Distance

Poster5

DISTANCE

CHIELICIOUS © 2014

Main Cast:

  • Kris Wu
  • Alice Song

Rating: PG-15

Genre: Romance

Length: Oneshot. 3.408 words

No bashing. No Plagiarism. Don’t be silent reader.

*** 

And I will make sure to keep my distance

Say “I love you” when you’re not listening

And how long can we keep this up?

from Distance a song by Christina Perry ft Jason Mraz 

***

Teriakan-teriakan itu menggema di seluruh gymnasium universitas, meneriakkan namamu terus menerus. Mereka terus memberimu semangat. Kulihat kau sedang berlari sendiri membawa sebuah bola basket, terkadang kau mengoperkan ke anggota team yang lain. Teriakan itu semakin menggema dari gadis-gadis yang duduk di sebelahku ketika kau berhasil membawa bola basket di tanganmu masuk ke dalam ring basket. Kau berhasil mencetak poin lagi. Sesaat aku bisa melihat senyuman tipis di antara wajah dingin itu. Hari ini adalah kejuaraan basket universitas yang kesekian kali yang pernah kau ikuti, Kau masih saja menyukai hal yang sama sejak kita masih duduk di SMA.

Teriakan-teriakan yang memanggil namamu semakin memenuhi gymnasium, saat kau berhasil mencetak poin untuk yang ketiga kalinya. Kali ini three point. Aku hanya bisa diam di sudut bangku penonton. Melihatmu dari kejauhan. Tentu saja aku senang, sangat senang malah, bisa melihatmu bermain basket dengan sangat baik.

“Kris Wu, Kris Wu, Kris Wu.”

Sepertinya seluruh penonton di gymnasium sangat menyukaimu. Mereka terus menyerukan namamu. Begitu juga dengan gadis-gadis cheerleaders dengan teriakan penyemangat mereka terus berteriak nama yang sama.

Kau menerima operan bola dari anggota teammu dengan sangat baik. Beberapa kali mendribble, dan mengoperkannya lagi ke anggota team yang lain, melewati lawan mainmu dengan sangat sempurna. Pemuda berambut merah anggota teammu mengoperkan bola padamu lagi saat posisimu lebih dekat dengan ring basket. Dengan lancarnya kau melemparkan bola itu, dan sebuah poin terakhir tercetak. Semua penonton berteriak senang atas kemenangan teammu kali ini.

Aku hanya bisa tersenyum. Kau melakukannya dengan sangat baik lagi kali ini.

Jika kalian bertanya kenapa aku tak ikut dalam euphoria kemenangan seperti yang orang lain lakukan, tidak, aku tak bisa seperti mereka. Entahlah, aku juga tak tahu mengapa. Mereka selalu memanggilku aneh dan pendiam.

Aku meninggalkan kursi yang tadi kududuki saat mereka semua masih larut dalam euphoria kemenangan. Mengabaikanku yang dari tadi ada disamping mereka, ya, mereka bahkan tak pernah sadar aku ada di dekat mereka. Aku akan pergi lebih dulu sebelum orang lain akan menyadari aku ada di sana.

Aku berjalan meninggalkan gymnasium menuju perpustakaan dan menghilang di antara deretan rak buku-buku tua yang ada di sana. Ya, aku lebih senang di sini, perpustakaan yang tenang. Bukan gymnasium yang ramai. Aku lebih suka bau buku-buku tua, bukan teriakan euphoria kemenangan.

Aku mulai mengeluarkan buku sketsa, sebuah pensil, dan kacamata dari dalam tas. Mulai menggoreskan pensil ke permukaan kertas, membentuk sebuah gambar desain pakaian. Beberapa menit kemudian aku sudah menyelesaikan satu desain, tapi aku harus mengumpulkan beberapa lagi untuk tugas yang diberikan dosen. Mungkin ini akan terlihat sulit menurut kalian, tapi ketika aku berada di ruangan yang tenang, ini akan memudahkan aku mencari sebuah ide.

Ya! Ternyata kau di sini. Aigo, nona Song bisa-bisanya kau menggambar di tempat sempit seperti ini.”

Kau tiba-tiba berdiri dihadapanku, membuatku sedikit terkejut. Tempat ini kukira adalah tempat paling rahasia. Tak semua orang senang datang ke sini. Bagian paling belakang dari perpustakaan, tempat dimana rak-rak buku usang yang kertasnya sudah menguning diletakkan. Ya, tempat ini jarang didatangi oleh pengunjung perpustakaan, mereka lebih suka membaca buku baru. Tapi kau memang selalu bisa menemukanku dimanapun aku bersembunyi.

“Lain kali kau harus tenang jika berkunjung ke perpustakaan, atau nyonya Yoon akan menendangmu keluar,” jawabku. Lalu kau mengangguk mengerti. Nyonya Yoon adalah penjaga perpustakaan universitas kami, ia adalah wanita yang disiplin. Dimanapun kau berada tempat bernama perpustakaan akan menegakkan peraturan tak boleh berisik karena itu akan sangat mengganggu pengunjung yang lain.

Kau menatapku penasaran. Lalu ikut menyandarkan punggungmu di rak yang berada di depanku. “Kau sedang apa?” bisikmu, aku hanya menggeser buku sketsaku dan kau kembali mengangguk mengerti.

Aku dan kau sama-sama terlarut dalam diam. Tak ada satu suara yang keluar dari bibirmu atau milikku, yang terdengar hanya suara goresan pensilku ke atas permukaan kertas gambar. Kulihat sekilas kau mengeluarkan ponselmu, mulai memainkan benda itu untuk membunuh rasa bosan.

Ya! Alice, kau lupa sudah berjanji sesuatu padaku?”

Aku mengalihkan pandanganku kepadamu. Aku merasa tak pernah berjanji apapun.

“Kau tak ingat?” aku menggeleng pelan, terlihat raut kecewa di wajahmu. “Kau bilang kau akan mentraktirku pizza jika aku berhasil menang dalam pertandingan kali ini.”

“Aku pernah berkata seperti itu?”

Ya! Jangan pura-pura lupa. Ah, bagaimana kalau sekarang? Kau tahu, aku sudah sangat lapar. Pertandingan tadi membuatku kehilangan banyak energy. Kajja!”

Tiba-tiba saja kau menarik pergelangan tanganku. Memaksaku untuk meninggalkan tempat dimana kau dan aku duduk saat ini. Seperti ada kehangatan yang menjalar ketika tanganmu memegang tanganku. Rasanya perutku selalu tergelitik saat kau melakukan hal-hal yang tak terduga seperti ini. Dan aku tak pernah bisa untuk menolak semua keinginanmu.

***

Aku memperhatikanmu menggigit pizza-pizza itu dengan lahapnya. Kau sudah menghabiskan setengah pan besar pizza, sedangkan aku sepotong pun masih menyisakan pinggiran rotinya yang tak pernah aku sukai. Lalu aku hanya tersenyum melihat tingkahmu yang seperti anak kecil itu. Pada akhirnya kau yang membayar ini semua. Kau bilang, kali ini aku bebas dan harus membiarkanmu membayarnya. Senyummu mengembang saat kau bilang ini perayaan kemenanganmu. Lagipula saat kupikir sekali lagi, aku tak pernah berjanji untuk mentraktirmu makan pizza.

“Kau tak mau makan yang ini?” tanyamu menunjuk pinggiran roti yang tersisa di piringku. Tanpa menunggu jawabanku kau mengambilnya dan melahapnya. Oh, pemuda ini benar-benar kelaparan.

Kau mengambil sepotong pizza terakhir dan meletakkannya di piringku. Saat kubilang aku sudah kenyang ketika melihatmu makan semua pizza itu, kau malah memaksaku untuk menghabiskan potongan terakhir. Aku menggeleng tak mau, tapi dengan sigap kau malah menyuapkannya pada mulutku. Entah kenapa hanya dengan begini saja jantungku berdegup tidak karuan. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan di perutku.

Kau tertawa kecil ketika melihatku.

“Apa yang kau tertawakan, hm?”

“Ya Alice, kau selalu makan dengan mulut berantakan. Kebiasaanmu yang satu itu tak pernah kau ubah sejak kecil, ya,” kau mengambil tissue, dan membiarkan tanganmu mengusap ujung bibirku yang dipenuhi dengan saus pizza.

Kali ini jantungku berdegup dua kali lebih gila. Pemuda dihadapanku ini adalah sahabatku sejak kecil. Kami tahu kebiasaan masing-masing. Tapi rasanya benar-benar berbeda, entah sejak kapan hal seperti ini terjadi padaku. Entah sejak kapan aku mulai memandang sahabatku lebih.

Aku sudah berusaha membuat jarak, tak membiarkanmu terlalu dekat denganku lagi. Karena aku tahu, ketika bersama-sama aku semakin salah mengartikan segala tindakanmu padaku. Semuanya terasa lebih, padahal aku tahu kami selamanya akan jadi sahabat. Kadang itu terasa menyakitkan, menyadari bahwa aku tak bisa berharap lebih padamu.

***

Aku hanya memperhatikanmu berlari dan mendribble bola basket itu. Sesekali kau mencoba melakukan jump shot berusaha memasukkan bola basket yang kau bawa ke dalam ring. Kau tampak bersemangat, aku tahu ada sesuatu yang berbeda pada dirimu hari ini.

Yang kutahu dari kecil, kau adalah laki-laki dingin dan sedikit jaim. Kau mempertahankan image itu hingga sekarang. Tapi kau tak pernah bisa melakukannya dihadapanku, di depanku semuanya terlihat berbeda. Kau bukan lagi pria dingin yang tak peduli dan perhatian dengan apa yang orang lain lakukan, kau menghilangkan itu semua di depanku. Bahkan kau adalah orang pertama yang protes ketika beberapa hari yang lalu aku memotong rambut panjangku menjadi sebahu. Dengan cerewet kau mengkritik aku terlihat lebih gemuk daripada saat rambutku masih panjang. Dan saat itu aku hanya tertawa menerima semua kritikan yang kau lontarkan, ya, aku tahu itu hanya caramu mencari perhatian.

Seperti yang aku bilang, hari ini kau terlihat sangat berbeda. Kulihat beberapa kali kau menyunggingkan senyuman manis, seperti sedang memikirkan sesuatu yang menyenangkan. Kau juga tampak lebih antusias dari hari-hari sebelumnya, sepanjang jam makan siang kau terus mengumbar senyum yang jarang kau tampakkan. Jantungku berdegup abnormal lagi ketika kau melakukannya. Oh, lain kali aku tak mau melihatnya lama-lama lagi, ini akan membunuhku pelan-pelan. Aku harus mengakui kalau aku jatuh cinta karena senyumanmu.

“Alice,” katamu, tahu-tahu kau sudah duduk di sampingku.

Hm?”

“Kau serius sekali sih! Kukira mahasiswa di departemen seni rupa tak akan seserius ini, membawa buku gambar kemana-mana, dan membuat gambar,” kau sedikit seperti sedang protes kali ini.

“Aku tak mau menyiakan ide yang bisa muncul kapan saja dan dimana saja.”

Aku akhirnya mengalihkan pandanganku padamu. Kau tampak tertawa geli. Kali ini aku merasa sangat gugup, karena kau duduk terlalu dekat denganku dan membuat perasaanku bergejolak. Oh Tuhan, aku tak biasanya seperti ini. Aku biasa berdekatan denganmu, dan tak akan terjadi apapun. Tapi kali ini berbeda.

Aku menggeser dudukku, membuat jarak.

“Kenapa kau duduk jauh-jauh dariku?”

Kau bau keringat, stinky boy!”

Kali ini tawamu pecah. Kau kembali menggeser badanmu mendekatiku. Tangan kokohmu lalu mengacak-acak puncak kepalaku dan membuat berantakan rambutku. Kebiasaanmu ketika kau sebal denganku. Aku terlalu hafal dengan apa saja tentangmu. Aku terlalu banyak tahu, karena kita sangat dekat sampai aku tak mengerti mana batasnya. Entah ini perhatian seorang sahabat, atau yang lebih. Aku tak akan tahu batasnya, jika aku tak membuat jarak antara kau dan aku.

“Alice, kau tahu bagaimana rasanya jatuh cinta? Ternyata menyenangkan, ya?”

Aku tersentak, menghentikan gerakan pensilku. Dadaku terasa sesak sekarang. Entah kenapa aku merasa tak ada lagi oksigen yang tersisa untukku. Rasanya ada beberapa cubitan di bagian ulu hatiku. Aku hanya memandang hambar buku sketsaku yang sudah terisi gambar setengah jadi. Sudah aku duga sebelumnya. Ya, kau anak laki-laki normal yang mungkin menyukai seorang gadis. Dan itu pasti bukanlah aku.

***

“Kau mau kemana, Alice?” tanyamu melihatku memasukkan buku catatanku ke dalam tas ketika kita sedang menghabiskan jam istirahat di cafetaria universitas. Kau melakukannya dengan mulut penuh sandwich isi ham kesukaanmu.

Menemui Mr. Kim.”

Untuk apa? Kau punya masalah saat kuliah?”

Tidak, Kris. Kau lanjutkan makanmu dulu.”

“Kau terlihat sedikit aneh, Alice,” gumammu. Aku tak memperhatikan apa yang kau katakan lagi.

“Aku pergi, bye~,” kataku sedikit berlari. Ya, aku tak mau Mr. Kim marah karena aku terlambat pergi ke kantornya. Dia adalah professor yang paling mengutamakan ketepatan waktu di departemen seni rupa.

Aku menemui Mr. Kim, hampir tiga puluh menit kami berbincang-bincang mengenai rencana transferku untuk sebuah program beasiswa. Aku tak pernah mengatakan ini padamu. Sudah aku bilang, kan, aku akan membuat jarak denganmu. Dan ini adalah langkah awal. Mungkin dengan membuat jarak yang jauh seperti ini, aku akan lebih bisa menerima jika kau pada akhirnya menemukan gadismu itu suatu saat nanti. Mungkin dengan membuat jarak seperti ini pelan-pelan aku akan kembali jadi sahabatmu seperti dulu, melupakan semua perasaan yang pernah tumbuh saat kita tak punya jarak.

Aku akan benar-benar menandatangani surat keputusan yang sekarang ada di hadapanku. Aku tak akan pernah bercerita kepadamu, atau kau tak akan pernah membiarkan aku pergi. Ya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan memberitahumu pada saat yang tepat. Saat dimana kau bisa melepas sahabatmu mengejar cita-cita kecilnya untuk menjadi desainer. Saat dimana kau sudah bahagia dengan gadis yang beruntung itu. Membuat jarak kecil dengan pelan-pelan.

Asal kau tahu aku sedikit menjauhimu karena aku punya alasan. Agar kau terbiasa berjarak denganku.

***

 

Sekarang aku benar-benar membuat jarak. Jauh sekali hingga ribuan kilometer antara Seoul dan London. Hari ini London 18 derajat, dan sekarang sedang turun hujan di akhir musim panas. Sebenarnya hari ini Jane mengajakku pergi ke summer sale di Oxford Street. Tapi hujan turun lebih awal, padahal ramalan cuaca yang kulihat di televisi mengatakan hari ini akan cerah. Jane adalah gadis pertama yang menjadi temanku, kami diterima di departemen yang sama di London College of Fashion, University of the Arts London. Ia gadis yang sangat ramah. Rambutnya pirang panjang dan iris matanya yang kebiruan, ia adalah keturunan orang Inggris asli.

Kami mengurungkan niat untuk pergi keluar rumah hari ini. Akhirnya setengah harian aku hanya tiduran, kadang mencoba mencorat-coret buku sketsa membuat desain untuk persiapan Fashion Week di pertengahan bulan September nanti.

Ya, di sini aku sedikit bisa meminimalisir rasaku padamu. Terkadang kau masih mengirimkan email –yang kau akan marah jika aku lama membalasnya. Atau sesekali menelponku di saat sebelum kau pergi tidur dan di London aku sedang sarapan pagi. Kau selalu menceritakan apa saja yang terjadi pada hari-harimu, kuliah ekonomi mikro dengan Professor Jung yang membosankan, menang dalam pertandingan basket untuk yang kesekian kalinya, dan banyak lagi. Tapi tak pernah kau ceritakan tentang gadis yang sedang dekat denganmu.

Dan di akhir sambungan kau selalu mengatakan, “aku merindukanmu, Alice. Cepatlah kembali.”

Kata itu seolah menyihirku. Kau tahu, Kris, kau seperti sedang berusaha membutakanku kembali. Kau sedang berusaha menghapus batas yang aku buat. Kau tak pernah tahu rasa perihnya menahan perasaan menjaga jarak agar aku tak pernah melewati batas itu. Aku masih mencintaimu, jujur dari lubuk hatiku.

Aku sudah bilang pada Jane, bahwa aku tak bisa pergi ke rumahnya hari ini. Desain-desain pakaian musim gugur harus segera aku selesaikan minggu ini juga. London College of Fashion ikut dalam project Fashion Week, dan ini adalah salah satu penilaian tambahan untuk nilai akhir semester kali ini. London Fashion Week adalah event besar dimana semua brand besar dari desainer-desainer terkenal di Inggris merilis dan memamerkan karya terbaru mereka. Event ini diadakan dua kali dalam setahun, London Fashion Week in spring yang diadakan pada bulan Februari dan London Fashion Week in autumn di bulan September.

Aku mengerutkan dahiku, kepalaku terasa sangat berat. Membuat desain baju musim gugur dan musim dingin sangat sulit ternyata. Apalagi target pasar kali ini ada para remaja. Aku memijat pelipis kepalaku. Bagaimana membuat semua coat bisa terlihat chic dan tidak terlihat tua saat dipakai kalangan remaja. Ini adalah tantangannya, begitu kata Mrs. Lake, salah satu dosenku.

Aku berpikir keras sekali untuk project Fashion Week kali ini. Membuat beberapa desain, tapi berujung dengan meremas mereka semua dan membuangnya ke tempat sampah. Kukira aku tak cukup membuat desain yang menjual, yang terlihat chic seperti apa yang diinginkan Mrs. Lake dan para remaja. Kadang aku bersyukur saat sedang banyak project seperti kali ini aku akan melupakanmu sejenak. Itu akan sangat menguntungkanku, meskipun kadang aku merindukanmu sampai membuat sesak dadaku.

Aku masih berkutat dengan desain-desain yang bertebaran di meja belajarku. Oh God, serius ini sangat sulit, just give me a new concept, one enough. Tahu-tahu ada yang memencet bel flat kecilku, dan membuyarkan semua yang ada di otakku. Aku berteriak frustasi. Sebal.

Dengan malas aku menuju pintu depan flat kecilku, tanpa melihat siapa yang berada di depan pintu lewat intercom seperti yang biasa aku lakukan. Aku biasa melakukannya karena seorang gadis asing yang tinggal di London sendiri apa salahnya mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi karena sebal, jadi aku ingin segera memaki siapapun orang yang sudah menggangguku. Aku membuka pintu dan selajutnya aku merasa seperti jantungku sudah lepas dari tempatnya. Niatku untuk marah hilang entah kemana.

Kau berdiri dengan senyuman lebar di depan pintu rumahku. Kau ada di hadapanku. Bahkan liburan musim panas di Korea hampir berakhir. Katakan aku hanya bermimpi. Please slap me, anyone.

Jantungku berdegup gila-gilaan. “Alice, annyeong, apa kabar?”

Oh, please, ini benar-benar kau. Aku ingin membuat jarak yang jauh darimu tapi malah kau mendatangiku. Apa yang sebenarnya kau inginkan, Kris Wu?

***

Hari selanjutnya pagi-pagi kau sudah berdiri di depan pintu flat kecilku. Dan senyuman itu tak pernah lepas darimu. Kemarin kau bercerita panjang lebar bagaimana kau bisa sampai di London. Kau bilang karena kau merindukanku jadi kau memutuskan untuk menghabiskan akhir liburan musim panas dengan pergi ke London. Kau tak tahu bagaimana rasanya hatiku ketika kau tiba-tiba berdiri di depan pintu dengan alasan rindu. Rasanya percuma dua tahun membuat jarak denganmu, namun pada akhirnya kau mengikisnya juga. Bukan aku tidak senang, aku sangat senang malah. Aku bisa melihatmu dari dekat lagi. Melihat senyummu dari dekat yang membuat jantungku berdegup tak karuan seperti dulu. Aku merindukan semua itu.

Kau begitu senang. Katamu kau ingin berkeliling London denganku, menaiki London Eye bersamaku tak peduli aku sedang sibuk dengan Fashion Week atau apapun. Seperti sudah terikat dan tak bisa dilepas, lagi-lagi aku tak bisa menolak permintaanmu.

Dan kau menepatinya kali ini. Kau dan aku sedang duduk di salah satu bangku kayu dekat sebuah pohon maple besar di tengah Hyde Park. Dua puluh derajat suhu pagi ini, masih ada sisa-sisa gerimis tadi malam yang membasahi seluruh yang ada di Hyde Park. Kau bilang kau ingin menikmati pagi di taman terluas di London, lalu kau menarikku beranjak dari flat kecilku setelah kau menghabiskan sarapan keduamu. Kau mulai membicarakan banyak hal baru yang kau temui di London. Menurutmu English breakfast tidak cukup mengenyangkan, hanya beberapa potong roti, sosis panggang, telur dadar, dan kopi. Jadi, tadi dengan lahapnya kau menghabiskan sereal dan creamy carrot soup yang baru saja kuhangatkan. Kau juga tidak menyukai makan malammu, fish and chips.

Aku tertawa kecil. Kau hanya belum terbiasa, akupun dulu sepertimu. Aku awalnya tak terlalu suka English breakfast juga fish and chips. Lalu kau memintaku untuk menjadi tour guide­-mu selama kau ada di London. Ya, aku tak bisa menolak, sebagai sahabat.

“Aku mau kau menemaniku melihat Big Ben, pergi ke Trafalgar Square, Museum Madame Tussauds, lalu kita ke Buckingham Palace. Oh, kudengar mereka mengadakan upacara pergantian penjaga Istana setiap pukul 11.30. Dan, of course, London Eye! Alice, kita harus ke sana dan kau harus menemaniku keliling London,” cengiran lebarmu membuatku ingin tersenyum. Kau seperti anak kecil jika sedang bersemangat melakukan sesuatu. Tak pernah berubah. Masih sama.

Pukul 15.40 London sudah agak gelap. Dari kejauhan terlihat roda raksasa tepat di depanku. London Eye. Selama dua tahun aku tak pernah naik ke sana. Aku takut ketinggian, apalagi kincir raksasa London Eye adalah kincir tertinggi di Eropa. Kulihat kau tersenyum tipis. Hari ini kau dan aku sudah menghabiskan waktu seharian untuk bersama. Membicarakan banyak hal tapi lagi-lagi topik yang itu tak pernah kau singgung. Kau tak pernah bercerita tentang seorang gadis yang kau sukai. Kau hanya pernah bilang kau sedang jatuh cinta beberapa tahun yang lalu. Kau membuatku penasaran setengah mati siapa gadis beruntung itu. Tapi sampai sekarang aku juga tak berani menanyakannya. Sedikit takut hatiku terluka.

Setelah mendapatkan tiket, kau berjalan mendahuluiku menuju capsule yang akan membawamu ke atas. Beruntung ini masih bulan Agustus yang sedang off season jadi tak perlu membuang 300 poundsterling hanya untuk naik London Eye. Kau tersenyum melihat wajah pucatku saat tiba tepat di depan capsule. Kau menggenggam jemariku erat. Rasanya ada aliran hangat dari tanganmu menuju seluruh tubuhku. Jantungku selalu berdegup dua kali lebih hebat. Ternyata aku masih merasakan hal yang sama. Rasa itu tak benar-benar hilang setelah dua tahun membuat jarak.

Are you okay? Tenang, aku selalu di sampingmu,” katamu.

Aku mengangguk dan sekarang kami benar-benar ada di dalam salah satu capsule London Eye. Aku menarik napas dalam. Keringat dingin mulai mengucur dari dahiku. Ada yang berbeda, kau masih menggenggam tanganku erat. Kau belum melepasnya sampai kincir raksasa ini mulai bergerak. Kau semakin mengeratkan genggaman tanganmu.

Jantungku mulai berdegup menggila lagi. Ini akan jadi tiga puluh menit paling panjang dalam hidupku di sebuah capsule London Eye. Kau tersenyum berusaha membuatku nyaman.

“Alice,” kau pertama yang membuka mulut.

“Hm?” dan tanganmu masih menggenggam erat punyaku.

“Indah ya kota London ketika dilihat dari atas London Eye?” kau menatap lurus hamparan pemandangan sore kota London yang sudah dipenuhi gemerlap lampu.

Aku hanya mengangguk setuju. Ya, kota London sangat indah dari ketinggian. Tapi aku masih sedikit ngeri dengan tempat tinggi seperti ini apalagi capsulenya ketika sedikit bergerak. Aku juga sibuk mengontrol debaran gila di dalam dadaku. Aku diam-diam berharap waktu berhenti sekarang, dimana jarak yang kubuat tak lagi kuhiraukan. Berharap kau tahu perasaanku yang ku simpan rapi bertahun-tahun untukmu sekarang juga. Can I?

“Kau tahu Alice, dulu aku pernah bermimpi pergi ke London dan pergi ke London Eye kincir raksasa yang sangat terkenal itu. Aku juga berharap bisa naik ke London Eye bersama orang yang sangat aku sayangi dan cintai suatu saat nanti.”

Aku mengalihkan pandanganku, mata kami bertemu. Lantas kau menatapku dalam. Apa arti semua ini?

“Sekarang aku bisa mewujudkannya, Alice.”

“Apa maksudmu, Kris?”

“Aku mencintaimu.”

Sekarang aku bagai tersetrum ribuan volt listrik. Jantungku berdebar berkali-kali lebih gila. Aku tak percaya. Rasanya otakku mencerna kata terakhirmu dengan sangat lambat. Kakiku rasanya tak kuat menahanku untuk tetap berdiri. Sungguh, aku serasa mati rasa..

“Aku tahu ini sangat terlambat, tapi aku baru punya keberanian hari ini, Alice. Maafkan aku jika aku selama ini mencintaimu diam-diam. Entah sejak kapan aku mulai jatuh cinta padamu dan menganggapmu lebih dari sahabat. Aku sangat mencintaimu, Alice.”

Aku berusaha mati-matian membuat jarak agar batas antara kita jelas selama ini, dan kau menghapus semuanya dengan mudah. Jadi selama ini kau..oh Kris, kau adalah laki-laki paling jahat sedunia.

Aku masih belum lepas dari pandanganmu. Pandanganmu mulai melembut. Debaran ini benar-benar membuatku gila. Kupu-kupu di perutku mulai sangat menggelitik. Aku tersenyum tipis dan berbisik.

Nado saranghae.”

Aku merasa kau menarik tubuhku mendekat, tiba-tiba saja kau memelukku dari belakang. Aku tak bisa lagi mengontrol debaran jantungku.

Kau jahat!”

“Tapi aku tidak terlambat, kan?” Aku menggeleng pelan.

“Mulai saat ini berjanjilah jangan pernah jauh dariku, arraseo?”

Aku mengangguk, senyummu mengembang sempurna. Manis sekali. Bahkan aku tak pernah melihat senyumanmu yang semanis itu. Mulai sekarang aku tak akan membuat jarak kita menjauh, aku akan membuatnya lebih dekat. Tenang saja, kau belum terlambat, Kris.

***

THE END

***

Hello everyone, haha new ff again. Ini request dari dongsaeng saya KucingGendut :D akhirnya lho ya saya bisa ngerjain ini dengan safe and sound tepat jam 2 pagi😀 Ya ini adalah hadiah kecil dari saya buat dedek KucingGendut :* Semoga nggak mengecewakan, dan maaf kalo nggak sesuai harapan :)

Ini sebenarnya sudah lama dibuat dalam bentuk drabble sih. Ide cerita pas nonton SHINee Wonderful Day pas bagian Minho ke London Eye, trs saya baca novel punya dedek KucingGendut juga judulnya London. Nah dari situ saya kepikiran drabble dengan castnya Kris. Setelah itu kepikiran lagi kalo cuma jadi drabble sayang banget, akhirnya jadi oneshot yang gagal seperti ini.

Ya pokoknya gitu lah, maaf untuk typo yang masih bertebaran dimana-mana, saran dan kritik sangat diterima. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca, jangan lupa komen ya manteman :)

2 thoughts on “Distance

  1. Annyeong🙂
    Hai my dear eonni, do you know aku lg dimana waktu buka twitter terus nemuin link blog ini yg nyecein namaku plus kata” fresh from the oven?
    .
    Di depan toko Roti bakar!
    .
    And I swear reaksi pertama yg tak keluarin cuma teriakan “akhhhh” plus senyuman gaje waktu layar hpku nampilin gambar poster FF ini dan wajah si oppa tentunya.
    .
    Dan terkutuknya lagi, org” pada ngelihatin, my mom ask me what’s happened dg raut mukany yg khawatir bahkan tukang rotinya nanya knp mbak? Aigo! That’s ur responsibility eon, gara” ini aku diomelin ibuk gara” bikin malu!
    .
    Oke udahan curhatnya, FF ini daebak. Aku bs bayangin kerennya MyKris wktu dribble bola. Aku pernah lihat beritany dia waktu ikut entah reality show apa yg waktu dia jg main basket. *Oke, si oppa selalu berhasil bikin aku terpesona.
    And u did great job deskripsiin london. I love it.
    Dan romantisnya kris jg bikin aku meleleh. Cool tapi manis. omooo >_<
    Tp mianhae eon, aku ndak ngerti alice song itu siapa. huhuhu T.T
    .
    overall thank you very much for making me this FF. I love this. Jeongmal saranghae :*
    .
    Maybe i will miss you alot because of our separated class. Aku bakal ndak punya teman buat bahas korea lagi, bahas novel" baru. It a little bit hurt😥
    Pdhl aku baru suka sm exo, pgn bgt diajarin bedain mana baekhyun mana chanyeol, mana chen, lay, xiumin. hikssss

    • This my little gift and you love it, I’m very thankful :* Makasih juga udah request, yang udah jadi salah satu pecutku untuk comeback setelah laptopku kecelakaan hehe
      Sebenarnya aku juga sangat kehilangan semua teman fangirlingku karena aku mencar sendiri ke kelas A. Ga kebayang aku bakal jadi crazy fangirl sendiri di sana😀 Kapanpun kamu boleh main ke kelas A yuk kita fangirlingan EXO bareng dan bahas novel2 baru😀 Sekarang aku jadi obsesi lho bikin cerita semacam seri STPC gitu hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s