author-nim!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s