I Really Hate You [CHAPTER 4]

I Really Hate You

CHIELICIOUS © 2013

Main Cast:

  • Kim Joonmyun (Suho)
  • Yoo Ara

Rating:

PG-Rated

Genre:

Romance, Hurt/Comfort

Summary:

Kau yang membuatku terjebak. Kau yang membakar hatiku dengan api cintamu. Kau yang memenjarakanku dalam cinta yang tak berujung. Kau yang menjatuhkanku dalam lubang kerinduan dan kesakitan yang mendalam. Kau yang selalu menghipnotisku dengan senyuman malaikat itu. Kau yang tak pernah tahu betapa aku merasakan sakitnya cintamu. Aku membencimu karena aku mencintaimu.

 

***

 

CHAPTER 4

 

***

Hari ini Ara harus ke kantor managementnya lagi untuk mengambil beberapa dokumen partitur yang harus segera ia revisi. Semalam music director menelponnya untuk mengambil dokumen partitur musik yang beberapa hari yang lalu ia ajukan, ada beberapa partitur perlu diperbaiki dan disempurnakan lagi. Dan ia juga harus ke studio untuk latihan dengan anggota yang lain. Ara memakai coat coklatnya, lantas ia memakai sepatu. Dan buru-buru keluar rumah setelah berpamitan kepada ibunya. Gadis itu tampak bersemangat. Ia tak keberatan jika hari-harinya di Seoul akan menjadi sangat sibuk karena showcase yang untuk pertama kalinya ia lakukan di Seoul. Ia harus latihan keras hingga sore hari, dan menulis beberapa partitur musik untuk showcase di waktu luang di siang hari dan malam hari. Tapi, disisi lain ia masih khawatir dengan berita beberapa hari yang lalu yang melibatkannya dengan Suho. Ada sedikit rasa takut untuk keluar rumah, takut tiba-tiba para pencari berita dan penggemar Suho menyerangnya.

Langkahnya membawanya ke jalan Apgujeong. Ya, mau tak mau setiap hari ia harus melewati sepanjang pertokoan di Apgujeong untuk bisa sampai ke studio tempatnya berlatih. Melewati jalan yang sama setiap hari, melewati SM Entertaiment tentu saja. Tidak menutup kemungkinan ia akan dengan mudah berjumpa dengan pemuda bernama Kim Joonmyun yang selalu meracuni otaknya.

Di depan SM Entertaiment, kali ini gadis itu hanya memandang sebentar. Tak berdiri lama dengan memandang lama pula seperti beberapa hari yang lalu. Lagi pula disana sudah berkumpul beberapa fans EXO-K dan Ara tak mau cari gara-gara dengan menampakkan diri pada mereka, meskipun di infotaiment fotonya tidak begitu jelas terlihat. Ara mengeratkan coat coklat yang menyelimuti tubuh mungilnya, mendekapkan kedua tangannya pada tubuhnya lebih rapat lagi, dan kemudian melanjutkan langkahnya. Entahlah, mungkin kali ini gadis itu sedang tak ingin melihat pemuda itu.

Gadis itu berhenti di perempatan jalan tak jauh dari SM Entertaiment, berdiri di sana bersama pejalan kaki yang lainnya. Menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala agar semua pejalan kaki bisa menyebrang dan kendaraan bermotor yang lainya berhenti sejenak. Sekitar satu menit ia berdiri menunggu, beberapa kendaraan berlalu-lalang di depannya. Ara menunduk, memandang jam tangannya, merasa ia akan terlambat beberapa menit untuk datang ke studio hari ini.

Sebuah mobil van hitam berisi enam pemuda yang di dalamnya sangat berisik melintas menuju SM Entertaiment yang sekitar lima menit lagi mereka akan sampai. Sang pemuda tertua diantara lima member lainnya hanya memijat keningnya. Keempat dongsaengnya ini selalu saja membuat suasana ramai kemana dan dimana saja mereka sedang berada, kecuali si maknae yang memang agak introvert, dan cuek. Si pemuda tertua yang juga merupakan leader ini hanya memandang keluar jendela mobil, berusaha menghilangkan segala beban dan tuntutan yang nyatanya harus ia penuhi sejak ia memutuskan untuk menerima kontrak dari managementnya dan melakukan debut sebagai anggota sebuah boysband beserta dengan skandal-skandal yang pasti menyertainya. Dan, sepertinya ia sedang tak tertarik sama sekali untuk ikut bersenang-senang seperti member lainnya.

Pemuda itu mulai bosan, memainkan jarinya menuliskan sesuatu di kaca mobil yang berembun, dan terus memandang sepanjang jalan kawasan elite Apgujeong yang dipenuhi dengan pertokoan. Tak sengaja ekor matanya menangkap wajah seorang gadis yang sedang berdiri di tepi perempatan jalan. Suho hanya memandang lurus ke arah seorang gadis yang sedang berdiri sambil sedikit menundukkan kepalanya itu, sedangkan mobil yang ia tumpangi terus melaju cepat. Seperti mengenalnya, keningnya terus mengerut.

Ara. Setidaknya ia tahu gadis itu baik-baik saja.

Hyung, kau terlihat aneh,” sebuah suara dari seseorang di belakangnya. Park Chanyeol, pemuda bertubuh tinggi pemilik suara baritone itu.

Suho menoleh, mendapati tatapan para dongsaengnya yang penasaran atas ketidakbiasaan yang ditunjukkan sang leader. Kecuali si maknae –member termuda mereka- yang dengan cueknya hanya bermain dengan ponselnya. Suho lantas hanya membalasnya dengan senyuman, dan tak berkata apa-apa lagi. Melanjutkan acaranya melihat-lihat sekitar jalan yang hampir setiap hari ia lewati. Melanjutkan pikirannya yang akhir-akhir ini terus memikirkan Ara. Apalagi setelah kejadian beberapa hari yang lalu, ia yakin Ara pasti tertekan. Dan ini salah satu ketakutan terbesarnya. Ara akan semakin berusaha menjauh darinya karena skandal.

Hyung, kau kenapa sih? Tidak biasanya kau jadi pendiam seperti ini,” ujar pemuda yang duduk tepat di sebelahnya. “Kau masih memikirkan yang kemarin ya?”

“Tak apa, aku baik-baik saja Kai. Hanya sedikit lelah,” ujar Suho. Ia belum siap jika harus mengungkap perasaannya yang sesungguhnya pada member yang lain, meskipun mereka sudah dekat seperti saudara karena beberapa tahun melalui masa trainee bersama.

“Ah, Suho hyung kau selalu menyembunyikan perasaanmu,” sindir Kai lagi.

“Mungkin Suho hyung sedang memikirkan sesuatu, atau mungkin seseorang?” tambah Chanyeol.

Seseorang? Aha! Hyung, jangan-jangan kau sedang memikirkan seorang gadis. Pasti gadis yang kemarin, benar kan?” sekarang Baekhyun si pemuda dengan double eyelid turut berbicara.

Jinjjayo? Aigo, hyung ayolah ceritakan. Atau kenalkan pada kami supaya kami juga tidak menebak-nebak seperti ini,” dan yang terakhir berkomentar adalah pemuda bermata bulat, Do Kyungsoo.

Suho memandang Kyungsoo. Ya Kyungsoo! Aku udah menceritakan padamu dan kau menyebarkannya ke semua member, apa kurang cukup, hah? dumel Suho dalam hati.

Seketika mobil pun kembali ramai karena sang leader menjadi bahan pembicaraan para dongsaengnya. Suho hanya tersenyum menanggapi pembicaraan member-membernya yang hanya ia anggap sebagai gurauan. Suho tak pernah menganggap serius hal-hal seperti ini, ia tahu mereka hanya bercanda meskipun hatinya sedikit seperti dicubit rasanya.

Ya! Geumanhae.” ujar Suho membela diri. Dan member yang lain tetap tertawa.

***

Gadis itu berjalan sendirian menelusuri trotoar depan pertokoan Apgujeong. Gadis itu lalu melambatkan langkahnya setelah merasa cukup jauh dari gedung SM Entertaiment. Ia berjalan melewati beberapa komplek pertokoan dan beberapa belokan, akhirnya Ara sampai juga ke gedung tempat dimana menjadi tujuannya sebelumnya. Buru-buru ia masuk, menuju ruangan dengan banyak alat music yang sudah tertata sedemikian rupa. Di sudut ruangan bernuansa putih itu terletak  sebuah pearl black grand piano mewah.

“Yoo Ara-sshi?” panggil seseorang dari belakang, suara seorang wanita.

“Ah, Kim Eunji-sshi, annyeonghaseyo,” sapa Ara kepada wanita bernama Eunji itu, dia adalah seorang music director Seoul Orchestra.

Annyeonghaseyo. Kau sudah datang? Apa kabar? Sudah siap memulai latihan?” senyum wanita paruh baya itu.

Ara melihat sekelilingnya, hanya ada beberapa orang di luar studio, “yang lain dimana? Apakah hanya aku yang datang untuk latihan hari ini?”

“Mereka sepertinya agak terlambat, kau datang lebih awal dari yang kita sepakati. Oh ya, Aku ingin melihat aransemen baru yang kau buat dan menyempurnakan pianomu dengan efek musik lain untuk showcase nanti.”

Ara mengangguk mengerti, ia begitu excited karena ini adalah latihan pertamanya, “bisa aku memulainya sekarang?”

“Tentu saja,” ujar Eunji mempersilahkan Ara.

Gadis itu duduk di bangku kecil di depan grand piano mewah itu, lantas meletakkan beberapa kertas berisi partitur yang baru saja ia keluarkan dari tasnya di depannya. Jemari lentiknya bersiap untuk menari di atas tuts-tuts itu. Ara meregangkan sedikit jari-jarinya, mulai memejamkan matanya. Dan saat sebuah nada dimainkan, gadis itu mulai terhanyut di dalamnya.

Sebuah ingatan tentang masa lalunya tiba-tiba terputar, dan tawa itu muncul lagi. Kenangannya dengan Suho. Otaknya masih memikirkan hal yang sama.

Suho.

Sebuah kesempatan.

Dan. Skandal tempo hari.

Semuanya berputar di otaknya, sedikit rasa takut dan khawatir pada Suho juga kadang muncul begitu saja. Padahal, sepanjang hari ia akan berusaha mengalihkan pikirannya dengan aktifitas lain. Tapi sia-sia. Jemarinya tiba-tiba berhenti, hatinya sesak ketika mengingatnya kembali. Kim Joonmyun sudah mulai meracuni otaknya kembali, padahal ia sudah hampir berhasil untuk tidak mengingatnya lagi. Di otaknya sudah terpatenkan ia harus membenci pemuda bernama Kim Joonmyun. Tapi ternyata hatinya berkata lain.

Eunji menampakkan wajah heran, kenapa tiba-tiba Ara berhenti bermain piano, “Ada yang salah, Ara-sshi? Kau baik-baik saja, kan?”

Ara menoleh ke arah ruangan berkaca di sudut lain studio itu, “Ani obseo,  Eunji-sshi, aku tak apa. Hanya sedikit gugup,” Ara mencoba menutupinya dengan sebuah senyuman. “Bisa aku lanjutkan?” sambungnya.

Wanita muda di balik kaca ruangan operator studio itu mengangguk, mempersilahkan si gadis yang sedang duduk di depan grand piano hitam itu memulai lagi. Gadis itu memejamkan matanya lagi, berusaha berkonsentrasi penuh. Jemari lentiknya mulai menyentuh beberapa nada di tuts-tuts itu. Dan sebuah rangkaian nada dengan apiknya terlantun. Beberapa kali ia mengulang. Dan beberapa buah lagu dengan sukses gadis itu mainkan, dan sukses pula membuat wanita bernama Eunji itu bertepuk tangan. “Kau memang berbakat Ara-sshi,” katanya sambil berjalan mendekati Ara yang masih duduk di depan grand piano.

“Ah, gamsahabnida Eunji-sshi, aku masih tergolong pianis amatiran,” Ara tampak merendah.

Eunji tersenyum, “tidak, kau masih sangat muda dan memang berbakat. Tidak salah jika gadis lulusan Manhattan School of Music sepertimu menjadi salah satu pianis di showcase kami. Kau dari department of orchestral instruments, bukan?”

“Ah, ne. Kau tak perlu berlebihan begitu, Eunji-sshi,” ia mulai tersipu. “Aku hanya lulusan yang biasa-biasa saja, tak sehebat yang kau kira,” dan lagi-lagi gadis ini merendah. Cantik, pintar, lulusan sekolah music terkenal di Amerika Manhattan School of Music, setelah lulus langsung dipercaya menjadi guru musik sebuah sekolah dasar di New York. Spesial.

Eunji tertawa pelan, “aniyo, kau gadis yang special. Kau tau, kami sangat senang bisa bekerja sama denganmu. Baiklah, aku kira cukup bagus untuk latihan hari ini. Mungkin ada beberapa not yang miss dan sepertinya perlu penyempurnaan lagi, ya kau tahu showcase ini harus jadi showcase yang sempurna di sepanjang musim semi ini. Kau boleh mengambilnya di kantorku besok. Jika kau mau, kau boleh melanjutkan lagi latihanmu sambil menunggu anggota yang lain datang. Ah iya, tiga hari lagi kita akan latihan lagi untuk penyempurnaan, jaga kesehatanmu. Aku akan menelponmu untuk pemberitahuan selanjutnya.”

Ne, gamsahabnida,” Ara membungkukkan badannya. Begitu juga dengan wanita paruh baya bernama Eunji itu.

***

Hari yang melelahkan setelah hampir seharian ia berada di dalam studio untuk berlatih. Ara berjalan gontai, melewati jalan yang sama seperti tadi pagi. Apgujeong memang tak pernah sepi oleh pejalan kaki, padahal ini sudah petang. Bahkan semakin bertambahnya petang semakin ramai.

Langkahnya membawanya berhenti di depan SM Entertaiment lagi. Ya, lagi-lagi ia harus melewati kantor SM lagi, mungkin jalan ini yang terdekat menuju rumahnya. Ia bisa saja mengambil jalan lain dan memutar arah, itu artinya ia terlalu banyak membuang tenaga dan waktu hanya karena hal sepele. Tapi kali ini ia berada di seberang jalan yang agak berjauhan dari gedung. Lama ia menatap gedung berwarna putih itu. Matanya tak menampakkan arti apapun, hanya diam. Masih dengan perasaan yang tak bisa ditebak, masih seperti menunggu seseorang keluar dari dalam gedung bercat putih itu memastikan bahwa ia baik-baik saja. Tatapan kosong masih ia layangkan. Seperti benar-benar menghawatirkan Suho. Beberapa hari setelah rilis skandal itu Suho tak menemuinya, mungkin pemuda itu menunggu berita mereda.

Buk!

“Ah, jwesonghabnida,” ujar seorang pemuda berambut cepak dan bermata bulat. Sekantung belanjaan jatuh dihadapannya. Pemuda itu terus membungkuk meminta maaf pada Ara yang hanya menampakkan senyumnya.

“Tak apa,” balas Ara, kali ini gadis itu ikut mengemasi belanjaan yang jatuh berserakan di trotoar.

“Aku tak melihatmu, tadi aku sambil memainkan ponsel. Jwesonghabnida,” pemuda itu meminta maaf sekali lagi. Ini terlihat sangat berlebihan, tapi ya, itu memang manner yang seharusnya, bukan?

Ara berdiri duluan diikuti dengan pemuda yang menabraknya tadi, “gwaenchana, tak perlu berlebihan begitu. Aku yang seharusnya minta maaf karena telah membuat belanjaanmu terjatuh.”

Aniyo, bukan kesalahanmu. Sekali lagi aku minta maaf, ya,” oke, sudah berapa kali pemuda itu meminta maaf pada Ara. Dan gadis itu hanya tersenyum, membalasnya dengan membungkukkan badan pula lantas berjalan menjauh meninggalkan pemuda setelah sadar siapa yang sedang berjalan ke arah mereka.

“Kyungsoo-ya!” teriak seseorang dari belakang pemuda itu yang membuatnya menengok, dan mendapati seorang pemuda lain yang berambut kemerahan berjalan membawa dua kantung plastik berisi beberapa botol minuman.

Hyung,” sapa pemuda yang ternyata bernama Kyungsoo itu.

Pria yang dipanggilnya dengan sebutan hyung itu menatapnya serius, “kau barusan berbicara dengan seseorang?”

“Ya,” Kyungsoo membalas pertanyaan hyungnya dengan cengiran.

Siapa?” tanyanya lagi.

Entahlah, seperti familiar. Aku seperti mengenali wajahnya, hyung.

Sang kakak menatap Kyungsoo semakin penasaran, tatapan meyelidik tepatnya. “Nuguya? Temanmu SMA?”

Pemuda bernama Kyungsoo itu malah tertawa pelan. “Aniyo. Aku tak sengaja menabraknya tadi saat aku berjalan sambil bermain ponsel hingga kantong belanjaan ini jatuh berserakan. Lalu gadis itu membantuku mengemasinya. Hyung tenang saja mereka aman-aman saja,” Kyungsoo mengangkat kantong plastik berisi makanan ringan dan roti yang ada di tangannya sambil menampakkan cengiran lebarnya.

Baiklah, Do Kyungsoo lain kali kau harus lebih hati-hati. Kajja, yang lain sudah menunggu,” nasehat pemuda itu.

“Ya, Joonmyun hyung.” Kemudian mereka berdua berjalan menyebrangi zebra cross yang berada tepat di depan gedung SM Entertaiment, dan memasuki gedung mewah itu.

***

Ara terengah-engah berusaha mengatur nafasnya setelah berhasil sembunyi di balik mesin minuman. Hampir saja ia bertemu Suho, padahal ia sedang berusaha menjauhi pemuda itu. Ya, karena skandal tempo hari. Dan, Ara sadar ia tak akan bisa dekat dengan Suho lagi. Selamanya.

Ara membalikkan badannya, mengintai dibalik mesin minuman yang menutupinya. Setelah merasa aman dan Suho sudah tak ada di sana lagi, gadis itu perlahan menampakkan tubuhnya keluar. Ia berjalan pelan. Sambil mengatur napasnya yang perlahan normal kembali tapi debaran jantungnya masih belum normal, matanya tetap waspada. Entahlah, ia sedang benar-benar ingin menjauhi Suho, padahal hatinya sedikit menolak keinginan otaknya. Antara khawatir, kangen, sebal, dan takut, ia berjalan dengan langkah was-was. Ia sebenarnya juga tak mengerti dengan perasaannya sendiri, rasa cinta itu masih tersisa, tapi kali ini berbeda.

Hari ini sebenarnya cuaca sangat baik, tapi tiba-tiba saja matahari tertutup awan mendung seperti perasaan Ara saat ini. Ia mengeratkan coatnya, lantas berhenti di sebuah kedai kecil yang berada di ujung jalan Apgeujeong. Kedai kecil yang sering menjadi tempat singgah favoritnya dan Suho dulu sewaktu SMA. Kakinya serasa mendorongnya untuk masuk ke dalam. Ara juga tak tahu entah kenapa ia tiba-tiba ingin masuk ke sana padahal cuaca sedang dingin dan bukan suasana yang pas untuk menikmati ice cream di musim semi yang dingin. Mungkin ia bisa memesan yang lain, pancake dan cappucinno mungkin lebih baik.

Ara duduk di pojok dekat jendela, sesaat kemudian seorang pelayan menghampirinya dan mencatat pesanannya. Pancake, cappucinno, dan ice cream vanilla. Ia pun bingung kenapa ia harus memesan ice cream disaat sore sedang dingin seperti ini. Ingin mengembalikan kenangan Ara-ya? Tak lama kemudian pelayan itu membawa semua peasanannya. Gadis itu hanya memandang semua yang tersaji dihadapannya dengan kosong sampai segerombol gadis yang masih berseragam masuk kedai itu dan membuat semua pikirannya buyar.

Ya! Kau tahu, berita tempo hari EXO-K leader Suho oppa yang katanya sedang berkencan dengan seorang gadis di Sungai Han masih ramai di twitter-ku,” kata seorang gadis berambut ikal dengan pita pink dirambutnya.

Ara mendengar ketiga temannya lantas menanggapi dengan antusias –karena mereka duduk tak jauh dari tempat duduk Ara.

“Semua sedang membicarakan itu, Soobin-ah. Aku dengar gadis itu adalah teman lamanya yang tinggal di Amerika,” tambah temannya.

“Sebuah fanaccount mengatakan gadis itu cantik sekali, style-nya bagus mungkin karena dia tinggal di Amerika.”

“Ah iya, tapi pasti eonni yang kencan dengan Suho oppa adalah gadis yang sangat beruntung.”

Ya! Dengar ya Suho oppa milikku,” ujar gadis berpita pink itu lagi. “Siapapun gadis jalang itu dia tak boleh jadian sama Suho oppa-ku, sampai kapanpun aku tak akan pernah rela Suho oppa-ku dengan gadis lain,” tambahnya lagi. Yoo Ara semakin bergidik. Tak pernah ia bayangkan ia akan menerima langsung terror dari penggemar Suho seperti tadi. Dan ia yakin pasti masih banyak yang jauh lebih pedas dari ucapan gadis tadi. Sekali lagi ia berterima kasih karena fotonya tak terlihat jelas di infotaiment.

Ara memotong pancakenya dengan tatapan dingin. Masih berpikir bagaimana dirinya dan Suho. Takut. Merasa ia kembali ke Seoul di saat yang tidak tepat. Seharusnya ia tak pernah kembali ke sini. Seharusnya ia tak pernah bertemu dengan Suho. Seharusnya ia tak mengenal siapa Kim Joonmyun.

Gadis itu memandang makanan-makanan di hadapannya hambar, tak bermaksud memasukkan barang sepotong pancake atau seteguk cappucinno ke dalam mulutnya. Memandang hambar vanilla ice cream yang mulai mencair, seperti halnya dirinya sekokoh apapun ia membangun keyakinan untuk membenci Suho tapi semuanya akan mencair dengan mudahnya karena Suho juga.

Sekarang ia hanya ingin menangis di pelukan ibunya.

***

From Myun

To Ara

Ara-ya, kau baik-baik saja? Mianhae karena kau jadi terseret skandal murahan seperti ini. Kau masih mau bertemu denganku, kan? Aku harap begitu. Bogoshippeoyo bambi-ah. Aku tahu kau pasti marah padaku karena hal ini, tapi aku akan terus mengirimimu pesan. Aku ingin bertemu denganmu memastikan keadaanmu, kau tau, aku sangat khawatir.

Lagi-lagi Ara menatap ponselnya dengan mata bosan. Ini adalah pesan yang ke lima puluh kalinya yang dikirim oleh Suho. Sampai kapan Suho terus menjadi bayang-banyangnya? Tidak bisakah dia membiarkan hidupnya sekali saja tenang? Dan jika dia benar-benar menyesal, tidak bisakah ia minta maaf secara langsung? Suho selalu menyebalkan, batinnya.

Ara langsung bangkit dari kursi meja makan, membawa beberapa piring kotor ke bak cuci piring di dekatnya. Setelah selesai ia kembali ke kamarnya dan bersiap-siap. Hari ini Ara harus ke studio lagi, latihan semakin intensif sebelum dua minggu lagi ia akan showcase. Mungkin tidak ada waktu lagi untuk memikirkan Suho, tapi nyatanya selalu ada waktu untuk dia masuk di otak Ara. Dan ingatan tentang skandal itu semakin melukainya.

Mungkin gadis itu trauma. Fans fanatik terkadang menyakitkan dengan ucapan-ucapan mereka yang setajam pisau yang bisa kapan saja membunuhnya. Mungkin tak seharusnya ia mendekati Suho selagi pemuda itu sedang naik daun. Dan berarti selamanya mereka tak akan pernah bisa bersama. Dan itu jawaban yang akan ia berikan untuk kesempatan kedua.

Eonni, ada yang mencarimu di depan,” senyum Yooyoung –ah bukan senyum tapi terkesan sebuah seringai ketika Ara baru saja menuruni tangga.

Ara mengerutkan dahinya, “nuguya?”

Terkadang ia merasa harus ekstra waspada ketika ada seseorang mencarinya atau mengiriminya suatu paket ke rumah. Bayangan tentang teror fans Suho kadang muncul hingga ia berpikiran yang tidak-tidak. Ara merasa hidupnya di Korea tidak akan pernah tenang.

“Lihat sendiri aku sudah terlambat berangkat ke sekolah. Bye,” si adik langsung menyambar tasnya, lalu berlari.

Dengan ragu ia melangkah menuju pimtu depan rumahnya. Sebelumnya ia mendengar Yooyoung mengatakan salam pada seseorang yang berada di depan pintu, membuatnya berpikir yang mencarinya bukan orang jahat atau setidaknya Yooyoung mengenalnya. Ara membuka pintu, dan betapa terkejutnya ia setelah tahu siapa yang berada di depannya sekarang.

Pemuda itu tetap dengan senyum lembut memikatnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tukas Ara, lantas menyeret pemuda itu masuk ke dalam ruang tamu. “Ya! Apa yang kau lakukan? Belum cukup kau membuat gempar infotaiment dengan kejadian tempo hari?”

“Ara-ya dengarkan aku dulu!”

Apalagi huh?”

“Biar aku jelaskan, aku ke sini untuk meluruskan semuanya,” Suho masih berusaha meyakinkan gadis yang ada dihadapannya.

Ara memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Suho. “Kau tak seharusnya ada di sini, pulanglah,” gadis itu membelakangi Suho dan berjalan menjauh.

Suho berjalan cepat, menyusul Arad an meraih tangannya,”Ara-ya dengarkan aku, lihat mataku!”

“Pergilah, aku tak mau melihatmu lagi.”

***

TO BE CONTINUE

***

Annyeonghaseyo

Apa kabar? aduh maafkan saya karena lama banget updatenya. So sorry for late update and I’m sorry too for bringing this bored story. Saya rasa ini adalah chapter terdatar yang saya tuilis di IRHY. Saya lagi buntu ide, tapi saya juga lagi stress dan galau karena tugas kuliah dan tugas organisasi yang akhir-akhir ini lagi banyak acara ><

Oke, next chapter bakal lama kayaknya karena tugas kuliah saya semakin bertambah seiring dengan bertambahnya semester saya. Gimme your comment please..🙂

7 thoughts on “I Really Hate You [CHAPTER 4]

  1. Kyaaaa akhirnya dilanjutin……iya agak datar critanya hehe.
    Hopefully you will write the next chapter soon!🙂
    fighting thor!!!

  2. At all ceritanya oke kok eon, gak flat” banget🙂
    semangat aja buat kuliahnya dan mohon banget chapt selanjutnya jangan teralalu lama updatenya ^^
    ff ini aku tunggu” banget loh~~~

  3. aaaa aku shippernya mereka bgt eonnie :3 aku pembaca baru nih hehe ._.v
    btw aku baca dari chapter awal sampe yg ini semuanya bagussss ‘-‘)b emosinya dapet, fell nya juga.. dilanjut ya eonnie next chapter nyaaaa :3 pngen tau kelanjutannya suho-ara…
    fighting eonnie ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s