LAVENDER ROSE

LAVENDER ROSE

CHIELICIOUS © 2013

.

Cast: KIM JOONMYUN, YOO ARA

Genre: Romance, Friendship

Leght: ONESHOOT

Rated: PG-15

No bashing. No Plagiarism. Don’t be silent reader.

****

Spring morning. Pemuda itu keluar dari kelas sastra dengan senyuman lebar. Hari ini kelas sastra setengah jam lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa sedikit bosan dengan mata kuliah sastra, meskipun ia sendiri menyukai sastra. Jika kau melakukan sesuatu berulang-ulang setiap hari, pasti akan menemukan suatu titik kejenuhan. Pagi ini Joonmyun tampak bersemangat. Karena kelas selesai lebih cepat, tentu saja. Dan pagi ini adalah pagi di musim semi yang jauh lebih hangat dari hari-hari sebelumnya. Setelah kelas sastra selesai, rencananya hari ini ia akan pergi ke perpustakaan. Mencari beberapa literatur untuk tugas kuliahnya.

Joonmyun menyusuri koridor Seoul University, menuju gedung perpustakaan yang berada di seberang gedung kelasnya. Setelah keluar dari pintu gedung utama yang berisi kelas-kelas untuk perkuliahan, ia melewati sebuah taman, pembatas antara gedung utama dan perpustakaan. Musim semi, memberikan warna pada taman selalu ramai oleh mahasiswa. Ya, setidaknya ampus mereka punya sesuatu yang bisa dibuat untuk menyejukkan mata dan otak mahasiswanya.

Joonmyun kembali tersenyum, entahlah, hari ini sepertinya ia sedang good mood. Ia mulai menaiki beberapa anak tangga menuju ke gedung perpustakaan yang ada di depannya. Setelah memasuki pintu utama perpustakaan, ia langsung menuju deretan rak buku paling belakang, tempat dimana buku-buku lama tersimpan. Memang jarang pengunjung perpustakaan yang akan pergi ke area ini, tapi Joonmyun justru suka. Karena di sana ia akan lebih banyak mendapatkan info untuk tugasnya. Buku lama biasanya jauh lebih lengkap isinya dari pada kebanyakan buku baru, menurut Joonmyun.

Bau buku-buku tua itu menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya. Joonmyun mulai menelusuri rak-rak yang ada di kanan kirinya. Mencari buku yang ia mau, lalu menyeleksinya. Setelah beberapa menit, ia sudah dapat beberapa buku di tangannya. Pemuda tampan itu menuju ke meja baca paling ujung di dekat jendela besar yang langsung menghadap ke taman pembatas antara perpustakaan dan gedung utama. Ini adalah tempat favoritnya. Dari sana ia akan bisa melihat seluruh taman. Apalagi di musim semi seperti ini, benar-benar menjadi moment favoritnya.

Joonmyun lalu membuka buku pertama dari beberapa buku yang ia bawa. Selanjutnya ia seperti terlarut, sesekali ia membuat catatan kecil pada buku tulisnya. Joonmyun masih serius dengan buku bacaannya sepertinya tak akan peduli dengan sekitarnya. Pemuda itu sangat suka membaca, jadi sebaiknya tidak mengganggunya saat ia sedang membaca, atau ia tidak akan mempedulikanmu.

Tiga puluh menit, nampaknya Joonmyun sudah mulai menguap lebar. Tak biasanya, tapi kali ini ia merasa mengantuk dan bosan. Dan inilah keuntungannya memilih duduk di dekat jendela yang menghadap langsung ke taman. Ia bisa sedikit refreshing dengan melihat ke luar. Dan kali ini ia benar-benar menemukan sesuatu yang membuat otaknya menjadi lebih dingin.

Bukan. Bukan bunga-bunga warna-warni itu yang menarik perhatiannya. Bukan juga pohon maple yang sedang menghijau. Tapi, seseorang yang duduk di bangku panjang di bawahnya. Seorang gadis berambut panjang yang sedang membaca sebuah buku. Joonmyun merasa jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Seperti ada sengatan listrik di sekujur tubuhnya. Perasaan ini sangat asing.

Pemuda itu terus memandang ke luar jendela, mengabaikan beberapa buku di depannya. Seperti tak mau melewatkan sedetikpun gerak-gerik gadis itu. Ia merasa tertarik entah kenapa. Seorang gadis yang bahkan tak pernah ia temui sebelumnya. Rasa mengantuknya hilang seketika, wajar saja.

Joonmyun mengetuk-ketukkan bolpoin mungil yang berada di tangannya ke meja. Tentu saja sambil terus memandang ke luar jendela. Kadang, ia tersenyum sendiri melihat gadis itu masih dalam posisi yang sama sambil membolak-balik halaman demi halaman yang dia baca. Gadis itu sederhana tapi cantik. Tak berlebihan, hanya rambut panjang yang digerai. Jantungnya semakin berdegup kencang ketika gadis itu menyisihnya sebagian helai rambut panjangnya ke belakang telinga. Cantik, semakin cantik.

Semakin ia memperhatikan gadis itu, semakin terasa seperti sengatan listrik di dadanya. Tanpa sadar bolpoin di tangannya terjatuh ke bawah meja. Joonmyun membungkukkan badannya, berusaha menjangkau bolpoin itu. Setelah berhasih mengabil bolpoinnya, ia kembali pada posisi semula. Tapi, ada sesuatu yang hilang dari pandangannya. Gadis itu menghilang. Gadis berambut panjang itu sudah tidak berada di sana.

Wajahnya sekarang berubah sedikit kecewa. Joonmyun mulai penasaran siapa gadis itu. Ia mengakui dalam hatinya bahwa ia sangat tertarik pada gadis itu. Sepertinya ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.

***

Siang itu sedang cerah. Musim semi memang memberikan suasana yang berbeda. Begitu juga dengan Joonmyun yang nampaknya sedang dalam good mood. Mungkin sekarang ada satu hal yang membuatnya lebih bersemangat untuk pergi ke kampus.

Joonmyun berjalan dengan senyuman lebar melewati taman penghubung gedung utama dan perpustakaan. Siang ini ia ingin datang lebih cepat di kelas sastra. Ya, mungkin karena faktor good mood. Lucu memang, ketika seseorang sedang jatuh cinta maka sepanjang hari ia akan merasa good mood dan bersemangat. Ia membetulkan posisi ranselnya yang lumayan berat karena beberapa buku literatur yang ia pinjam dari perpustakaan kemarin. Lantas melanjutkan langkahnya menuju gedung utama.

Tiba-tiba, ia berhenti. Mematung. Jantungnya berdegup kencang lagi. Ekor matanya mengikuti seseorang yang tampak di kaca jendela besar perpustakaan yang menghadap ke taman. Gadis yang sama seperti kemarin. Gadis itu sedang membaca buku di meja favoritnya, meja yang menghadap ke taman. Sebelah rambutnya diselipkan ke belakang telinga. Joonmyun merasa semakin terpesona. Ia mulai tak bisa mengontrol detak jantungnya.

Cantik, seperti dewi. Itu yang sekarang mulai meracuni otaknya.

Hyung!” panggil seseorang dibelakangnya.

Joonmyun tak bergeming. Masih berdiri di tempat yang sama, dan dengan pandangan mata tertuju pada objek yang sama.

Hyung!” Joonmyun merasa ada sebuah tangan besar yang menepuk pundaknya. Baru ia tersadar kalau sedari tadi ada yang memanggilnya.

“Oh, Chanyeol-ah, maaf aku tak mendengarmu,” katanya sambil menampakkan cengiran lebarnya.

Si lawan bicara ikut tersenyum, “hyung kau bisa membantu projectku untuk tugas English literature? Ayolah hyung aku perlu banyak saran darimu.”

Ya Park Chanyeol! Kau mengenalnya?” ujar Joonmyun tanpa mengalihkan pandangannya.

Chanyeol terkekeh menyadari sedari tadi pandangan hyungnya itu terarah pada jendela besar perpustakaan, “kau tertarik padanya?”

Joonmyun hanya diam. Tapi Chanyeol tahu, pemuda itu diam-diam tersenyum tanpa melepaskan pandangannya pada gadis di balik jendela itu.

Yoo Ara. Teman sekelasku, baru saja kembali dari exchange di Osaka,” jelas Chanyeol singkat.

Joonmyun baru sadar sepuluh menit lagi kelas akan dimulai. “Chanyeolah, thank you,” ujarnya.

Ya! Hyung, tugasku!” teriak Chanyeol.

“Baiklah aku akan membantumu, dengan senang hati,” senyum Joonmyun. Park Chanyeol adalah junior, teman sharing dan seperti saudara. Joonmyun sering memberikan saran pada Chanyeol ketika ia mengalami kesulitan dalam tugasnya. Senior yang baik, bukan?

Gomawo hyung,” kata Chanyeol. Dan Joonmyun langsung meninggalkannya begitu saja. Ya, orang yang jatuh cinta memang paling susah diajak bicara.

***

Pergi ke perpustakaan adalah kebiasaannya. Jika tidak ada kelas, maka Joonmyun akan menghabiskan waktunya di sana. Sangat mudah menemukannya di kampus ini. Jika tidak menemukannya dimanapun, maka perpustakaan adalah tempatnya.

Joonmyun menyusuri lorong-orong diantara rak buku yang berjajar rapi di dalam perpustakaan. Mengambil beberapa buku yang akan ia gunakan untuk mengerjakan tugasnya. Ia berjalan menuju meja di dekat jendela, seperti biasa meja itu selalu jadi favoritnya.

Buk!

Jwesonghaeyo.

Tiba-tiba jantungnya mulai berdegup lebih keras dari biasanya. Ia sadar siapa yang barusan menabraknya, dan sekarang ada di hadapannya. Jantungnya semakin tak bisa dikendalikan.

Jwesonghaeyo, seonbae-nim,” ujarnya lagi. Beberapa buku miliknya dan milik si penabrak berserakan di lantai.

Joonmyun segera membungkukkan badannya, lantas membantu mengambil buku yang berserakan di lantai. Jantungnya tak mau bekerja sama, semakin cepat berdetak dan Joonmyun yakin jika kelamaan ia akan jantungan. Posisinya sekarang dekat  dengan Yoo Ara, kali ini sangat dekat tak ada satu meter. Diam-diam ia berdoa agar ini segera berakhir, agar ia bisa mengembalikan irama jantungnya kembali normal.

“Terima kasih,” ujar gadis itu. Suaranya lembut, dan sepertinya Joonmyun mulai terhipnotis.

“Iya, tak masalah, aku yang seharusnya minta maaf karena menjatuhkan bukumu,” balas Joonmyun.

Aniyo, seonbae-nim,” gadis itu tersenyum manis. Sangat manis.

Yoo Ara melangkahkan kakinya menjauh dari Joonmyun, ia tampak keberatan membawa setumpuk buku tebal yang ada di tangannya sekarang. Entah kenapa Joonmyun mulai tergerak ingin membantunya. Ya, mungkin itung-itung permintaan maaf karena kejadian barusan. Joonmyun menyamakan langkahnya dengan Ara.

“Sini, biar aku yang bawakan,” senyum Joonmyun. Modus.

Ara kaget, cenderung ke arah rasa sungkan dan malu-malu lebih tepatnya, “ah gwaenchana seonbae-nim, aku..”

“Kau mau membaca di meja sebelah mana?” sekarang, buku-buku tebal itu sudah berada di tangan Joonmyun. Dengan terpaksa Ara harus menerimanya, meskipun ada sedikit rasa tidak enak.

“Eh? Ano.. di sebelah sana saja, di dekat jendela,” jawab gadis itu terbata. “Seonbae-nim, kau.. tak apa jika harus membawakanku buku seperti ini?”

Joonmyun lagi-lagi hanya tersenyum santai, padahal di dadanya ada degupan tak karuan. “Tak apa, memang seharusnya seperti ini, kan? Pria harus membantu jika ada wanita yang sedang memerlukan bantuan.”

Modus sekali lagi.

Mereka sudah sampai di meja dekat jendela besar yang menghadap langsung ke taman belakang. Joonmyun meletakkkan buku-buku milik Ara di meja.

Gamsaeyo, seonbae-nim,” kata Ara sambil melakukan bow.

Joonmyun menganggukkan kepalanya, “ya, sama-sama.”

Pemuda itu lalu menarik salah satu kursi untuk ia duduki. Mereka duduk saling berhadapan sekarang di meja yang sama. Gadis itu mulai membaca buku-bukunya dengan serius, sedangkan Joonmyun sedari tadi terus mengawasinya diam-diam.

Yoo Ara, gadis ini memang lebih indah jika dipandang dari dekat. Batin Joonmyun.

“Oh, William Shakespeare? Kau suka membaca karya William Shakespeare?” ujar Joonmyun, tangannya mengangkat salah satu buku yang ada di hadapannya.

“Ya, aku suka membacanya. Aku suka sastra,” sebuah senyuman terkembang dari bibir gadis itu. Ara tertawa pelan, “tentu saja seonbae-nim juga pasti tahu mahasiswa jurusan sastra sudah pasti menyukai sastra.”

Joonmyun sedikit malu. Pertanyaannya sangat klasik hanya untuk basa-basi semata memang. “Ah, iya hehe,” pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebenarnya. “Jangan memanggilku terlalu formal ya, aku jadi merasa sangat tua. Kim Joonmyun, panggil saja Joonmyun,” kali ini Joonmyun mengulurkan tangannya pada Ara.

“Ah aniyo, memang seharusnya aku memanggilmu begitu. Joneun Yoo Ara ibnida,” Ara menerima jabatan tangan dari Joonmyun.

“Kau suka baca di sini, Ara-ya?”

“Iya, tempat ini jadi tempat favoritku sejak beberapa bulan yang lalu. Aku bisa melihat taman belakang dari sini. Menikmati musim semi, dan hamparan lavender rose di sana sangat menarik,” ujarnya menunjuk ke tengah taman, kemudian melanjutkan membaca buku dihadapannya.

“Aku lebih suka melihatmu yang lebih indah dari pada bunga,” gumam Joonmyun pelan.

“Joonmyun ­seonbae mengatakan sesuatu?”

Joonmyun salah tingkah. Bisa-bisanya kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya. “Aniyo, maksudku aku juga suka baca di meja ini,” cengir Joonmyun.

Entah yang barusan itu juga sepertinya bagian dari modus juga.

***

Joonmyun sudah berhasil mengenal Yoo Ara sekarang. Gadis itu yang membuatnya selalu bersemangat pergi ke kampus. Gadis itu yang selalu memenuhi otaknya, hingga membuatnya susah tidur karena banyak memikirkannya. Memang berlebihan, ya, bukankah orang yang sedang jatuh cinta memang seperti itu?

Joonmyun menjadi lebih sering berkunjung ke perpustakaan, sekarang dengan dua tujuan. Tujuan pertama, untuk mencari referensi buku. Dan yang kedua, untuk bisa bertemu dengan Ara. Oke, yang kedua itu modus.

Joonmyun senang bisa sering ngobrol dengan gadis itu. Seperti kata Chanyeol, dia gadis sederhana yang manis dan pintar. Tak pernah ia melihat gadis seperti Ara di kampusnya. Joonmyun merasa semakin tertarik dan menyukainya. Oh, bukan sekedar menyukai sepertinya, tapi sudah benar-benar jatuh cinta pada Ara.

“Oh sunbae, annyeonghaseyo,” sapa gadis itu dengan senyuman. Kali ini gadis itu mengikat setengah rambut panjangnya ke belakang, tak mengurangi daya tariknya sedikitpun.

Joonmyun mendongakkkan kepalanya, dan menemukan senyuman manis dari gadis di depannya. “Annyeonghaseyo, kau tak ada kelas hari ini?”

“Baru saja berakhir beberapa menit yang lalu,” gadis itu lalu meletakkan buku dan tasnya di meja. Lantas menarik kursi kosong di samping Joonmyun. “Sunbae kelihatan sedang sibuk.”

Joonmyun sedikit gugup ketika gadis itu sudah duduk di sampingnya. Jika biasanya Ara lebih sering duduk di kursi yang berhadapan dengannya, itu tak masalah setidaknya ia masih bisa menutupi kegugupannya ketika dekat dengan gadis ini. Tapi sekarang, entah Ara mendengar atau tidak detak jantungnya yang selalu terpacu cepat ketika bersama, yang jelas Joonmyun tak bisa lagi mengontrol detak jantungnya, letupan di perutnya, keringat dingin di tangannya, dan segala pikiran di otaknya. Joonmyun merasa seperti mati di tempat karena dekat dengan seorang gadis.

Joonmyun menoleh sebentar pada Ara yang sedang tersenyum ke arahnya, “oh, aniyo, hanya mengerjakan resume kelas tadi pagi.”

Kali ini pemuda itu memaksakan senyumnya, seolah tak terjadi apa-apa. Padahal dalam hatinya sudah tak karuan rasanya. Joonmyun sedikit mencuri pandang ke samping, Yoo Ara sedang membuka sebuah buku.

“Shakespeare lagi?”

Wae?”

Joonmyun meringis, “kau membacanya setiap hari, tidak bosan?”

Ani, sudah ku bilang aku menyukai semua karyanya. Buku, puisi, drama.” Gadis itu tertawa pelan, semakin membuatnya terlihat manis, “Shakespeare, legendaris English literature di UK, selalu membuat sebuah rangkaian kata sederhana menjadi bermakna romantis. Entahlah, aku sangat suka.”

Joonmyun hanya diam. Dan Tuhan membuat gadis sederhana sepertimu menjadi sesuatu yang paling cantik dari apapun.

“Seandainya, ada seseorang yang membuatkanku puisi seromantis karya Shakespeare,” tambah Ara, jemari mungilnya menyangga kepalanya. Dan mata indahnya menerawang ke arah taman belakang, menampakkan binar yang berbeda.

Joonmyun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menampakkan ekspresi wajah lucu. Ia tahu selera wanita tak akan jauh-jauh dari hal-hal romantis dan menyentuh hati. Kemudian,  ia melihat gadis itu kembali tertawa atas reaksinya.

Itu tadi semacam kode, harapan atau apa ya. Sepertinya, mulai sekarang Joonmyun harus mencari tahu bagaimana caranya membuat hati Ara meleleh.

***

Joomyun tersenyum melihat gadis di depannya sibuk dengan ponselnya. Memotret objek di depannya, serumpun bunga lavender rose yang sedang mekar. Pemuda itu mempercepat langkahnya, lantas duduk di sebelah gadis itu tanpa aba-aba. Membuat gadis berambut panjang itu sedikit terkejut.

Kali ini debaran jantungnya sudah bisa ia kontrol. Mencoba tenang, meskipun tak bisa dipungkiri ia masih gugup sama seperti ketika ia pertama kali bertemu Ara.

Seonbae, lihat hasil fotoku. Bagus, kan?” Yoo Ara menunjukkan ponselnya pada Joonmyun. Mereka terlihat jauh lebih akrab, dan dekat. Joonmyun mengangguk setuju.

Di Osaka, pasti sedang mekar cherry blossom. Mereka juga indah, tapi lavender rose juga sama indahnya. Warnanya lembut, I can feel something different when I see them,” celoteh gadis itu riang, dengan senyumannya yang selalu diumbar seolah tak akan habis.

“Ara-ya, jankanmanyo,” ujar Joonmyun. Pemuda itu beranjak dari tempat duduknya, menuju serumpun lavender rose yang tak jauh dari bangku yang mereka duduki.

Ara penasaran akan dilakukan oleh pemuda itu. Menunggu, tetap pada posisi yang sama dengan dahi dikerutkan. Ia melihat Joonmyun memetik sebatang bunga yang ada di sana. Pemuda itu kembali dengan sekuntum lavender rose yang sedang merekah di tangannya. Lantas, kembali duduk di samping Ara seperti tadi.

Dengan malu-malu, Joonmyun memberikan bunga itu kepada gadis di sampingnya itu. Tak hanya itu, ia merogoh bagian depan tas ranselnya. Menemukan secarik kertas yang terbungkus manis dalam amplop berwarna putih.

Ara memandang Joonmyun penasaran, “apa ini, seonbae?”

“Terima saja,” cengir Joonmyun. Ayolah, jantungnya mulai berontak lagi sekarang.

Bagai slow motion gadis itu menerima bunga dan kertas dari tangan Joonmyun. Ah, Joonmyun mulai tak bisa berkompromi lagi dengan hatinya. Debaran yang beratus kali lebih cepat, keringat dingin, sengatan listrik di perutnya, ah semuanya terasa sangat menyebalkan di saat ia ingin berusaha bersikap tenang.

Ara membuka amplop, dan membaca isinya. Joonmyun mulai cemas, takut-takut ia memandang gadis di sebelahnya. “Ara-ya, gwaenchana?”

Ara mengusap butiran kristal-kristal kecil yang meluruh dari ujung matanya. Lalu tersenyum manis, kali ini lebih manis dari sesuatu yang termanis di dunia ini. Tapi, Joonmyun sedikit panik karena Ara yang tiba-tiba menangis.

Seonbae, kau..”

Mianhae,” potong Joonmyun sebelum Ara melanjutkan perkataannya. Ara tertawa pelan.

“Kau sedang berusaha membuat sesuatu menjadi terlihat romantis, eo?”

“Aku memang tak sepandai dan seromantis Shakespeare dalam membuat sebuah puisi. Aku sudah memikirkannya seminggu penuh, tapi hasilnya hanya itu yang aku bisa. Bahkan ini lebih sulit dari pada membuat berpuluh lembar tugas paper. Maaf.”

Aniyo. Kau tahu, ini sangat bermakna. Lihat aku sampai terharu. Gomawoyo,” senyum mengembang di wajah cantiknya. “Kau tau, bukan dari sisi romantis atau tidak wanita menilai sesuatu. Tapi, adanya ketulusan yang membuat sesuatu itu jauh lebih bermakna,” lanjutnya.

Joonmyun lalu membalas senyum gadis itu. “Err-..jadi?”

Apanya?”

Jawabanmu.”

“Memangnya seonbae bertanya apa padaku?”

“Itu tadi yang di kertas,” ujar Joonmyun. Gadis di sampingnya ini nampaknya sedang mengerjainya.

“Oh, itu. Menurutmu?” Ara terkekeh.

Sekarang pemuda itu menunduk, sedikit takut tak terbalas. “Molla.”

“Bagaimana kalau aku mau menjawab ‘iya’ jika seonbae membacakan kertas itu secara langsung?”

Sekarang Joonmyun yakin wajahnya bahkan semerah buah tomat. Ah, ia merasa ini semakin konyol. “Kalau aku tidak mau?”

“Ya sudah aku tidak akan menjawabnya,” ujar Ara kembali memainkan ponselnya.

Joonmyun membulatkan matanya tak percaya. Gadis ini benar-benar sedang mengerjainya. “Ara-ya, jebal,” Joonmyun menatap Ara dengan tatapan memohon.

Shireo.

Jebal

“…..”

“…..”

Gurae,” Ara menggantung kata-katanya. “Hmmm…nado saranghae, seonbae,” jawab Ara malu-malu. Pipinya semakin memerah.

Kali ini Joonmyun tak bisa menutupi lagi rasa bahagianya. Joonmyun langsung mendekap erat tubuh mungil gadis di sampingnya itu. Entahlah, ia merasa sangat bahagia. Pemuda itu merasa semakin jatuh cinta pada Ara sekarang. Karena kesederhanaan, kepolosan, dan kecantikan paras dan hatinya. Lavender rose meskipun tak semewah dan seelegan Red rose, tapi warnanya menampakkan ketulusan cinta. Joonmyun sudah mempunyai bunganya sendiri sekarang.

Ya, seonbae! Aku tetap mau lihat jika kau membacakannya langsung untukku.”

***

With petals so soft

A color so gentle

A lavender rose

For me to confess these words

I’m enchanted

I fell in love at first sight

My fairytale dream, has it arrived?

Would you accept this

My declaration of love

Lavender roses to say

I love you

Perhaps this meaning eludes

Minds which are caught up

In life’s hurried pace

Overlooking this simple meaning

Lavender rose for you dear

I love you from first sight

Will you please accept this?

A lavender rose for you

***

Only one word for this fict: WEIRD.

I’m so sorry to making fanfic so weird like this. Saya merasa aneh aja sama karangan saya -_- Saya lagi kesel sama tugas organisasi dan tugas kuliah ditambah lagi UTS yang berhasil membuat kortisol ngumpul di otak.

Readers, thanks for reading. Maaf ya ficnya jelek banget, gagal banget, aneh banget. Mianhae. #bow

Gimme your comment please🙂

8 thoughts on “LAVENDER ROSE

  1. AAAAAAAAAAA as usual! selalu keren! aaaaaaaa😀
    sangat good laaah ini! lagi lagi versi baekhyun-yoonjo atau chanyeol-lime (b’_’)b

  2. chil eonnieeeeeeeeeeeee!!!! ih sweet banget fic ini ;;;;;;; yah setidaknya ada ff suho-ara disamping aku nunggu i really hate you.___. tapi tetep lanjutin irhy(?)nya eon.-. keep writing eon😀

  3. annyeonghaseyo
    KucingGendut imnida
    Ini komen pertamaku di wp ini sekaligus komen pertamaku di dunia maya.
    Menangis bahagialah kau mbak cil dikomen sm chingumu ini *ditabok mbak cil😀
    Komen singkat dari FF ini. Aku suka alurnya mbak. Ceritanya simpel tapi ngena. Deskripsi orang jatuh cinta banget…
    Aku tunggu FF selanjutnya ya
    Gomawo *deep bow

  4. author-nim~ ceritanya sweet amat xD
    ngakak sendiri pas liat suho modus kkk. ohiya aku liat ada beberapa typo, diperbaiki ya thor di ms. word nya hehe. keep writing thor! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s