Promise

tumblr_n0i4vksCPQ1qi4imuo1_1280

CHIELICIOUS © 2015

A short story from Apink’s Promise U

Starring Park Chorong & Luhan

No bashing. No Plagiarism. Don’t be a silent reader

credit picture as tagged

***

‘Aku akan kembali. Kau percaya padaku, kan?’

Itu kata terakhirnya malam itu.

Kami bertemu di taman dekat apartemenku. Berpuluh menit kami hanya diam dalam pikiran masing-masing. Hanya terdengar suara decit ayunan yang kami duduki, dan suara desir angin malam musim panas. Ia tak menjelaskan, dan aku tak meminta penjelasannya. Kami hanya menyimpan perasaan masing-masing untuk beberapa lama.

Aku tahu hatinya sedang gelisah. Semua keputusannya untuk meninggalkan grup, protes dari hampir separuh member, dan protes dariku. Semua tiba-tiba. Sesaat setelah media mengungkapkan bahwa ia akan kembali ke Beijing, memutuskan untuk meninggalkan grup yang membesarkan namanya dan membatalkan kontrak yang bersedia ia setujui setelah masa trainee yang panjang. Ya, semua tiba-tiba dan tidak adil.

Tidak adil bagiku, ia tak pernah mengatakan apapun padaku. Tidak adil karena ia sudah berjanji dahulu ia akan terbuka padaku selama kami masih bersama-sama. Akupun berjanji seperti itu. Tapi, bahkan ia akan pergi aku mendengar bukan dari mulutnya sendiri.

Luhan menggenggam jemariku. Mendekat padaku dan berlutut dihadapanku. Pandanganku masih menolak untuk melihatnya. Ia semakin mengeratkan pegangan tangannya.

“Kau tak pernah paham apa yang aku rasakan saat ini, Han,” kataku. Bulir-bulir bening di sudut mataku jatuh, dan aku tak bisa menahannya lagi.

“Maafkan aku, Rong. Maafkan aku tak pernah memberitahumu tentang rencana ini. Jika kau tahu lebih dahulu, kau akan menahanku,” balasnya.

Ya, itu yang akan kulakukan jika aku tahu lebih awal. Jika aku egois, aku pun bisa melakukannya sekarang. Tapi aku tak punya daya lagi. Semua sudah terjadi, pemberitaan media, statement darinya dan manajemen, dan gugatan pembatalan kontak kerja yang bahkan sudah sampai di pengadilan Seoul.

Aku tak berdaya. Aku bahkan tak punya hak untuk melawan keputusannya. Mataku tiba-tiba saja berkaca-kaca, hati ini tak akan pernah ikhlas sedikitpun jika seseorang yang sangat dicintai begitu saja akan meninggalkannya. Tanpa diperintah akhirnya bulir-bulir kristal itu jatuh dari bendungannya.

Luhan beranjak, mengusap puncak kepalaku lalu membawanya pada dada bidangnya. Aku akan sangat merindukan hal seperti ini nanti. Dadanya yang selalu ada untuk mendekapku erat. Pelukan hangat yang akan sangat menenangkan. Aku semakin terisak, dadaku terasa semakin sesak. Ia membiarkan isakan tangisku teredam dalam rengkuhannya beberapa lama. Selalu seperti itu, pemuda ini selalu pintar untuk membuatku merasa nyaman di dalam pelukannya dan meredam segala emosi yang terlepas.

Aku melepaskan diri dari pelukannya, menunduk tak berani menatap matanya. Tangan besar Luhan memegang kedua pipiku, memaksaku untuk melihat wajahnya. Sekilas aku melihat ia tersenyum tipis. Kemudian tangan besar itu mengusap bekas air mata di permukaan wajahku

Aku masih tak berkata apapun. Hanya melihatnya mendekatkan tubuh kami. Ia kembali tersenyum yang kali ini lebih lebar. Sebuah senyuman yang seakan memintaku untuk percaya padanya, yang kemudian sebuah kecupan hangat mendarat di puncak kepalaku.

“Aku akan kembali. Kau percaya padaku, kan?” bisiknya, membuatku kembali meloloskan bulir-bulir bening dari sudut mataku.

Di malam itu aku merasa ia memelukku jauh lebih lama dari biasanya. Ia mengobrol banyak lebih dari biasanya. Ia tersenyum lebih sering dari biasanya. Karena malam itu adalah hari terakhir kami bisa bersama. Aku tahu ini sangat berat, sangat berat untuk merelakan dan melapangkan dada.

Sampai detik ini perasaan yang aku rasakan malam itu masih saja terasa sangat menyesakkan. Hari ini hari ke 1000 kami bersama. Tepat di hari ini, aku sengaja duduk di ayunan yang sama dengan malam itu. Menanti ia menepati janjinya. Janji untuk kembali, yang nyatanya tak pernah ia tepati hingga detik ini.

Entah kenapa hati ini masih saja percaya. Masih bertahan dengan keadaan yang sama, masih saja kuat menunggu sesuatu yang belum tentu akan kembali dan menepati janji. Hanya saja hati ini yang tahu sampai kapan ia akan bertahan dan berhenti menunggu. Aku memejamkan mataku sejenak menikmati angin malam yang menerpa wajahku pelan. Tiba-tiba saja wajah Luhan dan senyumannya yang manis terlintas dibayanganku.

Oh, Han, tahukah kau aku sangat merindukanmu? Dadaku merasakan sesak berkali-kali lipat ketika namanya dan semua kenangan tentangnya terputar begitu saja. Sebulir kristal bening itu tiba-tiba saja jatuh di permukaan pipiku. Selalu saja terjadi seperti ini ketika aku memikirkannya.

Ketika kenangan kebersamaan kami terputar, tawa bahagianya, pelukan hangatnya, kecupannya, semua masih nampak nyata bagiku. Aku melihat ayunan kosong di sebelaku.

Han, you promised that you would come back, you pinky swore.

***

END

***

Saya lagi buntu nyekripsi >.< Sekian.

2 thoughts on “Promise

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s