Forget Me Not [Chapter 1]

Poster6

FORGET ME NOT

CHIELICIOUS © 2014

Main Cast:

  • Xi Lu Han
  • Park Cho Rong

Rating: PG-15

Genre: Romance

Length: Chaptered

No bashing. No Plagiarism. Don’t be silent reader.

***

CHAPTER 1

***

“Selamat pagi, eosseo oseyo (selamat datang),” sapa gadis berambut panjang itu ketika bel kecil diujung pintu berbunyi ketika pintu tokonya dibuka. “Ada yang bisa saya bantu?” lanjutnya lagi, melihat seorang wanita paruh baya yang sedang sedikit kebingungan memilih bunga apa yang akan ia beli.

Wanita paruh baya itu tersenyum, “untuk sahabatku yang baru saja mempunyai seorang bayi perempuan. Kira-kira apa yang cocok untuknya?”

Gadis berambut hitam panjang itu seperti menemukan hal yang tidak sulit untuk dipikirkan. Hanya kriteria sebuah buket bunga untuk new baby born itu mudah. “Tunggu sebentar, ini tidak akan lama,” balasnya singkat.

Kemudian ia menghilang diantara rak-rak yang berjajar berbagai jenis bunga dalam tokonya. Mengambil beberapa tangkai berbagai jenis bunga yang nampaknya sangat ia hafal dimana saja tempatnya. Lalu membawanya ke meja yang tak jauh dari rak kumpulan bunga aster berbagai warna. Dengan tekun ia merangkai satu persatu bunga yang ia ambil tadi. Menjadikan sebuah kumpulan bunga indah yang dipadu dengan sebuah pita warna merah jambu.

A mix of fresh flowers with baby pink roses, white daisy and green chrysanthemums, Monte Cassino asters and limonium. Aku harap bisa membuat sahabat anda tersenyum atas kelahiran bayi perempuannya,” katanya setelah menyelesaikan rangkaian bunganya dan menemui wanita paruh baya itu.

Ah~ yeppeoda, neomu yeppeo, jeongmal (cantik, cantik sekali, sungguh),wanita itu terlihat takjub. “Gamsahamnida,” ujarnya setelah melakukan transaksi dan menyelesaikan pembayaran di kasir. Nampaknya ia sangat menyukai karya pertama gadis itu untuk hari ini, ya, setidaknya ia memberikan pelayanan yang bisa memuaskan pelanggan pertama yang untuk hari ini.

Senyumnya mengembang lebar, “byeolmalsseumeulyo (sama-sama).”

Selanjutnya gadis itu melanjutkan pekerjaannya yang lain. Ia mengambil watering can dan dengan riang mulai menyirami bunga hidup di bagian depan etalase toko. Bibir mungilnya mulai bersenandung, menggumamkan lagu kesukaannya. Ia senang merawat bunga-bunga itu setiap harinya, seperti ada nyawa tersendiri ketika ia melihat mereka tumbuh dan mekar. Ia senang melihat ketika warna-warna indah mereka dipadukan menjadi satu, dan membuat kebahagian tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya. Toko bunga kecil ini adalah milik ibunya, sejak kecil ia sangat suka bermain dan membantu di toko bunga ibunya. Ia mencintai bunga, membuatnya mempelajari semua bunga-bunga itu dari ibunya setiap hari seusai sekolah hingga ia menjadi mahasiswa. Menurutnya itu hal yang sangat menyenangkan.

Lalu, ia pindah ke bagian rak tempat kumpulan mawar, ia ingat ada satu pesanan flower bridal bouquet untuk sebuah pernikahan hari ini. Ia mengambil beberapa batang bunga Blue Hydrangea, Calla Lily dan mawar putih, dan membawanya ke meja kerjanya. Dengan telaten ia memotong satu per satu batang bunga-bunga itu dengan secateurs agar menjadi sama panjang dan membersihkan beberapa duri dari batang mawar. Ia membenarkan sarung tangannya.

“Ayo buat satu kebahagiaan lagi,” gumamnya pelan.

Ia mulai merangkai bunga-bunga itu tanpa melewatkan setiap detilnya. Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya menjadi bunga tangan pengantin wanita yang indah. Blue Hydrangea  the enduring grace and beauty, Calla Lily the magnificent beauty, dan mawar putih humility spiritual love adalah kombinasi sempurna dan menjadi favorit untuk dijadikan flower bridal bouquet di acara-acara pemberkatan yang sakral. Gadis itu merapikan sekali lagi batang dan bentuk buket yang ia buat, mengikatnya dengan kawat kecil pada pangkalnya. Ia melakukannya dengan hati-hati agar tidak merusak mahkota bunganya. Lalu melilitkan pita berwarna lavender pada batangnya, menambah cantik dan manis buket bunganya. Tampak sederhana tapi ia yakin akan menambah unik jika dipadukan dengan gaun pernikahannya nanti.

Kling kling

“Selamat pagi, eosseo…oh, Chanyeol-ah,” ujarnya.

Yang dipanggil dengan nama Chanyeol itu menghampirinya masuk, dan memperhatikannya sibuk dengan sebuah buket bunga. Pemuda tinggi itu meletakkan sebuah bungkusan kertas coklat di atas meja. “Noona, aku membelikanmu bungeoppang,” kata pemuda bersuara baritone itu.

“Kau tidak lupa membawakan kameraku, kan?”

Chanyeol mengangguk pelan, mengeluarkan sebuah benda kotak kecil berwarna coklat. Sebuah kamera digital berwarna putih yang ada di dalamnya. Kemudian meletakkannya di samping bungkusan bungeoppang.

Gomawo Chanyeol-ah. Hari ini kau tidak ada jadwal kuliah?” ujar gadis itu, memasukkan kamera digitalnya ke dalam tas kecil yang tergantung di sandaran kursi.

Tidak. Oh, noona mau kemana?” tanyanya melihat gadis itu melepaskan sarung tangannya, merapikan meja dan  menyisihkan buket yang sudah jadi ke sisi lain meja.

Gadis itu berjalan mengambil coat merahnya yang tak jauh dari tempat mereka berdiri, “tentu saja mau mengantar bunga ke pelanggan.”

“Bagaimana kalau aku saja yang mengantarnya?”

“Tak perlu, aku sudah berjanji aku akan mengantarnya sendiri. Kau di sini saja, menjaga toko, ya?”

Pemuda itu setengah khawatir. Tapi tatapan mata kakaknya seketika membuatnya luluh. Ia tak bisa mencegah terus-terusan untuk tidak pergi ke sana kemari. Atau bertemu orang-orang asing, dan tersesat di keramaian. Ya, Park Chanyeol sepertinya harus belajar melepas kakaknya.

Gadis itu merapikan coat merah yang dikenakannya. Mengemas rapi buket bunga yang akan dia antar ke pelanggan agar tidak rusak. Lalu, melihat buku catatan alamat pemesan dan mencatatnya di selembar kertas notes kecil.

“Jangan khawatir, aku tahu apa yang harus aku lakukan,” ia tersenyum manis, meraih tas kecilnya dan buket bunganya, menaruhnya di keranjang sepeda yang berada di depan tokonya.

Adik laki-lakinya hanya bisa memperhatikan ketika kakak perempuannya mulai mengayuh sepedanya menjauh dari toko mereka. Park Chanyeol hanya bisa pasrah di depan pintu toko ketika melihat gadis itu melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar ke arahnya.

***

Angin semilir awal musim semi menerpa wajahnya seketika setelah ia menginjakkan kaki di Seoul. Pemuda itu tersenyum lebar. Setelah sekian lama, akhirnya ia kembali ke sini. Ia menarik napas dalam, menikmati udara musim semi kota yang telah ditinggalkannya selama tiga tahun. Merentangkan tangannya lebar-lebar, membiarkannya angin awal musim semi kota Seoul menerpa seluruh tubuhnya.

Terlihat sedikit aneh di mata orang lain, buktinya sekarang banyak mata yang sedang memperhatikannya. Tapi ia tak peduli. Ia benar-benar merindukan segala sesuatu yang ada di kota ini, makanannya, suasananya, masa-masa kuliahnya, sahabatnya, dan gadis itu. Rasanya banyak sekali kenangan yang ia buat di Seoul.

Setelah urusan dengan bagasi selesai. Ia berjalan ke arah pintu kedatangan dengan perasaan yang tak bisa ia sembunyikan lagi. Betapa senangnya ia akhirnya bisa kembali ke sini lagi, dan menepati janjinya. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dari saku coat hitamnya, menekan beberapa angka di touchscreennya.

Yeoboseyo,” kata seseorang di ujung sambungan.

Ya! Minseok!” ujar pemuda itu sambil tersenyum lebar.

Luhan? Hei, rusa kutub kau kapan ke sini? Kau membohongiku tahun kemarin.”

Pemuda yang dipanggil Luhan itu malah tertawa, “Ya! Aku sudah ada di bandara, sekarang jemput aku.”

Mwo? Xi Luhan, kau bercanda? Jangan mengerjaiku,” teriak pemuda yang ada diujung sambungan telepon.

Luhan semakin terkekeh karena Minsoek tak percaya bahwa sekarang ia sudah ada di bandara. “Aku serius, Kim Minseok. Cepat jemput aku di bandara.”

Setelah percakapan panjang, Luhan berhasil meyakinkan sahabatnya, Minseok. Akhirnya Minseok percaya dan ia berjanji tiga puluh menit lagi akan datang ke bandara. Minseok sangat senang, dari ujung telepon tadi ia bahkan tak percaya bahwa Luhan benar-benar kembali ke Seoul lagi.

Setelah tiga puluh menit menunggu Minseok menjemputnya, akhirnya ia bertemu dengan sahabatnya itu. Sedikit berbeda dengan penampilan Minseok, banyak perubahan menurut Luhan. Sedikit lebih kurus dari terakhir ia melihat Minseok sebelum ia berangkat ke Beijing tiga tahun yang lalu. Minseok langsung memeluk sahabat yang sudah lama meninggalkan Korea untuk pulang ke kota kelahirannya. Senyum lebar mereka tak dapat disembunyikan lagi. Sekarang dua sahabat itu bisa melepas rindu.

Perjalanan mereka menuju rumah Minseok rasanya sangat singkat. Di dalam mobil mereka membicarakan banyak hal. Mulai dari kabar masing-masing, keluarga, pekerjaan, hingga teman kencan. “Kau pernah bertemu dengannya setelah kelulusan kita?”

Minseok masih berkonsentrasi di belakang kemudi, ia menoleh pada Luhan dan menemukan wajah pemuda itu penasaran. “Tidak, kudengar ia mengambil studi lanjutan di Osaka. Itu yang terakhir aku dengar dari teman-temannya saat kami tak sengaja bertemu di restoran Italia,” kata Minseok.

Luhan seketika menampakkan ekspresi kekecewaannya. Itu artinya sekembalinya ia ke Seoul ia tak akan bertemu dengan gadis itu jika menurut Minseok gadis itu tinggal di Osaka.

Waeyo? Kau merindukannya?” ujar Minseok menampakkan cengiran lebarnya.

Luhan tak bisa menyembunyikan jika ia juga amat sangat merindukan gadis itu. Ia juga sudah berjanji jika ia kembali ke Seoul lagi ia akan menemui gadis itu. Minseok tahu semuanya, Luhan tak pernah tahan lama-lama menyimpan sebuah cerita sendirian. Ia selalu berbagi dengan Minseok, termasuk tentang gadis itu.

“Tak perlu dijawab, dari ekspresi wajahmu sudah ketahuan,” kali ini Minseok tepat sasaran. “Sudah kubilang dari tiga tahun yang lalu, harusnya kau bilang saja. Sekarang bahkan kita tak tahu ia ada di kota ini atau tidak. Atau malah ia sudah menikah dengan orang lain.”

Luhan menatap lurus jalan yang ada di depannya, lalu tersenyum tipis, “entahlah, Minseok-ah. Jika kami memang jodoh pasti kami akan dipertemukan pada waktu yang tepat.”

“Kalau dia sudah menikah?”

Sekali lagi hanya senyum yang disunggingkan oleh Luhan. Tak menjawab pertanyaan terakhir sahabatnya.

Senyum pahit tepatnya.

***

“Kau yakin hari ini tak mau aku temani?” tanya Minseok, melihat sahabatnya membenarkan tali sepatunya bersiap untuk pergi.

Tidak. Kau selesaikan dulu pekerjaanmu di klinik, atau ayahmu akan memarahimu karena menelantarkan pasien-pasien,” jawab Luhan. “Lagipula ini hanya jalan-jalan sekitar pertokoan Myeongdong saja, tidak memerlukan tour guide. Dan survey sebentar ke kantor teman ayah, tempatku nantinya akan bekerja, aku sedikit lupa jalan.”

Minseok mengangguk mengerti. Semalam sahabatnya menginap di rumahnya miliknya, menunggu flat milik Luhan selesai dibersikan. Flat itu akan benar-benar menjadi rumah hantu jika saja dibiarkan kosong setahun lagi kata Luhan.

Sekarang ia menatap jalan di depannya yang penuh sesak oleh para penggila belanja. Myeongdong adalah surga belanja. Kanan kirinya toko-toko berjajar sepanjang jalan, dan tak pernah sepi hingga larut malam. Deretan pertokoan dari ujung ke ujung menawarkan banyak barang seperti baju, sepatu, kosmetik, makanan, dan accessorise mulai dari harga termiring hingga barang branded.

Luhan sangat merindukan ini semua. Berjalan di keramaian Seoul, rasanya berbeda ketika ia berada di Beijing. Ia menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Beijing, mulai pindah ke Seoul karena sebuah beasiswa di perguruan tinggi ternama di sana. Ia mencintai Beijing sebagai kota kelahirannya dan tempat di mana ia tumbuh besar, tapi ada kerinduan tersendiri yang membuatnya ingin kembali lagi ke Seoul.

Pemuda itu tersenyum geli ketika melihat segerombolan gadis sedang berebut barang diskon yang ada di sebuah toko pakaian. Tak banyak berubah dari tempat ini, mungkin bertambah ramai. Ia berjalan melewati beberapa pertokoan, melihat-lihat barang-barang yang menghiasi etalase toko. Ini adalah self tour di hari pertamanya tinggal di Seoul. Menyegarkan ingatan dan menghafal kembali jalan-jalan di Myeongdong yang sempat terlupakan selama tiga tahun. Sepertinya memang butuh waktu lama untuk berkeliling, sudah hampir setengah hari berkeliling hanya di kawasan Myeongdong, belum lagi kawasan lain di distrik Jung.

Bau makanan menguar membuatnya sedikit lapar, ada banyak penjual makanan jalanan yang dijual di sepanjang jalan Myeongdong. Ia ingat ia selalu mampir ke kedai kecil yang menjual Tteokbokki dan Heotteok bersama Minseok setiap pulang kuliah. Itu adalah makanan favorit mereka di musim dingin. Ah, ia jadi ingat tawaran Minseok tadi pagi untuk menemaninya berkeliling. Ia yakin jika ia pergi bersama Minseok, rencana berkeliling Myeongdong seharian akan berujung dengan ngobrol seharian di kedai kopi langganan Minseok.

Masih di Myeongdong, dan Luhan masih penasaran dengan lorong-lorong kecil yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Dulu waktu ia masih mahasiswa baru, ia hanya berani melewati jalan yang paling ia hafal ketika hendak ke kampus menuju flat kecilnya, dan sebaliknya. Ia tak pernah mau menjelajahi kawasan ini dengan serius, takut tersesat dan tak bisa pulang. Lucu jika ia mengingat kesehariannya saat ia baru menjejakkan kakinya di sini. Sampai ia bertemu dengan Minseok, pemuda dengan pipi bakpao yang sekarang jadi sahabatnya, dan gadis itu.

Luhan mulai membidikkan lensa kameranya. Mengabadikan setiap jalan yang dilewatinya layaknya turis asing yang baru saja berlibur ke Korea. Mungkin sedikit membantunya nanti jika ia lupa. Dan sebagai isi buku catatan harian yang tak pernah terpikirkan olehnya dulu. Ia akan memulai hidupnya lagi di Seoul, mulai membuat bulding track record lagi di sini. Luhan mengangkat kameranya hendak membidik jalan di depannya, tapi sesuatu tak sengaja tertangkap oleh kameranya. Sesuatu yang menurut banyak orang tak akan mungkin berada di Seoul. Oh bukan sesuatu, tapi seseorang. Luhan tak percaya, tangannya gemetar, dan jantungnya berdetak lebih cepat dari normal.

Chorong…”

***

Seperti biasa The Blossom sudah dibuka sejak pagi, dan gadis itu selalu tak pernah kehilangan semangatnya untuk melayani pelanggan dan merangkai bunga dengan sepenuh hatinya. Ia selalu tersenyum tulus dan menyapa setiap pembeli bunga meskipun kadang ada saja permintaan yang aneh-aneh dari pembeli.

“Chorong-ah, kau memang sangat berbakat merawat mereka semua. Aku tak pernah bisa merawat bunga sesabar yang kau lakukan,” kata wanita paruh baya seorang pembeli bunga.

Gadis itu hanya tersenyum malu-malu. Ia sering mendapatkan pujian seperti itu karena memang ia berbakat. “Aniyo, ahjumma, kau hanya perlu memberinya air tiap pagi dan letakkan di bawah sinar matahari agar daun-daunnya bisa fotosintesis. Dan mereka akan tumbuh dengan baik,” jawabnya.

Wanita paruh baya itu mengangguk mengerti. Kemudian ia memperhatikan Chorong yang sedang merangkai buket bunga pesanannya. Wanita paruh baya itu selalu membeli buket bunga setiap satu minggu sekali. Kadang ia mengajak putri kecilnya membeli bunga. Ia senang bisa mengenal banyak orang.

Setelah menghias buket bunganya dengan kertas tissue berwarna pastel dan sebuah pita, buket bunga yang cantik itu sudah jadi. Wanita paruh baya itu tampak senang, Chorong selalu melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.

“Chorong-ah gomawo, kau yang terbaik,” kata ahjumma itu mengacungkan ibu jarinya membuat Chorong terkekeh.

“Ah, ne, gamsahabnida ahjumma,” balas Chorong.

“Minggu depan aku ke sini lagi, siapkan bunga-bunga yang cantik,” katanya sambil tersenyum.

Ne, byeolmalsseumeulyo,” balas Chorong sambil membungkukkan badannya ketika mengantar wanita paruh baya itu ke depan toko.

Hari ini cukup melelahkan. Cukup banyak pesanan flower bouquet hari ini, dengan berbagai macam kriteria. Ia harus berkerja keras, karena hanya ia sendiri yang ada di sana. Sebenarnya ibunya ingin membantunya bekerja menjaga The Blossom, juga menemani Chorong agar tak sendirian di toko bunga kecil mereka. Tapi Chorong melarangnya. Ayah dan ibunya tak harus bekerja keras, cukup berada di rumah, biarkan dia yang bekerja dan Chanyeol yang juga mempunyai kerja part time seusai kuliah. Sering kali Chanyeol memarahi kakaknya karena terlalu memaksakan diri, tapi menurutnya ini sangat menyenangkan.

Ia kembali ke dalam toko setelah ahjumma tadi pergi. Ia harus melanjutkan pekerjaannya karena para pelanggan tak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia hanya ingin memberikan sesuatu yang terbaik sebagai balasan telah mempercayainya membuat sebuah buket bunga yang cantik.

Kling kling

“Eosseo oseyo,” kata itu selalu reflek diucapkannya setiap ia mendengar bel kecil di ujung pintu tokonya berdenting. “Oh,” tapi kali ini ia seperti terkejut.

“Chorong-ah, ini benar benar kau?” kata pemuda itu tiba-tiba memeluknya. Chorong hanya menampakkan ekspresi bingungnya, entah apa yang membuat gadis itu bingung.

Pemuda itu malah semakin mengeratkan pelukannya, membuat Chorong tak bisa bergerak. Ia mencoba menghindar tapi nampaknya pemuda itu semakin mengeratkan pelukannya.

“Kau tau aku sangat merindukanmu, sudah lama aku ingin bertemu denganmu. Tapi maaf aku baru bisa menepatinya sekarang,” katanya di tengah-tengah pelukan mereka. Chorong masih tak mengerti mengapa pemuda itu tiba-tiba memeluknya. Masih nampak wajah terkejut di rautnya.

Mereka diam beberapa menit, pemuda itu nampak sangat nyaman memeluknya. Chorong melepaskan pelukan mereka. “Maaf, kau memelukku terlalu erat,” akhirnya gadis itu buka mulut juga.

Pemuda yang memeluknya tersenyum, “Ah, mian. Kau tau, aku benar-benar bahagia bisa bertemu denganmu di sini. Sedangkan kata Minseok kau sedang berada di Osaka. Ini sebuah keajaiban, Chorong-ah.”

Sekali lagi Chorong tak mengerti apa yang sedang dibicarakan pemuda di depannya itu. “Kau mengenalku?” tanyanya.

“Tentu saja, kau Park Chorong.”

“Aku pernah bertemu denganmu?”

Iya. Kita berteman semenjak kita jadi mahasiswa di universitas yang sama.”

“Kau siapa?” kali ini pemuda itu yang menampakkan wajah tak percaya.

“Kau tak mengenali aku, Chorong-ah?”

Chorong menggelengkan kepalanya. Ia tak pernah tahu siapa pemuda itu. Ia juga tak pernah melihatnya di sekitar toko kecilnya. Baru siang ini ia bertemu, tapi tiba-tiba saja pemuda itu memeluknya. Mengatakan bahwa mereka teman lama. Bahkan Chorong tak pernah merasa punya teman lama seperti pemuda yang memeluknya.

“Chorong-ah, aku Luhan. Xi Luhan,” katanya lagi.

Gadis itu hanya terdiam. Ia tak mengingat apapun tentang Xi Luhan.

***

To Be Continue

***

Luhan and Chorong again😀 I infected with them.

And this is chaptered again, I’m so sorry guys ><

Let’s wait another chapter. Be patient🙂

7 thoughts on “Forget Me Not [Chapter 1]

  1. Aigooo poor Luhan~~
    Udah meluk” eh ternyata yang dipeluk blg nggak kenal >_<

    Penasaran ada apa sama chorong..
    update cepet lanjutannya ya eon.

    gomawo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s