[XOXO Story] 4th Story – The Band-Aid

tumblr_mxg6h8IKwR1s2pwp3o3_500
chielicious©2014
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Luhan’s story
The band-aid
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
________________________________________

No bashing. No Plagiarism. Don’t be a silent reader

[1st STORY] KAI – SOULMATE  || [2nd STORY] SEHUN – I CHOOSE YOU || [3rd STORY] SUHO – A CHANCE

***

Pemuda itu meringis sedikit menahan perih pada bagian lututnya. Ia berjalan ke arah ruang kesehatan sambil sedikit terpincang. Ada sedikit luka terbuka yang tidak parah tapi tetap harus mendapatkan perawatan dari suster sekolah. Setelah sampai dan membuka ruang kesehatan sekolahnya yang terletak di bagian dasar gedung sekolahnya, ia langsung masuk saja. Tak tahan dengan nyerinya. Tapi ia tak menemukan siapapun di dalam ruang kesehatan.
Ah, kemana suster sekolah yang sangat ia butuhkan jasanya sekarang. Pemuda itu masih mencari. Ia melangkahkan kakinya ke dalam ruangan, ada beberapa bed di dalamnya. Dan ia hanya melihat seorang gadis berbaring di salah satu bed membelakanginya. Luhan berjalan mendekat, ada niatan untuk bertanya.

Jogiyo,katanya.

Gadis itu menoleh, seorang gadis berambut coklat panjang dengan poni di dahinya.

Maaf aku mengganggumu. Aku hanya ingin bertanya, apakah kau tahu dimana Jung ganhosa-seonsaengnim atau Yoon uisa-seonsaengnim?”

Gadis itu bangun dari bed yang ia tempati tadi. Wajahnya sedikit pucat. “Mereka keluar baru saja.”

“Kakiku terluka, untuk itu aku mencari mereka,” kata Luhan sambil menahan perih di lututnya.

Gadis berambut panjang itu lalu turun dari bednya, berjalan ke arah lemari obat di sudut ruangan kesehatan yang tak jauh dari tempat mereka tadi. Luhan melihat ia mengambil sebuah kotak putih dengan tanda palang berwarna merah di depannya. Lalu gadis itu berjalan ke arahnya, dan menarik tangan kanannya menyuruhnya untuk duduk di pinggir bed dekatnya.

Tanpa banyak bicara gadis itu membuka kotak P3K yang tadi  dia ambil. Mengambil beberapa kapas kecil dari dalamnya dan membubuhkan cairan normal saline di atasnya. Dengan cekatan gadis itu membersihkan luka dan sekitar luka yang ada di lututnya. Luhan hanya terpaku melihat paras cantik gadis itu. Jantungnya berdebar tak teratur, tak pernah ia melihat seorang gadis sedekat ini. Ada sesuatu yang seakan menarik perhatiannya. Sesuatu yang berbeda, tapi Luhan tak mengerti apa sesuatu itu.

Rasa dingin terasa menyentuh permukaan kulitnya. Luhan tersadar, lalu ia sedikit mengaduh. Rasa perih itu muncul lagi ketika permukaan kapas menyentuh luka di lututnya. Gadis itu masih diam, masih terus melakukan pekerjaannya. Luhan menahan sedikit nyeri, ia masih memperhatikan wajah dan tangan cekatan gadis itu secara bergantian. Gadis itu mengambil beberapa kasa dari dalam kotak. Setelah membersihkan lukanya, ia menutup luka itu dengan kasa yang ia ambil tadi dan menempelkan sudut-sudutnya dengan plester. Luhan merasa lebih baik sekarang.

Lalu gadis itu membereskan kotak P3K yang ia pakai mengobati luka Luhan tadi dan mengembalikannya pada lemari obat. Masih tanpa berkata apapun pada Luhan. Pemuda itu masih mengamati pergerakan si gadis dari atas bed yang ia duduki. Gadis itu lalu kembali berbaring pada bed yang ditempatinya tadi. Luhan jadi sedikit bingung. Beberapa menit berlalu Luhan hanya memperhatikan punggung gadis itu. Ah, ia ingat sebentar lagi ada kelas Matematika. Ia beranjak dari bed yang didudukinya, dan berjalan menuju pintu keluar ruang kesehatan.

Gomawo,” ucapnya sebelum keluar dari ruang kesehatan, meskipun ia tahu gadis itu tak bergerak sama sekali dari tempatnya berbaring dan membalasnya.

 

***

 

Siang itu kantin sekolah mereka sedang ramai sekali. Hampir tidak ada tempat duduk yang kosong. Hari ini Luhan dan teman-teman satu clubnya sedang merayakan kemenangan pertandingan sepak bola mereka. Ia ikut senang melihat teman-temannya tertawa lepas seperti ini.

Terlihat beberapa siswa perempuan sedang memperhatikan mereka. Luhan dan beberapa temannya dalam club sepak bola memang menjadi idola banyak gadis di sekolah. Hampir semua gadis selalu berteriak histeris jika ada mereka dan memandang mereka dengan pandangan seolah memuja.

Beberapa pasang mata gadis-gadis itu masih memperhatikan tempat duduk Luhan, kadang ia merasa tidak nyaman selalu diikuti kemanapun mereka pergi. Padahal ia merasa dirinya biasa-biasa saja, entah apa yang membuat mereka semua jadi memujanya. Luhan tak pernah mengerti isi pikiran para gadis yang menyebut dirinya sebagai fans nomor satu Luhan.

Ya! Kau tidak lihat siapa yang ada di depanmu?”

Luhan mendengar sebuah teriakan dari sudut kantin sekolah. Teriakan seorang gadis. Luhan menoleh dan mendapati beberapa gadis sedang mengerubungi seorang gadis berambut panjang. Ia seperti mengenal gadis yang sedang berada di tengah. Gadis berambut panjang itu hanya diam, sedangkan gerombolan gadis yang mengelilinginya memakinya.

“Apa kau buta!?”

Entah apa yang membuatnya tertarik memperhatikan mereka. Gadis pendiam yang mengobati luka di lututnya tempo hari. Lalu ia melihat si gadis pendiam berambut panjang pergi menjauhi gadis-gadis yang tadi memakinya. Masih diam, tanpa membalas sepatah katapun kata-kata pedas yang keluar dari mulut gadis-gadis itu.

Ya! Aku akan membuat perhitungan denganmu, dasar anak aneh, aish!

Luhan mendengar teriakan yang lumayan keras itu sekali lagi. Ini pertama kalinya ia melihat seorang gadis yang hanya diam tanpa melakukan apupun untuk membalas kata-kata jahat yang diucapkan gadis lain padanya.

Ya, apa yang kau lihat?” Jongdae menyenggolkan badannya pada bahu Luhan.

Entahlah,” balas Luhan.

Jongdae hanya terkekeh, “mereka semua memang merepotkan, suka sekali membuat keributan.”

Jongdaeya..”

“Hm?” balas Jongdae sambil mengunyah sandwich-nya.

“Gadis berambut panjang yang tadi..”

“Park Chorong? Kau ingin bertanya kenapa dia tak melawan ketika gadis-gadis merepotkan itu memakinya?”

Tepat sasaran. Luhan hanya mengangguk. Ia hanya sedikit penasaran.

“Dia memang gadis paling aneh di sekolah ini.” Jawaban Jongdae tak menjawab rasa penasaran Luhan. “Kajja, sebentar lagi kita ada kelas bahasa Inggris,” lanjut Jongdae.

Masih ada tanda tanya besar di otaknya. Gadis bernama Park Chorong itu benar-benar misterius.

 

***

 

Luhan berjalan melewati beberapa anak tangga menuju atap terbuka gedung sekolahnya. Hanya tempat itu yang menjadi tempat favoritnya untuk melarikan diri dari kebisingan yang dibuat oleh para gadis yang selalu mengejar dan meneriakkan namanya. Ya, kadang itu menjadi hal yang menyebalkan. Disaat ia ingin ketenangan tapi gadis-gadis yang menggilainya terus saja membuat keributan yang membuatnya sedikit jengkel.

Luhan membuka pintu berwarna abu-abu yang ada di depannya. Semilir angin seketika menerpa wajah tampannya. Luhan senang ketika ia berada di sini, ia bisa menemukan ketenangan. Dan suara terpaan angin yang membuatnya merasa lebih nyaman.

Ia melihat seorang gadis duduk di bangku favoritnya. Ia merasa mengenali punggung itu, seperti sangat familiar. Luhan berjalan mendekat, dan selanjutnya ia tahu siapa yang duduk di bangku favoritnya. Gadis itu Park Chorong, gadis pendiam yang katanya paling misterius di sekolah.

Ia lalu duduk di sebelah Chorong, menatap lurus langit yang entah kenapa terlihat bersih tanpa awan siang ini. Chorong masih diam mengacuhkan Luhan yang duduk di sebelahnya. Luhan ikut terdiam. Ia mulai memperhatikan gadis disampingnya itu. Pandangan gadis itu kosong, ia hanya membuka buku di tangannya tanpa membacanya.

“Oh, tanganmu terluka,” kata Luhan meraih tangan kiri Chorong, ia melihat ada luka di telapak tangan kirinya.

Gadis itu berusaha menghindar, menarik tangannya jadi genggaman Luhan. Tapi Luhan lebih kuat darinya. Luhan melihat sebagian darah sudah mengering. Wajah gadis itu sedikit pucat, sepertinya ia menahan perihnya luka terlalu lama. Terdapat luka gores sekitar tiga sentimeter di permukaan telapak tangannya.

“Kau tidak mengobati lukamu? Kalau dibiarkan nanti bisa infeksi,” kata Luhan. Lalu ia mengguyurkan air mineral yang ia bawa pada tangan gadis itu. Selanjutnya ia mengeluarkan sapu tangannya dari dalam saku celananya dan sebuah plester luka berwarna biru bergambar binatang.

Ia mengusap permukaan telapak tangan gadis itu dengan hati-hati. Chorong sedikit meringis perih ketika permukaan kasar kain itu menyentuh lukanya yang terbuka. Ia memperhatikan Luhan yang sedang serius menempelkan plester luka bergambar binatang itu pada tangannya.

“Sudah selesai,” ujar Luhan sambil tersenyum. “Setidaknya lukamu bersih dan mengurangi resiko infeksi. Setelah ini kau harus pergi ke ruang kesehatan untuk mendapatkan perawatan dari Jung ganhosa-seonsaengnim

Luka ditangan Chorong sekarang sudah tertutup plester luka, setidaknya gadis itu tidak akan kesakitan lagi, pikirnya. Chorong masih terdiam, ia hanya melihat telapak tangannya yang sekarang sudah tertempel sebuah plester lucu bergambar binatang. Membiarkan Luhan melihatnya, pemuda itu dan senyuman manisnya.

“Itu tanda terima kasihku karena kau sudah merawat luka di lututku tempo hari.”

“Kau tidak harus peduli padaku,” jawab Chorong.

Luhan hanya tersenyum. Sepertinya akan sedikit susah untuk memahami gadis ini. “Kenapa aku peduli? Tentu saja.”

Chorong masih tidak menatap mata Luhan, gadis itu tetap tertunduk, “kau tak perlu repot-repot melakukannya padaku.”

Ya! Kau ingin mati karena tetanus?” ujar Luhan.

Luhan tahu mata gadis itu mulai sendu, ada sesuatu yang ingin ditumpahkan dari pelupuk matanya. “Kalaupun aku mati tak ada yang peduli, mungkin mereka akan bersyukur tak ada lagi gadis aneh sepertiku di sekolah ini.”

“Ah, baru kali ini aku menemukan orang yang susah dipahami sepertimu,” Luhan menjulurkan tangannya, menunggu sambutan dari gadis di sebelahnya. “Luhan ibnida.”

Park Chorong, gadis itu hanya terpaku melihat Luhan. Mungkin selama ini tak banyak orang yang berlaku seperti ini padanya. Tapi entah apa yang membuat pemuda ini berbuat hal yang berbeda. Luhan kembali tersenyum, masih menunggu balasan dari Chorong. Perlahan gadis itu menerima uluran tangan Luhan, mungkin ia mulai percaya.

 

***

 

Diam-diam ekor mata pemuda itu memperhatikan seseorang yang sedang duduk sendiri di sudut kantin sekolah. Entah sejak kapan ia mulai suka melihat wajah cantiknya. Ia dan sebelas temannya duduk dalam satu meja, dan seperti biasa mereka membuat lelucon di sela-sela makan siang mereka. Tapi Luhan tak menghiraukan pembicaraan teman-temannya kali ini. Fokusnya tertuju pada Park Chorong, si gadis pendiam yang selalu sendirian.

Setelah obrolan pertama mereka di loteng sekolah beberapa minggu yang lalu, Luhan merasa di dalam otaknya selalu terbayang Park Chorong. Dia bukan gadis popular di sekolah, hanya gadis pendiam biasa yang cenderung aneh kata teman-temannya. Tapi Luhan tak merasa Chorong adalah gadis aneh, dia hanya gadis introvert yang sulit bergaul dengan orang-orang di sekitarnya dan sulit untuk mengekspresikan perasaannya.

Itu yang membuatnya tertarik.

Senyum tipisnya terbentuk dari sudut bibir pemuda itu. Memandangi Chorong dari jauh seolah menjadi hobi baru yang wajib ia lakukan. Meskipun pada akhirnya Jongdae, Baekhyun dan Chanyeol akan mengatainya sebagai maniak.

“Kau menyukainya?” Jongdae mulai menyenggol lengannya, membuat Luhan kembali sadar dari lamunannya.

Ia sedikit bingung sepertinya, “nuguya?”

“Park Chorong.”

Skak mat.

Jongdae mulai terkikik, ia tahu perubahan wajah Luhan ketika ia menyebutkan nama Park Chorong. “Hyung, kau tertangkap basah memperhatikannya setiap hari. Lalu tak mau mengakui kau menyukainya, heol,” tambah Jongin.

“Dia adalah gadis teraneh di sekolah ini, dan kau laki-laki yang aneh bisa menyukainya,” ujar Jongdae.

Luhan meninju lengan Jongdae pelan, “Dia tidak seperti yang kalian pikirkan, dia hanya sulit mengekspresikan perasaannya. Dan harusnya kalian tidak malah menjauhinya atau membullynya, dia juga butuh teman berbagi.”

Ah, bahkan Luhan membela Park Chorong di depan sahabat-sahabatnya.

Luhan memperhatikan Chorong lagi. Ya, gadis itu sebenarnya juga membutuhkan teman untuk berbagi hanya saja mungkin ia agak sulit memulai interaksinya dengan orang lain yang membuatnya aneh di mata orang lain. Seseorang yang selalu sendirian setiap hari dan tak banyak yang mengerti perasaannya pasti sangat berat jika menanggungnya sendirian. Luhan tak tahu sebabnya, yang ia tahu Chorong adalah gadis yang berbeda.

Setidaknya gadis itu tidak berisik seperti para fangirl yang suka mengejarnya, meneriakkan namanya, mengikutinya kemanapun ia pergi seperti stalker dan membuatnya sedikit terganggu karena tingkah mereka. Dan Luhan menyukainya sejak mereka tak sengaja bertemu di ruang kesehatan dan ia bisa melihat wajah Chorong dari dekat saat gadis itu merawat luka di lututnya.

She’s just different.

Luhan kembali memperhatikan sudut kantin dimana si gadis pendiam itu sedang duduk, mengabaikan candaan teman-temannya yang pada akhirnya membuatnya terbully juga. Ia membiarkan mereka tertawa dan membuat lelucon tentang dirinya. Ia lebih tertarik untuk memperhatikan Chorong daripada menanggapi teman-temannya. Dan Luhan juga merasa lebih semangat untuk pergi ke sekolah semenjak pertemuan pertamanya dengan Park Chorong. Mungkin ini yang namanya cinta pada pandangan pertama. Semua sudah teralihkan hanya dengan satu nama, Park Chorong.

Beberapa saat ia memperhatikan, kemudian ia melihat segerombolan gadis menghampirinya. Lalu Park Chorong beranjak dari tempat duduknya diikuti dengan segerombolan gadis tadi. Tiba-tiba perasaannya merasa tidak enak.

Ia berusaha meyakinkan perasaannya tidak akan terjadi apapun pada Chorong. Tapi kali ini ada yang terasa begitu mengganjal di hatinya. Lalu ia teringat pertama kali ia dan Chorong bicara di atap sekolah dengan tangan Chorong yang terluka. Dan si gadis tak pernah mau mengungkapkan apa penyebabnya.

Perasaannya semakin berkecamuk. Lantas ia langsung meninggalkan makan siangnya dan menghiraukan teman-temannya yang berusaha menahan Luhan agar menghabiskan makan siang bersama mereka.

Luhan berlari, berusaha mencari kemana gadis-gadis itu membawa Chorong. Ia menuju arah toilet untuk siswa perempuan, dan menunggu dengan cemas di depan pintu –karena tentu saja anak laki-laki tidak boleh masuk ke dalam. Beberapa menit menunggu beberapa siswa perempuan keluar dari dalam toilet, tapi yang ia temui bukan segerombolan gadis yang tadi bersama Chorong.

Luhan kembali mencari ke taman, kelas, dan tempat pembuangan sampah daur ulang milik sekolah yang berada di bagian paling belakang sekolah. Ia mencari ke hampir seluruh sudut sekolah. Hasilnya nihil. Chorong tak dapat ia temukan.

Napasnya tak teratur ketika langkah kakinya menaiki tangga menuju atap sekolah. Tempat itu satu-satunya yang belum ia datangi. Keringat mulai mengucur dari wajah tampannya. Entah kenapa perasaannya jadi tidak karuan seperti ini. Ia tak pernah mengkhawatirkan sesuatu dengan berlebihan seperti ini. Memang tak biasa, ya, setidaknya sebelum mengenal gadis itu ia tak pernah seperti ini. Park Chorong memang bukan siapa-siapa, tapi ada rasa lain yang mendorongnya untuk selalu melindungi gadis itu.

Dengan gemetar tangannya memegang gagang pintu atap sekolah. Ada sedikit harapan ia bisa menemukan Chorong di sana. Apapun yang terjadi, setidaknya ia bisa melihat Chorong saja sudah cukup membuatnya lega.

Di bangku yang sama, seorang gadis sedang tertunduk dalam diam. Luhan mendekat, dan melihat bulir air mata jatuh deras di pipi gadis itu. Sebuah luka menganga di sudut bibirnya dan lebam kebiruan di permukaan wajah cantiknya yang Luhan lihat. Entah apa yang sudah terjadi pada Chorong, Luhan tak tahu pasti.

“Apa yang terjadi padamu? Apa yang sudah mereka lakukan padamu, Park Chorong!?”

Sedikit panik dengan keadaan gadis yang berada dihadapannya. Ini bukan lagi bisa dibilang ia baik-baik saja.

“Katakan padaku, Park Chorong!”

Gadis itu hanya diam dan tertunduk. Hanya buliran air mata itu saja yang semakin deras membasahi permukaan pipinya yang membiru. Ia tak bisa memaksa jika Chorong tak mau bercerita. Tapi hati Luhan terasa perih melihat Chorong. Lalu si pemuda bermata indah itu membawa si gadis ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat, membiarkannya menangis di dadanya.

Mungkin apa yang terjadi pada hidup Chorong selama ini masih menjadi tanda tanya besar bagi Luhan. Mungkin seiring berjalannya waktu semua jawaban akan terbuka untukknya, dan juga hati Park Chorong. Yang ia tahu saat ini hanya itu yang Chorong butuhkan. Sebuah dada untuk melepaskan tangisnya. Sebuah pundak untuk ia bersandar. Sebuah pelukan yang membuatnya merasa nyaman dan tenang. Dan sebuah band-aid berwarna biru dan bergambar binatang lucu untuk menutup semua luka menganga di hatinya.

________________________________________
.
.
.
.
Dan yah, saya ngeposting yang satu ini dengan perasaan nggak karu-karuan mau ketemu Oppa. Feeling so excited, of course. Meskipun saya kemarin nggak bisa nonton para Fairy-dol waktu mereka main-main ke JakartaMungkin ini ff ‘Selamat Datang di Indonesia’ buat 11 alien yang jauh-jauh dari EXO PLANET cuma buat menggemparkan Jakarta dan seisinya, dan ff ‘ke-envy-an’ saya sama JKT48 karena mereka bisa foto bareng Apink dan deket-deket sama Park Chorong #loh :D hahaha
Sorry for any typos. Thanks for reading guys, thanks for your comment ^^ 
See you on my next fanfiction~

5 thoughts on “[XOXO Story] 4th Story – The Band-Aid

  1. My feels >< Aduh unnie, aku dapet feel-nya. Nyesek banget… FF nya keren sumpah. Bikin sequel nya dong unnie. Please… Masih penasaran knapa Chorong kayak gitu.
    Aku slalu menunggu ff ChoHan darimu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s