Silence

Poster8

SILENCE

CHIELICIOUS © 2014

Main Cast:

  • Kim Jong Dae (EXO Chen)
  • Shin Hye Jeong (AOA Hyejeong)

Rating: PG-rated

Genre: Romance

Length: Oneshot, 2.623 words

Summary: Saat orang yang kamu cintai menyakitimu, kamu akan merasa kesakitan yang dalam tapi bukan berarti kamu akan membencinya. Jangan membalasnya dengan hal sama yang akan menyakitin dia, cobalah memaafkannya lalu jadilah karakter yang kuat agar dia tau kamu tulus mencintai dia.

No bashing. No Plagiarism. Don’t be silent reader.

 

***

Bising musik yang sangat keras memenuhi ruangan gelap, hanya ada lampu yang tak terlalu terang berputar-putar mengikuti alunan musik. Seorang disk jockey wanita berdiri di pojok panggung ikut menari atas musik yang ia buat dengan alat pemutar di depannya. Di lantai dansa, tak peduli laki-laki atau perempuan ikut menari, seolah lupa dengan sekitarnya. Tempat gelap yang penuh dengan musik ini tak pernah sepi setiap harinya. Mereka semua selalu berpesta setiap hari.

Dentuman musik masih terdengar dominan. Jongdae hanya berdiri di depan meja bar panjang, memperhatikan setiap pengunjung yang datang di tempat itu. Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia selalu berpikir, apa yang sebenarnya mereka inginkan setiap kali datang ke sini. Berpesta sepanjang malam hingga subuh, atau minum sampai tak sadarkan diri, apa lagi yang mereka cari? Entahlah, Jongdae tak pernah tahu jawabannya.

Ruangan itu semakin bising dengan bertambahnya teriakan pengunjung saat sang disk jockey mempercepat tempo lagu yang ia putar. Sebenarnya Jongdae merasa sesak berada di sini. Bau minuman beralkohol dimana-mana, asap rokok, teriakan-teriakan, dan racauan orang-orang yang sedang mabuk. Ia hanya bisa menutup mata dan telinganya untuk tetap bertahan di tempat ini. Ya, dengan kata lain terpaksa. Tak ada pekerjaan lain selain di sini.

Jongdaeya, seperti biasa screwdriver (campuran vodka dan orange juice),” kata seseorang yang baru saja datang. Ia duduk di depan meja bar favoritnya.

Jongdae hanya mengangguk sambil menyunggingkan senyuman. Itu yang biasa ia lakukan setiap kali ada pengunjung yang datang dan memesan sesuatu padanya. Ia harus tetap ramah meskipun sedang tidak mood sekalipun. Ia mulai meracik minuman yang dipesan, menuangkan vodka ke dalam shaker dan menambahkan orange juice ke dalamnya.

“Bagaimana kabarmu hari ini, Hyejeong-ah?” ujarnya memulai pembicaraan dengan seseorang yang memesan screwdriver barusan.

Gadis itu hanya tersenyum simpul, lalu mengaduk minuman di depannya yang baru saja disajikan oleh Jongdae. “Tak lebih baik dari kemarin.”

“Ah, kau tak ikut turun ke sana?” tanya pemuda itu lagi menunjuk kumpulan orang yang sedang menari mengikuti dentuman keras musik.

Si gadis hanya menggeleng malas. “Tidak, mereka semua memuakkan. Aku lebih senang berada di sini. Ngobrol denganmu membuatku lebih nyaman daripada aku harus bertingkah seperti orang gila di sana.”

Jongdae memandang gadis di depannya yang sedang sibuk dengan smartphone yang ada di tangannya. Berkali-kali ia mengumpat kesal dengan beberapa pesan dan panggilan yang masuk. Ia sangat mengenal siapa gadis yang ada di depannya. Shin Hyejeong, mulai berkunjung ke bar dimana ia bekerja sejak setahun yang lalu. Mereka menjadi dekat sejak gadis itu setidaknya seminggu dua kali mengunjungi bar tempatnya bekerja.

Gadis itu sering berbagi cerita dengannya. Jongdae dengan senang hati menemaninya mengobrol. Ya, seorang bartender tidak hanya harus pintar meracik minuman, tapi juga harus ramah dan supel. Jongdae dan Hyejeong berteman baik dari sana.

“Kenapa tidak diangkat?” Jongdae mulai melihat Hyejeong kesal dengan sebuah panggilan masuk yang sudah berkali-kali ia tolak.

“Tidak,” lalu gadis itu dengan kasar melepas baterai smartphonenya lalu memasukkannya pada tasnya. “Aish, kau lihat sendiri dia begitu menyebalkan!”

“Kau bertengkar lagi dengan pacarmu?”

“Aku sudah memutuskannya, Jongdae-ya. Kami sudah tak ada hubungan apa-apa lagi. Kau sudah tahu kan, aku tak pernah serius dengan mereka semua, dengannya sekalipun. Kau juga tahu, aku hanya main-main,” kata gadis itu gamblang.

“Mungkin ia memang benar-benar mencintaimu, Hyejeong-ah.”

Gadis itu tertawa kecil, “Kim Jongdae, aku tak akan pernah percaya lagi dengan cinta mereka. Laki-laki, mereka semua busuk.”

“Mereka semua? Berarti aku termasuk salah satu dari mereka semua, begitu, ya?” canda Jongdae.

Hyejeong kembali tertawa, “mungkin juga. Siapa yang tahu?”

Dentuman musik di lantai dansa tak mengurangi volumenya. Tapi dua orang yang ada di meja bar panjang itu malah semakin asyik mengobrol. Hyejeong menegak screwdriver terakhirnya. Lalu gadis itu memesan minuman yang sama sekali lagi. Jongdae memperhatikan setiap lekuk wajah gadis di depannya itu. Entah sejak kapan ia mulai tertarik dengannya. Rambut panjang, dan paras cantiknya selalu menyita perhatian Jongdae. Setiap memandangnya, Jongdae akan merasakan getaran aneh dalam dadanya.

Ia ingat pertama kali Hyejeong datang ke bar tempatnya bekerja dengan wajah frustasi. Gadis itu bercerita ia tak tahan lagi di rumah sejak kedua orang tuanya sering bertengkar setiap malam, mempermasalahkan sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Ia semakin sering mengunjungi bar ini ketika ayahnya mulai berani memukul dan menyakiti ibunya. Ia sering minum sampai pagi, meracau entah apa saja yang ia katakan. Jongdae tidak terlalu banyak tahu.

Setelah orang tua gadis itu bercerai, Jongdae sering melihat Hyejeong datang ke bar dengan laki-laki yang berbeda setiap harinya. Jongdae hanya bisa diam, memendam perasaannya. Sebenarnya ia peduli, tapi ia tak bisa berbuat apapun. Ia hanya bisa mengagumi Hyejeong dalam diam, karena ia tahu ia tak akan mungkin bisa menggapainya sekalipun ia berusaha sekuat tenaga.

Hyejeongah?”

Hm?”

Jongdae berpikir sejenak, takut kata-katanya yang satu ini akan menyakiti hati gadis itu. “Tak pernahkah kau berpikir kau akan jatuh cinta dan serius mencintai seseorang?”

“Jatuh cinta?” gadis itu tertawa kecil, sedikit mengejek. “Sudah kubilang aku tak percaya cinta. Lagipula semua laki-laki brengsek, mereka semua pecundang yang hanya bisa menyakiti hati para wanita. Ayahku contohnya.”

“Mungkin tak ada salahnya jika kau sekali saja mencoba mencintai seseorang dengan tulus dan serius,” ujar Jongdae, tetap memperhatikan gadis berambut panjang di depannya. Hari ini entah mengapa Jongdae merasa Hyejeong berbeda dengan biasanya. Semakin cantik hanya dengan make up sederhanya yang tak mencolok, juga baju hitam dengan rok di atas lulut. Gadis itu nampak seperti bidadari.

“Terima kasih atas saranmu, Jongdae-ya. Mungkin aku akan mempertimbangkannya jika ada laki-laki yang seperti itu juga. Yang tulus mencintai, tak menyakiti hati pasangannya, tapi kurasa hanya ada satu persen di dunia. Dan sisanya, kau bisa lihat sendiri.”

Jongdae hanya menghela napas dalam mendengar opini si gadis. Gadis ini benar-benar tak percaya cinta dan laki-laki. Ia tahu bagaimana sakitnya disakiti, tapi bukan berarti ia juga harus membalasnya dengan menyakiti juga, bukan?

“Hyejeong-ah, saat orang yang kau cintai menyakitimu, kau akan merasa kesakitan yang dalam. Aku tahu itu. Aku tahu luka itu sulit disembuhkan, tapi bukan berarti kau akan membencinya. Jangan membalasnya dengan hal sama yang akan menyakitin dia, cobalah memaafkannya lalu jadilah karakter yang kuat agar dia tau kamu tulus.”

Hyejeong menegak langsung setegah gelas minumannya, “terserah apa yang kau katakan, Kim Jongdae.”

Gadis ini memang sedikit keras kepala. Ini adalah salah satu alasan kenapa Jongdae tetap diam dengan perasaannya. Menyimpan sendiri perasaan cintanya pada Hyejeong. Ya, karena ia tahu Hyejeong tak pernah percaya sebuah cinta yang benar-benar tulus dari makhluk bernama laki-laki. Selain itu tak pernah ada keberanian yang cukup untuk mengungkapkannya. Setiap kali ia melihat Hyejeong datang ke bar dengan laki-laki yang berbeda, ia selalu merasa tak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Ia merasa tak punya banyak kepercayaan diri untuk menyaingi laki-laki teman kencan Hyejeong. Ia juga tidak cukup kaya untuk menjadi teman kencan gadis cantik seperti Hyejeong. Diam adalah solusi terbaik menurutnya.

Selanjutnya ia membiarkan gadis itu terdiam sendiri, sedangkan dirinya kembali bekerja meracik minuman pesanan pengunjung yang baru datang dan memesan. Beberapa saat kemudian ia mendengar teriakan dari arah tempat duduk Hyejeong yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Seorang laki-laki tinggi dengan rambut blonde mencoba menariknya paksa meninggalkan tempat duduknya. Ia hanya bisa melihat. Pemandangan seperti ini sudah biasa ia lihat, dan ia tak berhak mencampuri urusan mereka sekalipun Hyejeong adalah temannya.

Hyejeong masih berontak, tak mau ikut dengan laki-laki tinggi itu. Ia berusaha melepaskan cengkraman tangan laki-laki itu yang semakin kuat menyakiti pergelangan tangannya. Lagi-lagi Jongdae hanya bisa diam dan melihat tanpa bisa melakukan apapun.

Jongdae melihat Hyejeong dan –mantan- pacarnya sedang beradu pendapat. Mereka bertengkar mempertahankan pendapat masing-masing. Si laki-laki tinggi itu tampak meminta penjelasan kepada Hyejeong tentang hubungan mereka, kenapa tiba-tiba Hyejeong memutuskannya, kenapa ia tak menjawab semua panggilan teleponnya dan tak membalas pesan yang ia kirimkan. Hyejeong yang tak mau ambil pusing, gadis itu menolak untuk menjawab. Si laki-laki tinggi itu nampak kesal, dan terus memaksa Hyejeong menjawabnya.

Adu mulut terus di dengar oleh Jongdae ditengah kerasnya dentuman musik yang diputar keras-keras di ruangan itu. Ia mengkhawatirkan Hyejeong, sangat, tapi tak bisa melakukan apapun. Ia menggerakkan kakinya, hendak melerai antara Hyejeong dan laki-laki tinggi itu. Tapi sesuatu menghentikan langkahnya. Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus gadis itu. Sebuah tamparan dari tangan si laki-laki tinggi yang tadi menarik paksa tangan Hyejeong. Setelah itu ia melihat laki-laki tinggi itu meninggalkan Hyejeong begitu saja.

Ya, lagi-lagi, untuk yang ke sekian kalinya Jongdae hanya bisa terjebak dalam suasana itu. Diam tanpa bisa melakukan sesuatu.

“Kau lihat, kan, Jongdae? Lihat, dia menamparku hanya karena aku tak menjawab teleponnya dan pesannya! Kau lihat, dia brengsek! Laki-laki, mereka semua brengsek!” kata Hyejeong terisak, bulir-bulir bening mulai keluar dari pelupuk matanya.

Jongdae menatap gadis itu. Ia tahu hatinya sangat rapuh meskipun terlihat sangat kuat dari luar. Hyejeong menegak tetesan terakhir dari gelasnya. Sesaat kemudian ia meminta sebotol vodka pada Jongdae. Gadis itu sudah tak peduli lagi, ia hanya ingin melepaskan amarahnya dengan minum.

Ini sudah botol yang ketiga, dan Hyejeong masih juga meminta satu lagi. Gadis itu mulai meracau tidak jelas. Jongdae dengan halus menolak permintaan Hyejeong. Ia tahu etika menjadi bartender, jika pelanggan sudah mabuk berat bartender harus menolak untuk memberikan minuman beralkohol lagi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada pelanggan, atau sang bartender akan di penjara karena menyebabkan celaka si pelanggan yang sedang mabuk berat.

Hyejeong masih meracau tak jelas. Jongdae menghela napas panjang, bagaimana bisa gadis itu mengahabiskan tiga botol vodka sekaligus. Ia memang seorang bartender, tapi ia tak pernah bisa minum sekuat Hyejeong dan teman-temannya seperti Luhan atau Kris. Mungkin ia masih bisa minum satu dua gelas, lebih banyak dari itu akan membuat perutnya mual.

Apa yang harus ia lakukan dengan gadis mabuk di depannya ini? Jongdae mulai bingung. Tempat ini terlalu ramai dan bisa menjadi berbahaya untuk Hyejeong yang sedang kehilangan kesadarannya. Akhirnya ia memberanikan diri untuk membawa Hyejeong pulang.

Joonha, gantikan aku. Aku akan mengantarnya pulang!” teriak Jongdae pada pemuda berambut merah, asisten bartender.

Ia lalu memapah gadis itu. Aroma alkohol menguar dari napas Hyejeong. Kata-kata racauan masih keluar dari mulutnya. Jongdae hanya bisa menahan napas. Tak pernah ia sedekat ini dengan Hyejeong. Ia mulai membawa Hyejeong naik sebuah taksi menuju rumah kecil Hyejeong yang berada di pusat kota tak jauh dari bar. Mungkin ini masih belum terlalu larut malam, tapi tetap saja Jongdae tak tega jika melihat Hyejeong harus pulang sendiri dalam keadaan mabuk berat. Taksi yang mereka naiki berhenti di depan gang tempat tinggal Hyejeong. Hanya tinggal beberapa meter dari jalan utama ia tetap harus memapah gadis itu, menuntunnya berjalan. Ia tahu dimana Hyejeong tinggal ketika dulu gadis itu pernah memintanya untuk mengantar pulang.

“Mereka brengsek, pecundang yang hanya bisa menyakitiku!” racau gadis itu.

Jongdae masih memapahnya, membantu gadis itu melangkah agar tak tersandung. “Hyejeong-ah­, lain kali jangan lakukan ini lagi, ya? Kau menyakiti dirimu sendiri,” gumam Jongdae, simpati.

“Kau tak sama seperti mereka kan, Jongdae-ya? Katakan kau tak sama seperti mereka, Kim Jongdae!” racaunya sekali lagi.

Hentikan, Hyejeong-ah. Kau sedang mabuk. Sekarang kau masuk dan tidur, oke?” ujar Jongdae setelah tiba di depan rumah Hyejeong.

Gadis itu belum sadar penuh, tangannya masih berada di pundak Jongdae. Jongdae hendak melepasnya, tapi gadis itu terhuyung. Dengan sigap Jongdae menangkap tubuh Hyejeong yang lebih kecil darinya itu. Wajah mereka berdekatan, hanya beberapa sentimeter. Jantung pemuda itu berdegup lebih cepat. Hyejeong tampak sangat sempurna ketika dilihat dari dekat. Ia menggelengkan kepalanya, menolak pemikirannya. Ia tak mungkin tega berbuat jahat memanfaatkan keadaan saat Hyejeong tak sadar penuh.

Jongdae mencoba melepaskan pegangan tangannya. Tapi kali ini Hyejeong menahannya. Tiba-tiba gadis itu mendekatkan wajahnya, memotong jarak mereka yang tinggal beberapa centimeter. Jongdae tak bisa menguasai dirinya sendiri, terlalu kaget dengan apa yang dilakukan gadis itu selanjutnya. Ia hanya bisa melebarkan matanya terkejut ketika Hyejeong benar-benar menempelkan bibirnya ke miliknya.

Yang terjadi selanjutnya, gadis itu pingsan dipelukannya.

***

Siang itu Jongdae duduk di sebuah sudut sebuah café. Di depannya caramel macchiato masih belum tersentuh sama sekali. Ia sedang menunggu gadis itu datang. Beberapa waktu yang lalu, gadis itu menghubunginya menggunakan ponsel temannya. Di sudut lain mejanya, sebuah tas kecil berwarna biru tergeletak manis di sebelah minumannya. Benda itu milik Hyejeong, Joonha menemukannya di lantai bar dekat tempat duduk Hyejeong semalam. Dan untuk itu dia ada di sini untuk menemui Hyejeong yang akan mengambil tasnya.

Tak lama kemudian muncul gadis berambut panjang. Kali ini dengan kondisi yang jauh lebih baik dari semalam. Senyum manisnya mengembang. Tak seperti setiap malam ketika gadis itu berkunjung ke bar, kali ini auranya sangat berbeda. Jongdae bisa merasakannya. Hanya dengan baju sederhanya, sebuah rok selutut yang mengembang, dan rambut yang dikuncir ke belakang. Ia tak seperti gadis umur 21 tahun yang suka pergi ke bar.

Jongdae semakin merasakan perasaan yang tak karuan. Ia semakin jatuh cinta.

Kau sudah menunggu lama? Mianhae, Jongdae-ya,” katanya menggeser sebuah kursi dan duduk di depan Jongdae.

Jongdae hanya tersenyum. “Tak apa Hyejeong-ah, aku tak ada pekerjaan siang ini. Ini milikmu,” Jongdae memberikan tas kecil berwarna biru itu pada Hyejeong. Gadis itu tampak senang sekali.

“Ah, gomawo. Aku benar-benar tak ingat meninggalkan tasku di bar, sampai aku mencari ponselku ketika aku bangun tadi pagi. Kau menyelamatkan ini,” ujar gadis itu, senyumnya mengembang. Setelah itu ia membuka tas kecilnya, mengecek ponsel dan dompet yang ada di dalamnya.

Selanjutnya mereka berdua terdiam. Tak ada topik yang pas untuk mereka bicarakan.

Jongdaeya..

“Hyejeong­-ah­..”

Kau duluan.”

Tidak, ladies first.”

Hyejeong menundukkan wajahnya. Mungkin ia sedang mencari kata yang tepat untuk memulai pembicaraan mereka. Oh, ia sangat benci suasana yang begitu awkward seperti ini. Jongdae memperhatikannya, pemuda itu sedang penasaran apa yang akan dikatakan oleh si gadis. Jongdae masih menunggu Hyejeong membuka mulutnya.

Jongdaeya, aku… aku minta maaf tentang kejadian tadi malam saat aku err-.. tiba-tiba menciummu,” akhirnya sebuah kalimat itu keluar dari Hyejeong setelah mati-matian ia berpikir dan berusaha mengeluarkannya.

Jongdae merasa pipinya panas ketika ia mengingat kejadian semalam. Sepertinya Hyejeong juga sama. Gadis itu terus menunduk, entahlah, mungkin terlalu malu untuk menampakkan wajahnya. Tapi di sisi lain, Jongdae senang. Ia tak pernah membayangkan Hyejeong seperti itu. Mungkin ia bukan orang pertama yang pernah dicium Hyejeong mengingat gadis itu selalu datang dengan laki-laki yang berbeda ke bar. Tapi, Hyejeong sudah mencuri ciuman pertamanya.

“Ah, yang itu.. kau sedang mabuk. Orang yang mabuk tak sadar dengan apa yang mereka lakukan,” ujar Jongdae, dia sebenarnya sedang membuat nyaman dirinya sendiri. Asal kalian tahu, degup jantungnya seperti tidak terkontrol sekarang.

“Tapi, aku melakukannya secara sadar,” tambah gadis itu.

Apa?”

“Ya, aku sadar penuh saat menciummu, Jongdae-ya,” tambahnya lagi.

Jongdae membulatkan matanya. Dia benar-benar tak percaya.

Gadis itu kembali menunduk. “Entah sejak kapan aku mulai menyukaimu, tapi aku terus mengelak perasaan ini. Aku tak mau menyakitimu karena di matamu aku gadis liar yang suka minum di bar, dan berganti-ganti pasangan setiap pergi kencan. Aku merasa tak pantas untuk laki-laki tulus dan baik sepertimu, Jongdae-ya.”

Jongdae menatap gadis di depannya yang masih menundukkan kepalanya. Ia tak pernah tahu apa isi hati gadis itu, tapi kali ini Jongdae benar-benar terkejut dengan Hyejeong yang tiba-tiba saja mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya. Andai gadis itu tahu apa yang Jongdae rasakan selama ini, dan ia hanya bisa diam tanpa bisa berbuat.

“Aku merasa aku terlalu buruk untukmu, oleh karena itu aku hanya diam dan membiarkan perasaanku padamu tanpa berani untuk mengungkapkannya. Kukira dengan begini rasa itu akan hilang. Tapi aku salah besar. Kau benar tak perlu menjadi jahat untuk membalas semua sakit hati yang pernah kau rasakan. Mungkin setelah ini aku tak akan menemuimu lagi, aku sangat lega bisa mengungkapkan semua yang aku pendam ini padamu,” katanya, Jongdae tahu diam-diam gadis itu menyinggingkan senyuman tipis.

Kim Jongdae, it’s now or never.

“Hyejeong-ah, tatap mataku,” ujar Jongdae, gadis itu akhirnya mengangkat wajahnya yang tertunduk. Menatap Jongdae dengan mata coklatnya yang cantik. “Jika kau memang tulus mencintai seseorang, harusnya kau tidak meninggalkannya.”

Jongdaeya..”

“Berjanjilah pada dirimu sendiri dan padaku untuk tidak meninggalkanku, Hyejeong-ah,” Jongdae meraih tangan mungil Hyejeong, gadis itu tak mengerti apa maksud perkataan Jongdae.

Tapi sedetik kemudian senyuman Jongdae melegakan hati gadis itu. Mungkin dengan diam Hyejeong sudah tahu artinya.

Saranghae Shin Hyejeong.

***

THE END

***

Ini pertama kalinya saya buat setting tempat dimana orang suka clubbing seperti bar, omo, semoga feelnya nggak hilang. Dan cast-nya kenapa saya milih Chen dan Hyejeong AOA? haha itu cuma iseng aja pengen mengeksplore cast lain selain yang sudah sering saya buat. Ini cuma ngetes feel dan mood saya aja gimana kalo saya nulis dengan cast yang berbeda dan dengan karakter yang berbeda. Jadi jangan tanya, mereka kan nggak ada moment etc etc, ya emang nggak ada kalopun ada saya nggak tahu. Kan ini cuma karangan saya aja manteman :P Jadi ya seperti yang sudah saya bilang ini buat seneng-seneng aja lah, buat happy-happy-an🙂

Okay, that’s it. See you on my next fanfiction :)

Gimme a comment please~~ 

5 thoughts on “Silence

  1. Wkwkwkwk aku ngakak waktu bagian ciuman pertamanya Jongdae. Kenapa malah si oppa yang belum pernah kisseu.😄

    Oh iya, yang Forget me Not nya kapan lanjut?
    Udah lama belum di update..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s