[XOXO Story] 2nd Story – I Choose You

tumblr_mxg6ljt3FS1s2pwp3o1_500
chielicious©2014
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Sehun’s Story
I choose you
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Oh Sehun || Lee Yooyoung
Oneshot Romance story
No bashing. No Plagiarism. Don’t be a silent reader.

***
Pemuda itu menelusuri lorong panjang sendirian. Masih tetap sama, dindingnya, lantainya, suasananya, semuanya. Hanya saja ia merasa mereka sudah mengganti cat dindingnya, dulu berwarna biru menjadi berwarna kuning seperti sekarang. Lalu ia berjalan menuju ruang kelas tempatnya dahulu belajar, tak banyak berubah juga. Ingatannya lalu memutar bagaimana suasana ketika ia dan teman-temannya berada di sana, belajar bersama, bercanda bersama. Pemuda itu lalu tersenyum tipis.Langkahnya membawanya ke ruangan yang penuh dengan buku-buku di sepanjang mata bisa memandang. Perpustakaan. Ah, ia ingat ia sering melarikan diri dari pelajaran matematika Han seonsaengnim dan bersembunyi di bagian rak paling belakang dengan begitu ia bisa tidur dengan tenang dan ini juga menjadi tempat favoritnya ketika para gadis mulai mengejar dan meneriakkan namanya. Ya, ia cukup popular di kalangan gadis-gadis semasa SMA. Ia kembali tersenyum tipis, ada alasan lain ia senang ketika ia pergi ke perpustakaan.

Ia lalu melangkahkan kakinya ke luar gedung, di sana terhampar luas lapangan sepak bola. Ini adalah tempat paling menyenangkan di sekolah menurutnya. Ia masih bisa melihat bagaimana euphoria kemenangan timnya. Senyuman dan teriakan penonton pada seorang pemuda bernomor punggung 94 bernama Oh Sehun.

Sehun lalu berjalan menuju bangku kecil yang berada tak jauh dari lapangan sepak bola. Sebuah bangku kayu yang berada dibawah pohon maple. Dari sana ia bisa melihat lapangan sepak bola sekolah yang luas. Ia lantas duduk dan terdiam, menikmati semilir angin musim gugur yang menerpa wajah tampannya. Terlalu banyak kenangan di sini, di sekolahnya. Diam-diam ia tersenyum tipis. Ia teringat pada seseorang yang pernah menyatakan perasaannya pada Sehun di sini, tapi satu hal yang membuatnya berubah ekspresi. Ia menyesalkan ending dari kenangannya yang satu itu.

 

***

 

Pemuda itu berdiri dengan menenteng sebuah kantung kertas titipan ibunya di tangan kanannya, menunggu seseorang membukakan pintu yang ada di depannya. Ia memencet tombol hijau yang akan tersambung ke intercom di dalam rumah sekali lagi, tak beberapa lama kemudian suara seorang wanita menjawabnya. Dan pintu di depannya terbuka, menampakkan wajah cantik wanita berambut coklat panjang. Senyuman ramah wanita itu di sambut oleh Sehun.

Hari ini ia punya tugas baru yaitu mengantar dan menjemput putra semata wayang Luhan hyung untuk pergi ke TK, karena Luhan hyung sedang sibuk di kantor tentu saja dan Chorong noona harus mengurusi boutique bajunya yang sedang ramai. Sehun sebenarnya tidak terlalu telaten untuk mengurus anak kecil, tapi apa salahnya kalau ia mencoba toh ini hanya mengantar dan menjemput saja. Lagi pula ia juga sedang tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantor, jadi ia setuju saja.

Wanita berambut coklat tadi mempersilahkannnya duduk di meja makan, di sana sudah ada Luhan hyung yang sudah rapi dengan setelan jas, kemeja dan dasi, dan si kecil yang sudah siap berangkat sekolah dengan tas berbentuk mobil di punggungnya.

“Ah, Sehun-ah, selamat pagi,” ujar pria paruh baya sambil menurunkan koran yang sejak tadi ia baca. “Ziyu-ya, katakan annyeonghaseyo pada Sehun-samchon,” lanjutnya, dan diikuti dengan sapaan manis dari bocah laki-laki kecil yang sedang menunggu sarapannya datang dari ibunya.

Beberapa menit kemudian wanita berambut coklat tadi datang dengan membawa beberapa potong sandwich dan telur mata sapi kesukaan si kecil. “Ini untuk Sehun-samchon, dan ini untuk prince Ziyu,” ia meletakkan secangkir kopi panas di depan Sehun dan segelas susu di depan bocah kecil yang berada di samping Sehun.

“Terima kasih. Tapi Chorong noona, kau tak perlu repot-repot begini,” ujarnya, sambil mengangkat cangkir kopinya.

Wanita yang dipanggilnya Chorong noona tadi hanya tersenyum, lalu duduk kursi kosong sebelah si kecil. “Aniyo, Sehun-ah, harusnya kami yang sangat berterima kasih padamu karena kau mau repot-repot memenuhi permintaan kami.”

“Tak apa noona, aku sedang ada waktu luang dan tidak telalu banyak project di kantor. Jadi mengantar dan menjemput Ziyu tak masalah bagiku. Lagipula aku juga ingin dekat dengan anak-anak,” cengir Sehun lebar.

Suasana keluarga Luhan begitu hangat, penuh dengan kebahagiaan. Kadang ia merasa iri pada Luhan. Pria itu punya segalanya, kesuksesan pekerjaannya, keluarga bahagia, istri yang cantik dan lembut, serta seorang anak laki-laki yang manis. Ya, kadang Sehun berpikir apakah ia bisa seberuntung Luhan.

“Makanya, cepatlah menikah, Sehun-ah,” celetuk Luhan.

“Iya, hyung, tapi kalau sudah ada calonnya,” cengiran lebar itu sekali lagi yang ia perlihatkan

Ya, mungkin itu masih terlalu jauh untuk memikirkan mempunyai sebuah keluarga kecil yang bahagia seperti Luhan, seorang kekasih pun ia tidak punya sekarang. Kadang ia berpikir ia ingin menikah di usianya yang sudah 28 tahun ini. Tapi kalau ditanya ia siap menikah atau tidak, Sehun masih bingung. Karena pernikahan itu bukan perkara main-main.

Setelah selesai sarapan, Ziyu sudah siap menenteng tas mobilnya dan Sehun sudah siap untuk mengantarnya ke sekolah. Chorong dan Luhan mengantar mereka sampai depan lobi apartement. Ini pertama kalinya bagi Ziyu pergi ke sekolah tidak diantar ayah atau ibunya. Kadang Ziyu sedikit manja, dia akan merengek tak mau pergi ke sekolah jika tidak diantar ayahnya. Anak kesayangan ayah.

“Ziyu-ya, hari ini Ziyu diantar dan dijemput Sehun-samchon ya nanti sepulang sekolah karena Appa harus pergi keluar kota beberapa hari dan tidak bisa mengantarmu, sedangkan Eomma hari ini harus pergi ke boutique dan ke dokter. Jadi, Ziyu bersama Sehun-samchon. Oke, prince?ujar Chorong. Lalu Sehun tersenyum tipis melihat si pangeran kecil Ziyu memeluk ayah dan ibunya.

Ziyuya, kajja!

 

***

 

Tiga puluh menit ia sudah menuggu di waiting room bagian depan gedung sekolah Ziyu. Mungkin ia memang sedikit datang lebih awal. Di kanan kirinya ada beberapa orang tua juga yang datang menjemput anak mereka pulang sekolah, tapi tampaknya Sehun sendiri yang terlihat lebih muda dari mereka semua. Terlihat para ibu-ibu di sampingnya memperhatikannya sedari tadi, ah, sepertinya pesonanya belum hilang sampai sekarang. Sehun tersenyum dalam hati.

Beberapa menit kemudian bel pulang berbunyi. Dan para anak-anak menghampiri orang tuanya masing-masing, sepertinya waktu pulang sekolah adalah waktu yang paling mereka tunggu. Pulang dan bertemu dengan orang tua kembali, lalu bercerita tentang semua kegiatan mereka di sekolah hari itu.

“Hari ini Ziyu dijemput Eomma atau Appa?”

“Hari ini Eomma dan Appa tidak bisa menjemput Ziyu.

“Lalu Ziyu bersama siapa? Kalau belum ada yang menjemput Ziyu boleh pulang bersama seonsaengnim.”

“Itu Sehun-samchon!” teriak Ziyu, membuat wanita yang tadi berbicara dengannya menoleh ke arah Sehun.

Sehun terpaku. Rasanya matanya tak bisa beralih dari wanita yang berdiri di sebelah Ziyu. Kakinya terasa kaku dan susah digerakkan. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya seketika melihat siapa yang sedang bersama keponakannya. Ia mengenalnya, sangat.

Wanita muda itu memperhatikannya, sepertinya berusaha mengingat-ingat. “Kau Sehunoppa?

“Kau sudah lupa denganku, Lee Yooyoung?”

“Ah, aniyo, aku hanya sedikit tidak yakin,” kata gadis yang bernama Lee Yooyoung tadi. Sehun tersenyum tipis, tak pernah ia duga ia akan bertemu gadis ini setelah upacara kelulusan sekolah menengah atas mereka sepuluh tahun yang lalu. “Kau banyak berubah.”

Jantungnya tiba-tiba berdebar cepat. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Tiba-tiba saja tubuhnya bereaksi lain ketika ia melihat Yooyong untuk pertama kali setelah sekian lama terpisah karena mereka tidak berada pada satu kampus. Melihat senyum manis itu lagi terasa seperti menyiramkan air pada hatinya yang sudah lama mengering.

“Bagaimana kabarmu?”

“Seperti yang kau lihat, baik,” jawab Sehun. “Kau?”

“Aku baik-baik saja,” gadis itu kembali tersenyum. “Ziyu..”

“Ah, iya Ziyu adalah keponakanku, hari ini aku yang mengantarnya. Orang tuanya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka.” Agak sedikit aneh. Sehun merasa sedikit kikuk ketika berbicara dengan Yooyoung. Padahal dulu mereka tak seperti ini.

“Syukurlah, setidaknya ia ada yang menemani pulang. Anak-anak kasian jika mereka tidak ada yang mengawasi. Banyak bahaya di luar sana jika mereka tidak ada yang mendampingi,” kata gadis bermata bulan sabit itu sambil mengelus puncak kepala Ziyu.

Sehun tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan di depan gadis itu. Semua terasa blank ketika ia berada di depan Yooyoung. Ia pura-pura melihat ke arah jam tangan yang ia pakai pada pergelangan tangan kirinya

“Baiklah, Ziyu sekarang sudah dijemput Sehun-samchon jadi Lee seonsaengnim sudah tidak khawatir lagi,” kata gadis itu sambil berjongkok berbicara dengan si tampan Ziyu, yang membuat Sehun tak bisa melepaskan pandangannya pada Yooyoung. Dia banyak berubah sejak bertahun-tahun yang lalu. Ia tak menyangka kalau gadis itu bisa sangat sabar dengan anak-anak. Gadis ini terlihat begitu dewasa. Yooyoung beranjak berdiri, lalu tersenyum manis ke arah Sehun. “Oppa, kalau begitu aku harus masuk ke dalam membereskan beberapa dokumen siswa.”

“Yooyoung-ah..” panggil Sehun.

Gadis itu berbalik. “Ne?”

Kau sedang sibuk? Mungkin kita bisa bertemu dan ngobrol, aku akan mentraktirmu bubble tea,” Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Mungkin akhir pekan ini aku akan menagih janjimu,” balasnya.

 

***

 

“Err..apakah Lee seonsaeng ada?” kata Sehun pada seorang lelaki tinggi yang sepertinya usianya tak jauh berbeda dengannya.

“Dia ada di dalam kantor guru, oh, itu dia,” balasnya setelah melihat Yooyoung keluar dari ruangan guru. “Lee seonsaeng ada seseorang yang mencarimu,” panggil laki-laki muda itu.

“Oh, Sehun oppa?” Yooyoung berjalan mendekati mereka, dan laki-laki muda itu pamit meninggalkan tempatnya berdiri kepada Sehun. “Gomawo, Choi seonsaeng,” ujar Yooyoung dengan senyuman manisnya, sambil menepuk pundak laki-laki itu. Ah, mereka terlihat akrab, sepertinya mereka teman dekat.

Yooyoungah…

Kau mencari Ziyu? Dia sudah pulang bersama ibunya beberapa waktu yang lalu,” kata Yooyoung.

Sehun tersenyum kikuk, “bukan, aku bukan mencari Ziyu.”

“Lalu?” tanya Yooyoung bingung.

Sebenarnya sudah dua minggu Sehun sudah tidak bertugas lagi mengantar dan menjemput Ziyu. Chorong noona bilang ia sudah bisa menghandle putranya. Tapi setelah pertemuan pertama yang tidak sengaja di sekolah Ziyu dengan Yooyoung, kemudian mereka menghabiskan setiap akhir pekan bersama dengan ngobrol seharian di kedai bubble tea. Sehun merasa ada yang berbeda dengan hatinya. Ia tak bisa berhenti memikirkan Yooyoung, senyuman gadis itu selalu membuatnya merasa rindu dan ingin bertemu. Ia merasa aneh dengan dirinya, inikah efek pertemuan setelah lama tidak bertemu?

“Kau ada waktu luang? Apakah…. kau mau menemaniku membeli kado untuk ulang tahun Ziyu?” Yooyoung tertawa pelan, sedangkan Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Selalu ada saja alasan untuk bertemu.

Mereka sedang duduk berhadapan di sebuah restoran menunggu makan malam mereka dihidangkan. Ya, tadi Sehun sudah berjanji pada Yooyoung jika gadis itu mau menemaninya membeli kado ulang tahun untuk Ziyu, ia akan mentraktir Yooyoung makan malam. Sehun entah kenapa hari ini ia sangat senang. Bisa jalan-jalan berdua dengan Yooyoung adalah hal yang tak pernah ia lakukan semasa SMA. Meskipun kali ini dengan alasan membeli kado untuk si tampan Ziyu. Tetap saja, it’s a date.

Sehun diam-diam memperhatikan Yooyoung. Tak biasanya merasa gugup jika berada di dekat Yooyoung. Tangannya berkeringat dingin, jantungnya berdebar cepat sekali. Seperti ada yang menggelitik di perutnya setiap kali ia memperhatikan gadis itu. Beberapa saat mereka berdua hanya saling diam. Sehun yang berusaha menemukan topik pembicaraan, sedangkan Yooyoung yang canggung untuk memulai pembicaraan dengan Sehun.

Setelah selesai makan malam, mereka masih duduk di tempat yang sama. Menikmati date mereka dengan secangkir kopi. Sehun dan Yooyoung hanya memandang secangkir kopi yang masih mengepulkan uapnya di depan mereka. Ia sudah capek berbasa-basi, lagipula ini akan membuat tingkahnya semakin awkward. Sehun masih berbikir topik pembicaraan apa yang akan ia mulai.

Yooyoungah…”

Ne?”

“Kau menerima undangan reuni SMA kita?” Akhirnya ia menemukan satu.

Yooyoung tersenyum, “tentu saja, oppa juga, kan?”

Sehun mengangguk. Diam kembali terbentuk diantara keduanya. Ah, ia kehabisan bahan pembicaraan lagi. “Yooyoung.. err.. kau datang bersama siapa? Maksudku kau akan datang ke reuni, kan?

“Aku akan datang, mungkin sendirian,” jawabnya. “Ah, atau aku bisa mengajak Choi seonsaeng,” tambahnya.

Choi seonsaeng, oh iya pemuda itu. Guru laki-laki yang sepertinya sangat dekat dengan Yooyoung. Beberapa kali Sehun tahu saat menjemput keponakannya, Yooyoung sedang mengobrol sambil bercanda layaknya teman dekat dengan pemuda yang disebut Choi seonsaeng. Ada sedikit cubitan di dadanya kali ini. Mungkin ia merasa sedikit cemburu,

Sekarang ia sedang berpikir, bagaimana kalau Yooyoung serius mengajak namja itu. Ah, ini akan lebih menyakitkan baginya. Mungkin benar kata Luhan, ini adalah kesempatan baginya. Beberapa hari yang lalu ia bercerita pada Luhan, dan si kakak bilang kalau ia harus lebih berani mengungkapkan perasaannya. Ia harus lebih jujur pada perasaannya.

“Besok aku akan menjemputmu pukul tujuh,” katanya sambil menyerahkan sebuah wrist corsage. Ia sudah memulai langkahnya.

 

***

 

Pandangannya tak bisa beralih dari gadis yang sedang duduk di jok sebelahnya. Seperti seorang bidadari yang jatuh ke bumi. Hanya dengan dress berwarna pastel dan tidak ada accessories yang berlebihan hanya wrist corsage yang ia berikan. Tapi cukup membuat Sehun tak bisa mengalihkan pandangannya. Jantungnya mulai berdebar abnormal. Ya, ia mengakui Yooyoung sangat cantik. Tapi ia masih sedikit tak bisa jujur tentang perasaannya. Mungkin masih gengsi untuk mengaku.

Setelah sampai di tempat acara reuni SMA mereka, tampaknya sudah banyak orang yang datang. Mereka berjalan beriringan, tangannya dengan sengaja menggaitkan jemari Yooyoung pada miliknya tak membiarkan Yooyoung sendirian. Ia tak pernah seberani ini. Tapi ia merasa lebih baik, dan entahlah seperti ada ribuan bunga yang sedang tumbuh di perutnya.

“Oh Sehun!” panggil seseorang.

Ya! Jung Daeun!” balas Sehun. “Long time no see.

Gadis yang bernama Jung Daeun itu meninju pelan lengan Sehun. “Kau banyak berubah, ya, Sehun-sshi.”

“Tentu saja aku semakin tampan, bukan?” Kali ini itu meninju lengan Sehun lagi dengan agak keras. Sedangkan Yooyoung hanya melihat keakraban keduanya di samping Sehun.

“Dan kau beraninya ke sini membawa seorang gadis lain,” kata Daeun bercanda.

“Ini Lee Yooyoung, dari kelas 3-3, kau ingat?” jawab Sehun. Yooyoung hanya menunduk, lalu mengucapkan halo pada teman dekat Sehun.

“Tentu saja aku ingat.” Senyum Daeun kali ini pandangannya sedikit menyelidik, “kalian berkencan?”

Aniyo. Kami hanya datang bersama,” jawab Yooyoung sebelum Sehun menjawabnya. Mungkin ia takut Daeun salah paham tentang mereka. Yooyoung tahu seberapa dekat Sehun dan Daeun, mungkin dari jauh orang lain akan mengira mereka sepasang kekasih karena kedekatan mereka. Dan ia sadar akan posisinya.

“Ah, tapi kalian terlihat serasi,” ujar Daeun.

Sehun tiba-tiba mengeratkan pegangan tangannya pada jemari Yooyoung yang membuat Yooyoung sedikit bingung. Jemari Sehun mengaitnya semakin erat seolah tak mau melepasnya.

“Kami memang tidak berkencan, tapi Yooyoung adalah calon istriku.”

 

***

 

Mobilnya berhenti di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar untuk ukuran sebuah rumah yang ditempati seorang gadis sendirian. Dan kedua penumpangnya masih berada di tempat duduk masing-masing. Sehun masih di jok belakang kemudi, dan Yooyoung berada di jok sebelahnya.

Mereka berdua hanya saling diam. Tak ada kata yang mereka suarakan sejak pesta reuni SMA mereka usai. Ya, hanya diam dan larut dalam pikiran masing-masing.

Oppa..”

Yooyoungah..”

Kau duluan.”

Ani, kau dulu.”

Akhirnya mereka mau buka mulut walau harus saling menyuruh untuk bicara duluan seperti ini.

Baiklah,” ujar Yooyoung. “Aku hanya ingin bertanya, kau tidak serius dengan ucapanmu pada Daeun eonni tadi, kan?”

Sehun hanya diam. Lidahnya terasa kelu.

“Kau juga tahu kita tak pernah ada hubungan apapun. Kita tak pernah berkencan, dan mana mungkin aku menjadi calon istrimu,” gadis itu meremas ujung roknya. Menahan emosi dan air matanya yang ingin keluar. “Kau tahu, aku sudah mengubur harapanku sepuluh tahun yang lalu sejak kau menolak pernyataan cintaku sewaktu SMA. Ya, aku sadar itu hanya sebuah cinta monyet. Tapi, hari ini kau membuka lagi kotak yang sudah aku kubur dalam-dalam.”

Mata gadis itu sudah berkaca-kaca. Sehun tahu gadis itu sedang menahan air matanya agar ia tidak menjatuhkannya di depan Sehun.

Yooyoungah..”

Belum sempat Sehun menjawab, Yooyoung sudah menyela perkataannya duluan. “Sudah larut, aku harus masuk ke dalam. Dan kau juga harus pulang. Terima kasih, kau sudah mengantarku pulang,” kata Yooyoung sambil melepaskan seatbeltnya dan bersiap untuk membuka pintu mobil Sehun.

Sebuah tangan menahannya. Tangan Sehun menggenggam pergelangan tangan Yooyoung erat, menahannya agar tidak pergi. Lalu ia menariknya mendekat dan kemudian Yooyoung merasakan sebuah kehangatan menjalar lewat bibirnya. Beberapa menit ia merasakan bibir lembut itu melumatnya, dan cukup membuatnya melebarkan mata tidak percaya. Sehun menguncinya hingga ia hanya bisa diam dan akhirnya terbawa arus. Sampai si pemuda melepas sendiri tautan bibir mereka, Yooyoung masih tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja terjadi pada mereka berdua.

“Aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku katakan, Yooyoung-ah. Aku serius dengan ucapanku,” matanya kini menatap dalam mata si gadis. Kembali mengunci pandangan mereka berdua. “Dan, soal sepuluh tahun yang lalu aku menyesalinya sekarang. Semua yang terjadi di masa lalu adalah kebodohanku. Aku tak pernah tahu aku mencintaimu sampai saat setelah upacara kelulusan, dan kau menghilang begitu saja. Aku merasa sangat menyesal dan rasa sakit karena kehilangan mulai muncul saat itu.”

Yooyoung lalu menunduk, ia tak kuat jika terus menatap mata Sehun yang selalu mengikatnya. Gadis itu mulai merasakan sesak di dadanya.

“Yooyoung-ah, kita memang tak pernah ada hubungan apapun, kita tidak pernah berkencan. Tapi sekarang, aku hanya ingin membuat sebuah ikatan yang jelas denganmu,” lanjutnya.

Pemuda itu seperti mencari sesuatu di saku celananya. Lalu ia mengeluarkan sebuah kotak kecil. Sehun berusaha membuat Yooyoung menatapnya. Kemudian tangan kanannya meraih jemari Yooyoung.

Lidahnya serasa kaku ketika kata selanjutnya akan diucapnya. Seperti tertahan di tenggorokkannya. Sehun menghela napas dalam, hatinya sudah tidak kuat jika lama-lama menahan ini. Kotak kecil itu dibuka, sebuah cincin dengan intan yang menghiasinya.

“Lee Yooyoung, will you marry me?

Tak ada jawaban. Hanya air matanya saja yang tiba-tiba tak bisa dibendung lagi. Gadis itu mengusap butiran air matanya yang jatuh di wajah cantiknya. Ia tak bisa berkata apapun. Terlalu sulit untuk dicerna saat itu juga. Yooyoung tak mengerti, sesuatu barusan terjadi terlalu cepat menurutnya. Ya, secepat itu Sehun melamarnya.

“Yooyoung-ah, aku minta maaf jika ini terlalu mengejutkanmu. Mungkin ini terlalu tiba-tiba. Tak apa jika memang kau tidak ingin menerimaku dan menikah denganku. Tapi aku sudah lega bisa mengatakan ini padamu,” ujarnya, melihat gadis itu semakin menampakkan ekspresi kebingungan. “Tapi aku ingin kau memakai ini meskipun kau menolak lamaranku. Ini hadiah karena kau sangat cantik malam ini.”

Ia menyerahkan kotak kecil itu ke tangan Yooyoung. Tapi gadis itu menolaknya untuk menerima kotak yang diberikan Sehun.

“Aku tak akan menerima kotak itu sebagai hadiah hanya karena aku berpenampilan cantik malam ini,” balasnya, akhirnya Yooyoung membuka mulut.

Yooyoungah..

“Aku akan menerimanya jika kau berani berjanji pada Tuhan di depan altar, tidak hanya berjanji di depanku saja,” ujarnya.

Sehun memandang Yooyoung bingung. Mungkin ia masih berusaha mencari arti dari perkataan gadis itu. Lantas pandangannya dialihkan pada mata bulan sabit Yooyoung. Kemudian sebuah senyuman tersungging sangat manis dari sudut bibirnya. Jemari mereka berdua masih tertaut, Sehun semakin memperkuat tautannya. Dan pemuda itu pada akhirnya menarik Yooyoung ke dadanya. Memeluknya erat.

I don’t know why I like you. I don’t know why I feel sad on a day when I don’t see your face, I only know one thing that I don’t bear any meaning without you. I know what love is, it is because of you. I love you, Lee Yooyoung.”

 

***

.

.

Halo semuanya :D Kali ini saya posting 2nd story of XOXO Story. Ini adalah hasil penggalauan saya di malam takbiran kemarin soal jodoh, jadi maaf ya kalo jelek ceritanya hehe

Mumpung masih lewat 3 hari lebarannya, Selamat Idul Fitri ya mohon maaf lahir batin ^^ Mohon maaf juga kalo saya ada salah-salah kata ya, dan mohon maaf karena update ffnya lama hehe maklum saya mahasiswa semester akhir :D 

Dan terima kasih banyak sudah main-main di blog saya, as always, I’m very thankful for your sincere comments. It’s really helped me to correct my writing skill. Bye~ see you on next fanfiction😀

____________________________________________________

6 thoughts on “[XOXO Story] 2nd Story – I Choose You

  1. aii sweet like usual. ninggalin jejak dulu hehehe
    eon aku minta di cerita selanjutnya ada baekjo couple dong jebaaaal… kangen berat nih sama aegyo kapel satu itu;_;

  2. Eon aku readers aru nih ^^ keren ceritanya ;_; cerita selanjutnya aku request chanlime dong pweasee. Susah banget cari ff yg castnya mereka:(

  3. Pingback: [XOXO Story] 3rd Story – A Chance | Chielicious's Shining Life

  4. Pingback: [XOXO Story] 4th Story – The Band-Aid | Chielicious's Shining Life

  5. Yee!! Akhirnya ada ff Sehun Yooyoung (lagi).
    Aku sangat suka couple yang satu ini. Dan suka banget saat baca ff ini. Romantis banget!!. Pokoknya daebak!
    Ditunggu ff HunYoungnya lagi ne..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s