I Really Hate You [CHAPTER 3]

I Really Hate You

CHIELICIOUS © 2013

Main Cast:

  • Kim Joonmyun (Suho)
  • Yoo Ara

Rating: PG-Rated

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Lenght: Chaptered

Summary:

Kau yang membuatku terjebak. Kau yang membakar hatiku dengan api cintamu. Kau yang memenjarakanku dalam cinta yang tak berujung. Kau yang menjatuhkanku dalam lubang kerinduan dan kesakitan yang mendalam. Kau yang selalu menghipnotisku dengan senyuman malaikat itu. Kau yang tak pernah tahu betapa aku merasakan sakitnya cintamu. Aku membencimu karena aku mencintaimu.

 

***

 

CHAPTER 3

 

***

 

“Ara-ya ikut aku,” Suho lalu meraih lengan Ara dan langsung menyeretnya.

Ya! Kim Joonmyun apa yang kau lakukan, kau mau membawaku kemana? Lepaskan!”

“Sudah ya, nanti kau akan tahu,” seringai Suho, ia mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Ara yang sedang berontak.

“Hei, lepaskan, kau tidak takut apa sasaeng fansmu membuat skandal?” Ara masih berusaha melepaskan diri. Ia tahu bagaimana kehidupan artis di Korea dan penggemarnya yang terkadang ada saja yang bertindak ekstrem. Tapi, Suho semakin mempercepat jalannya menuju mobil yang tak jauh dari Concert Hall, menghiraukan perkataan Ara.

“Aku tak peduli.”

Ya! Kau selalu seenaknya saja. Aish!”

Mereka berdua terdiam di dalam mobil Suho setelah pemuda itu berhasil menyeret Ara masuk ke dalam mobilnya. Tercipta suasana yang begitu canggung di antara Suho dan Ara. Setelah Suho berhasil memaksa Ara untuk masuk, Suho langsung saja melajukan mobil hitam miliknya tanpa memberitahu kemana sebenarnya tempat tujuan mereka. Suho masih berkonsentrasi dengan jalan yang ada di depannya, sedangkan Ara masih merengut dan mungkin sedikit penasaran akan dibawa kemana ia.

“Kau mau membawaku kemana?” kata Ara dingin.

“Kalau aku bilang sekarang, nanti sudah tidak jadi kejutan lagi,” Suho tersenyum tipis, masih menatap lurus ke arah jalanan di depannya.

“Ini penculikan!”

“Mana ada orang yang diculik temannya sendiri yang sudah jelas-jelas mengenalnya,” bela Suho. “Kau lucu sekali, Ara-ya.

“Tapi kau sudah pernah menculikku sebelumnya. Dan ini yang kedua kalinya! Aku akan teriak jika kau tidak menurunkanku,” Yoo Ara bersikeras.

“Aku tidak akan menurunkanmu hingga sampai di tempat tujuan kita, arraseo?”

Ara berteriak sekali lagi, “aish! Kim Joonmyun, you kidnapped me, I will report to police if you don’t say where we’re going!”

Suho kembali hanya tersenyum, “dasar childish, tenang saja kita akan pergi ke suatu tempat yang pasti sangat berkesan. Dan kau dijamin aman jika bersamaku.”

Ara masih bersikeras ingin tahu, “Aish, kau ini menyebalkan! Aku akan menelpon ibu, dan bilang padanya kalau anaknya sedang diculik!” Suho lagi-lagi hanya tersenyum tipis. Ara mencoba menekan beberapa nomor di ponselnya, lalu meletakkan ponselnya sejajar dengan telinganya.

“Aku sudah minta ijin pada ibumu tadi,” kata Suho dengan seringai, dan sukses membuat Ara melongo.

“Apa? Kim Joonmyun! Kau benar-benar menyebalkan!” ujar Ara, diikuti dengan sebuah umpatan.

“Hey, kau ini tidak sopan ya, aku lebih tua darimu. Sampai kapan kau terus memanggilku dengan sebutan ‘Kim Joonmyun’, huh?” Ara merengut sebal. Tidak cukupkah Suho membuatnya sebal hari ini?

“Apa sih maumu? Lantas kau ingin aku memanggilmu dengan sebutan ahjusshi begitu? Dasar ahjusshi penculik! Cepat turunkan aku! SEKARANG!” Oke, mungkin teriakan yang sekarang berfrekuensi lebih tinggi dari yang tadi.

“Dengar ya nona Yoo yang cantik, kalaupun aku menurunkanmu disini, kau tidak akan tahu jalan pulang, kau mau diculik sungguhan oleh orang asing?” Suho dengan tetap berkonsentrasi pada jalanan di depannya.

Ara merengut sebal. Suho memang benar, bahkan ia masih sedikit kesusahan menghafalkan jalan-jalan dan tempat-tempat di Seoul yang sudah banyak berubah setelah tujuh tahun ia tinggal di New York. Lantas gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah jendela di sampingnya, sekedar melihat-lihat jalan yang mereka lewati.

Sesaat kemudian jantungnya berdesir hebat. Sebuah kalimat terlintas di pikirannya yang membuat perasaannya seperti di serang badai. Nona Yoo yang cantik. Cantik? Apa lagi maksud Suho mengatakan seperti itu, dan membuat jantungnya tiba-tiba berdebar abnormal seperti ini. Oke, mungkin ini agak sedikit berlebihan, tapi otaknya berusaha keras mencerna. Lalu Ara menoleh ke arah Suho yang sedang berkonsentrasi menyetir. Sebuah senyuman tipis -yang hampir tak terlihat- terukir di bibir pemuda itu sempat ia tangkap. Sekarang Yoo Ara benar-benar penasaran apa yang sebenarnya direncanakan oleh pemuda di sampingnya itu.

Keduanya masih terdiam, dan Ara nampakknya masih sibuk berkutat dengan hati dan pikirannya. Tak sampai satu jam perjalanan mereka ke tempat misterius yang masih dirahasiakan oleh Suho. Merasa bosan dengan Suho yang sok misterius, Ara hendak bertanya sekali lagi sebelum ia mengalihkan pandangannya pada jembatan yang mereka lewati. Dan ia urung untuk bertanya. Banpo Bridge. Terlihat seperti jembatan biasa saja ketika siang hari. Entahlah ia begitu tertarik dengan jembatan yang kata wisatawan adalah jembatan terindah itu.

“Penasaran, ya?” tanya Suho tiba-tiba. Ara hanya terdiam, menatap lurus jalan di depannya.

“Sebentar  lagi kita sampai, Ara-ya,” kata Suho lagi. Dan lagi-lagi senyuman itu yang ia perlihatkan. Senyuman tipis sok misterius.

Setelah melewati Banpo Bridge, Suho membelokkan mobilnya. Ia bilang sebentar, tapi masih melewati beberapa belokan lagi yang jelas membuat Ara semakin berpikir dan penasaran. Beberapa menit kemudian mobilnya berhenti di depan sebuah taman. Taman ini ramai pada sore hari seperti ini. Banyak pengunjung yang sekedar jalan-jalan atau duduk-duduk, dan anak-anak yang bermain, berlarian, dan bersepeda. Han River Park,  entahlah Ara merasa familiar dengan tempat ini.

Suho membuka pintu mobilnya sambil tersenyum, lalu menautkan tangannya menggandeng jemari Ara. Sedangkan si empunya masih terpaku di jok tempat duduknya. “Ayo turun tuan putri,” ujarnya.

“Lepaskan tanganmu,” kata Ara setelah sadar jemari Suho sedang menaut padanya menimbulkan sedikit percikan gelombang hangat. “Aku bisa jalan sendiri.”

Suho tertawa, lalu membiarkan Ara turun sendiri. Pemuda itu berjalan lebih dulu, beberapa meter di depannya. Ara berjalan dengan gontai memperhatikan Suho yang  sedang tersenyum lebar. Ara pun tak mengerti jalan pikiran Suho. Bagaimana bisa dia keluar dengan begitu santainya tanpa penyamaran seperti kacamata, masker penutup muka, atau topi. Dan mengajak seorang gadis, yang bisa saja tertangkap para pencari berita dan sasaeng fans yang pasti akan berkembang menjadi skandal. Suho itu artis terkenal sekarang. Ara hanya menghela napas panjang, mengikuti Suho dari belakang. Menjaga jarak tepatnya.

Suho menghentikan langkahnya merasa ia berjalan sendirian sedari tadi, dan menoleh ke belakang menemukan Ara yang berdiri terpaku. Pemuda itu masih tersenyum lebar, sedangkan si gadis sedang diliputi rasa canggung dan khawatir. Taman itu terlalu umum, terlalu beresiko untuk jalan berdampingan berdua. Ya, itu yang Ara pikirkan.

“Sampai kapan kau akan terus berdiri di situ?” Suho menghampiri Ara, lalu menarik tangannya.

“Ya! Lepaskan!” teriak gadis itu. “Kau mau bunuh diri, huh?”

“Apa sih,”

“Ya! Kim Joonmyun, you are an idol. Dan aku, seorang gadis yang sedang jalan denganmu. Aku tak mau terlibat skandal denganmu,” ujar Ara.

“Lalu?” Suho malah tersenyum, “hei, kau mengkhawatirkanku, ya?”

“Aku mengkhawatirkan diriku sendiri, keselamatanku sendiri. Kau pikir apa yang akan dilakukan oleh fans fanatikmu jika ada gadis yang sedang dekat dengan idolanya? Maaf, tapi aku masih mau hidup dengan tenang,” ujar Ara, lantas gadis itu berjalan menjauhi Suho.

Suho tersenyum semakin lebar. Ia tahu Ara sedang mencemaskannya, hanya saja ia tak mau menunjukkannya pada Suho. “Ara-ya! Hei, Yoo Ara, tunggu aku!”

***

Sore semakin merayap, dan sepertinya semakin banyak saja orang-orang yang berada di sana. Tempat ini memang tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu menunggu matahari terbenam hingga malam hari dan lampu-lampu warna-warni Banpo Bridge dinyalakan. Ara semakin tak nyaman di tempat terbuka seperti ini jika dengan Suho. Sedari tadi mereka berjalan beriringan terkadang Suho menjahili dan menggodanya, menggandeng tangannya, merangkul pundaknya. Meskipun Ara sering marah-marah ketika Suho melakukannya, tapi pemuda itu masih dengan santainya tanpa khawatir dia artis yang sedang berada di tempat yang berbahaya untuk karirnya seperti ini. Suho juga banyak bercerita tentang dia selama tak ada Ara di Seoul, dan beberapa cerita masa lalu mereka berdua yang sedikit membuat gadis itu bosan.

Ara semakin yakin ini adalah modus berkencan yang sudah diam-diam dirancang oleh pemuda itu. Suho tak pernah tahu, jika mereka begini terus Ara akan merasa semakin sakit. Seakan pemuda itu memberinya harapan lagi. Ara tak mau terjebak pada harapan palsu Suho untuk yang kedua kalinya.

“Kau lelah, Ara-ya?” tanya Suho, melihat Ara yang sedang berada di belakangnya.

“Aku ingin pulang,” jawab Ara singkat. Lalu gadis itu berjalan berlawanan arah dengan Suho.

“Kau mau kemana?” cegah Suho dengan menarik tangan Ara.

“Sudah kubilang, kan, aku ingin pulang,” jawab Ara. Menepis tangan Suho yang bertengger di lengan kanannya.

“Aku akan mengantarmu pulang. Aku janji. Tapi setelah aku tunjukkan satu hal lagi,” kali ini tatapan memohon yang menghipnotis itu lagi.

Ara membuang muka, lalu berjalan menjauhi Suho. Suho tersenyum lebar, dan diam-diam Ara tersenyum tipis melihat Suho yang entah kenapa terlihat begitu bahagia. “Jinja, Ara-ya? Oke, ini yang terakhir untuk hari ini, dan yang pasti sangat berkesan,” Suho terus saja mengumbar senyumnya.

***

Kau masih ingat kita sering menghabiskan waktu di sini ketika masih SMA?” Suho menatap Ara.

Ara tak membalas pandangannya. Gadis itu masih saja berusaha mengalihkan pandangannya agar tidak berkontak mata dengan Suho. Entah apa alasannya, Ara begitu menghindarinya. Tapi pemuda itu tetap tersenyum sambil mengenang masa lalunya bersama gadis yang sekarang sedang duduk di sampingnya. Angin malam musim semi menjadi teman mereka mengobrol di tempat kenangan di masa lalu.

Di bawah Banpo Bridge.

Suho masih berusaha mencairkan suasana yang begitu awkward di antara mereka. Masih menceritakan cerita masa lalu yang mau tak mau mengiris hati si gadis. Kebersamaan masa lalu yang begitu menyakitkan. Kenangan yang terlalu indah sehingga menjadi luka dalam. Masih berusaha agar Ara tersenyum barang sedetik.

“Itu sudah lama tapi menurutku menyenangkan, iya kan, Ara-ya?”

“Kenapa kau harus mengingat masa lalu? Bukankah masa lalu akan membuat kita terjatuh di lubang yang sama?” Ara masih menatap lurus ke arah air mancur warna-warni di depannya.

“Tidak juga.” Suho memandang Ara, “kadang kau perlu mengaca pada masa lalu. Mencari apa yang salah dengan kita di masa lalu, mengintrospeksi diri. Itu yang akan membuat kita sadar akan kesalahan di masa lalu, dengan itu di masa yang akan datang kita tak akan terjatuh di lubang yang sama.”

Ara tersenyum sarkastik –yang terkesan mengejek secara tidak langsung. “Semudah itu?”

“Tentu saja tidak,” jawab Suho.

“Lalu?”

“Kesempatan.”

Ara menoleh ke arah Suho, berusaha mendapatkan penjelasan lebih tentang jawabannya baru saja. “Apa maksudmu?”

“Jika ada kesempatan kedua untuk memperbaiki kesempatan masa lalu..” Suho menunduk, menggantung kata selanjutnya. Angin musim semi mulai berhembus lagi tapi dua orang ini masih bertahan pada posisi yang sama, menghiraukan angin malam di sekitarnya.

Ara masih mencari jawabannya.

“Ara-ya, jika kau memberikan kesempatan kedua itu aku janji akan memperbaiki masa lalu kita.”

Binggo.

Mereka berdua terdiam. Entah apa lagi yang harus ia katakan pada Suho. Semua seperti tercekat di kerongkongan. Ketika kau berusaha untuk melupakan masa lalumu tapi dia datang dan meminta kesempatan untuk kembali, apa yang harus kau putuskan saat iu juga? Membiarkannya mendapatkan kesempatan itu untuk yang kedua kalinya dan nanti dengan kemungkinan pahit untuk yang kedua kalinya pula. Atau membiarkannya melewatkan kesempatan itu demi ego yang terlalu keras untuk diruntuhkan?

Ara mulai merasakan dadanya sesak.

“Ah, kurasa sudah larut malam. Kau tadi berjanji mengantarku pulang, kan?” gadis itu bangkit dari tempat duduknya membiarkan pemuda itu tak mendapatkan jawaban atas permintaannya.

Suho menghela napas panjang. Belum saatnya. Mungkin.

***

Suho membuka pintu dorm, dan seketika itu juga lima pasang mata di ruang tengah dorm memperhatikannya lekat-lekat. Kelima adiknya sedang menatapnya seolah ingin tahu. Tatapan penasaran yang cenderung mengintimidasi itu membuat Suho sedikit bergidik.

“Kenapa kalian memandangiku begitu, huh?” Suho meletakkan jaketnya di single sofa yang berada di samping kelima adiknya duduk.

Hyung, kau mematikan ponselmu seharian ini, ya?” tanya Baekhyun.

“Ponselku mati. Low battery,” jawab Suho singkat.

Baekhyun mendengus, “pantas tak ada kabar. Dihubungi juga tidak bisa.”

Hyung dari mana saja? Seharian langsung menghilang setelah jadwal pemotretan selesai. Kau membuat kami cemas,” kali ini Kai yang pertama angkat bicara.

“Ada sedikit urusan di luar. Aku juga sudah bilang pada manager hyung.”

“Urusan? Maksudmu kencan?” lanjut Chanyeol.

“Ya! Apa maksudmu?” Suho terbelalak. Entah kenapa tiba-tiba saja kelima membernya berbicara seperti itu. Suho menatap Kyungsoo yang menampakkan wajah pasrahnya, seolah berkata hey-Do-Kyungsoo-apa-yang-kau-beritahukan-pada-mereka. Sedangkan Kyungsoo hanya membalas tatapan Suho dengan aku-tak-bicara-apa-apa-pada-mereka-tentang-rahasiamu-hyung.

Hyung, kau jahat! Jadian saja tidak memberitahu kami. Setidaknya kau mentraktir kami bulgogi atau ramyun begitu,” kali ini Chanyeol, sepertinya duo Happy Virus –Chanyeol dan Baekhyun- ditambah Kai sedang bersekongkol mengerjainya. Sedangkan, Kyungsoo hanya diam menatapnya pasrah, dan si maknae Sehun dengan cueknya terus memainkan tablet PC yang ada di tangannya.

“Kalian ini bicara apa sih?” Suho masih membela diri, berusaha menampakkan sikap seperti tidak terjadi apa-apa.

Tiba-tiba Sehun memberikan sebuah tablet PC miliknya. Menampakkan sebuah berita dengan foto yang sangat familiar. EXO-K’s Leader Dating Rumour with A Girl in Sejong Center and Han River. Ya, itu dirinya dan Ara tadi sore.

“Kau masih mau menyembunyikannya, hyung?” kata Chanyeol. “Kau tahu tidak betapa gemparnya fans di luar sana saat ada berita ini. Kami yang dekat denganmu pun tak tahu apa-apa. Kami harus mengklarifikasi bagaimana jika kau tak memberitahukannya pada kami.”

“Belum lagi manager hyung, dan pihak managemen. Hyung, ada apa denganmu?” tambah  Baekhyun.

Di saat seperti ini ia merasa si Happy Virus sedang berubah menjadi Annoying Virus. “Ini skandal murahan yang mereka buat, dia temanku, Ara adalah temanku yang baru saja pulang dari New York.”

“Teman yang kau cintai tepatnya.” Oke, kau tepat sasaran Chanyeol-sshi.

Suho membelalakkan matanya, entah apa yang sedang berusaha ia sembunyikan lagi dari para dongsaengnya terkecuali Kyungsoo yang memang sudah tahu lebih dulu. Sedangkan para dongsaeng yang seperti sudah haus akan kebenaran terus mendesak leader hyungnya ntuk segera mengaku.

“Bagaimana kau bisa? Oke, dia temanku, dan aku memang menyukainya. Clear!” Suho merengut sebal. Sedangkan kelima pemuda di depannya terkikik pelan karena berhasil mengorek rahasia kakaknya. “Skandal ini sepenuhnya tanggung jawabku, kalian tak perlu khawatir. Aku akan mengklarifikasinya sendiri pada manager hyung, pihak manajemen, dan publik,” lanjutnya.

Setelah itu sang leader berlalu meninggalkan kelima member yang lain yang nampaknya masih belum puas dengan pernyataan yang leader mereka berikan. Mereka saling berpandangan. Bagaimana bisa Suho bersikap dengan santainya seperti itu.

Entahlah.

“Sepertinya kita harus percaya padanya,” ujar Kyungsoo.

Empat pasang mata lainnya sekarang berbalik menatap pemuda yang duduk di pinggir sendiri. Do Kyungsoo.

“Ya! Do Kyungsoo kau pasti mengetahui sesuatu, kan?” seringai Baekhyun.

Kyungsoo mulai salah tingkah berusaha menghindari tatapan-tatapan yang haus kebenaran layaknya nitizen di luar sana. “Apa maksud kalian? Aku tak tahu apa-apa.”

“Hyung, kami tahu Suho hyung sering curhat kepadamu. Kau pasti mengetahui sesuatu,” ujar Kai ikut mendesak.

“Ya! Jangan memandangku seperti itu.”

“Kyungsoo-ya..”

“Kyungsoo hyung..”

Empat lawan satu. Kyungsoo tak bisa berkelit lagi, “baiklah aku kalah.”

***

EXO-K’s Leader Suho Dating Rumour.

After fans spotted on a date at Sejong Center and Han River. SM Entertainment confirmed Suho just spends his spare time with an old friend. They are just friends, not dating. They rarely met because his best friend in USA

Ara mematikan televisi dan mengumpat pelan. Ini sudah diduga akan terjadi setelah mereka bersama kemarin. Berita pagi ini cukup membuatnya harus berpikir lebih keras lagi. Untungnya, media tak sampai tahu sebenarnya gadis yang bersama Suho adalah dirinya. Kalaupun publik tahu Ara tak bisa membayangkan lagi bagaimana dirinya di kemudian hari. Hidupnya tak akan tenang lagi.

Gadis itu berpikir keras. Pernyataan dari pihak manajemen Suho setidaknya membuatnya dan sebagian fans lega karena rumor hanyalah sebuah rumor yang tak terbukti kebenarannya. Tapi dengan begitu tak sedikit juga fans yang akan semakin berusaha menggali kehidupan pribadi Suho. Dan, suatu saat dia pasti akan terseret lagi.

Rumit.

Ya, memang. Ia tahu kehidupan sebagai idola sangat keras. Dan sepertinya ia mulai memikirkan Suho lagi. Bagaimana dengan pemuda itu sekarang. Ia pasti tertekan skandal ini. Ara menghela napas dalam. Padahal semalam ia sudah memikirkan untuk memberikan pemuda itu kesempatan kedua untuk memperbaiki masa lalu mereka. Tapi, dengan kejadian seperti ini gadis itu tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk permintaan Suho.

Sepertinya memang ia harus benar-benar menjauhi Suho. Melupakan masa lalunya, melupakan cintanya. Dan seperti sudah terikat, hatinya tak bisa benar-benar melakukannya.

Yoo Ara kembali meragu.

***

To be continue

 

***

Annyeong😀

Do you miss me? Do you miss this story?

Saya sebenarnya ga mau jadi tukang php tapi apa daya tangan tak sampai. Maaf ya readerdeul updatenya lama, dengan semakin bertambahnya angka semester kuliah maka otomatis tugas kuliah semakin banyak pula. I’m so sorry for bringing a borring story like this. I wanna continue this story, but I have no mood to continue. Saya benar-benar kehilangan feel-nya.😥

Terima kasih yang sudah mau menunggu next chapter IRHY dengan sabar.  Also, thanks to read this chapter. Bagaimana dengan penulisan saya? pasti semakin aneh dan kaku deh ya >.<

Gimme your comment, please🙂

10 thoughts on “I Really Hate You [CHAPTER 3]

  1. ahhh akhirnya update juga. walau sedikit telat bacanya.-.
    eonni aku selalu nunggu ffmu lho. susah nemu ff suho ara diluar(?)

    ceritanya makin rumit makin penasaran._.
    update soon, eon!!

  2. as usual! ini ff selalu kereeeen😀
    lanjutkan yaaaa ‘-‘b
    setelah agak lama gak ada internet dirumah akhirnya bisa buka juga dan dapet ini ff dengan chapter yg baru, niceeeee ._.b

  3. thor, lanjutin kenapa penasaran nih heu aku udah nunggu dari lama/? kalau bisa langsung part end nya biar greget huahaha-_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s