Forget Me Not [Chapter 2]

Poster6

FORGET ME NOT

CHIELICIOUS © 2014

Main Cast:

  • Xi Lu Han
  • Park Cho Rong

Rating: PG-15

Genre: Romance

Length: Chaptered

No bashing. No Plagiarism. Don’t be a silent reader. Happy reading!

***

CHAPTER 2

***

 

Luhan pulang dengan wajah kusutnya. Sepanjang perjalanan ia terus berpikir bagaimana bisa Chorong melupakannya begitu saja. Ada rasa perih di hatinya ketika Chorong tak mengenalinya. Ia masih tak percaya. Begitu mudahnya ia dilupakan. Padahal tadi itu ia sudah menumpahkan semua rasa rindunya, ia sangat senang ketika bertemu gadis yang selalu ia rindukan ketika berada di Beijing. Melihatnya di kota ini seperti sebuah keajaiban, seperti mendapatkan hadiah terbaik yang tak pernah ia kira sebelumnya. Tapi seketika ia harus kecewa, karena Chorong ternyata tak lagi mengenalinya.

“Kau yakin gadis yang kau temui itu Park Chorong?” tanya Minseok, ketika mereka selesai makan malam, dan Luhan menceritakan semua yang ditemuinya hari ini.

Luhan hanya mengangguk lemas, seperti kehilangan separuh nyawanya. Padahal tadi pagi Minseok melihat Luhan begitu bersemangat ingin berkeliling Myeongdong sendiri. Tapi ketika pulang ia malah menemukan raut sedih di wajah sahabatnya.

“Kau tidak salah orang, kan?”

Aniyo, dia benar-benar Chorong, Minseok-ah,” jawab Luhan sambil tertunduk.

Minseok menyangga dagunya dengan tangannya, memperhatikan Luhan dengan wajah serius. Jujur ia merasa sedih jika melihat sahabatnya juga bersedih seperti ini. “Luhan-ah, ini aneh. Bagaimana bisa ia tak mengenalimu sedangkan kalian dulu adalah teman dekat.”

“Entahlah, Minseok-ah.”

Selanjutnya Minseok hanya bisa membiarkan sahabatnya itu berjalan menjauh, dan mengunci kamarnya. Minseok menghela napas dalam, ia tak pernah melihat Luhan kecewa seperti ini. Bahkan ia tak melihat wajah kecewanya ketika sahabatnya itu mendapatkan nilai jelek pada tugas papernya, atau jawabannya meleset pada saat kuis. Ya, ia sangat tahu siapa gadis bernama Park Chorong gadis itu sangat berharga bagi Luhan. Ketika Luhan kembali dan gadis itu tak mengenalnya, ia tahu rasanya pasti sangat sakit.

***

Ini hari kedua ia berada di Seoul, hari ini adalah hari sabtu. Masih ada dua hari lagi untuk sekedar jalan-jalan sebelum hari senin nanti ia mulai bekerja sebagai manager baru di perusahaan milik teman ayahnya. Entah kenapa Luhan merasa kepalanya sangat berat pagi ini. Tak ada semangat sama sekali untuk memulai hari, bahkan ia masih berbaring di kasurnya.

Ia banyak berpikir tadi malam. Ia tak bisa berhenti memikirkan Chorong. Gadis itu seakan terus menghantui pikirannya, kenangan mereka terputar terus menerus di otaknya. Luhan masih tak percaya Chorong sama sekali tidak ingat siapa dirinya. Bahkan ia tak ingat mereka pernah saling dekat, dan banyak membuat kenangan bersama. Hingga pagi hari ia masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Chorong.

Luhan bangun terlambat hingga Minseok membangunkannya saat sarapan sudah siap. Ia merasa tak enak dengan sahabatnya, tapi Minseok dengan santainya menjawab tak masalah karena Luhan adalah sahabatnya. Minseok tahu Luhan sedang tidak baik-baik saja, jadi ia tak membangunkannya pagi-pagi seperti yang Luhan pesankan kemarin.

Setelah selesai sarapan, Minseok pergi ke klinik dan Luhan bilang ingin pergi ke flat lamanya. Ia bilang masih ada waktu dua hari untuk memindahkan barangnya dan menata ulang flatnya agar hari sebelum ia masuk kerja ia bisa tinggal di sana.

Setelah selesai memindahkan barang dan menata ulang flat lamanya, Luhan memutuskan untuk pergi ke Myeongdong lagi. Perut laparnya meronta sejak satu jam yang lalu. Makan siang sederhananya di sebuah kedai kecil yang menjual kimchi jjigae. Dengan lahapnya ia menyantap setiap sendok sup itu ke dalam mulutnya, dua tahun ia tak makan makanan seperti ini. Setelah makan ia kembali ke flatnya menyiapkan berkas-berkas yang akan ia bawa lusa ketika ia masuk kerja sebelum ia pulang ke rumah Minseok.

Ah, ia ingat sesuatu. Pemuda itu meninggalkan flatnya dengan terburu-buru, tapi kali ini bukan ke arah rumah Minseok. Dalam hatinya ia masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan Park Chorong. Semalaman ia tak bisa tidur, dan hanya memikirkan satu hal itu. Rasanya seperti  dicubit dibagian ulu hati ketika sadar bahwa gadis itu telah melupakannya. Padahal Chorong adalah salah satu alasan ia kembali ke Seoul. Untuk bisa bertemu lagi dengannya. Untuk bisa menebus janjinya pada Chorong. Untuk bisa mengatakan satu kalimat yang tak sempat ia katakan sebelum ia pergi ke Beijing. Dan semua itu ia sesali sekarang.

Ia tak bisa melakukannya.

Sepanjang jalan ia bergelut dengan pikirannya sendiri. Rasa ingin tahu itu semakin besar. Luhan mempercepat langkahnya, melewati beberapa belokan kan komplek pertokoan area Myeongdong. Beberapa meter dari tempatnya berdiri, sebuah toko mungil yang di etalase depannya terpajang banyak bunga dalam pot-pot kecil dan di samping pintu terdapat papan plakat kayu bertuliskan “The Blossom”.

Luhan menghentikan langkahnya. Ia ingin ke sana untuk mencari tahu. Dan sekali lagi untuk bisa melihat wajah cantik Chorong yang sangat ia rindukan. Tapi, seperti ada sesuatu yang mengganjal. Ia masih tak bisa menerima kalau gadis itu ternyata tak mengenalnya lagi.

Pemuda itu menarik napas panjang, dan mulai melangkahkan kakinya mendekat ke toko bunga kecil milik Park Chorong. Meskipun agak berat, tapi rasa penasarannya mengalahkan apapun. Ia hanya ingin tahu apa yang terjadi pada Chorong.

Bel mungil di ujung pintu The Blossom berbunyi. Reflek gadis cantik dengan dress biru muda itu menoleh dan menyapa siapa yang menjadi pengunjung tokonya kali ini. Ia meletakkan scateurs dan beberapa batang bunga lily yang akan ia rangkai.

Kau mencari sesuatu? Mungkin aku bisa membantu,” kata gadis itu setelah mengucapkan selamat datang, masih penuh senyuman.

Luhan merasa agak awkward. Ia hanya merasa aneh jika bersikap seolah-olah menjadi orang asing di depan orang yang pernah dekat dengannya. Bahkan gadis itu tak ingat kemarin mereka sempat bertemu, Luhan memeluknya dan ia sukses membuat pemuda itu bersedih karenanya.

Luhan tersenyum tipis –terlihat agak sedikit dipaksakan, “ah, ne, aku mencari bunga yang cocok untuk seseorang, tapi aku bingung bunga apa yang cocok untuknya.”

Chorong lagi-lagi tersenyum membuat degup jantung Luhan semakin cepat. Pemuda itu sangat merindukan senyuman manis Park Chorong yang selalu bisa membuat jantungnya berdebar berkali-kali lipat lebih cepat dari normal.

Dia punya mata yang indah,” katanya. Seperti dirimu.

Variegated tulips I think, it’s mean the beautiful eyes. Aku juga menyukainya, itu salah satu bunga favoritku.”

Luhan hanya mengangguk lalu gadis itu membuat sebuket bunga Tulip dengan paduan warna yang indah merah-putih dan kuning-oranye dan dibungkus dengan kertas tissue berwarna cream serta pita berwarna senada. Pemuda itu tak bisa melepaskan pandangannya dari setiap gerakan Chorong. Tak perlu waktu lama untuk membuat sebuket bunga cantik, tangan cekatan Chorong membuatnya dengan sangat indah dalam waktu singkat.

“Ini buket bunga yang anda inginkan,” kata gadis itu menyerahkan kumpulan bunga indah itu ke tangan Luhan.

“Ah, gamsahabnida. Sepertinya ia akan suka dengan bunga ini,” kata Luhan. Padahal ia sendiri tak tahu akan diberikan pada siapa bunga tulip yang sekarang ada di tangannya itu. Setelah menyelesaikan pembayaran sekali lagi Luhan berterima kasih yang dibalas dengan senyuman ramah Chorong. Pemuda itu masih berpikir bagaimana caranya agar dia bisa berinteraksi dengan  Chorong lebih dari ini. Ia perlu tahu tentang apa saja yang terjadi pada Chorong ketika ia tak berada di Seoul. Ia masih ingin mencari tahu.

“Nona,” ujarnya sebelum ia berbalik meninggalkan toko bunga itu.

Ne?”

Bolehkah…? Emm.. nama anda? Ah, maksudku apakah anda punya kartu nama atau semacamnya? I think I’ll call you, jika aku ingin membeli bunga lagi lain kali.”

Ah, rasanya aneh sekali bicara sangat formal seperti ini.

***

The Blossom florist. Park Chorong.

Luhan hanya memandang kertas kecil dan sebuket bunga tulip ditangannya. Makan malam sudah siap di meja makan, Minseok dan keluarganya juga sudah siap di meja makan. Hanya menunggu ia saja keluar dari kamar tidur. Luhan sebenarnya agak sungkan, Minseok dan keluarganya sangat baik padanya bahkan mereka sudah mengnggap Luhan seperti putra mereka sendiri.

Luhan keluar kamarnya, membawa sebuket bunga tulip yang tadi ia beli. Pada akhirnya ia memutuskan untuk memberikannya pada ibu Minseok. Ya, sekedar hadiah kecil karena kebaikan mereka padanya.

Mereka berdua sedang hanyut dalam lamunan masing-masing. Luhan dan Minseok sedang menikmati langit musim semi Seoul yang sedang terang setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka di halaman belakang rumah Minseok. Kenangan manis bersama Chorong lantas terputar kembali.  Luhan ingat ia sering melakukan ini dengan Chorong, melihat bintang di pinggir sungai Han. Lalu mereka makan ice cream kesukaan mereka berdua, dan tertawa bersama. Rasanya menjadi sedikit menyakitkan jika diingat saat ini.

“Kau yakin kau akan pindah besok?” kata Minseok memecahkan lamunannya.

“Eh? Iya, mereka sudah selesai membersihkan flat lamaku dan aku sudah memindahkan barang-barangku ke sana, Minseok-ah. Lagi pula hari senin nanti aku sudah mulai masuk kerja,” jelas Luhan.

“Luhan-ah, padahal aku ingin kau tinggal di rumahku saja. Kau tahu ketika kau pergi ke Beijing, aku sangat merasa kesepian. Aku merasa kehilangan, tak ada lagi teman untuk berbagi cerita. Kau adalah sahabat sekaligus saudara laki-laki bagiku.”

Ya! Pak dokter kenapa kau jadi bersedih begini, hm? Aku hanya pindah beberapa blok saja dari rumahmu,” tawa Luhan.

“Kalau begitu sering-seringlah ke sini, eomma pasti akan senang. Kau tahu, dia sering mengeluh padaku saat kau berada di Beijing. Kata ia sangat merindukanmu,” balas Minseok.

Luhan tersenyum. Keluarga Minseok memang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri. Ketika ia harus berjauhan dengan orang tuanya yang berada di Beijing, ia masih mempunyai Minseok dan keluarganya yang sangat welcome padanya. Setidaknya itu mengobati kerinduannya.

Minseokah..”

Ya?”

“Menurutmu apa yang harus aku lakukan untuk membuat Chorong ingat padaku lagi? Apa aku harus memulainya dari awal lagi? Atau aku harus menyerah sampai di sini?”

Minseok hanya tersenyum. Ia tahu sahabatnya akan melakukan hal yang benar. “Just follow your heart, Luhan.”

***

To be continue

***

Forget Me Not chapter 2 is updated! So sorry for late update guys. Semester 6 menggila, tugas menggila, kuliah striping, elearning dan praktikum menghantui setiap hari. Satu bulan penuh saya harus ujian 2 minggu untuk ujian tengah semester dan 2 minggu berikutnya saya harus ujian praktikum, setelah itu saya harus ke RS buat praktik of course  tidak lepas dari tugas. Semester 6 seperti nggak membiarkan hidup saya tenang. There’s no time for santai-santai apalagi nulis fanfiction, udah bisa tidur 2 jam aja alhamdulillah -_- Tapi ya alhamdulillah juga saya masih bisa nyolong waktu buat ngelanjutin ini😀

Oke itu sedikit curhatan saya :D So sorry for typo, ketidakjelasan, etc. Terima kasih sudah membaca ya. Semoga tidak mengecewakan :) Gimme a comment, please🙂

9 thoughts on “Forget Me Not [Chapter 2]

  1. Akhirnya update juga. Chorong hilang ingatan ya ?. Atau Chorong yang di toko bunga itu bukan Chorong yang Luhan kenal ? *Kepo ah*
    Aku suka gaya bahasa unnie. Rapi gitu.

    Oh ya, semangat ya buat kuliahnya unnie^^

  2. Hallo eon, aku readers baru nih😀 aku suka banget ff eon, aku ChoHan ship garis keras dan ff eon keren banget! :*
    keep writing eon ‘-‘)9 semangat jg buat semua tugas” kuliah’a, aku slalu nunggu ff ini update😀
    penasaran sbener’a chorong ini knp ‘-‘ oke itu aja dan salam kenal eon ^^

  3. eonnn ffnya kapan dilanjut udh penasaran nihh chorong kok bisa ya lupa sma seseorang yg special kek luhan huehehe next ditunggu ne semanggatt eonn♥♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s