I Really Hate You [Chapter 5]

I Really Hate You

CHIELICIOUS © 2014

Main Cast:

  • Kim Joonmyun (Suho)
  • Yoo Ara

Rating: PG-Rated

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Summary:

Kau yang membuatku terjebak. Kau yang membakar hatiku dengan api cintamu. Kau yang memenjarakanku dalam cinta yang tak berujung. Kau yang menjatuhkanku dalam lubang kerinduan dan kesakitan yang mendalam. Kau yang selalu menghipnotisku dengan senyuman malaikat itu. Kau yang tak pernah tahu betapa aku merasakan sakitnya cintamu. Aku membencimu karena aku mencintaimu.

***

CHAPTER 5

***

Nampak sebuah kebisingan di dalam salah satu dance practice room di gedung SM Entertaiment. Enam pemuda sedang sibuk berlatih menari untuk persiapan perform mereka di salah satu acara di Jepang. Mereka sedang naik daun, ya, karena kerja keras tentu saja. Si pemuda termuda yang biasanya hanya diam dan menertawakan lelucon yang dibuat duo Happy Virus hyungnya sekarang sedang ikut membuat keributan. Begini setiap harinya, setelah selesai untuk latihan sesi pertama mereka sibuk tertawa, membuat lelucon, membahas hal yang tidak penting. Tapi tak terjadi dengan pemuda tertua diantara keenamnya. Setelah sesi pertama latihan selesai, ia hanya duduk di sofa hitam yang ada di pojok ruangan itu. Mengecek ponselnya setiap menit, berharap ada satu pesan yang masuk.

Suho hanya menatap benda berwarna putih itu. Tak ada satupun pesan dari gadis yang beberapa hari ini ia tunggu untuk menjawab semua pesan dan panggilan teleponnya. Kesimpulannya, Ara benar-benar marah padanya sekarang.

Hyung, ponselmu tidak akan menjadi sebatang emas jika kau pandangi terus,” kata pemuda tinggi bersuara baritone, Park Chanyeol.

Suho hanya terdiam. Ia sedang tidak mood dengan candaan adik-adiknya.

Setiap hari, ia terus memikirkan gadis itu. Menjadi idola memang tidak mudah. Sekarang ia tahu rasanya, bagaimana ia harus dijauhi oleh orang yang sangat ia cintai meskipun ia mendapat banyak cinta dari fans. Dan ketika ia ingin menunjukkan cintanya pada seseorang itu, malah menjadi sebuah skandal yang menjadikan seseorang yang ia cintai menjadi the most hated di kalangan fansnya. Itu sedikit menyesakkan dadanya. Secara tidak langsung ia menyakiti orang yang ia cintai. Ia sudah menyakiti Ara.

Ia kira setelah ia melewati masa trainee-nya dan debut, ini akan menjadi lebih mudah. Tapi ternyata tidak seperti apa yang ia bayangkan sebelumnya. Sangat sulit membuat penggemarnya menerima, apalagi ini menyangkut kehidupan pribadinya. Mereka tak mudah menerima idolanya dekat dengan seorang wanita, hingga melakukan hal-hal yang tidak masuk akal seperti meneror dan lain sebagainya. Tapi kali ini ia patut bersyukur, mereka tak mengganggu Ara secara kasar. Tapi tetap saja banyak membuat Suho khawatir.

Suho membaringkan tubuhnya di lantai ruang latihan, sedangkan yang lain sudah bersiap memulai sesi kedua latihan mereka hari ini. Ia tak bersemangat untuk melakukan apapun hari ini. Ya, tipikal orang yang sedang patah hati. Sampai Kyungsoo menyeretnya, memaksa Suho bangkit dan memulai latihan dance mereka. Kalau saja ia bisa mengurung diri seharian di dalam kamarnya.

***

Ara hanya memandang tiga lembar tiket showcase yang ada di tangannya. Dua tiket untuk ibu dan adiknya, dan yang satu lagi entah kenapa tadi ia minta satu tiket lagi dari Eunji-sshi. Showcase-nya tinggal beberapa hari lagi. Ia tak menyangka harinya akan secepat ini berlalu. Sepertinya baru saja kemarin ia pulang ke Seoul, tapi seusai showcase digelar ia akan kembali lagi ke New York.

Satu tiket itu untuk Suho.

Ia tahu ia sedang marah dengan pemuda itu. Tapi hatinya berkata lain, otaknya juga. Entah kenapa setiap kali ia lewat depan gedung SM Entertaiment ia akan mengingat Suho. Sebenarnya ia ingin melupakan semuanya, menganggap semuanya baik-baik saja. Tapi nyatanya hubungan mereka berdua tidak baik-baik saja. Suatu saat rasanya ia ingin jadi amnesia, ia akan dengan mudah lupa dengan apa yang sudah terjadi dengannya dan Suho.

Gadis itu masih mematung, masih memandang tiket yang ada di tangannya. Ara mengeluarkan ponselnya, mengetikkan nama di daftar kontaknya.

Joonmyun oppa.

Sedikit harapan muncul jika Suho akan datang melihatnya, setidaknya itu akan menjadi pertemuan yang terakhir mereka sebelum Ara kembali ke New York. Gadis itu sedikit bimbang, antara ia ingin bertemu dengan Suho serta resiko skandalnya dan Suho akan menjadi lebih besar lagi. Ya, sebenarnya ia memaafkan Suho, ia tak pernah bisa lama-lama marah pada pemuda tampan itu. Ia sadar setelah berhari-hari berpikir dan mengabaikan semua panggilan telepon dan pesan dari Suho bahwa skandal itu bukan sepenuhnya kesalahan Suho.

Dan Ara diam-diam merindukan senyuman manis Suho. Ia ingin melihat senyuman itu lagi tapi sekarang ceritanya ia sedang marah pada Suho. Jadi, rasa rindu itu tertutupi dengan gengsi. Lantas ia mengurungkan jarinya untuk menekan tombol call yang nampak di layarnya.

Ara memakai coatnya. Dan meninggalkan studio latihan yang masih ada beberapa pemain violin dan cello di dalamnya. Ara tersenyum menyapa orang-orang di sana, berpamitan untuk pulang karena hari sudah mulai gelap.

Gadis itu berjalan menyusuri jalan Apgeujong seperti biasa. Angin pertengahan musim bertiup menerpa wajah cantiknya. Ia mengeratkan coat dan syal berwarna pastel yang dikenakannya, lalu melangkahkan kakinya melewati jalan yang biasanya ia lewati setiap harinya. Di depan gedung berplakat SM Entertaiment ia menghentikan langkahnya. Hanya ada beberapa gadis remaja yang masih berseragam sedang duduk-duduk di depan gedung itu. Apalagi yang mereka lakukan di jam yang seharusnya mereka berada di rumah bersama orang tua mereka kalau tidak untuk menunggu idola mereka keluar dari gedung itu. Mungkin salah satu yang mereka tunggu adalah EXO-K.

Ara memandang lagi sebuah tiket yang baru ia keluarkan dari saku coatnya. Ia ingin memberikannya pada Suho, tapi jika ia masuk ke gedung SM Entertaiment pada saat fans sedang ramai didepan gedung sama saja dengan ia bunuh diri. Ara masih berdiri di tempat yang sama selama lima belas menit. Dan akhirnya ia memantapkan keputusannya.

Gadis itu mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam tasnya, dan memasukkan tiket showcase itu ke dalamnya. Lalu ia menaikkan syalnya, menutupi sebagian wajah cantiknya –sedikit membuat penyamaran agar tak ada yang melihatnya. Ia melangkah dengan pasti, sedikit gugup tapi ia harus bersikap biasa tanpa mengusik gadis-gadis itu. Setelah berhasil masuk dan ia menyerahkan amplop yang ada ditangnnya pada seorang wanita di meja resepsionis.

“Ini surat untuk Kim Joonmyun-sshi.”

Ara menghela napas lega setelah berhasil keluar dan menjauh dari gedung itu. Tanpa ada yang mecurigai. Sejauh ini misi sukses.

***

Hyung, kau mau kemana?” teriak Kai dari dapur dorm mereka.

Suho yang tak peduli dengan teriakan dongsaengnya, terburu-buru memakai jaket dan sepatunya. Ia menerima sebuah amplop coklat yang resepsionis bilang adalah surat untuknya beberapa hari yang lalu. Ia pikir itu hanya surat yang biasa ia terima dari fans, tapi setelah ia buka isinya adalah sebuah tiket untuk sebuah showcase spring orchestra. Dan saat itu juga ia sadar bahwa amplop itu dari Ara.

Ia banyak berpikir beberapa hari ini setelah ia menerima tiket itu. Tak ada kesempatan lain untuk bertemu dan benar-benar meminta maaf pada Ara selain saat ini. Sebelum terlambat ia harus bertemu dengan Ara. Tapi sialnya hari dimana showcase spring orchestra digelar bersamaan dengan jadwal mereka pergi ke Jepang.

“Aku harus menemuinya sekarang juga, Kai!” teriaknya sambil memakai jaket.

Hyung, kau bercanda? Satu jam lagi kita harus pergi ke bandara. Kau lupa kita harus pergi ke Tokyo hari ini?” kata Kai.

Suho memasukkan dompet dan beberapa barang, termasuk sebuah kotak kecil kedalam tas ranselnya. “Aku tahu, Kai. Tapi tak ada waktu lagi selain sekarang. Aku harus menyelesaikan semuanya sekarang.”

“Hyung! Jadwal penerbangan kita tidak bisa ditunda.”

“Nanti aku akan menghubungi manager-hyung, ia pasti mengurus semua. Tolong, aku percaya kau dan yang lain bisa mengkondisikan hari ini tanpa aku,” lanjut Suho agak sedikit terburu-buru sambil memakai sepatu. Ia tahu showcase pasti sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu.

“Tapi hyung,” Kai masih berusaha mencegah Suho pergi, mereka tidak mungkin membatalkan penerbangan dan jadwal mereka di Tokyo. Jika Suho tak berangkat bersama mereka, maka akan menghancurkan semua planning yang sudah disusun manager mereka.

Suho tetap pada keputusannya. Ia tahu akan segala resikonya. “Aku percaya padamu, Kai!” teriak Suho, setelah itu pintu dorm mereka tertutup.

It’s now or never.

***

Ara meremas tangannya. Gugup, tentu saja. Ini adalah pertama kalinya ia tampil di depan orang banyak. Mungkin ia pernah tampil pada acara natal di gereja, tapi tak sebanyak kali ini. Concert Hall bisa menampung dua ribu lima ratus penonton.

Setelah menyelesaikan make-up dan berganti kostum ia berjalan keluar waiting room dan menuju belakang panggung. Suara penonton mulai terdengar sayup-sayup dari tempat ia berdiri. Berkali-kali ia mondar mandir ditempat yang sama. Tangannya mulai terasa dingin, detak jantungnya mulai berdegup lebih cepat, dan ada rasa cemas yang tak beralasan dari dalam dirinya. Ara mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia meremas ujung bajunya.

Wajah cantiknya mulai sedikit menegang, ia terlalu gugup sepertinya. Ara menarik nafas dalam-dalam, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa melakukan apa yang selama ini sudah ia pelajari dari latihan bersama tim orchestra yang lain. Seorang staff memanggilnya untuk segera naik ke panggung karena acara akan segera dimulai. Jantungnya masih berdegup kencang, tapi kali ini ia bisa mengendalikan rasa gugupnya.

Langkah kakinya membawanya ke atas panggung besar Concert Hall. Hari ini ia tampak sangat anggun dengan dress merah marun dan duduk di depan sebuah grand piano. Ara menggigit bibir bawahnya, mengedarkan pandangannya ke semua tim orchestra yang satu per satu mulai menempati posisi mereka. Setelah itu pandangannya berpindah pada lelaki berkumis yang memegang stick baton, Tuan Jang, seorang Orchestra Conductor professional yang sudah menganggapnya seperti putri sendiri. Pria itu mengangguk pada Ara. Setidaknya ia mendapat banyak penyemangat di dalam timnya kali ini.

Staff mengatakan beberapa menit lagi tirai akan dibuka dan spring orchestra akan dimulai. Ara mulai berdoa dalam hati. Sempat terlintas dalam pikirannya apakah Suho akan datang. Sebenarnya ia tak banyak berharap, ia tahu Suho sekarang adalah orang yang paling digemari oleh remaja di seluruh Korea dan negara-negara lain. Ara tahu artis yang sedang naik daun seperti Suho pasti mempunyai jadwal yang jauh lebih penting untuk dihadiri. Ya, ia tak banyak berharap satu kesempatan ini bisa terwujud.

Staff konser menginstruksikan untuk memulai acara. Tirai hitam besar yang menutupi panggung akhirnya dibuka, menampakkan sekelompok pemain orchestra modern yang lengkap. Mulai dari deretan pemain violin, cello dan harpa yang berada di sebelah kanan panggung, lalu deretan pemain flute, clarinet, saxophone, dan alat musik perkusi, sedangkan sebelah kiri ujung terdapat grand piano.

Dan lagu pertama yang dimainkan adalah Bolero de Ravel sebagai pembuka spring orchestra. Ini adalah momen yang ditunggu banyak penonton. Spring Orchestra Showcase disambut dengan tepuk tangan meriah dari seluruh penonton. Penonton mulai hanyut ketika lagu kedua dimulai, Chanson de Matin mengalun dengan indah dengan alunan dominan violin.

Jari-jari lentiknya mulai menari diatas tuts-tuts piano. Ini adalah pengalaman pertamanya tampil di depan banyak orang, rasa gugupnya masih tersisa tapi ia sepertinya sudah terbawa dengan alunan musik yang mereka bawakan. Ekor matanya masih berusaha mencari sesorang itu. Mungkin dia tidak datang, sebenarnya Ara juga tidak memaksa untuk datang. Sedikit kecewa, ya, showcase sudah berjalan hampir satu jam dan Ara tak menemukan wajah seseorang yang sebenarnya sangat ia rindukan. Mungkin mustahil bisa menemukannya satu orang diantara ribuan penonton yang memadati seluruh sector bangku penonton. Ia memfokuskan lagi konsentrasinya pada partitur musik di depannya. Lagu selanjutnya adalah Bethoven’s Love Story dan Mozart’s Fur Elise. Ara menekan tuts-tuts hitam dan putih itu, jari indahnya menghasilkan nada indah yang menghipnotis semua penonton.

Suho datang ketika konser sudah dimulai dari dua jam yang lalu. Salahkan jalanan yang macet yang membuatnya terlambat. Sebenarnya pintu masuk sudah ditutup oleh security guard dan pihak resepsionis sempat menolak menerima tiketnya dan membiarkannya masuk ke dalam. Tapi apapun akan Suho lakukan untuk memenuhi janjinya pada Ara. Setelah beraegyo yang sekali itu saja dan  selamanya tidak akan ia lakukan lagi, akhirnya staff showcase membiarkannya masuk.

Ia masuk ketika mereka sedang memainkan lagu dari pianis terpopuler di Korea Selatan, Yiruma. Ara menutup matanya, dan ketika ia memainkan If I Could See You Again semua kenangannya bersama Suho terputar kembali. Ia sangat merindukan senyuman itu, ia merindukan ketika mereka bersama-sama. Melihat Rainbow Bridge bersama, makan ice cream bersama, bermain basket dan bersepeda di Yeouido Park bersama. Tapi ketika ia sadar semua itu mustahil dilakukan sekarang, hatinya tiba-tiba terasa perih.

Permainan piano gadis itu tak sampai di situ saja. Selanjutnya penonton dimanjakan dengan lagu-lagu romantis lainnya seperti Maybe, Till I Find You, dan It’s Your Day. Semuanya terpukau, Ara bermain dengan sangat mengagumkan. Gadis itu benar-benar berbakat, tak ada nada yang terlewat. Suho ikut terhanyut, ia senang bisa memenuhi janjinya. Melihat Ara bermain piano membuatnya senang setelah bertahun-tahun ia tak pernah melihatnya lagi. Gadis itu masih sama, permainan piano yang masih sama ketika mereka masih SMA, ketika Suho sering mendengarkan Ara latihan secara diam-diam dibalik pintu ruang musik. Dari situ juga ia sadar cintanya pada Ara tak pernah hilang.

***

Tiga jam yang lalu sukses ia selesaikan, semua pemain musik sedang berkumpul di backstage merayakan kesuksesan mereka. Ara senang ia bisa melakukan tugasnya dengan baik hari ini. Gadis itu membungkukkan badannya pada seluruh pemain musik dan staff, berterima kasih. Senyuman tulusnya terkembang.

Semua staff mengucapkan selamat padanya. Ara hanya bisa tersenyum dan berterima kasih, gadis itu selalu mengatakan bukan ia saja yang membuat showcase menjadi sukses. Gadis itu selalu rendah hati. Tapi ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya. Selama tiga jam showcase berlangsung ia tak menemukan Suho. Hari ini dia tak datang, pikirnya.

Yoo Ara-sshi, ada seseorang yang mencarimu,” kata seorang staff yang baru saja masuk ke waiting room. Mungkin Eunji-sshi.

Ara keluar dari waiting room, dan ia hanya bisa berdiri terpaku melihat siapa yang berada di depannya. Orang itu. Senyuman itu. Jantungnya berdebar semakin cepat ketika orang itu berjalan mendekatinya.

“Ara-ya chukkae!”

Mereka sekarang sedang duduk di sebuah bangku yang terletak agak jauh dari waiting room. Ara hanya menundukkan wajahnya. Entah ia senang karena Suho sedang ada di sampingnya sekarang, atau sebal karena Suho datang sangat terlambat. Ia tak berani melihat wajah pemuda itu, membuat Suho tersenyum tipis.

You did it, Ara-ya,” kata Suho. Ara melihat sebuket bunga mawar yang sekarang ada di tangannya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau tak perlu melakukan ini semua,” jawab Ara.

Suho lagi lagi-lagi tersenyum. “Kau yang membuat aku melakukan ini semua. Kau pikir aku tak tahu kau yang mengirimkan amplop coklat berisi tiket showcase ke kantor manajemenku?”

Ara hanya bisa terdiam. Ah, dia sudah tertangkap basah. Gadis itu terlihat sangat lucu, Suho tahu sebenarnya Ara belum ikhlas memaafkannya pasca berita dating skandal mereka. Tapi Suho tahu Ara tak pernah bisa lama-lama marah padanya. Suho menggeser badannya mendekat pada Ara.

“Aku tak punya banyak waktu untuk sekedar berbasa-basi padamu. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan,” jawab Ara.

“Kau tahu aku sangat merindukanmu, aku mengkhawatirkanmu,” lanjut Suho. “Aku tahu kau masih menyukaiku, kau merindukanku, dan karena itu kau mengirimkan tiket itu untukku, right?

Bohong jika ia mengatakan tidak menyukai Suho. Bohong jika ia mengatakan tidak merindukan Suho. Dan bohong jika ia mengatakan bukan dia yang mengirimkan tiket showcase itu kepada Suho. Gadis itu hanya diam. Ia hanya berusaha menutupi perasaannya yang sebenarnya.

Ara beranjak dari tempat duduknya. Suho membuat dinding pertahannya bisa runtuh jika ia lama-lama bersama pemuda itu. Ia sudah memikirkan dengan matang ia akan menjauh dari Suho, melupakannya. Dengan begitu ia tak menyakiti hati fangirl-fangirl Suho, meskipun sebenarnya hatinya sendiri lah yang tersakiti lebih banyak.

Suho meraih tangan Ara, mencegahnya pergi. Ara sedikit berontak, berusaha menarik tangannya dari cengkraman tangan Suho. “Lepaskan  aku! Sampai kapan kau terus memperlakukan aku seperti ini?”

Suho melihat kristal-kristal bening jatuh dari sudut mata gadis itu. Hatinya ikut perih ketika melihat bulir air mata Ara menetes dari mata cantiknya.

“Sampai kapan kau terus menjeratku seperti ini, Kim Joonmyun? Kau tak pernah tahu bagaimana rasa sakitnya mendengar kata-kata jahat penggemarmu, kau tak pernah tahu rasa sakitnya melihat tulisan mereka di sosial media yang terasa begitu menyakitkan lebih dari sebilah pisau! Let me go, lupakan kita pernah bertemu dan mengenal satu sama lain. Lupakan aku.”

Suho tahu keputusannya untuk mencintai seorang gadis disaat karirnya sedang berada di atas angin adalah sama saja dengan bunuh diri. Ia tahu resikonya. Tapi tak seorangpun yang bisa mencegah cinta itu datang dan tumbuh di hatinya. Tak seorangpun termasuk fans, manager hyung, atau member EXO-K yang lain. Ia sudah mengorban tujuh tahunnya untuk memendam perasaan cintanya pada Ara. Ia tak mau mengorbankan waktu lebih lama lagi untuk membiarkan kesempatan pergi begitu saja. Ia tak akan membiarkan Ara pergi darinya.

“Lepaskan aku, kau menyakiti tanganku, Kim Joonmyun-sshi.”

Ara masih berusaha melepaskan tangan Suho yang memegang erat pergelangan tangannya. Ia ingin menumpahkan semua air matanya sekarang juga, tapi tidak di depan Suho. Hatinya sudah terlalu sakit. Ia hanya ingin menghilang dari hadapan Suho, dan mencari tempat yang paling tersembunyi untuk melarikan diri dari Suho. Melihat pemuda itu dihadapannya akan menambah lebar luka di hatinya.

Pemuda itu masih bertahan tak mau melepas tangannya dari Ara. Semakin erat seolah tak mau membiarkan gadis itu pergi begitu saja. Ara menarik tangannya dari cengkraman Suho, dan pemuda itu semakin mengeratkan tangannya dan tiba-tiba menarik tubuh Ara mendekat padanya. Yang terjadi selanjutnya membuat mata gadis itu melebar tak percaya. Ia merasakan bibirnya terkunci oleh sesuatu yang lembut. Itu milik Suho. Pemuda itu menguncinya dengan sebuah ciuman.

A sweet kiss

“Sampai kau memaafkanku dan aku mendapatkan jawaban atas pertanyaanku, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dariku. I will never let you go, Yoo Ara. Never.

***

To be continue

***

I Really Hate You finally updated! Dan yeah saya menulis ulang semuanya setelah dokumennya menghilang bersama dengan dikebumikannya harddisk saya yang lama. 

Are you guys happy?

Ya saya juga senang satu tanggungan sudah terbayar. Saya sempat kepikiran untuk mendiscontinue ff ini tapi saya nggak tega, jadi ya seminggu ini sebelum UAS dimulai saya bisa ngelanjutin ff ini. Meskipun sebenarnya tidak seperti ini karena saya tidak akan bisa menulis apa yang sudah keluar dari otak saya untuk kedua kalinya dengan kalimat dan cerita yang sama persis dengan yang pertama. But I tried to finish this chapter sesuai konsep plot cerita meskipun nggak sama yah udah deh nggak apa2.

Thank you so much for reading and visiting my blog. And so sorry for very late update🙂

3 thoughts on “I Really Hate You [Chapter 5]

  1. yaampun akhirnya lanjuttt aku kira ini ff udah bener” fin ;_;
    cool as usual, no typo penulisan rapi, alur ceritanya ngena. jujur aku sampe kebawa perasaan bacanya heheheh
    kalo bisa part selanjutnya jangan kelamaan ya. hehehehhh ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s