Intertwined [Chapter 1]

Poster10

CHIELICIOUS © 2015

Two heart. One soul. Connected. Intertwined in love..

Shin Yoonjo

Byun Baekhyun

Kim Taeyeon

No bashing. No Plagiarism. Don’t be a silent reader

***

Mobil mewah itu berhenti di pelataran sebuah gedung bercat kuning cerah. Di halamannya ada banyak permainan ayunan, jungkat-jungkit, dan kotak pasir. Sekeliling tembok pagarnya bergambar lucu. Baekhyun hanya menghela napas. Joonmyun memaksanya untuk berhenti di tempat ini sebentar, di sebuah sekolah taman kanak-kanak dan daycare, padahal ia sedang buru-buru karena ada acara pertemuan bersama keluarganya.

Ia mematikan mesin mobilnya. Lalu hanya memandang si pria yang menutup pintu mobil dengan pandangan meyakinkannya bahwa ia tak akan lama di dalam. Tangannya hanya mengetuk-ketukkan ujung jari pada roda setir di depannya melihat Joonmyun memasuki gedung. Sepuluh menit berlalu dan Joonmyun belum keluar juga. Ia melihat sekeliling, banyak anak-anak yang sedang bermain di halaman, banyak juga yang berjalan bersama orang tuanya meninggalkan gedung itu. Tak lama kemudian ia melihat sosok Joonmyun berjalan bersama dua gadis kecil, satu gadis kecil berkuncir dua yang sangat mirip dengan Joonmyun –yang ia sangat mengenalnya, dan satu lagi gadis berpita merah muda yang sedang melambaikan tangannya tanda perpisahan.

“Maaf membuatmu menunggu,” kata Joonmyun membukakan pintu jok belakang untuk si gadis kecil, memakaikan seatbelt setelah si kecil duduk, dan kemudian ia duduk di jok depan sebelah Baekhyun. “Hari ini unpredictable, rapat dewan direksi yang mendadak, dan tiba-tiba supir Jang tak bisa datang menjemputku.”

“Dan kau menyeretku ke sini, sedangkan setengah jam lagi aku harus menghadiri acara penting,” tambah Baekhyun mulai menyalakan mesin mobilnya, dan menjalankan mobil mewah itu keluar pelataran sekolah.

“Kalau yang itu aku sangat berterima kasih kepadamu. Ara tak bisa menjemputnya karena ada harus mengurus beberapa pekerjaan di butiknya. Sedangkan tadi pagi aku sudah berjanji pada Yerin untuk menjemputnya sepulang sekolah,” jelas Joonmyun. “Baekhyun-ah gomawoyo,” tambahnya lagi dengan senyuman tampan andalannya seperti biasa.

“Ya, hyung, terserah kau saja,” jawab Baekhyun sekenanya.

Joonmyun menoleh ke jok belakang, si gadis kecil terlihat sedang membongkar isi tasnya. “Yerin-ah, apa yang seonsaengnim ajarkan hari ini?”

Si gadis kecil merogoh isi tasnya, menemukan beberapa macam bentuk benda dari kertas origami. “Ini untuk Appa,” ujarnya memberikan sebuah bangau kertas berwarna biru pada ayahnya.

“Kau yang membuat ini? Ah it is so cute, gomawoyo,” Baekhyun hanya tersenyum tipis melihat pria yang lebih tua setahun darinya itu. Joonmyun terlihat berbeda sama sekali. Si disiplin, tegas dan tanpa kompromi di kantor, berubah menjadi manis di depan putri kecilnya.

“Aku bisa membuat kapal, topi, burung, dan… ah ini untuk Baekhyun samchon,” Baekhyun yang sedang menyetir hanya tersenyum menerima hasil origami berwarna merah muda.

Gomawo, Yerin-ah, bunga mawarnya indah sekali, kau yang membuat ini?” tanya Baekhyun tanpa melepas fokusnya pada jalanan di depannya.

Ani, Hyejoo yang membuat itu,” jawab Yerin polos. “Appa, aku mengajak Hyejoo main ke rumah boleh, ya?”

Joonmyun kembali tersenyum jenaka pada putrinya, “Tentu saja, sayang.”

Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya, sambil tertawa tipis melihat tingkah laku Joonmyun. Kim Yerin, gadis kecil 6 tahun yang sangat mirip dengan ayahnya itu yang mampu merubah seorang Kim Joonmyun, seorang Direktur Keuangan Hansol Group yang ia kenal sebagai seseorang yang sangat kompeten dan teliti berubah menjadi seorang ayah yang manis dan penyayang. Yerin adalah putri Joonmyun satu-satunya, tak heran jika Joonmyun akan menuruti semua kemauan gadis kecil itu.

Baekhyun masih berkonsentrasi dengan jalanan dan roda setir di depannya. Sekilas ia melirik bunga mawar origami berwarna merah muda pemberian Yerin yang ia letakkan di atas dashboard. Ia kembali tersenyum tipis, begitu sederhana tindakan anak kecil untuk membuat orang dewasa bahagia. Mungkin ini salah satu alasan kenapa Joonmyun sangat menyayangi Yerin dan memberikannya semua yang terbaik untuknya.

“Kau ada janji dengan keluarga Kim Taeyeon-sshi?” tanya Joonmyun, membuyarkan semua pikirannya saat itu.

Baekhyun menoleh, “ya hyung, mereka ingin membicarakan pernikahan.”

“Jadi kapan rencana pernikahanmu dan Taeyeon-sshi?”

“Jika semua setuju dua bulan lagi, mereka bilang lebih cepat lebih baik. Sebelum rapat pemegang saham diadakan, sebelum Halla Corporation jatuh ke tangan yang salah,” jelas Baekhyun.

“Baekhyun-ah, apa… kau mencintainya?”

Mencintainya? Tiba-tiba saja Joonmyun bertanya hal yang membuatnya sedikit tercubit. Baekhyun terdiam sejenak. Ia tampak berpikir.

Kim Taeyeon. Gadis cantik putri satu-satunya pemilik Halla Corporation. Pewaris tunggal yang akan menjadi pengganti ayahnya memimpin perusahaan textile terbesar di Korea Selatan. Kecantikannya selalu membuat siapapun yang melihat akan terpikat, kepintarannya dan bakat untuk memimpin perusahaan tak bisa diragukan lagi. Sempurna, bukan?

“Ya, tentu saja aku sangat menyukainya hyung. Dia gadis yang sangat baik.”

Entah apa arti dari tepukan dibahu Baekhyun yang Joonmyun berikan setelah mendengar jawabannya. Kemudian pria itu kembali berbincang-bincang dengan putri kecilnya yang ada di jok belakang.

***

Baekhyun merebahkan sejenak tubuhnya pada ranjang apartemennya. Menatap langit-langit berwarna pastel dengan pikiran kosong. Sedangkan ponselnya sudah berkali-kali bordering menampakkan nama ibunya. Ia sudah terlambat tiga puluh menit untuk datang ke pertemuan penting yang keluarga Taeyeon rancang hari ini. Entah kenapa ia tiba-tiba meragu. Badannya masih menempel dan enggan beranjak dari ranjang besar bermotif garis hitam putih itu.

Ponselnya bordering sekali lagi, kali ini nama Taeyeon yang muncul. Sebuah pesan singkat. Mau tak mau tubuhnya harus bangun dan segera bersiap-siap. Tak butuh waktu lama untuk mandi, dan berganti pakaian yang rapi. Sejenak ia hanya diam melihat refleksi dirinya di cermin, tampak sempurna dalam balutan tuxedo berwana hitam yang dipadukan dengan kemeja biru muda dan dasi dengan warna senada. Baekhyun tampan dan Taeyeon cantik, semua orang setuju jika mereka bersama maka mereka akan jadi pasangan yang luar biasa.

Baekhyun membenarkan letak dasinya, lalu menyambar kunci mobil yang tergeletak di meja. Lagi-lagi ia mengulur waktu, tak kunjung menyalakan mesin mobil hitam mewah itu. Ia meraih bunga mawar kertas pemberian Yerin, dan teringat kata-kata Joonmyun.

“Apakah aku benar-benar mencintainya?”

Pertanyaan yang satu itu jawabannya masih semu.

Ia menyalakan mesin, memutar kemudi mobilnya keluar area apartemennya menuju sebuah gedung hotel tempat mereka sepakat untuk mengadakan pertemuan keluarga. Setelah sampai di tempat, Baekhyun langsung masuk ke gedung pencakar langit itu. Sebuah hotel bintang lima yang mewah, terlihat dari semua interiornya ketika ia menginjakkan kakinya pertama kali di lobby hotel. Seorang berjas hitam menghampirinya, lalu mengantarnya kesebuah ruangan di lantai 10 hotel tersebut.

Setelah pintu lift terbuka, ia harus melewati sebuah lorong dan sampai di depan ruangan yang berada di ujung lorong, pria berjas hitam itu meninggalkannya sendirian. Baekhyun tahu mereka semua pasti sudah berada di dalam sana. Ia membenarkan letak dasinya dan tuxedonya sebelum membuka pintu. Menarik napas panjang dan memutar kenop pintu.

“Oh, Baekhyun-ah kukira kau tidak akan datang,” kata pria tua dengan tuxedo abu-abu yang duduk di sebelah Taeyeon. Tentu saja orang itu adalah ayahnya.

Baekhyun membungkukkan badannya, memberi salam. “Annyeonghaseyo, maaf saya terlambat. Ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan segera dan juga pertemuan dewan direksi.”

“Kau adalah pria sibuk, huh?” Dan semua yang ada di ruangan itu pun tertawa, “duduklah, dan… oh sampai mana perbincangan kita tadi?”

Tuan Kim, ayah Kim Taeyeon memulai lagi obrolannya dengan ayah dan ibu Baekhyun. Sedangkan Taeyeon duduk manis di sebelahnya. Gadis itu hampir selalu terlihat cantik. Hanya dengan simple dress berwarna biru muda dengan rok selutut, dan dipadukan dengan beberapa perhiasan yang sudah pasti mahal. Ah, semua tampak sempurna. Siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh cinta.

Baekhyun hanya mendengarkan selama tiga puluh menit percakapan para orang tua tentang segala macam rencana pernikahan anaknya. Ia hanya melihat sekitar ruangan yang sengaja di sewa khusus untuk mereka. Ruangan private dengan interior yang serba gold dan merah maroon itu membuatnya terlihat berkelas. Ditambah dengan lampu-lampu kristal di dinding dan vas porselen cantik di sudut ruangan. Semuanya mewah, berkelas. Ruangan yang memang sengaja di desain untuk pertemuan keluarga, tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit, cukup nyaman untuk sebuah private dinner.

“Lalu bagaimana menurutmu, Baekhyun-ah, apa kau setuju?” ujar Tuan Kim, terlihat sangat antusias.

“Oh.. itu..”

“Apa kau setuju pernikahan kalian diadakan dua bulan lagi?” tambahnya.

“Tentu saja Baekhyun setuju. Aku yakin ia pasti sangat senang jika pernikahan ini diadakan secepatnya, ia juga tak ingin melepaskan gadis secantik putri anda begitu saja. Iya, kan, Baekhyun-ah?” kali ini celetukan ibunya yang menjawab, sebelum ia sendiri yang membuka mulut.

Untuk saat yang seperti ini, ibunya begitu menyebalkan. Pernikahan bukan hal yang main-main. Ini pernikahannya, hal sekecil perkara setuju atau tidak tetap ada ditangannya. Ia tahu orang tuanya pasti sangatlah senang pada akhirnya putra bungsu mereka mendapatkan pendamping hidup. Apalagi seorang gadis sesempurna Kim Taeyeon, orang tua mana yang tidak bahagia. Tetap saja, ini hidupnya, pernikahannya, dimana ia akan membangun keluarga dan masa depan. Mereka boleh ikut campur, ya, bagaimanapun juga orang tua tetaplah guru yang paling berpengalaman soal pernikahan. Tapi untuk sebuah keputusan yang krusial tetaplah ada di tangannya.

Pada akhirnya rencana pernikahannya dan Taeyeon bukan pure ia dan gadis itu yang membuat. Orang tua mereka lebih mendominasi. Dan kedua calon pengantin hanya bisa duduk, mendengarkan, dan menganggukkan kepala setuju.

Hingga makan malam selesai, para orang tua masih saja membicarakan hal yang sama. Sedangkan Baekhyun terlihat mulai bosan. Ayah Taeyeon memperhatikannya, dan –ya seperti yang orang tua lakukan untuk mendekatkan anaknya dan calon menantunya, menyuruh mereka keluar berdua dengan alasan agar mereka bisa menghirup udara segar di luar hotel.

“Kau sedang memikirkan sesuatu?” kata gadis bernama Kim Taeyeon yang sedang berdiri di sebelahnya sekarang.

Mereka sedang berada di balkon hotel yang mengahadap langsung pada jalanan. Hamparan kelap-kelip lampu kota Seoul terlihat begitu indah dari ketinggian lantai 10 ketika langit malam mulai gelap seperti saat ini. Angin musim panas yang bertiup pelan cukup menyenangkan dirasakan oleh dua orang yang sebentar lagi akan terikat menjadi satu itu.

Baekhyun hanya tersenyum, pandangannya menatap lurus kota Seoul yang dipenuhi dengan lampu-lampu dan kesibukan lalu lintasnya.

“Ah, tidak. Bukan hal yang besar. Hanya memikirkan Luhan hyung dan Xi Industries yang sedang berusaha membuat cabang pabrik baru, dan sedikit masalah dengan pembebasan lahan,” jelas Baekhyun. Sedikit berbohong, ya, sedikit. Yang sebenarnya ia pikirkan adalah pernikahannya.

Taeyeon mengangguk, “ya, aku mengerti. Bagaimanapun juga Xi Industries masih bagian dari Hansol Group. Wajar jika kau mengkhawatirkannya. Luhan-sshi juga temanmu. Xi Industries punya banyak keunggulan, aku yakin Luhan-sshi bisa mengatasinya secepatnya jika hanya masalah pembebasan lahan.”

Baekhyun tak menganggapi lagi. Taeyeon tahu semuanya tentang dunia bisnis, relasi, dan persaingan di dalamnya. Dia genius dalam bidang itu. Seperti ditakdirkan terlahir sebagai business woman, bakat itu menurun dari ayahnya yang hebat dalam membesarkan perusahaannya dengan tangannya sendiri. Mereka berdua kini hanya diam dalam pikiran masing-masing.

“Baekhyun..”

“Ya?”

“Kau yakin ingin mempercepat pernikahan kita?”

“Kita mengenal sudah lebih dari satu tahun, kau masih meragukanku?”

Wanita itu tertawa kecil, lalu meraih lengan Baekhyun dan bersandar mesra pada pemuda itu. “Tentu saja tidak. Dari semua pria yang ayah kenalkan padaku, kau adalah orang pertama yang bisa mencuri hatiku. Entahlah, tapi aku rasa aku sudah jatuh cinta padamu.”

Baekhyun hanya tersenyum tipis, mengusap puncak kepala wanita itu. Lalu memberinya sebuah pelukan hangat. Ia tahu Taeyeon sudah jatuh cinta terlebih dahulu padanya. Dan ia berpikir, cinta itu bisa tumbuh seiring dengan berjalannya waktu dan kebersamaan mereka. Kenapa tidak untuk mencoba? Karena itu dia menerimanya. Perjodohan dan pernikahan.

***

Hari itu sangat ramai. Anak-anak sedang berlarian dan dengan gembira bermain di pelataran gedung bercat kuning itu. Hari ini mereka sedang mengadakan festival musim panas. Di festival mereka bisa bermain apapun, dan membeli apapun di bazar dengan kupon yang mereka dapat hasil dari poin-poin nilai yang mereka kumpulkan setiap hari saat pelajaran.

Ara hanya mengawasi si putri kecilnya yang sedang bergembira bermain dengan teman-temannya. Sesekali ia mengobrol dengan para orang tua yang juga ikut mendampingi anak-mereka. Ya, pada festival musim panas orang tua diundang untuk hadir melihat bakat anak-anak mereka dalam menyanyi dan menari. Jadi festival tidak hanya mengadakan bazar tetapi juga pentas seni yang cukup menghibur dengan kelucuan anak-anak kecil.

Semua tampak menyenangkan melihat anak-anak kecil mengekspresikan diri mereka, menunjukkan pada orang tua mereka bahwa mereka memang punya bakat yang kreatif. Tapi kali ini dia datang sendirian, Joonmyun –suaminya, harus menghadiri pertemuan dewan direksi. Ya, ia tahu suaminya menduduki posisi penting di perusahaan yang membuatnya tak bisa hadir pada acara seperti ini. Ara masih memakluminya meskipun si kecil Yerin masih terlihat kecewa karena ayahnya tak bisa melihat dirinya menari balet di atas panggung tadi.

Eomma…” gadis kecil yang masih memakai rok baletnya itu berlari ke pelukan ibunya, diikuti gadis kecil lain dengan rok balet yang sama dibelakangnya.

“Yerin-ah, ayo kita pulang, kita harus sampai di rumah sebelum makan malam,” wanita muda itu berjongkok pada gadis kecilnya.

Eomma berjanji padaku kita akan membeli chocolate ice cream setelah aku menari,” ujar gadis berusia 6 tahun itu.

“Ya, aku mengingat janji itu,” jawab Ara.

Eomma, bolehkah Hyejoo ikut dengan kita? Aku sudah berjanji mentraktirnya ice cream jika ia tidak takut tampil di panggung,” cengiran lebar Yerin membuat ibunya gemas.

Wanita paruh baya itu mengangguk, lalu berjongkok mendekati gadis kecil yang bersembunyi dibelakang punggung putrinya. “Yoo Ara ibnida, Yerin-nie eommonim, ireumi mwohaeyo?”

“Shin Hyejoo,” jawab Hyejoo sedikit takut.

“Hyejoo-ya, kau mau ikut Yerin membeli ice cream?” gadis kecil itu hanya mengangguk, senyuman lebar wanita paruh baya itu membuatnya tak takut lagi. “Tapi aku harus meminta ijin dulu pada ibu dan ayahmu, setelah itu kita bisa pergi bersama. Bisa kau tunjukkan dimana mereka?”

Gadis kecil bernama Hyejoo itu kemudian menunduk, terlihat sedih.

Eomma, Hyejoo bilang eomma-nya tidak bisa datang hari ini karena sedang bekerja. Karena itu dia merasa sedih dan aku berjanji padanya mentraktiknya ice cream agar dia tidak sedih lagi,” jelas Yerin panjang lebar. Ara tersenyum bangga, putri kecilnya begitu peduli dengan temannya. Lalu ia mengusap puncak kepala Yerin dengan penuh rasa sayang.

“Kalau begitu apa kau mengingat nomor ponsel ibumu, Hyejoo-ya? Setidaknya kita tidak membuatnya khawatir.”

Lantas gadis kecil itu mengambil sebuah buku kecil dari dalam tas yang ada di pundaknya. Membolak-balik beberapa halaman yang berisi coretan-coretan gambar. Lalu sampai menemukan sebuah halaman yang bertuliskan sebuah nomor ponsel. Shin Hyejoo menunjukkannya pada Ara. Wanita paruh baya itu tersenyum mengerti, kemudian mencari ponselnya dan mulai menekan tombol-tombol nomor sesuai yang berada pada catatan kecil Hyejo.

Sambungan pertama tidak ada yang mengangkat. Cukup lama tapi pada akhirnya hanya bunyi sambungan terputus yang terdengar. Ara mencobanya lagi, ia tak mau membuat gadis-gadis kecil ini terlihat sedih. Sambungan kedua tak jauh beda, cukup lama, begitu juga ketiga dan keempat kalinya ia mencoba menelpon. Kelima kalinya, dan pada akhirnya terdengar suara wanita di ujung sambungan teleponnya.

Yeoboseyo,” ujar seorang wanita di ujung sambungan.

“Ah, ne, Hyejoo eommonim? Saya ibunya Kim Yerin,” balasnya.

“Iya saya ibu Hyejoo. Maaf saya sedang bekerja, saya tidak mendengar panggilan anda tadi. Oh, Yerinnie eommonim, apakah Hyejoo membuat masalah dengan putri anda?”

“Tidak, putri anda baik-baik saja dengan Yerin.”

Ara tertawa kecil, terdengar sebuah nada khawatir dari wanita yang sedang berbicara dengannya di telepon. Ia sangat paham ketika seorang ibu sangat mengkhawatirkan anaknya di sekolah. Apalagi tidak setiap saat bisa mendampingi anaknya di sekolah karena harus bekerja. Kadang Ara juga merasakan hal yang sama. Ia adalah seorang ibu yang berkewajiban mengurus semua keperluan rumah tangga, suami dan anaknya. Ia juga harus bekerja, seorang wanita karir yang punya kewajiban atas pekerjaannya di kantor. Meskipun suaminya tak pernah memaksanya untuk melakukan itu, ya, beruntung ia mempunyai suami seperti Joonmyun yang masih memberinya kebebasan untuk menunjukkan passionnya.

“Jangan khawatir, setelah selesai jalan-jalan Hyejoo langsung diantar pulang,” katanya setelah menjelaskan maksudnya menelpon pada ibu Hyejoo. Ia senang ibu Hyejoo memberi ijin untuk putrinya pergi bersamanya.

“Ya, terima kasih banyak Nyonya Kim. Saya minta maaf sekali jika Hyejoo banyak merepotkan anda.”

“Tak apa, asal anak-anak senang. Terima kasih sudah memberi ijin, Hyejoo eommonim.”

Wanita itu bisa melihat wajah senang di kedua gadis kecil yang ada di depannya. Mereka menikmati se-cup ice cream coklat dengan topping spingkle berbentuk bintang warna-warni. Setelah mendapatkan ijin dari ibu Hyejoo, Ara langsung menepati janjinya pada gadis-gadis kecil itu. Yerin dan Hyejoo lantas tersenyum lebar.

Melihat Yerin senang membuatnya senang juga. Putri kecilnya adalah segalanya baginya. Membangun keluarga kecil dengan Joonmyun membuatnya sangat bahagia, setelah satu tahun menikah dan akhirnya Tuhan memberinya seorang anak perempuan yang cantik membuat hidupnya lebih sempurna.

Yerin menjadi sumber kebahagiaannya dan suaminya. Putri semata wayang yang tumbuh dengan manis dan pintar, meskipun kadang ia dan suaminya harus telaten merayu Yerin yang selalu merengek jika mereka terlalu sibuk dengan pekerjaann di kantor dan melupakan janji liburan. Gadis kecilnya sebagai alarm bagi ia dan suaminya. Ketika mereka sangat sibuk di kantor setiap hari, mereka harus ingat bahwa akhir pekan harus mereka luangkan untuk Yerin. Gadis kecilnya juga sebagai obat. Ketika sedang stres karena berbagai masalah di kantor, atau ketika sedang lelah sepulang dari bekerja, melihat Yerin kecil yang selalu menyambut mereka pulang rasanya semuanya hilang begitu saja.

Ya, ada kebahagiaan tersendiri setelah menjadi orang tua yang tak bisa digantikan oleh apapun.

“Yerin ingin sesuatu lagi? Chocolate cake?” tanyanya.

“Boleh?”

“Tentu saja, tapi kau harus berjanji untuk pergi ke dokter gigi bersama Appa lusa,” Ara terkekeh. Masih juga bisa ia menjahili putri kecilnya. Ia tahu klinik dokter gigi adalah tempat yang paling dibenci anak-anak termasuk Yerin.

“Ah~ Eomma~

Ara tertawa kecil melihat putrinya yang selalu saja manja. “Arraseo arraseo gongjunim~ Hyejoo juga mau?”

Gadis kecil lainnya yang bernama Shin Hyejoo ikut mengangguk. Kemudian ia memanggil pelayan dan memesan lagi dua chocolate cake untuk dua gadis kecil di depannya.

“Hyejoo-ya, ibu Hyejoo pulang bekerja jam berapa?”

“Jam sembilan malam,” jawabnya singkat.

“Kau di rumah sendirian?” lagi-lagi gadis kecil itu hanya menjawab dengan anggukan singkat. Ara sangat paham pasti Hyejoo sangat kesepian di rumah.

“Ayahmu?”

Raut muka gadis kecil itu menjadi semakin sedih. Anak kecil selalu jujur dengan perasaan mereka. Ah sepertinya ia salah mengajukan pertanyaan.

“Hyejoo-ya, bolehkan aku tahu siapa nama ibumu?”

Gadis itu mengangguk, “hm, Shin Yoonjo.”

“Shin Yoonjo?”

Sebuah anggukan yang meyakinkan sekali lagi dari gadis kecil itu.

Shin Yoonjo.

Seperti sangat familiar.

***

to be continue

***

Maafkan saya kalo ada typo #deepbow

9 thoughts on “Intertwined [Chapter 1]

  1. iseng” mampir, ternyata ada ff baru�� hiatusnya jangan lama” ya unnie. penasaran nih sama part selanjutnya

  2. Author-niiiim, ayo lanjutin ffnya. Sejauh ini aku ga nemu typo ko. Karna konfliknya baru dikit jadi greget pengen baca lagi. Ayoo update author-nim. Keep writing. Fighting!

    Kalo udah update, bisa info aku di @elithasundari? Aku gamau ketinggalanㅠㅠㅠㅠㅠㅠ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s