[XOXO Story] 3rd Story – A Chance

tumblr_mxg6ljt3FS1s2pwp3o4_500
chielicious©2014
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Suho’s story
A chance
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
________________________________________

No bashing. No Plagiarism. Don’t be a silent reader

[1st STORY] KAI – SOULMATE || [2nd STORY] SEHUN – I CHOOSE YOU

***

Hanya terangnya satu cahaya yang menemaninya saat ini. Di saat seluruh lampu di deretan pertokoan Garosu-gil sudah mulai padam, dan satu persatu pemiliknya menutup toko mereka. Gadis ini masih bertahan di antara puluhan lembar kertas sketsa di meja kerjanya.Tangannya masih bekerja, menggambar beberapa desain gaun pengantin pesanan para customer yang akhir-akhir ini sedang ramai. Tak banyak yang dapat ia selesaikan. Beberapa kali ia malah meremas kertas desainnya hingga menjadi buntalan bola kecil, lalu membuangnya ke tempat sampah di sudut ruangan yang sudah mulai penuh dengan bola-bola kertas itu.

Ia memijat pelan keningnya, melepas kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya. Nampak guratan lelah terlihat sangat jelas di raut wajah cantiknya. Dan lingkaran hitam transparan di sekitar matanya, menunjukkan ia harus mengakhiri pekerjaannya malam ini. Gadis itu hanya memandang beberapa desain yang sudah ia selesaikan. Lalu menyesap secangkir kopi yang sudah tak nampak lagi uapnya. Pekerjaannya memang terlihat mudah, hanya menggambar desain sesuai dengan kemauan si pemesan. Tapi, ia akan menjadi sulit jika mood baik tidak ia dapatkan.

Tak banyak waktu yang bisa ia gunakan untuk bersantai, deadline pesanan wedding gown yang membuatnya harus bekerja keras lembur setiap hari. Bukannya ia merasa kekurangan, hasilnya sudah lebih dari cukup malah. Tapi entahlah, bukankah sifat manusia tidak pernah puas? Ia hanya seseorang yang workaholic. Gadis berambut panjang itu kembali memakai kacamatanya, meraih pensil yang ada diantara tumpukan kertas, dan mulai mengambil satu lagi kertas desain.

Hidupnya terlalu monoton, setiap hari sibuk dengan pekerjaan dan tenggelam di dalamnya tanpa ada yang berani mengganggu. Begitupun dengan berkencan. Ah, bahkan ia tak ingat kapan terakhir kalinya ia pergi berkencan di akhir pekan. Gadis ini terlalu sibuk dengan dunianya. Ia kembali berkonsentrasi dengan gambar di depannya. Jari-jarinya dengan terampil menggoreskan setiap detil gaun sesuai dengan permintaan pemesan.

Malam semakin larut, lampu tokonya sudah dimatikan. Hanya tinggal sebuah cahaya dari lampu meja kecil yang menemaninya bekerja. Berdiam diri sejenak ketika getar dan dering ringtone yang berasal dari ponsel yang ia letakkan tak jauh dari tumpukan kertas desainnya mengganggu konsentrasinya. Tapi si gadis tak menghiraukannya, membiarkannya begitu saja dan meneruskan pekerjaannya.

Ketiga kalinya dering ringtone mengganggunya. Sebenarnya ia terlalu malas untuk mengangkat telpon setelah tahu nama siapa yang tertera di layar ponselnya. Kelima kali ponselnya berdering dan ia merasa sangat terganggu. Masih dengan penelpon yang sama. Ia meletakkan kembali pensilnya, membiarkannya menggelinding diantara tumpukan kertas desain di atas mejanya. Lalu mengambil ponsel menyebalkan yang tak pernah lelah mengganggunya meskipun sudah berkali-kali diabaikan.

Kim Joonmyun.

Begitu nama itu tertera di layar ponselnya, serta sebuah foto seorang pemuda dengan senyuman lebar nampak disana. Gadis itu hanya melihatnya beberapa menit. Hingga tangannya dengan malas menekan tombol hijau itu.

“Kau masih berada di boutique?” sahut orang yang berada di ujung sambungan telpon. Oh, bahkan gadis itu tak sempat mengucapkan yoboseo. “Ara-ya, aku akan menjemputmu tiga puluh menit lagi. Tunggu.”

Sederet kata yang ia tak pernah ia bisa bantah. Dia adalah Kim Joonmyun. Seorang pemuda yang sempat mengisi hatinya. Bahkan ketika mereka sudah berakhir, Ara tak pernah bisa menolak kehadiran Joonmyun.

Gadis itu meneruskan kembali pekerjaannya. Hanya karena Joonmyun bukan berarti ia bisa menghentikan semua deadlinenya malam ini. Beberapa desain memang sudah siap untuk ia tunjukkan kepada para pemesan wedding gown. Tapi, masih ada beberapa lagi yang masih belum ia selesaikan detilnya. Ya, memang tak butuh banyak waktu untuk menggambar, tapi ia adalah gadis yang perfectionist. Tak heran setiap kesalahan kecil yang ia buat pada gambarnya membuatnya sedikit tidak puas dengan apa yang dihasilkannya.

Tiga puluh menit berlalu, ponselnya kembali berdering. Nama Kim Joonmyun lagi-lagi yang nampak di layar ponselnya. Ia beranjak dari tempat duduknya. Lalu mengambil kumpulan kunci toko yang ia letakkan di laci meja kerjanya dan menjawab telpon dari Joonmyun. Pemuda itu berkata ia sudah berada di depan toko. Dan benar saja, ketika Ara membuka pintu toko, seorang pemuda tampan berambut blonde sedang menunggunya di depan toko sambil berbicara di telpon dan bersandar pada mobil mewahnya.

Ara hanya memandang pemuda itu, yang pertama ia lihat adalah sebuah cengiran lebarnya seperti biasa. Ia mematikan sambungan telponnya ketika melihat siapa yang menelpon sekarang berada dihadapannya. Pemuda bernama Joonmyun itu mendekat, mengikuti Ara masuk ke dalam ruang kerja yang tak begitu luas yang berada di dalam toko.

Sekarang cahaya kecil lampu meja itu sudah tergantikan dengan terangnya lampu ruangan kerja Ara yang sudah dinyalakan. Mereka bisa melihat wajah satu sama lain. Ara kembali ke tempat duduknya di depan meja kerja, dan Joonmyun duduk di sofa di sisi lain ruangan. Ara kembali mengambil pensil dan kertas desain, melanjutkan kembali pekerjaannya yang terhenti karena kedatangan Joonmyun. Ia melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan Joonmyun yang sedang sibuk memperhatikannya.

Puluhan menit berlalu, dan dua orang itu masih dalam diam. Ara masih tenggelam dengan desain-desainnya, dan Joonmyun masih sibuk memperhatikan gadis itu.

“Berapa lama lagi kau akan berada di sini, Yoo Ara-sshi?” kali ini Joonmyun yang memulai pembicaraan, memecah keheningan diantara mereka berdua.

Ara masih serius menggoreskan pensilnya ke permukaan kertas. “Harusnya kau pulang duluan,” balasnya tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.

“Aku tak akan pulang jika tidak bersamamu. Ini sudah lewat tengah malam, Ara-ya. Tidak baik seorang wanita bekerja hingga larut malam.”

Ya, dia benar. Memang tak baik seorang wanita bekerja hingga larut malam. Tapi tuntutan pekerjaan yang membuatnya seperti ini. Begadang hampir setiap hari untuk menyelesaikan desain. Ia tak bisa melakukannya di rumah jika ibunya terus saja mengomel menyuruhnya berhenti dari pekerjaannya yang sudah dirintisnya dari nol. Baginya ini pekerjaan yang paling realistis, dan tempat ini sudah menjadi rumah baginya.

“Ini adalah pekerjaanku, Jun,” balasnya. Lagi-lagi tanpa melihat Joonmyun.

Gadis itu menaikkan sedikit posisi kacamatanya. Meneliti setiap detil gambar yang ia buat, lalu meremasnya dan kertas itu bernasib sama dengan puluhan kertas lain yang berakhir di tempat sampah. Mungkin awalnya ia tidak terlalu terganggu dengan kehadiran Joonmyun di sini, tapi ketika Joonmyun mulai menyuruhnya pulang ia jadi merasa sedikit sebal.

“Ara-ya, sudah berapa kali sih aku bilang padamu, kau tak harus memaksakan diri seperti ini.”

“Aku juga tak pernah menyuruhmu untuk datang ke sini, menungguiku, dan mengajakku pulang.”

Dia adalah gadis yang keras kepala. Apapun yang menjadi prinsipnya tak ada yang bisa membantah. Joonmyun membaringkan kepalanya pada kepala sofa, menghela napas dalam-dalam. Ini sudah lewat tengah malam, ia tak ingin membuat keributan dengan mendebat Ara hanya masalah pulang ke rumah.

“Bangunkan aku jika kau berubah pikiran, dan kita pulang.”

Setelah itu keheningan kembali menemaninya. Begini terasa lebih baik, tanpa Joonmyun yang mengomel mengajaknya pulang seperti ibu-ibu. Entah kenapa pemuda itu cepat mengalah kali ini.

Hanya detak suara jam dinding yang terdengar. Ara melirik ke arah jam yang tak jauh dari pintu. Pukul tiga dini hari. Ia terlalu terbawa serius dengan pekerjaannya hingga tidak terasa sudah hampir pagi, dan ia belum tidur sama sekali. Kali ini ia menghentikan pekerjaannya, melirik pemuda tampan yang sedang tertidur pulas di sofa. Ia tersenyum diam-diam. Masih ada getaran yang ia rasakan saat melihat wajah damai Joonmyun yang sedang tertidur. Lalu ia beranjak menuju lemari yang tak jauh dari meja, mengambil sebuah selimut tebal, dan memakaikannya pada Joonmyun.

Pemuda itu terlihat lelah. Tangan Ara tanpa sadar terjulur, mengusap ujung kepala Joonmyun. Ara masih tak mengerti kenapa Joonmyun masih saja peduli padanya. Dan saat itu juga tersadar bahwa mereka berdua sudah mengakhirinya.

 

***

 

Belum begitu malam, tapi entah kenapa Ara ingin menutup tokonya agak lebih awal. Banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, kembali berkutat dengan desaindesain wedding gown yang besok akan ia presentasikan pada customer, menghubungi staff yang mengurus proses pembuatan produknya, menghubungi wedding organizer, dan entahlah, terlalu banyak to-do-list yang harus ia kerjakan. Ia hanya ingin bersikap professional dalam pekerjaannya.

Kali ini Joonmyun juga datang lebih awal ke tokonya. Terkadang ia sedikit heran, Joonmyun adalah calon CEO dari perusahaan besar ayahnya, harusnya dia sibuk dengan pekerjaan kantor. Tapi entah kenapa selalu saja ada waktu untuk Joonmyun pergi menemui Ara. Pekerjaan di sebuah perusahaan besar bukanlah perkara main-main, tapi Joonmyun tak terlihat begitu terbebani. Dia selalu menganggap santai semua urusan.

Dan gadis itu tak tahu pasti sejak kapan Joonmyun hobi sekali tidur di ruang kerjanya. Menungguinya hingga pagi sudah menjadi kebiasaannya setiap hari. Ara tak pernah bisa protes ketika si pemuda tampan itu sudah teguh pada kemauannya sendiri. Daripada Joonmyun terus-terusan memaksanya untuk pulang ke rumah, lebih baik ia membiarkannya tidur di sofa ruang kerjanya dan menemaninya hingga pagi.

Belum terlalu larut malam, dan seperti biasa pemuda tampan itu selalu memaksanya pulang ketika pertama kali menginjakkan kaki di ruang kerjanya. Ara sudah terlalu malas membahas masalah yang sama.

“Kau sudah makan malam?” tanya Joonmyun, sedangkan yang ditanya sibuk dengan kegiatannya dan laptop di depannya.

Aku sedang diet,” jawabnya singkat.

Joonmyun memutar matanya bosan. Ara selalu saja begitu. Keras kepala, tidak peduli, dan seenaknya.

“Kau sedang diet, bukan berarti kau sengaja melupakan makan. Ara-ya, tidak bisakah sedikit saja kau memperhatikan dirimu sendiri? Kesehatan itu lebih penting dari apapun,” oceh Joonmyun. Pemuda itu akan jadi overprotectif –yang cenderung sok mengatur- jika sudah bertemu dengan sifat keras kepala Ara.

“Tapi pekerjaanku jauh lebih penting.”

“Ara-ya, kau tak pernah mendengarkan aku. Sekali saja aku mohon, ini demi kebaikanmu.”

Sebenarnya Joonmyun sudah bosan menasehati, dan Ara juga sudah bosan untuk menanggapi. Mereka, dengan karakter yang jauh bersebrangan. Ah, heran juga dulu mereka sempat jadi sepasang kekasih.

“Dan, kau tak pernah sekali saja tidak mengatur hidupku, Kim Joonmyun-sshi.

“Karena kau tak pernah peduli dengan dirimu.”

Oh, mereka mulai lagi. Ini sudah menjadi bagian dari kebiasaan mereka berdua. Beradu pendapat yang selalu tak menemukan ujungnya.

“Sampai kapan kau terus mencampuri hidupku? Kita bahkan sudah berakhir. Aku bukan lagi kekasihmu, Jun,” balasnya, menghentikan pekerjaannya demi menanggapi Joonmyun.

Memang mereka sudah mengakhiri kisah mereka. Tapi rasanya Joonmyun tak pernah merasa bahwa mereka sudah putus. Dan, oh, bahkan gadis itu masih memanggilnya dengan panggilan kesayangan. Jun.

“Yoo Ara, kau ini tak pernah berubah. Sampai kapan sih kau akan seperti ini?”

Ara memijat keningnya pelan. Oh, cukup sudah dipusingkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Dan, sekarang apa lagi? Joonmyun selalu saja membesarkan masalah menurutnya. “Jun, tolong, kau selalu tak pernah mengerti perasaanku.”

“Untuk apa sih kau seperti ini? Dan aku tak pernah sepakat kita putus, itu keputusan sepihakmu.”

“Kita sudah pernah membahas ini berulang kali, Jun. Berhentilah mencampuri hidupku, dan berbahagialah dengan yeoja  pilihan orang tuamu.”

Sebenarnya Ara sudah terlalu malas membahas ini. Mereka pada akhirnya akan kembali ke topik yang sama. Joonmyun juga sudah pernah menjelaskan pada Ara, bahwa orang tuanya tak pernah ikut campur dalam urusan jodoh. Jadi ini hanya sebuah pikiran selfish Ara saja yang Joonmyun tak pernah bisa melunakkannya. Dan ini juga yang membuat mereka berakhir. Oh, koreksi, ini adalah keputusan sepihak yang tidak pernah Joonmyun setujui ketika Ara mengakhiri semua cerita mereka.

Joonmyun mendekati Ara. Gadis itu terlihat lebih sensitive dari biasanya. Mungkin karena terlalu lelah. “Ara-ya, aku melakukan semuanya karena aku masih sangat mencintaimu. Kita memang bagai dua buah garis yang bersebrangan yang tak akan pernah menemukan titik temu. Untuk itu aku masih disini, mengalah untuk menjadi garis yang berbelok agar dua garis itu terhubung.”

“Jun..”

Joonmyun lalu menggenggam jemari gadis itu. Ada kehangatan yang mengalir dari sana. Dan ia masih merasakan getaran yang sama saat ia pertama kali jatuh cinta pada Ara. Mungkin Ara juga merasakan hal yang sama. Wajahnya yang menegang, kini sedikit melunak. Mata teduh Joonmyun seolah menghipnotis dirinya.

“Jika kau berpikir aku tak pernah mengerti perasaanmu. Justru aku banyak belajar untuk selalu mengerti dirimu, tapi aku tak bisa melakukannya sendirian. Sampai saat ini tawaranku masih sama, Ara­-ya. Maukah kau hidup berdampingan denganku, dan membantuku untuk lebih mengerti dirimu?”

“Ada syaratnya.”

Apa?”

Ara tersenyum tipis melihat  wajah Joonmyun yang penasaran, “jika kau mau setiap hari tidur di sofa itu dan menemaniku hingga pagi, mungkin aku akan memikirkannya.”

Selanjutnya, gadis itu hanya terkekeh melihat tampang Joonmyun dengan polosnya menerima apa yang menjadi syaratnya. Real love, is not based upon romance, candle light dinner, and walk along beach. In fact, it’s based on care, compromise, respect, and trust.

________________________________________
.
.
Well, saya rasa ini kurang fluff hahaha. Suatu ketika saya kangen banget sama bias saya yang paling cantik, kak Yooara, ah rasanya lama banget dia nggak menghiasi timeline twitter saya. Dan yah saya kangen sama suaranya. Sangat kecewa ketika leader favorit saya ini memutuskan untuk meninggalkan grup, bukan karena kemauannya sendiri tapi karena kemauan agensi. Yep, apapun keputusannya pasti ada rencana lain dibalik itu, dan saya sudah bisa terima tapi belum bisa move on😀
That’s it, seperti biasa curhatan saya hoho thanks for reading yasorry for any typos, and dont forget to comment🙂 see ya~

One thought on “[XOXO Story] 3rd Story – A Chance

  1. Pingback: [XOXO Story] 4th Story – The Band-Aid | Chielicious's Shining Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s