Love or Dream

LOVE OR DREAM
CHIELICIOUS © 2013

Main Cast:
• Kim Joonmyun
Yoo Ara
Rating: PG-Rated
Genre: Romance
Length: 861 words. Short fict.

No bashing. No Plagiarism. Don’t be silent reader.

***

Musim gugur tahun ini, entah kenapa aku merasa sangat hangat. Matahari terasa mendekap tubuhku lebih lama. Aku tetap duduk di bangku taman yang sudah berkarat ini, ya, ini tempat favoritku. Tempat dimana aku bisa merentangkan seluas-luasnya imajinasiku. Pohon maple yang menguning memberi kesan indah musim gugur.
Selalu di tempat yang sama. Setiap sore sepulang kuliah, atau sepulang dari perpustakaan aku selalu berada di sini. Menghirup dalam-dalam aroma musim gugur yang sangat aku rindukan setiap tahunnya. Bukannya aku tak suka dengan musim-musim yang lain, bukan. Tapi aku sangat menyukai kehangatan khas musim gugur sebelum terselimuti oleh salju musim dingin yang beku.
Aku merogoh tas mungilku, menemukan sebuah buku sketsa dan pensil. Selanjutnya aku mulai mengetuk-ketukkan pencil mungil itu di dahiku. Sebuah kebiasaan yang selalu aku lakukan ketika aku berusaha memunculkan mood. Kudengar sayup-sayup suara anak kecil dari ujung jalan setapak di depanku. Lambat laun, siluetnya terlihat. Dua anak-anak yang sedang tertawa riang seolah menyambut musim gugur.
Aha! Kenapa tak pernah terpikirkan sebelumnya. Sebuah jalan dengan siluet dua anak kecil di musim gugur. Artistik.
Aku mulai menggoreskan pensil mungil itu pada permukaan putih buku sketsaku. Lalu, terhanyut begitu saja. Sampai sebuah suara dari belakang mengagetkanku.
Ya! Ternyata kau berada di sini, sudah kuduga,” sebuah suara dari belakangku yang sangat aku kenal.
“Hei, kau mengagetkanku!”
Tak ada tanggapan lain selanjutnya. Pemuda itu hanya tertawa, menampakkan wajahnya yang manis. Lalu ia duduk di sampingku, menggeser tumpukan buku literature yang aku pinjam dari perpustakaan hari ini.
Kemudian ia merentangkan tangannya, menghirup napas dalam-dalam saat angin berhembus menerpanya. “Huaaaah, musim gugur!” serunya.
Aku hanya tersenyum, lalu meneruskan menggambar. Membiarkannya heboh sendiri dengan angin musim gugur. Sesekali aku melihat ke depanku, jalan setapak masih seperti yang tadi –minus anak-anak kecil tadi. Hanya perlu menambahkan detail-detail kecil dan beberapa menit kemudian gambarku yang kesekian kali akan jadi.
Aku menoleh ke samping, dan Joonmyun sedang menatapku serius. Ya, namanya Joonmyun. Dia seorang sahabat dan… seseorang yang aku cintai. Wajahnya yang penasaran membuatku ingin terkekeh. Dia terus melihatku mengoreskan pensil ke atas buku sketsa. Goresan demi goresan hingga terbentuk gambar yang sempurna.
“Ara-ya, kau sedang menggambar jalan yang di depan itu?” tanyanya.
“Hmm..,” jawabku singkat.
“Hei tak ada yang istimewa di sana. Kosong, hanya sebuah jalan yang sepi,” celotehnya lagi.
Aku menoleh ke arahnya, dan dia tersenyum lebar menampakkan deretan giginya. “Kau selalu menggangguku,” ujarku sebal.
Terdengar dia tekekeh, tapi aku tak peduli. Dia sudah terbiasa ketika aku bersikap cuek padanya. Aku menggoreskan lagi pencilku ke atas kertas sketsa. Membentuk dua buah siluet anak kecil yang tadi ada di ujung jalan. Menambah beberapa detail di bagian bawahnya. Dan, sempurna!
“Ah, bagus sekali! Idemu sangat brilliant,” seru Joonmyun sedikit mengagetkanku.
Aku menoleh ke arahnya, tersenyum simpul.
“Kau memang selalu tak bisa ditebak, gambarmu benar-benar bagus meskipun itu hanya sebuah sketsa pensil,” tambahnya lagi.
Dia selalu begitu. Selalu memujiku, terkadang terdengar sangat berlebihan ketika ia melakukannya. Itu hanya sketsa sederhana yang sudah sering aku buat tapi Joonmyun selalu mengatakan sebuah ide itu mahal harganya.
Ya! Kau berlebihan,” kataku sedikit tersipu.
Joonmyun terkekeh, “aniyo. Kau tau, kau sangat berbakat, kenapa kau tidak menjadi animator atau pelukis saja?”
Dan dia selalu bertanya pertanyaan yang sama. Joonmyun tahu semua tentang aku, kebiasaanku, sifatku, bahkan cita-citaku. Bahkan ia tahu kenapa aku harus memilih kuliah di jurusan ekonomi daripada seni. Ia tahu kenapa aku harus memilih pilihan orang tuaku yang sama sekali tak aku sukai daripada pilihanku sendiri. Kenapa aku memilih menjalankan mimpi orang tuaku yang ingin anaknya jadi eksekutif muda, dan meninggalkan kecintaannya terhadap gambar dan lukisan. Ia tahu alasannya.
Tapi, aku tak pernah tahu apa yang menjadi impiannya. Dia tak pernah mengatakan apa yang sebenarnya ia cita-citakan padahal hampir empat tahun kami bersama-sama.
“Kau sudah bertanya untuk yang kesekian kali pertanyaan itu. Dan jawabanku tetap sama. Kau harus memilih antara apa yang kau cintai dan mimpi.”
“Memilih antara cinta dan mimpi, ya?”
“Iya,” aku mengangguk. “Lalu, bagaimana denganmu?” tanyaku penasaran, biasanya ia selalu menolak menjawab atau mengalihkan pembicaraan.
Matanya menatap lurus jalan setapak di depan kami. Sore mulai merambat, langit juga mulai berubah warna menjadi oranye. Angin musim gugur semilir berhembus, terdengar sangat keras karena kami berdua terdiam sejenak.
Ia menatapku, “you said something as if you have to choose one between love or dream. But for me, my dream is to have you as my love.”
Ia tersenyum tipis, membuat pipiku terasa terbakar. Ribuan kupu-kupu seperti menggelitik perutku. Kemudian, Joonmyun malah tertawa pelan melihat reaksiku. Mungkin wajahku sangat aneh saat seperti ini.
Ya! Kim Joonmyun, kenapa kau tertawa begitu, huh?”
Aniyo, kau sangat lucu jika sedang malu,” kemudian dia tertawa lagi.
Aku merengut sebal, “menyebalkan!”
“Tapi, beneran lho, my dream is to have you as my love,” tambahnya dengan wajah sok meyakinkan. Tanpa diduga ia malah menarik badanku ke arahnya. Membawaku dalam pelukan hangatnya, dan semakin mengeratkannya ketika semilir angin sore musim gugur berubah jadi dingin.
Aku hanya tersenyum, membalas pelukannya. “thank you, I’m very lucky to have you.”

***

THE END

***

Annyeonghaseyo~
Apa kabar? Long time no posting something nih😦 maaf ya saya lagi sibuk kuliah soalnya. Banyak tugas organisasi juga yang harus saya emban.
Kali ini saya posting sebuah fict, anggap aja sebagai permintaan maaf karena belum update I Really Hate You atau yang lain.
Semoga reader-deul suka ya, maaf juga kalo fict-nya jelek banget *as always*. Meskipun rada telat tapi Selamat Idul Fitri, minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir batin ya semuanya. Dirgahayu RI ke-68 juga, selamat ulang tahun Indonesia tercinta🙂

Thanks for reading. Gimme your comment, please🙂

6 thoughts on “Love or Dream

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s