[XOXO Story] 1st Story – Soulmate

tumblr_mxg6ljt3FS1s2pwp3o2_500

 
chielicious©2014
 
 
 
 
 
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
 
 
Kai’s Story
Soulmate
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
 

Kim Jong In | Kim Seol Hyun

Oneshot Romance story

No bashing. No Plagiarism. Don’t be a silent reader.

***

Ia menguap lebar, merasa sedikit bosan dengan aktivitasnya setiap hari yang selalu monoton. Ia berjalan menyusuri sepanjang pertokoan menuju ke akademi tempatnya berlatih balet. Senyumnya terkembang ketika melihat seseorang berambut panjang yang sangat ia kenal melintas di depannya. Pemuda itu berjalan pelan, mengikuti setiap gerakan yang dibuat oleh gadis di depannya.

Gadis berambut panjang itu tiba-tiba memperlambat langkah kakinya, mungkin dia merasa ada yang mengikuti. Jongin membalikkan badannya, berusaha menutupi dirinya dengan sebuah topi dan jaket saat gadis itu menoleh ke belakang. Ia lalu tertawa pelan.

Gadis itu memasuki sebuah gedung yang menjadi tujuan Jongin juga. Lalu Jongin melihat gadis itu berhenti di depan sebuah poster besar yang tertempel di lorong menuju ruang latihan. Jongin berjalan mendekat, lalu berdiri di sebelah gadis itu. Pemuda itu ikut terdiam melihat poster besar di depannya.

Ya, Kim Seolhyun, kau tertarik ikut kompetisi itu juga?” kata Jongin.

Gadis disebelahnya menoleh, dan dengan ekspresi sedikit terkejut. “Ya! Sejak kapan kau ada di situ?”

Jongin terkekeh, “barusan. Kau terlihat tertarik sekali ingin ikut sampai-sampai kau tak sadar siapa yang sedang berdiri di sebelahmu.”

“Semua murid di akademi ini berhak ikut kompetisi itu. Wae? Kau merasa terancam punya saingan berat sepertiku?” jawab Seolhyun.

Saingan berat? Ya! Bahkan kau adalah hoobae-ku, jadi tetaplah berusaha keras untuk bisa menyaingiku,” kata Jongin sambil melangkahkan kakinya menjauh dari Seolhyun.

Gadis itu hanya mengerucutkan bibirnya. Kim Jongin selalu saja membuatnya badmood sepanjang hari. Pemuda itu selalu menyebalkan. Tidak hanya di sekolah, di akademi pun dia selalu bertingkah menyebalkan. Entahlah, Kim Jongin selalu punya cara untuk membuatnya marah.

Latihan balet hari ini harusnya sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu, tapi Yoo seonsaengnim instruktur balet mereka belum datang. Jongin itu menguap bosan. Setelah pemanasan harusnya mereka segera bergerak bukan malah bergerombol lantas membicarakan gossip para artis yang sedang panas-panasnya di televisi. Gadis-gadis itu memang aneh, pikir Jongin. Ia bangkit dari duduknya, lalu bergerak menuju benda semacam stainless steel berbentuk silinder di dekat pintu. Lalu meregangkan tubuhnya, dan melakukan pemanasan.

Dari pantulan cermin besar di depannya, Jongin melihat seseorang. Gadis itu, Kim Seolhyun. Dia mengeratkan tali pointe shoesnya, lalu mulai membuat persiapan untuk melakukan gerakan. Jongin tersenyum diam-diam melihat gadis itu seperti mengingat-ingat bagian dari tariannya. Seolhyun mulai menjinjitkan ujung kakinya, melakukan pointe work seperti yang diajarkan pelatih mereka dengan sempurna. Gadis itu sedikit berbeda, meskipun agak keras kepala dan kadang ceroboh tapi ia selalu berusaha keras untuk bisa menguasi setiap teknik tarian yang diajarkan pelatih mereka.

Seolhyun merasa ada yang memperhatikannya, gadis itu menghentikan gerakannya. Sampai ia tahu Jongin memandangnya sambil tersenyum seperti maniac di belakangnya dari kaca besar di depannya. Seolhyun menoleh ke belakang mendapati ekspresi salah tingkat dari Jongin. Sesaat kemudian gadis itu melihat Jongin berpura-pura melakukan pemanasan lagi.

Sepuluh menit kemudian Yoo seonsaeng masuk ke dalam ruang latihan dan membuat semuanya menghentikan kegiatan mereka. “Jeon Yoojin mengundurkan diri dari pementasan karena ia akan melakukan transfer ke Kanada. Jadi aku memutuskan untuk menggantikan posisi Yoojin sebagai Odette. Kim Seolhyun, aku harap kau bisa melakukan yang terbaik,” ujar wanita paruh baya itu.

Seolhyun terkejut, tiba-tiba saja ia yang terpilih jadi pemeran utama dalam pementasan. “Aku?”

Seonsaengnim kenapa harus dia?” protes Jongin.

Ya! Kim Jongin apa kau mau aku mengganti posisimu juga? Ingat ini salah satu tiketmu untuk ikut kompetisi balet di Perancis. Jika kau tidak berhasil mengeksekusi pementasan kali ini dengan baik, aku tidak akan menandatangani surat rekomendasi yang akan membawamu mengikuti kompetisi itu. Ini berlaku untukmu juga, Seolhyun.” Lalu Jongin mengerucutkan bibirnya dan bergumam tidak jelas. Sedangkan, Seolhyun masih bingung dengan keputusan pelatihnya menunjuknya sebagai pemeran utama menggantikan Jeon Yoojin yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannnya.

Pementasan balet ini adalah acara tahunan mereka yang digelar setiap musim semi dan musim gugur. Pementasan balet musim gugur ini bertema Swan Lake. Gadis itu masih berpikir keras kenapa Yoo seonsaengnim memilihnya sebagai pemeran Odette. Ia bukan gadis yang sangat menonjol di akademi, tekniknya masih jauh dibawah Yoojin yang lebih senior darinya.

Dan, Kim Jongin. Pemuda itu satu-satunya yang protes. Ah, tentu saja ia yang berperan sebagai Prince Siegfriend, dan Jongin selama ini menganggap Seolhyun sebagai potensial rival selama di akademi.

Baiklah, kalian boleh memulai latihan. Dan, Seolhyun kau harus ekstra latihan untuk peran ini. Jongin bisa membantumu. Arraseo?” kata Yoo seonsaeng.

Lagi-lagi Jongin menggumam tidak jelas. Sepertinya ia sedang sebal. Seolhyun hanya menunduk dan berterima kasih pada wanita paruh baya itu.

“Selama bersamaku, baik-baiklah padaku, partner,” ujar Jongin, lalu pemuda itu berlalu.

***

Seperti yang dikatakan Yoo seonsaeng, Seolhyun harus ekstra latihan untuk peran barunya. Dia bukan gadis yang susah untuk menerima pelajaran, hanya saja ini akan membuat proses latihan menjadi lebih lama. Jongin menguap lebar, merasa sedikit bosan karena mereka harus banyak mengulang dari awal.

Beberapa kali mereka harus mengulang hanya untuk act bagian pertama. Seolhyun terlihat belum lelah ia masih mengulang gerakannya seperti allegro, adagio dan pas de valse. Jongin memperhatikan gadis itu lagi. Ekstra latihan dengan Seolhyun membuatnya harus menambah jam latihan. Kali ini ia tidak protes, mungkin demi kesuksesan pementasan yang akan membawanya pada kompetisi balet di Perancis nanti. Ia mulai suka memperhatikan Seolhyun menari. Seolah tertarik sebuah kutub magnet matanya entah kenapa tak bisa beralih dari gadis itu.

Setelah istirahat beberapa menit, mereka harus mulai latihan lagi. Menyelesaikan act bagian kedua dan ketiga yang mereka pelajari hari ini. Ini memang agak lebih cepat dari awal mereka latihan yang menghabiskan waktu hampir seminggu untuk act bagian pertama. Pementasan memang sudah dekat, dalam waktu kurang dari dua bulan mereka harus menghafal tarian mereka yang terbagi dalam empat bagian act.

Jongin sudah bersiap pada posisinya, setelah music dimulai Seolhyun harus memulai tariannya dengan pas de valse, selanjutnya ia harus melakukan allegro dan pass de six. Dan bagian yang paling sulit pada act bagian ketiga adalah 32 putaran fouettés dan pas de deux yang harus ia lakukan bersama Jongin.

Seolhyun bersiap melakukan 32 putaran fouettés. Kakinya berjinjit dan badannya mulai bergerak memutar. Dua kali ia berhasil melakukan rotasi putaran, dan yang ketiga gadis itu kehilangan keseimbangannya. Tubuh mungilnya oleng, dan setelah itu Seolhyun tak merasakan tubuhnya terbentur lantai kayu ruang latihan mereka. Ia hanya merasakan sebuah kehangatan mengalir menyentuh tubuhnya. Ia jatuh dalam pelukan Jongin. Beberapa saat mereka saling bertukar pandangan. Mata coklat Jongin memandang lembut Seolhyun, membuat gadis itu lupa akan posisi tubuhnya sekarang.

“Aaw!” teriak Seolhyun merasakan pantatnya terbentur dengan lantai. Setelah sadar posisi mereka, Jongin langsung melepaskan pelukannya membuat tubuh Seolhyun terjatuh.

Ya! Berapa kali lagi kau akan membuat kesalahan? Aku ingin cepat pulang!” kata Jongin. Wajahnya sedikit memerah. Jantungnya berdebar abnormal. Entah apa yang tadi ia rasakan saat ia memeluk tubuh mungil Seolhyun. Ia tak pernah merasakan debaran yang seperti itu. Aish, Kim Jongin, ingatlah dia selamanya akan tetap menjadi rivalmu.

***

Sudah dua minggu ini Jongin tak melihat gadis itu di akademi. Jadwal latihan mereka sama, karena project Swan Lake yang menjadikan mereka partner menari, harusnya Seolhyun datang pada jam yang sama dengannya. Tapi, setiap kali Jongin datang ke akademi untuk latihan  ia tak menemukan Seolhyun. Kadang ia menunggu gadis itu tapi sampai jam latihan selesai dia tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Hari ini tepat dua minggu sebelum pementasan. Mereka memang sudah berhasil menyelesaikan keempat bagian act tarian Swan Lake tepat satu bulan sebelum pementasan dimulai. Dua minggu berikutnya untuk finishing dan improvisasi. Planning yang sempurna. Tapi Seolhyun malah tidak datang ke akademi. Jongin sedikit merasa kehilangan dan juga sebal. Tak bisa dipercaya, gadis itu menghancurkan semua planning, bagaimana bisa mereka latihan tanpa Odette si pemeran utama.

Sore hari pada akhir latihan ia melihat Seolhyun sedang berbicara dengan Yoo seonsaeng. Terlihat agak serius. Gadis itu terus tertunduk. Jongin diam-diam berdiri di balik pintu. Ya, menguping pembicaraan orang lain itu sangat tidak sopan. Tapi rasa penasaran itu melebihi segalanya. Dan semua pembicaraan Seolhyun dan Yoo seonsaeng menjawab semua rasa penasarannya. Dan satu fakta yang membuatnya sedikit sakit hati.

Ya! Kim Seolhyun! Kemana saja kau selama ini?” pemuda itu bersandar pada pintu keluar gedung akademi, menghalangi jalan Seolhyun untuk keluar.

Seolhyun hanya memandang pemuda di depannya. Mata coklat Jongin menatapnya tajam, ada rasa marah tergambar dari sana. “Bukan urusanmu.”

Jongin meraih tangan Seolhyun menariknya sedikit kasar, lalu menyeretnya ke dalam ruang dance practice mereka. Gadis itu berusaha melepaskan tangannya, tapi Jongin tak mau tahu. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti ini.

Lepaskan aku! Ya! Kim Jongin, lepaskan!” teriak Seolhyun.

Jongin masih tak peduli dengan teriakan Seolhyun. Pemuda itu mendorong tubuh Seolhyun hingga membentur kaca besar di dinding ruang latihan.

“Kau senang?” Seolhyun tertawa sinis. “Kau senang, kan, Kim Jongin? Setelah ini tidak akan ada lagi Kim Seolhyun yang muncul dihadapanmu.”

Neo michyeosseo? Pementasan sudah di depan mata dan kau ingin meninggalkan tanggung jawabmu?” bentak Jongin.

Seolhyun sekali lagi tersenyum, sebuah senyuman pahit. “Bukankah kau senang jika aku tidak ikut dalam pementasan? Dengan begitu kau jadi satu-satunya kandidat yang akan ikut kompetisi itu.”

Neo baboya!”

“Kau tahu, orang tuaku tak pernah merestui aku menjadi seorang penari balet. Dan sekarang aku membuat kakiku cedera. Apa lagi yang bisa aku lakukan selain menyerah,” kali ini Jongin melihat ekspresi gadis itu berubah. Ada bulir kristal kecil di ujung matanya. Dari situ ia baru sadar Seolhyun berjalan dengan agak terpincang saat ia menyeretnya ke sini.

Cengkraman tangannya melonggar. Membiarkan tangan gadis itu terlepas. Kenapa ia harus semarah ini pada Seolhyun. Ada sedikit rasa sakit di hatinya. Entah apa alasannya. Ia melihat gadis itu membereskan tasnya yang terjatuh saat ia menarik paksa tangannya tadi.

“Seolhyun-ah..” kali ini suaranya agak bergetar.

Tangannya meraih tangan Seolhyun lembut, mencegahnya membuka pintu ruang latihan. Mencegahnya pergi. Ya, Jongin tak ingin kehilangan Seolhyun. Gadis itu hanya terdiam, membiarkan tangan Jongin berada di pergelangan tangannya.

Gajimayo..ujar Jongin. “Jangan biarkan aku melakukan ini sendirian karena aku tak akan pernah bisa melakukannya tanpa partnerku. Prince Siegfriend tidak berarti apa-apa tanpa Odette.”

Jongin melangkahkan kakinya mendekat. Lalu memeluk badan Seolhyun yang lebih pendek darinya. Gadis itu merasa badannya lebih nyaman dipelukan Jongin. Ia bisa mendengar detak jantung pemuda itu.

Seolhyun tersenyum tipis. “Aku akan tetap bertanggung jawab atas peranku pada pementasan. Tapi tidak dengan kompetisi itu.”

Jongin tiba-tiba melepas pelukannya. Alis matanya terangkat, seperti tidak percaya. Sebuah anggukan yang ia dapatkan sebagai jawaban. Dan sebuah kecupan singkat mendarat di kening Seolhyun membuatnya sedikit terkejut atas tindakan Jongin.

You have to know, swans only have one partner for their whole life end if their partner dies they could pass away from a broken heart,” kata Jongin.

Seolhyun tertawa kecil, “Kau bukan seekor angsa, Kim Jongin-sshi. Lagi pula jika kau mati karena patah hati itu artinya tidak ada lagi namja menyebalkan di akademi.”

Jongin mengerucutkan bibirnya. Ini pertama kalinya Seolhyun melihat pemuda itu bertingkah lucu seperti sekarang. Seolhyun sekilas melihat senyuman tipis yang terbentuk dari sudut bibir Jongin. Jongin kembali memeluknya

“Kenapa kau tak membiarkan aku pergi, hm?”

“Karena kau adalah partnerku.”

Hanya itu? Kau sangat suspicious. Aku tidak percaya,” balas Seolhyun.

Gurae, Kim Seolhyun, aku menyukaimu.” Jongin lantas membuang mukanya, membuat Seolhyun tertawa geli.

“Katakan sekali lagi, aku tidak mendengar,” Seolhyun berusaha membuat Jongin mengalihkan pandangannya padanya. Ia tahu pemuda itu sedang menutupi wajahnya yang memerah. “Ayo katakan, Jongin-sshi~..

Seolhyun mulai menggelitiki perut Jongin, membuatnya melepaskan pelukannya. Selanjutnya Seolhyun merasakan sebuah kecupan singkat di bibirnya. Jongin akhirnya mengeluarkan senyuman di sudut bibirnya. Ia memeluk tubuh mungil Seolhyun sekali lagi, ia tak akan melepasnya. Love doesn’t need to be perfect, it just needs to be true, right?

***

THE END

***

» hi, this is the first story of XOXO Story. Ah saya buat cerita aneh lagi maafkan saya ya reader sekalian. This is my new experiences make a story about Ballet, saya belum bisa mengeksplorasi lebih banyak lagi tentang balet jadinya ya segitu aja deskripsinya dan juga feelnyaIm so sorry for awkward story, and typos T_T

Thanks for reading and visiting my blog. I’ll very happy if you drop your comment, or maybe criticism, it’s okay🙂

FYI, you can read this if you wanna know about ballet dance dan beberapa gerakan balet yang saya sebutkan dalam cerita >> http://en.wikipedia.org/wiki/Glossary_of_ballet

3 thoughts on “[XOXO Story] 1st Story – Soulmate

  1. Pingback: [XOXO Story] Kisses and Hugs Series | Chielicious's Shining Life

  2. Pingback: [XOXO Story] 3rd Story – A Chance | Chielicious's Shining Life

  3. Pingback: [XOXO Story] 4th Story – The Band-Aid | Chielicious's Shining Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s